
Esok harinya, aku sangat lega semua rasa sakit di hari pertama itu benar-benar pergi. Masih ada rasa pegal di sekitar pinggang, tapi itu tak terlalu mengkuatirkan.
Arzi yang menemaniku hingga malam hari semalam, benar-benar mengurusiku dengan baik.
Aku sempat curiga jangan-jangan dulu selain mungkin ia pernah kursus merawat. Arzi begitu telaten mengantarku sampai ke kamar, menyediakan makan dan minum di dekatku, sambil memintaku untuk tidur saja.
Ia pulang sebentar untuk berganti pakaian, sebelum kembali datang membawakan makan malam. Setelah makan malam, keadaanku sudah jauh lebih baik karena sudah bisa berjalan dengan tegak. Bukan lagi seperti nenek-nenek bungkuk.
Bahkan ibu kost sempat menggodaku. "Itu penyakitnya makin parah karena dimanjain sama calon suami."
Aku tertawa. Aku tahu ibu kost hanya menggodaku, karena ia sendiri malah lebih panik saat melihat Arzi menggendongku turun kemarin. Saat bicarapun, tangannya sibuk menekan-nekan titik akupunktur di kakiku yang menurutnya efektif mengurangi pegal dan kram perut.
Subuh tadi, aku kembali menelpon Arzi. Memberitahu kondisiku yang jauh lebih baik dan ia tak perlu menjemputku. Aku akan pergi bekerja dengan temanku.
Kami kini tak lagi memanggil nama. Seperti saling pengertian saja, kata-kata 'sayang' dan 'love' selalu berseliweran setiap kali kami bicara melalui telepon. Tapi untuk bicara berhadapan langsung, aku masih terlalu malu baik untuk mengatakannya maupun mendengarnya.
Hari ini Hans masih di Balikpapan, jadi aku tenggelam dalam pekerjaanku sendiri.
Ternyata, dengan fokus melakukannya tanpa gangguan siapapun, termasuk Hans yang biasanya sering menginterupsiku saat tengah bekerja, aku bisa menyelesaikan pekerjaan dengan cepat.
Aku sengaja tidak makan siang di luar, karena Arzi mengirimiku makan siang. Seperti biasa, ia tak lupa mengirimkan bagian untuk Ratih juga.
Seluruh laporan hampir siap, termasuk budget dan persiapan dana untuk keperluan karyawan serta kantor bulan depan. Tinggal mengurusi masalah proyek.
Karena krisis moneter, jumlah laporan proyek yang harus kukerjakan juga tak banyak. Jadi aku yakin semuanya akan beres esok hari. Hari terakhir bisa kugunakan untuk mengirim undangan sambil berpamitan pada rekan-rekan yang berbeda perusahaan.
Sampai kemudian, aku keluar dari ruang kerjaku untuk membuat segelas kopi dan tak sengaja berpapasan dengan Ratih yang sedang duduk di kursi di ruang pantry.
Matanya terlihat sedih saat menatapku. Sungguh aku merasa tak enak melihat tatapannya itu.
"Kemarin saya jemput kamu, In. Di bandara. Kirain gak ada yang jemput, ternyata... " Ia menunduk, berpura-pura sibuk mengaduk gelasnya yang berisi teh.
Ia pasti melihat semua yang terjadi kemarin. Ekspresi wajahnya sudah menjawab itu. Aku diam, sibuk membuat kopiku sendiri.
Setelah selesai, aku duduk di depan Ratih. "Maafkan aku kalo ngerahasiain soal Mas Arzi ya, Mbak. Kami bener-bener gak pernah pacaran. Tapi Mas Arzi langsung ngelamar ke Papa aku."
"Kamu langsung terima?" tanya Ratih padaku dengan keheranan yang tak bisa ia sembunyikan.
Aku mengangguk. "Dia yang ngelamar aku, sebelum aku tahu dia pernah sama Mbak. Berulangkali juga aku nanya soal perasaannya pada Mbak, tapi dia bilang... " Aku tak tega meneruskannya, karena aku tahu pasti Ratih juga sudah tahu jawabannya.
Ratih menunduk lagi, fokus dengan tehnya. "Memang, hubungan kami memang sudah berakhir."
Ganti aku yang diam. Lalu sambil membawa mug berisi kopi itu, aku berdiri. "Aku minta maaf sekali lagi ya, Mbak. Tapi tak ada yang tahu jodoh kita. Aku rasa itulah yang terjadi padaku dan Mas Arzi. Aku hanya berharap, Mbak bisa menyingkirkan perasaan masa lalu, apalagi Mbak juga akan segera menikah. Aku ingin di kantor ataupun di luar, kita tetap bersahabat."
"Ya, Inka. Saya juga harapnya begitu," kata Ratih lirih. Ia menunduk. Aku bahkan tak bisa melihat ekspresi wajahnya.
Namun, saat berjalan masuk ke ruang kerjaku lagi, aku merasa hubungan kami takkan pernah sama lagi. Persahabatan kami sudah berakhir. Yang ada hanya hubungan yang saling membutuhkan saat bekerja. Entah kapan kami bisa kembali seperti dulu lagi.
***
Dalam keadaan lelah, aku menyetir mobil pulang. Arzi sempat menawariku, tapi aku menolaknya. Untuk sementara sampai cuti, aku membawa kendaraan sendiri agar lebih mudah dan cepat ke kantor.
Tapi siapa sangka, baru saja aku hendak naik tangga, sebuah mobil lain berhenti di depan rumah kost.
Mobil itu datang mengebut, dan pengemudinya turun dengan cepat. Suasana gelap membuatku sulit melihat wajah orang yang datang. Baru setelah cukup dekat, aku tahu orang itu Andra.
Tanpa banyak bicara, Andra menarik tanganku.
__ADS_1
"Kak! Kak! Enggak!" tolakku sambil meronta. Tasku terjatuh di tanah. Tapi Andra tak peduli. Ia terus menarikku menuju mobilnya.
Aku masih menolak, tapi ia malah berseru dengan suara yang dingin sekali, "Kita harus bicara, atau saya tabrakin mobil ini ke pohon itu sekalian."
Aku meneguk liur sambil melirik pohon besar yang berdiri kokoh tak jauh dari kami, tubuhku benar-benar kaku. Bibir Andra terkatup rapat sebelum ia mendorongku masuk dan duduk, setelah itu ia menutup pintu mobil.
Setelah ia sendiri masuk, mobil mundur dengan kasar. Begitu laju. Keluar dari gang, mobil melaju dengan kecepatan yang lebih tinggi.
Aku memejamkan mata, takut sekali. Entah ke mana Andra mengarahkan mobilnya. Baru setelah mobil berhenti, aku berani membuka mata.
Kami berada di tepi jalan yang tak kukenal. Sebuah lapangan bola terbuka terlihat di sisi jalan. Suasana di luar begitu sunyi. Hampir tak ada orang.
Tadi aku sempat melihat jam digital di mobilku saat pulang, kalau tadi sudah hampir pukul 10 malam. Aku menoleh pada Andra yang sama sekali tak berbicara, hanya memandang lurus ke depan. Setelah beberapa detik, ia keluar dan bergerak ke arahku, membuka pintu dan memintaku turun.
Menurutinya, aku turun dengan ragu. Baru aku mulai mengerti di mana kami berada. Ini areal perumahan. Cukup jauh dari rumahku.
"Kamu mau sampai kapan menghindari saya, Inka?" tanya Andra dingin.
Aku memberanikan diri menatapnya. "Bukannya aku sudah ngembaliin semuanya?" tanyaku pelan.
Rahang Andra mengeras. Ia mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya. "Maksudmu ini? INI?" bentaknya.
Aku tersentak kaget. Tanganku mulai gemetar. Suaranya keras sekali. Tapi mataku melihat untaian beragam perhiasan yang bergelung di tangannya, memantulkan sinar ke mataku.
Kuperhatikan dengan seksama. Ada kalung, cincin dan gelang-gelang yang ia berikan padaku. Ia sudah menerimanya.
"Kamu tahu apa artinya ini kan, In? Kamu tahu saya serius sama kamu! Kamu tahu kalo saya sedang berusaha agar kita bisa menikah secepatnya. Tapi kamu... kamu malah pergi diam-diam, menghindari saya berminggu-minggu, lalu saya dengar kamu pacaran dengan orang lain, dan ini... semua ini kamu kembalikan diam-diam tanpa bicara dulu dengan saya. Bersama undangan pula. Kamu anggap apa saya ini, hah? Kamu pikir bisa mainin perasaan saya begitu aja?"
Aku membiarkan Andra mengeluarkan seluruh isi hatinya. Biasanya ia tak banyak bicara. Tapi malam ini ia bicara sangat banyak.
"Sebenarnya ada apa, Inka? Jelasin saya kamu maunya kita gimana? Kamu mau kita nikah? Baik, baik, kita nikah. Secepatnya. Tapi tolong, terima ini, Inka. Terima ini!"
"Kamu gak suka? Kamu mau yang lain?" tanyanya tampak bingung.
Aku menggeleng, "Kak... Sudah selesai. Hubungan kita sudah selesai."
"Apanya yang selesai? Kau yang bilang kita gak akan pernah berpisah. Kamu gak bakal ninggalin saya, tapi belum beberapa hari, kamu udah ninggalin saya. Ada apa, In? Kalo saya salah, saya minta maaf. Kamu mau apa? Mau saya memohon? Mau saya berlutut?"
"KAK! SUDAH!" teriakku akhirnya.
Tubuh Andra membeku. Ia tak jadi berlutut.
Sejujurnya aku tak tahu cara menjelaskan semuanya. Terlalu banyak untuk dikatakan dan aku tahu pasti ia takkan terima alasan itu. Percuma saja.
Aku yakin, Andra mungkin tak pernah tahu atau bahkan mengerti efek yang diakibatkan dari orangtuanya. Tidak sepertiku. Aku juga benar-benar tak ingin membuat ia menyalahkan orangtuanya.
Aku teringat peristiwa beberapa hari sebelumnya. Itu cukup sebagai alasan.
Dengan setulus hati aku bertanya pelan, “Kakak kenal Santi?”
Pertanyaan itu membuat ekspresi Andra berubah. Kedua alisnya nyaris menyatu saat mendekatiku lagi. “Dia bukan siapa-siapa, Inka! Dia... dia bekas teman SMAku. Dia memang naksir sama aku. Tapi aku gak pernah pacaran sama dia. Sungguh, Inka! Kalau karena itu kamu... “
Kalimat Andra berhenti ketika ia melihatku menggeleng.
“Kak, ia menyukaimu selama ini. Kenapa tidak memilihnya? Siapa tahu dialah takdirmu, seperti aku menemukan Mas Arzi,” kataku berusaha menjelaskan perlahan-lahan.
“Gak! Gak bisa! Aku gak bisa cinta sama orang lain, Inka! Sejak dulu cuma kamu!”
__ADS_1
“Kak. Cinta dunia itu fana, siapapun bisa lupa.”
“Inka, jangan begini! Ingat janji kita, Inka!”
Aku hanya diam menatapnya. Tak tahu lagi harus bagaimana membuatnya mengerti.
Ekspresi Andra berubah-ubah. Marah, kecewa dan akhirnya matanya seperti memerah, menahan tangis. Aku tak lagi tahan melihat itu. Kutarik napas dalam-dalam.
"Kakak kenal Om Markus? Tante Martha?" tanyaku tiba-tiba. Wajah keras Andra mengendur. Ia menggeleng tapi sedetik kemudian mengangguk. Bingung mendengar pertanyaanku yang aneh.
Aku tersenyum pahit. Tentu saja. Anak orang kaya sepertinya, manalah peduli dari mana orangtuanya memperoleh harta itu. Ia pasti hanya memikirkan cara menggunakannya. Peduli amat dari mana.
Sambil mengingat saat Bima, adik sepupuku yang harus mencuci mobil di usia 10 tahun, aku menatap tajam sedingin mungkin pada Andra. "Aku tak pernah mencintaimu, Kak. Dari awal. Aku hanya ingin membalas sakit hatiku karena kau selalu sombong padaku. Itu saja."
"Kamu becanda kan, Inka? Right?" Mata tajam Andra tampak sendu. Ia jelas berusaha untuk tidak mempercayai kata-kataku barusan.
Aku tersenyum sinis. "Untuk apa aku becanda, Kak? Kak Andra sudah terima undanganku, kan? Teman-teman di Mess juga sudah terima kan? Masih gak percaya?"
Dagu Andra menurun. Matanya masih menatapku tak percaya. Tapi aku membalasnya dengan mengangkat wajahku sedikit, membuat ia yakin kalau aku mengatakan yang sebenarnya. Selama beberapa menit, ia hanya berdiri menatapku sebelum menunduk cukup lama.
"AAARGGHH!!!" teriak Andra tiba-tiba sambil melempar semua perhiasan di tangannya ke arah lapangan bola. Aku terlonjak karena kaget. Kembali tubuhku gemetar.
Setelah itu, tanpa menawarkan diri untuk mengantarku pulang, ia masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkanku begitu saja dengan mobil yang melaju kencang. Aku terperangah.
Laki-laki itu...
Bagaimana bisa ia meninggalkanku begitu saja?
Ia yang menyeretku ke tempat yang tak kukenal ini, sampai membuatku menjatuhkan tasku begitu saja. Sekarang ia pergi tanpa memikirkanku sama sekali. Aku menoleh ke kanan dan kiri. Tak ada siapapun. Sepi sekali.
Dengan takut, aku mulai melangkahkan kakiku saat teringat sesuatu.
Perhiasan-perhiasan itu...
Aku bukannya matre. Tapi aku tahu nilai perhiasan itu. Melihat Andra membuangnya begitu saja, aku benar-benar kaget. Tak tahukah dia kalau bagi banyak orang, uang untuk membeli perhiasan itu mungkin cukup untuk membeli makanan berbulan-bulan?
Sudahlah. Mungkin dia hanya emosi. Aku akan mengumpulkannya dan nanti akan kukembalikan lagi padanya saat emosinya lebih baik.
Semoga setelah itu ia tak lagi semarah tadi. Aku berharap saat itu terjadi, ia sudah selesai mencari tahu siapa Om Markus dan Tante Martha dari orangtuanya sendiri.
Aku tak ingin menjadi orang yang menjelaskannya dan mungkin akan membuatnya membenci orangtuanya sendiri. Semoga ia akan mengerti alasanku, hingga kami harus berpisah.
Buru-buru aku berlari menuju lapangan bola dan mulai mencari-cari kembali semua perhiasan yang dilempar Andra tadi.
Sampai beberapa menit... atau mungkin jam... akhirnya aku bisa menemukan semuanya kecuali cincin.
Aku menyerah. Aku benar-benar lelah. Hawa dingin menusuk sudah terasa dalam blazerku. Pinggangku, kepalaku, dan seluruh tubuhku nyeri. Tak tahan aku kembali ke jalan, berjalan mencari rumah terdekat.
Tapi baru beberapa langkah, aku merasakan hawa dingin diikuti air yang jatuh makin lama makin banyak. Hujan.
Aku mendongak ke langit. Menatap tak berdaya.
Apa ujian ini kurang banyak ya Allah? Apa sebegini besar dosaku hanya karena ingin putus pada seseorang hingga Kau menghukumku?
Dengan takut-takut, aku mendatangi sebuah rumah terdekat. Tubuhku sudah basah kuyup. Kuketuk pintu dengan ragu, lalu seorang pria setengah baya membukanya.
Aku meminta izinnya untuk meminjam telpon jika ia tak keberatan. Jika tidak, aku memintanya menghubungi Arzi dan aku menunggu di luar. Untungnya, pria setengah baya itu mengizinkanku masuk dan menelpon Arzi.
__ADS_1
Begitu teleponku tersambung, tangisku langsung pecah.
"Mas Arzi... huhuhuhuhu.... "