Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 66 - Tamu Tengah Malam


__ADS_3

Aku pikir hidupku berakhir saat itu. Tapi saat terbangun, aku menemukan diriku sudah berada di ruang rawat yang kukenal dengan baik. Klinik tempat Dirga bekerja.


Cahaya lampu dari balik tirai menyerbu masuk, membuatku terpaksa mengedipkan mata dua kali. Perlahan aku menarik napas. Terasa berat sekali. Tak hanya berat, tapi juga nyeri menyakitkan. Untungnya, udara sejuk dari ventilator yang menempel pada sebagian wajahku sedikit membuatku bisa bernapas lega.


Apa aku menabrak sesuatu?


Pelan-pelan aku mulai ingat kejadian saat aku terjatuh di sungai. Saat ingin menyongsong suamiku.


Arzi!


Tak sadar aku menggerakkan tangan. Tapi sesuatu yang berat dan panas menekannya. Aku melirik ke samping tempat tidurku. Susah payah, terlindung oleh ventilator, akhirnya aku bisa melihat seseorang tengah membaringkan kepalanya di tempat tidurku. Tangannya menggenggam erat tanganku.


Aku tersenyum lega. Memandangi Arzi yang tertidur. Memperhatikan raut wajahnya.


Wajah Arzi yang menghadapku terlihat pucat dan berantakan. Dan... aku mengerutkan kening. Hawa panas di tanganku ini bukan karena tanganku, tapi berasal dari telapak tangannya.


Apa Arzi demam?


Aku ingin membangunkannya. Tapi dadaku masih sakit dan mulutku masih tertutup oleh ventilator.


Dengan susah payah, aku menggerakkan tangan kiriku yang dialiri selang infus, menekan tombol panggil di sisi kepalaku.


Merasakan ada gerakan, Arzi terbangun. Sesaat ia tampak linglung sebelum menyadari keadaan, bergegas ia berdiri. Namun gerakannya yang mendadak itu membuat tubuhnya sedikit limbung. Aku memandanginya kuatir. Tapi dengan cepat Arzi kembali berdiri tegak dan mendekatiku.


“Alhamdulillah, alhamdulillah,” bisik Arzi sambil mencium keningku. “Akhirnya kamu sadar juga, Sayang.”


Bibir Arzi juga panas. Aku bisa merasakannya.


“Aku panggil dok.. “


Saat itu pintu kamar terbuka, Dirga masuk dengan seorang dokter dan perawat. Perawat menyibak tirai sambil tersenyum dan menyapaku ramah.


Tak seperti biasa setiap kali aku terbangun dari pingsan, kali ini wajah Dirga nyaris tanpa ekspresi. Ia memeriksa keadaanku dibantu perawat tanpa bicara atau memandang padaku sama sekali. Hanya bicara beberapa patah kata pada Arzi.


Dirga pasti marah padaku. Tapi aku tak peduli soal itu. Aku ingin dia melakukan sesuatu untukku.


Saat ia hendak berbalik, aku menarik tangannya dengan tanganku yang bebas. Tubuh Dirga membeku, sebelum ia menoleh dan menatapku.


“Kau akan baik-baik saja, Ka,” katanya datar.


Aku menggeleng. Kulepaskan pegangan dan melepaskan ventilator di mulutku.


“Inka... “ bisik Arzi kuatir.


“Mas... Arzi... “


Aku baru sadar kalau tenggorokanku juga sangat sakit. Dadaku tiba-tiba terasa lebih sesak dan berat begitu ventilator kulepaskan.


Mungkin ekspresi kesakitan di wajahku terlalu jelas. Buru-buru Dirga mengembalikan ventilator dan udara dingin menerpa hidungku lagi. Aku bisa menarik napas lega lagi.

__ADS_1


“Jangan dilepas dulu, Inka! Ada apa sih? Biasanya kamu nurut,” tanya Dirga cepat. Matanya sarat emosi.


Arzi juga semakin bingung dan kuatir. Wajahnya makin pucat. “Kenapa, Sayang? Kenapa saya?”


Aku sulit bicara jadi satu-satunya cara, aku menarik tangan Arzi dan Dirga. Membiarkan mereka saling bersentuhan, agar Dirga bisa merasakan suhu tinggi di telapak tangan Arzi.


Walaupun hanya beberapa detik, karena aku tak punya banyak kekuatan dan menjatuhkan tanganku lagi, Dirga menyadari maksudku.


Dirga memutari tempat tidurku. Tanpa bertanya lagi, ia langsung menekan punggung tangannya ke dahi Arzi yang kembali limbung.


“Mas ini lagi demam!” ucap Dirga sambil menoleh pada perawat yang bersamanya. “Cepat ukur suhu badan kakak saya!”


“Mas, saya bisa istirahat di sini saja. Minta obat saja. Nanti juga sembuh. Saya ingin ngerawat Inka dulu,” pinta Arzi mengencangkan genggamannya di tanganku. Seperti tak ingin dipisahkan.


Tangan Dirga berhenti bergerak. Ia menatap Arzi, lalu menatapku sebelum menghela napas. Menganggukkan kepalanya dengan berat.


Beberapa menit kemudian, sebuah tempat tidur dipindahkan persis di sebelah tempat tidurku. Arzi yang tidur di situ, dengan tangan masih terus menggenggam tanganku, sementara tangan lainnya juga dialiri cairan infus. Dirga meminta Arzi menjalani beberapa test dan setelah itu seorang perawat memberinya obat. Mungkin karena itu tak lama ia sudah terlihat mengantuk.


Ketika melihat suamiku tidur menyamping hanya untuk terus memandangiku, aku benar-benar ingin menghapus kekuatiran di matanya. Tapi mulut dan tenggorokan terasa kering dan sakit tiap kali kugerakkan. Nyeri dan panas di dadaku juga terus menerus mengganggu.


“Maafkan saya, Inka!” bisik Arzi. Lirih tapi masih jelas di telingaku.


Aku tak bisa mengatakan hal yang sama. Hanya airmataku mengalir turun. Seluruh hatiku dipenuhi rasa bersalah. Karena menjagaku, Arzi bahkan tak menyadari kalau dia sedang sakit.


“Jangan menangis! Dadamu masih sesak kan? Tidurlah!” kata Arzi lagi. Tersenyum tulus padaku.


Hanya itu yang bisa kulakukan sekarang. Tidur dan beristirahat agar cepat sembuh. Walaupun pikiranku dipenuhi dengan pertanyaan, tapi semua kusingkirkan.


Tak ada yang memberitahuku apa yang terjadi setelah aku terjatuh dari jembatan. Arzi lebih banyak tertidur dan Dirga juga memastikan aku tertidur di saat yang sama.


Kamar pengantin baru kami pun pindah ke ruang rawat klinik selama lebih dari tujuh hari. Arzi terkena tipes, sedangkan aku mengalami pneumonia paska tenggelam.


Setiap hari kami saling memandang dengan penuh rasa syukur. Seluruh amarah lenyap begitu saja. Tak bersisa sama sekali. Tak penting lagi ego dan keinginan, yang ada hanya ingin selamanya kami berdua seperti ini. Dalam susah dan senang. Dalam sehat dan sakit.


Oleh Dirga, aku tak boleh dijenguk selama selang ventilator masih menempel. Kecuali Papa dan Mama yang datang sehari setelah Arzi dirawat, tak ada tamu lain.


Tapi seseorang datang di tengah malam.


Saat itu Dirga sedang tidak bertugas. Arzi yang sudah bisa bangun di hari ke-3, baru saja selesai sholat Tahajud dan sedang tidur pulas. Sedangkan aku baru terjaga di tengah malam. Kondisi kamar yang remang-remang tetap tidak bisa membuatku tidur lagi.


Saat itu aku mendengar pintu terbuka. Kukira itu perawat yang akan mengecek keadaanku dan Arzi.


Yang pertama masuk memang seorang perawat, tapi ia bersama seseorang.


Andra.


Aku segera menutup mataku kembali. Menunggu dengan jantung berdebar. Berpura-pura tidur.


“Jangan berisik! Aku bisa dimarahi dokter Dirga, Dra. Suaminya juga baru tidur.”

__ADS_1


“Mmm.”


“Udah liat kan? Ayo udah!”


“Sebentar... aku ingin lihat wajahnya.”


“Draaa...”


“Please, Nik. Only this time.”


“Tapi cepet ya. Aku tunggu di luar. Jangan berisik!”


Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi aku bisa merasakan seseorang mendekat. Aku juga bisa merasakan tatapan menelusuri wajahku.


Sesuatu menyentuh tangan kiriku. Dingin. Ini pasti tangan Andra.


Aku berusaha keras agar tanganku tidak bergerak.


“Get well soon, Inka,” bisik Andra.


Telingaku bisa merasakan napas hangat Andra. Wajahnya pasti sangat dekat dengan wajahku.


Aku takut ia menciumku. Aku benar-benar takut.


“Apa yang Anda lakukan di sini?”


Suara itu suara Arzi. Terdengar sedikit berbeda. Tak ada keramahannya yang seperti biasa.


Aku mulai kebingungan. Antara ingin membuka mata atau tetap pura-pura tidur. Aku kuatir mereka bertengkar.


“Saya hanya ingin lihat dia. Anda jangan kuatir!” jawab Andra tenang.


“Datanglah di siang hari. Ini bukan jam besuk. Istri saya juga masih dalam perawatan khusus. Ia tak boleh mengalami komplikasi karena terlalu banyak interaksi.” Suara Arzi sudah terdengar lebih tenang meski ia masih menekankan ‘istri saya’ dengan nada berbeda.


“Saya tahu. Tapi kakaknya tidak akan mengizinkan.”


“Kalau begitu, saya minta Anda untuk pergi. Inka memang tidak bisa dijenguk. Ia perlu istirahat,” pinta Arzi. Masih terdengar tenang.


Lalu suasana hening terasa, dan aku mendengar suara gagang pintu dibuka. Aku hampir menahan napas karenanya.


“Mas, kalau Anda tidak mampu menjaga Inka, lebih baik lepaskan dia. Saya akan melakukan yang terbaik untuknya selama saya bisa.”


“Terima kasih untuk perhatian Anda, Mas Andra. Insya Alloh, saya sudah dan akan selalu melakukan semuanya sebaik mungkin sekalipun itu di luar kemampuan saya.”


Tak ada jawaban. Hanya suara pintu tertutup pelan yang menutup percakapan menegangkan itu. Perlahan, aku menghela napas lega.


Aku merasakan tangan Arzi bergerak memperbaiki selimutku, mengelus rambutku dan kemudian mencium dahiku. Lalu, seperti hari pertama, Arzi tidur sambil menggenggam tanganku lagi.


Aku baru berani membuka mataku setelah mendengar napas teratur di sebelahku. Kupalingkan wajah pada suamiku dan merasa bersalah.

__ADS_1


Maaf, Mas. Sekali lagi masa laluku mengganggumu lagi.


__ADS_2