Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 80 - Epilog (Andra) Bye, Love!


__ADS_3

Sambil berlindung di balik standing banner, aku duduk memandang pasangan yang tengah duduk di ruang tunggu bandara tak jauh dariku.Sang pria mengenakan jaket hitam dengan salah satu lengan bajunya digulung dan terlihat tangannya terbungkus perban. Duduk di sebelahnya, seorang perempuan berkacamata hitam yang mengenakan pashmina merah marun lebar melingkari menutupi sebagian besar rambutnya. Tidak rapat. Tapi cukup tertutup.


Sesekali keduanya tertawa, kemudian berbisik dan tertawa lagi. Lain kali perempuan muda itu menepuk tangan pria yang tidak diperban sebelum menyembunyikan wajahnya. Rona merah terlihat jelas di kedua pipinya. Lalu tangannya mengelus lembut perutnya yang makin gendut, sebelum pria di sebelahnya ikut melakukan hal yang sama.


Ia bahagia. Sangat bahagia.


Bahkan saat bersama diriku, aku belum pernah melihatnya tertawa dan tersenyum lepas seperti itu. Matanya jauh lebih bercahaya dan penuh binar indah. Membuat gadis muda itu kini terlihat makin cantik.


Dulu ia memang gadis yang ceria, banyak bicara dan banyak tertawa. Tapi tawanya yang dulu berbeda dengan yang kulihat sekarang. Baru ini ia terlihat begitu lepas mengekspresikan dirinya sendiri. Tidak berlebihan. Tapi seluruh sel di tubuhnya mengungkapkan kebahagiaan itu dengan jelas.


Aku menghela napas. Mengangguk-anggukkan kepalaku tanpa sadar. Aku kini mengerti. Gadis itu dulu tertawa, tapi ia menyembunyikan sesuatu di hati. Gadis itu dulu tersenyum, tapi ia tak pernah benar-benar bahagia. Gadis itu dulu tersenyum dan tertawa, tapi bukan untuk dirinya. Ia hanya melakukannya untuk menutupi sisi misteriusnya.


Tubuhnya yang dulu terbuka, kini tertutup rapat. Padahal perempuan itu pernah bilang dia suka memakai rok mini. Tak suka berambut panjang dan tak suka menutupi kepalanya dengan apapun.


Perempuan itu pernah bilang, ia tak suka dipaksa melakukan sesuatu. Ia hanya ingin menjadi dirinya sendiri, melakukan yang ia sukai. Tapi nyatanya, kini ia melakukan hal-hal yang tidak ia sukai demi seseorang.


Rambutnya yang kini mencapai bahu, telah digelung membentuk sanggul, ditutupi pasmina marun yang juga menutupi sebagian dadanya. Ia juga mengenakan celana panjang hitam dengan blus lengan panjang biru muda. Ia tak lagi seperti Inka yang dulu.


Itulah cinta yang sesungguhnya. Bukan cinta karena nafsu. Bukan sekadar perasaan suka dan ingin memiliki. Seperti yang ia jelaskan padaku, cintanya karena kebutuhan. Ia mendapatkan cinta yang ia butuhkan, dan memberikan cinta pada orang yang tepat.


Aku menghela napas panjang. Sayangnya, orang itu bukan diriku.


Sudah sedari mereka masuk dalam ruang tunggu itu, aku melihat keduanya. Aku tahu tujuan mereka. Tapi aku tak ingin mendekati atau menyapa mereka lagi. Sudah cukup kemarin aku meminta waktu mereka secara khusus. Aku tahu itu sulit bagi keduanya.


Inka pasti menginginkannya seperti itu. Kami harus menjaga jarak. Kehadiranku, suka atau tidak hanya akan mengingatkannya pada masa lalu pahit di antara kami bertiga.


Aku menyesali banyak hal. Tapi yang paling kusesali adalah cintaku yang salah. Cinta yang kumiliki untuk Inka adalah cinta yang egois. Cinta yang serakah.

__ADS_1


Cinta itu membuatku tak melihat kebutuhan Inka. Aku lupa memahami bahwa Inka juga punya mimpi dan keinginannya sendiri. Semua keputusan kuambil sendiri, tanpa pernah bertanya pada Inka. Hal kecil yang membuat Inka akhirnya tak bisa mengatakan isi hati dan pikirannya padaku sepenuhnya.


Pria yang kini duduk di sisi Inka, justru sebaliknya. Ia membuat Inka sebagai pusat dunianya. Melihat Inka, memperhatikan kebutuhannya, memahami impian dan cita-citanya.


Pria itu bahkan memaafkan dan memaklumi kesalahan orang yang menyakiti demi Inka. Menutupi semuanya agar tak ada yang menodai cinta mereka. Bahkan hati sedingin es sekalipun tentu akan cair dengan kehangatan seperti itu. Pria itu memang pantas menjadi suaminya. Menjadi pendamping hidup gadis cantik yang baik itu selama-lamanya.


Aku menunduk dalam-dalam. Menyatukan kedua telapak tanganku. Malu pada diriku sendiri. Kembali melirik pasangan itu.


Kali ini aku melihat Inka menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya. Ia mungkin lelah. Kemarin aku bisa melihat kelelahan di wajahnya. Kehamilan mungkin membuat tubuh mungilnya itu lebih lelah dari biasanya.


Aku tersenyum saat melihat perutnya lagi. Gadis itu mendapatkan keinginannya. Terlepas dari semua yang ia sembunyikan tentang kemungkinan tak bisa punya anak, Allah mengabulkan doanya. Aku nyaris memotong urat nadiku saat tahu dari polisi kalau Inka sedang hamil saat aku akan membunuh suaminya.


Mereka mungkin memaafkan aku. Tapi untukku sendiri, tidak mudah memaafkan diriku sendiri.


Tapi jika pria bernama Arzi itu bisa melakukan segalanya untuk Inka, aku juga ingin melakukan hal yang sama untuknya. Satu yang pasti, aku akan belajar memaafkan diriku dan keluargaku sendiri dulu.


Soal aku bisa jatuh cinta pada gadis lain, walau meniru setengah dari cara Arzi, aku tak terlalu yakin bisa. Aku hanya akan berusaha. Setidaknya jika itu bisa membuatku menatap dengan dagu tegak pada Inka dan suaminya.


“Perhatian, para penumpang pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA567 tujuan Jakarta dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu A2.”


Aku mengangkat kepala, dan pasangan itu sudah berdiri sambil bersiap-siap bersama penumpang lain. Arzi jelas terlihat kesulitan, tapi ia masih menggelengkan kepalanya saat Inka hendak membantu membawakan tas-tas mereka.


Setelah saling bicara sebentar, keduanya kembali tertawa berbarengan dan seperti menyepakati sesuatu, mereka membawa satu tas masing-masing sebelum Inka menggandeng lengan Arzi yang terluka, mendekati petugas pemeriksa tiket dan menyodorkan tiket mereka.


Bayangan keduanya menghilang di antara barisan penumpang, saat masuk dalam bis kecil yang mengantar mereka masuk ke badan pesawat.


Aku pun berdiri tepat di depan jendela besar yang memperlihatkan sebagian halaman beraspal bandara Sepinggan itu. Ke arah pesawat yang akan dinaiki Arzi dan Inka, mulai benda besar itu bergerak hingga menghilang di balik langit biru yang cerah.

__ADS_1


Sayup-sayup pengumuman dari pengeras suara terdengar lagi. Kali ini pengumuman pesawat udara yang akan kunaiki. Kembali ke tempat dulu aku pernah belajar. Surabaya.


Aku tak memberitahu Inka ke mana aku akan pergi. Keputusan lain telah kuambil sejak pulang dari pertemuan terakhir kami kemarin. Setelah resign dan meninggalkan Sangatta, aku putuskan untuk kembali kuliah menyelesaikan master-ku di Surabaya. Dan seperti Inka, aku ingin membuka lembaran baru dalam hidupku.


Inka tak pernah tahu... Dia juga tak perlu tahu...


Inka memang tak pernah tahu kalau sejak dulu dialah tujuan hidupku.


Tapi sekarang Inka sudah bukan bagian dari hidupku, jadi aku kehilangan tujuan. Aku harus menemukan tujuan lain dan itulah alasan aku kembali ke Surabaya.


Untunglah aku tak pernah mengatakan apapun. Untung saja kututup rapat-rapat rahasia kecil namun menyenangkan itu dalam hatiku sampai kemarin.


Inka mungkin hanya mengingatku sebagai Kak Dika yang menemaninya setiap pulang sekolah. Bukan sepertiku, yang mengingat janjinya seakan sebuah sumpah yang takkan pernah terlupakan.


Biarlah... Tak apa. Cukup kenangan itu saja bersama kenangan indah saat cinta kami masih bersemi yang kubawa dalam hatiku selamanya.


Untuk pertama kalinya selama berbulan-bulan, akhirnya aku bisa mengucapkannya dengan bibir tersenyum.


Goodbye, My Love!


Selamat tinggal, Inka-ku yang cantik!


Semoga kau selalu bahagia.


 


*****

__ADS_1


T.A.M.A.T


__ADS_2