Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 76 - Kunjungan


__ADS_3

Aku dan Arzi sama sekali tak menyangka sore itu juga kami kedatangan banyak sahabat dari Sangatta.


Dua di antaranya adalah Tammy dan Audia. Dua gadis muda itu begitu bersemangat saat turun dari mobil dan menyongsongku.


“Mbak Inkaaaa,” teriak Audia.


Aku memeluk mereka dengan gembira. Hampir dua bulan tak bertemu, mereka terlihat berbeda. Pipi Audia sedikit lebih chubby, tapi Tammy terlihat lebih cantik.


“Stress, Mbaaak! Kerjaan banyak banget!” keluh Audia sambil merebahkan kepalanya ke pundakku, mengekspresikan kelelahannya secara berlebihan.


“Jadi gimana? Kalian bisa ngatasi kan?” tanyaku dengan nada menggoda.


“Of course, we’ve learnt from you anyway!” kata Audia dan mengangkat kepalanya lagi. Matanya sudah tampak ceria lagi.


Setelah kami saling bertanya kabar, keduanya mengikuti langkahku ke dapur sekaligus ruang makan. Sementara Arzi menyambut teman-teman pria kami, termasuk teman kantorku dan teman kantornya, di ruang tamu.


“Kalian kok bisa datang rombongan ke sini?” tanyaku sambil mengeluarkan air mineral dan air teh botolan dari kulkas.


Untungnya, selama aku dan Arzi tinggal di rumah kontrakan itu, Mas Bayu dan Mbak Nurul rajin mengisi kulkas dengan minuman ringan. Mereka tak ingin aku sibuk menyiapkan penganan saat para tamu Arzi datang.


“Kami janjian, Mbak. Orang kantor Pak Arzi yang ngajakin. Katanya, kasihan sama Mbak Inka sendirian di sini. Biar ada yang nemenin,” ujar Tammy.


Aku tersenyum dan mengangguk mengerti.


Tentu saja, hampir setiap minggu ada saja teman kantornya Arzi datang menjenguknya. Begitupun para jamaahnya. Mereka datang bergantian. Sedangkan teman-temanku nyaris tak pernah ada.


“Sebentar lagi rombongan Pak Brian dan teman-teman juga datang, Mbak. Dan... “ Audia menoleh pada Tammy, seakan meminta persetujuannya. Setelah Tammy mengangguk, ia melanjutkan penuh arti, “... teman-teman Mbak yang lain juga.”


Aku tak berkata apa-apa. Hanya mengangguk ringan.


Suara tawa para pria di luar menarik perhatian kami bertiga. Dua gadis muda itu saling memandang dan tertawa nyaris berbarengan.


“Ada apa? Ada yang kalian suka? Bilang aja, entar saya jodohin.“


Audia mendorong Tammy. “Ini nih Tammy, Mbak. Dia naksir... huffh huffh!”


Belum sempat Audia mengatakannya, tangan Tammy telah menutup mulutnya.


“Kamu nih! Aku kan cuma becanda, Di! Kamu tuh tadi ngobrolnya asik banget sama Kak Izhar.”


Audia menyeringai. “Aku mah jujur beneran nyaman dengan Kak Izhar. Asyik orangnya!” Gadis itu menoleh padaku. “Jodohin aku aja sama Kak Izhar ya, Mbak.”


Aku mengangguk sambil tertawa. Lalu kuminta mereka mengantarkan semua minuman keluar bersamaku.


Seperti yang dikatakan Tammy dan Audia, tak lama rombongan lain juga datang. Mereka ini rata-rata teman-temanku. Rupanya kabar kepindahanku dan Arzi yang membuat mereka datang untuk melepas kami. Sungguh aku tak mengira kalau aku masih dihargai begitu tinggi oleh teman-temanku.


Tapi yang mengejutkanku, di antaranya mereka, ada beberapa adalah teman-teman dari kantor Andra.


“Kami datang ke sini juga untuk menyampaikan pesan Andra, Inka. Ia ingin datang dan bicara dengan kalian,” kata Yudi dengan raut wajah sedikit malu. Thamrin hanya mengangguk.


Tepat saat itu, Arzi sudah berdiri di dekatku. “Datang saja, Mas! Kalau orang mau bersilaturahmi, kami tidak akan menolak.”


Aku menatap Arzi tak percaya. Bagaimana ia bisa menerima orang yang sudah melukainya? Memaafkan saja sudah cukup, buat apa lagi harus bertemu?


Tapi Arzi meraih tanganku dan menekan pelan sebelum ia menyeretku untuk duduk di sisinya, mengobrol dengan teman-teman kami yang lain.

__ADS_1


Aku diam sepanjang waktu dan hanya sesekali menjawab pertanyaan. Hanya dengan Audia dan Tammy saja, aku banyak mengobrol. Keduanya juga membantuku menyediakan minuman ringan dari dapur. Ruang tamu, teras bahkan taman depan dipenuhi dengan tamu-tamu dadakan kami. Suara obrolan, diselingi gelak tawa sesekali terdengar memenuhi seisi rumah sewaan kami itu.


Setelah Magrib, satu persatu tamu kami mulai berpamitan.


“Semoga kita bisa ketemu lagi nanti di Jakarta ya, Mas, Mbak. Mudah-mudahan saya atau teman-teman bisa main ke Jakarta,” kata salah satu teman kerjaku.


“Insya Alloh, Mas. Silakan. Silakan. Telpon saja ke kantor! Nanti saya jemput langsung di bandara. Pintu rumah kami selalu terbuka untuk teman-teman,” kata Arzi dengan ramah hampir pada semua tamu yang datang.


Aku hanya diam. Tersenyum seadanya meski hatiku masih kesal. Arzi lagi-lagi memutuskan sesuatu tanpa bicara padaku. Izinnya untuk kedatangan Andra tadi masih membuatku kesal.


Aku masih berusaha untuk memaafkan, tapi Arzi sudah membuatku harus bertemu dengan pria itu. Peristiwa malam itu bahkan masih kuingat dengan jelas seakan baru terjadi kemarin.


Lalu, Yudi mungkin membaca reaksi di wajahku yang kelam, ketika suamiku menjauh dan kembali bicara dengan teman-temannya di parkiran, ia berkata pelan, “Maafkan kami, In. Maaf karena telah salah paham sama kamu selama ini.”


Aku menoleh, sedikit tak mengerti.


“Kami sempat mengira kamu ninggalin Andra karena... mmm... karena... “ Yudi melirik Thamrin yang berdiri tepat di sebelahnya. Ia tak berani meneruskan kalimatnya.


“Karena apa, Kak?” tanyaku sedikit tak sabar.


“Kami... maaf, Inka. Kami sempat mengira kamu ninggalin Andra karena ingin mempermainkan perasaannya saja. Aku kira kamu hanya mau balas dendam setelah berbulan-bulan Andra nyuekin kamu sebelum pacaran dulu. Kami baru tahu dari Andra kalau kalian berpisah karena keluarganya sudah menyakiti keluargamu.”


Aku terdiam dan hanya menghela napas. Aku baru ingat, sejak tak lagi berhubungan dengan Andra, teman-teman memang menghindariku. Karena terlalu sibuk, aku tak menyadari hal itu.


“Inka, kami gak tau kalau bebanmu selama ini begitu berat. Kamu sakit, kami kira sakit biasa. Kamu selalu tertawa dan bercanda, kami kira kamu baik-baik saja. Bahkan ketika kamu putus dengan Andra, kami menyalahkanmu. Siapa yang sangka... Kami benar-benar merasa tidak pantas disebut sebagai sahabatmu, Dek,” kata Yudi dengan tatapan muram.


Thamrin mengangguk setuju. “Kami selalu menyalahkan kamu karena waktu itu Andra berubah drastis. Yang kami lihat hanya Andra yang bekerja keras untukmu tapi juga hancur karena kamu. Kami gak liat kalo kamu sendiri punya masalah. Kami bener-bener minta maaf untuk semua itu ya, In. Semoga semua ini gak membuat kamu nyesel punya teman-teman seperti kami.”


“Dari mana... “


Aku memandang keduanya. Mengingat arti mereka dulu bagiku.


Terlepas dari semua masalah, dua orang di depanku ini adalah sekian dari beberapa sahabat dekat yang selama dua tahun terakhir mengisi hidupku. Kami pernah memancing bersama, makan bareng tak terhitung jumlahnya bahkan seringkali makan dan minum dari gelas atau piring yang sama, bermain dan berolahraga bersama, jalan-jalan ke banyak tempat pun pernah kami lakukan bersama.


Tak hanya itu, keduanya juga pernah membantuku. Yudi mengajariku membuat dokumen presentasi, Thamrin selalu menjadi lawan bicaraku saat mempraktekkan bahasa gaul dalam bahasa Inggris.


Setiap kali mereka pulang ke kampung halaman, selalu ada oleh-oleh khusus untukku. Ketika keduanya menemukan gadis yang mereka sukai, kami bahkan menyusun surat cinta bersama-sama.


Keduanya juga yang berusaha membuatku dan Andra semakin dekat. Mengajariku caranya agar Andra mau bicara padaku atau sekadar mau duduk di sisiku. Berulangkali juga mereka menciptakan kesempatan untukku dan Andra bisa berduaan.


Mereka bukan lagi teman atau sahabat, tapi bagiku sudah seperti dua kakak laki-laki.


“Kami harap kamu gak nyesel berteman dengan kami, In. Kamu itu teman yang lucu, manis dan baik. Sejujurnya, waktu dengar Andra nyakitin suamimu, aku juga marah. Andai aku gak kenal baik Andra, mungkin sudah kupukul dia untukmu, In. Tapi... dia juga teman kami.” Yudi menundukkan kepalanya.


Mataku berkaca-kaca mendengar kalimatnya. Yudi mengenal Andra jauh sebelum aku. Mereka sudah mengalami pasang surut bersama. Aku sangat mengerti soal itu.


Kupasang senyuman di wajah. “Kak Yudi, aku gak pernah nyalahin Kakak. Aku juga gak pernah marah apalagi nyesel berteman sama Kakak. Bagiku, Kak Yudi dan Kak Thamrin adalah kakak-kakakku. Apapun yang terjadi denganku dan Andra, itu masalah kami. Aku justru makasih banget kalian sekarang mau dateng. Hanya... maafkan aku, Kak. Jujur gak mudah bisa nerima Kak Andra lagi.”


Thamrin mengangguk cepat. “Iya, In. Kami ngerti. Kami ngerti banget. Makanya aku sama Yudi bersyukur banget suamimu bersedia menerima kedatangan Andra. Kami mohon... setidaknya, bantu kami, Inka! Andra harus bertemu Arzi. Dia benar-benar merasa bersalah dan... Inka, entah kamu tau atau tidak, tapi Andra... Andra sudah resign.”


“Hah?” aku menatap tak percaya pada Thamrin lalu berpindah pada Yudi yang menjawab dengan anggukan.


“Sebenarnya tidak ada masalah dari kantor. Apalagi suamimu tidak membuat laporan polisi. Tapi... Andra sangat menyesal. Mas Arzi mungkin terluka, tapi dia... Andra benar-benar sangat hancur. Tiap hari kami lihat dia, kami gak tega, In. Yang dia inginkan hanya minta maaf langsung dengan suamimu. Itu aja.”


Aku menatap Yudi dengan ragu. Tapi kesungguhan dalam matanya membuatku mulai menghilangkan keraguanku.

__ADS_1


Thamrin maju. “Kami akan menemani Andra ke sini, In. Kami akan pastikan dia tidak akan melakukan apapun yang berbahaya. Kamu bisa yakin soal itu. Kalo Andra macam-macam lagi, kami yang akan urus dia.”


Senyum di wajahku perlahan muncul melihat kesungguhan di wajah Thamrin, sebelum mengangguk setuju.


Lalu tak lama keduanya juga pamit setelah melihat suasana hatiku jauh lebih baik.


“Marah?” tanya Arzi ketika kami telah berdua lagi.


Aku diam, hanya menyibukkan diri membereskan sampah di ruang tamu.


“Kalau niatnya silaturahmi, kita tidak boleh menolaknya, Inka. Apalagi ini dengan sesama saudara muslim,” kata Arzi sambil membantuku.


Tangannya yang masih terluka masih diperban. Tapi karena dokter bilang ia harus melatih jari-jarinya, Arzi sudah mulai menggunakan tangan kanannya kembali.


Tapi, setiap kali melihatnya meringis saat menggerakkan jari, aku tak bisa menyembunyikan rasa sakit di hatiku.


“Inka gak marah, Mas. Hanya gak ngerti kenapa Mas Arzi masih mau ketemu Kak Andra?”


Arzi tersenyum padaku. Dia duduk di sisiku, mengambil plastik sampah dan meletakkannya di tepi. “Tadi teman-temanmu gak cerita keadaan dia gimana?”


Aku mengangguk. “Cerita sih... tapi apa itu penting?”


Arzi memperlihatkan perban di tangannya. “Saya luka di sini, Inka. Tapi Andra... “ Suamiku meletakkan tangannya di dadanya. “Orang itu terluka di sini. Saya punya kamu. Istriku yang cantik dan penyayang. Sementara Andra gak punya siapa-siapa. Kalau dibiarkan, dia bisa menghancurkan dirinya sendiri.”


“Biarin! Biar dia rasa!”


“Gak boleh gitu, Inka. Itu namanya kita sengaja membuat seseorang melakukan dosa. Menyakiti diri sendiri itu termasuk dosa besar loh.”


Aku memilih diam. Kalau sudah membawa dosa dan pahala begini, itu artinya aku tak akan pernah menang berdebat dengan Arzi.


“Berilah dia kesempatan, In! Kalau kamu masih gak ingin ketemu, nanti saya dan Dirga saja yang akan bertemu dengannya.”


Tak ingin membahas masalah Andra lagi, aku memeluk leher suamiku.


“Mas ini pernah marah gak sih? Kok bisa sabar ngadepin semua itu?” tanyaku sambil mencium pipinya.


Tangan Arzi juga memeluk pinggangku. “Karena Allah bersama orang sabar. Kan udah berulangkali juga saya jelasin.” Tangannya yang diperban, menjentik ujung hidungku. “Siapa bilang saya gak pernah marah? Tanya tuh adik-adik saya di kampung! Siapa kakak mereka yang paling galak?”


Aku terkekeh. “Iya, Inka tahu. Itu kan supaya mereka mau sholat. Tapi kalo sama Inka, Mas sabar banget. Gak pernah bentak. Gak pernah marah-marah.”


“Itu karena seorang suami harus bersabar saat menghadapi istrinya, Inka.”


“Kenapa?”


“Karena jika seorang suami bersabar pada istrinya, istrinya akan bersabar pada anak-anak mereka.”


Aku terdiam. Baru menyadari kalau saat ini sudah ada nyawa lain dalam rahimku.


Seakan membaca pikiranku, Arzi mempererat pelukannya. “Insya Allah, anak kita akan punya kesabaran yang sama, Inka. Banyak-banyaklah berdoa! Doa ibu itu adalah doa paling mustajab di dunia.”


Kusandarkan kepalaku di dada suamiku. Aku tak ingin berpikir, hanya ingin bersandar dan menghilangkan semua beban dalam pikiranku.


*****


 

__ADS_1


 


__ADS_2