Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 56 - Mengubah Desain


__ADS_3

Melihat airmataku meluncur deras usai menceritakan masa kecilku yang berliku, Arzi berdiri di sisiku.


"Saya bukan mereka, Inka. Saya adalah suamimu. Punya kewajiban yang beda. Saya gak akan pernah meninggalkanmu."


"Tapi Inka takut, Mas. Benar-benar sangat takut. Kalau gak ada Mas, siapa lagi yang mau urus Inka?"


Arzi menarik kursi dan duduk di sebelahku. Ia memegang tanganku dan menatapku.


"Inka dengar! Kamu harus belajar berani mengambil keputusan. Itu sangat penting buat keluarga kita. Kita menikah bukan untuk membuatmu menjadi lemah. Kamu harus lebih kuat, karena ada saya di belakangmu. Jangan takut, Sayang!"


"Kalau Mas gak suka gimana?"


Arzi tersenyum dan menatapku lembut. "Komunikasi, Inka. Kamu bisa nyampein ke saya apa yang kamu pikirkan, kita bicarakan dan ambil keputusan bersama! Kalau terpaksa, kamu tinggal mikir dengan skala prioritas. Seperti saat kamu bekerja. Kamu ngerti kan maksud saya ini?"


Aku menatap suamiku. Tangisku berhenti. Berusaha meyakinkan diriku sendiri.


"Beneran boleh?" gumamku. Masih sedikit ragu.


Arzi mengangguk lagi, sambil tersenyum. "Gak masalah pendapat kita berbeda. Selama untuk kepentingan keluarga, untukmu dan untuk saya juga," lanjut Arzi. Matanya meyakinkan diriku.


Tanpa melepaskan tanganku dari genggamannya, aku sedikit memutar tubuhku dan menunjuk ke arah tangga dengan mulut. "Tangga itu... Inka ingin dibuat biasa saja. Kotak aja, tidak berputar sempit seperti itu. Tangga seperti itu memang indah, tapi akan sulit menaikkan atau menurunkan barang. Bagian bawahnya juga gak bisa dimanfaatkan. Untuk anak-anak dan orangtua, tangga itu bisa berbahaya."


Lalu, aku menunjuk ke arah ruang tamu. "Sekat bambu itu. Ganti saja dengan sliding door yang bisa dilipat dengan kaca satu arah. Jauh lebih mudah dirawat dan tahan lama. Bambu memang bagus, tapi perlu perawatan. Aku bukan orang yang rajin, Mas."


Arzi terkekeh mendengarnya. Ia tak berkata apa-apa. Hanya mengangguk setuju.


Lalu aku menghentakkan kakiku ke lantai dua kali. "Lantai ini, tidak sama tinggi dengan ruang tamu dan lantai dapur. Itu berbahaya untuk anak-anak, Mas. Beda beberapa senti seperti ini justru lebih berbahaya. Anak-anak kecil biasanya suka berlari dan mereka kadang gak sadar dengan perbedaan tinggi."


Arzi tetap mendengarku dengan sabar.


Aku menoleh padanya. "Mas yakin mau dengerin semuanya?"


"Kenapa? Masih belum yakin? Barusan kamu bahkan memperhitungkan bahaya untuk anak-anak dan orangtua. Buat saya itu sangat penting dan untung kau mengingatnya, Sayang."


Aku menunduk malu. "Kita mungkin gak punya anak, tapi keponakan... "


"Jangan pernah bilang gitu, Inka. Sudah teruskan apa lagi yang harus saya ubah," kata Arzi mengalihkan kembali ke rencana rumah.


"Lampu-lampu gantung di dapur dilepas aja. Tapi jangan dibuang. Nanti Inka pikirin buat dipake di mana. Yang jelas jangan di dapur. Itu justru bikin ribet. Membentuk bayangan, boros juga, mungkin akan membuat orang yang punya tinggi badan lebih kejedot. Lebih baik pakai saja lampu tanam yang praktis."


Tanpa berkedip, Arzi mengangguk.


"Itu... " Aku menunjuk ke arah pintu tunggal ruang keluarga yang menuju taman. "Bisakah diganti pintu perancis saja?"


"Pintu perancis?" tanya Arzi.


Aku mengangguk. "Itu pintu yang sampai bawah, seluruh dinding dengan kaca. Sedikit mahal, tapi worth it. Taman di samping itu cukup indah, aku ingin kita bisa menikmatinya setiap saat tanpa perlu membuka jendela. Kalau Mas kuatir soal privasi saat ada tamu, kita bisa menambahkan tirai gulung atau gorden."

__ADS_1


"Baiklah."


"Jendela ruang keluarga juga sebaiknya diganti dengan jendela dengan dudukan, Mas. Keluarga kita kan keluarga besar. Biarkan mereka menikmati duduk di depan jendela. Anak-anak selalu menyukainya. Kita juga bisa membuat lemari kecil di bawahnya."


Arzi terus mengangguk. Senyumannya makin lebar.


Merasa ia sedari tadi hanya diam dan menjawab singkat, aku berhenti.


"Kenapa berhenti? Teruskan... " kata Arzi.


Aku menatapnya. "Biaya, bagaimana soal biaya?" tanyaku kuatir.


Arzi tertawa. "Jangan pikirkan itu dulu, Sayang! Seperti saya bilang, ini rumah masa depan kita. Saya ingin semua harapan dan keinginan kita berdua ada di rumah ini. Kalaupun harus menunggu bertahun-tahun, tidak masalah. Tapi setiap bagian dari rumah ini, harus selalu jadi yang terbaik untuk keluarga kita."


"Kalau terlalu besar gimana?" tanyaku sedikit kuatir, karena Arzi terlalu memanjakanku, ia kehilangan akal sehat.


"Kita akan membangunnya secara bertahap. Seperti yang selama ini saya kerjakan. Lihat saja mushola itu... Sampai sekarang belum selesai."


"Oh? Jadi itu mushola? Aku pikir itu kamar untuk Bapak dan Ibu."


"Kamar mereka ada di atas. Sudah lama selesai."


Buru-buru aku menggeleng. "Enggak, Mas! Kamar orangtua gak boleh di atas. Semakin tua, lutut dan sendi orangtua itu akan semakin lemah. Mereka gak mungkin naik tangga semudah kita. Tidak... "


Aku memutar-mutar tubuhku melihat sekeliling lantai 1. Dan melihat ruangan di depan ruang makan. Di sebelah ruang tamu pertama.


Arzi menatap ruangan itu sebelum kembali menoleh padaku. "Ruang kerja saya," jawabnya.


Aku melongok. Berapa banyak ruang kerjanya? Arzi bahkan punya satu di kamar kami.


"Ruang kerja di atas itu hanya sementara. Saat kita punya bayi, akan untuk kamar bayi. Jadi saya nyiapin satu di bawah. Yang di bawah juga untuk persiapan kalau ada urusan kerja dengan teman."


Aku menggeleng-geleng. "Tidak perlu, buat bayi tinggal beli box, taruh saja di kamar kita sudah cukup. Masih luas itu juga. Mas pakai ruang di atas itu buat kerja selamanya aja. Untuk pertemuan dengan teman Mas... "


"Kalau begitu... " Aku berdiri di tengah-tengah ruangan yang kumaksud. "Ruang keluarga tetap. Tapi ini... yang depan Mushola ini jadikan kamar Bapak dan Ibu aja. Posisinya bagus, biar mereka juga bisa tenang ngaji di mushola dengan mudah. Lalu... di sana itu, dapur, ruang makan, dan dinding itu.... "


Aku menoleh pada Arzi. Menatapnya dengan rasa bersalah sebelum meneruskan. "Apa boleh dinding itu dijebol?" tanyaku ragu.


Arzi tertawa kecil. "Tentu saja."


"Kalau gitu, itu dijebol aja, ganti dengan penyekat ruang yang mobile aja. Jadi Mas masih bisa punya ruang kerja. Tapi yang di bawah gak perlu terlalu besar. Mas pakai ruang tamu aja. Kalau memang rahasia banget, Mas bisa pindah ke ruang kerja di atas kan? Mas bisa bikin satu pintu lagi yang nyambung keluar. Gimana?"


"Good idea."


Aku memandang sekelilingku, tersenyum puas, seakan bisa membayangkan hasil rancangan yang masih ada di kepalaku.


"Mmmm... Inka... Tapi itu artinya kita harus buat desain yang baru untuk kontraktornya."

__ADS_1


Aku menoleh pada Arzi. "Gampang itu sih, aku bisa gambar, nanti aku minta temanku buat revisi," jawabku santai sambil mengangkat bahu.


Tanpa berkata apa-apa, Arzi berdiri dan memelukku.


"Look, you can do it so well, Sweetheart! Bahkan saya tak pernah tahu semua yang kamu bilang itu. Baru ngerti sekarang. Andai kamu tetap gak berani ngambil keputusan, yang dapet bahaya itu bukan orang lain, tapi mungkin keluarga kita. Mungkin juga menyulitkan buat kita semua."


[Lihat, kamu bisa melakukannya dengan baik, Sayang!]


Aku mengangguk setuju. Kini aku mengerti maksud Arzi.


"Rumah ini dirancang saya sendiri, berdasarkan pengalaman dari denger dan lihat saja. Juga karena saya hanya butuh ruangan-ruangan itu tanpa mengerti bahaya atau bagus letaknya. Buat saya semua sama aja."


Arzi mengelus rambutku dan menciuminya.


"Tapi kamu... kamu sudah bekerja dengan orang-orang yang membuat banyak gedung dalam berbagai fungsi. Mungkin juga ikut memberi ide dan saran berarti. Jelas itu pengetahuan yang sangat berguna. Selanjutnya, saya juga ingin kamu terus melakukan itu untuk keluarga kita. Mengambil keputusan untuk kebaikan keluarga kita."


Kudongakkan kepalaku. "Thank you for believing my decision, Husband!"


[Makasih udah percaya padaku, Suami.]


"You're welcome, Wife!"


[Sama-sama, Istri]


Kami berpelukan sambil menggoyang-goyangkan tubuh. Tertawa kecil bersama.


"Mas... " panggilku lembut.


"Iya, Sayang, " jawab Arzi juga dengan lembut.


Satu tanganku terangkat, menunjuk ke jendela kecil dekat dapur. "Itu... jendela Awning itu... Harusnya pas dibuka ngadepnya ke luar, bukan ke dalam. Asap akan makin sulit keluar kalau seperti itu. Juga agar mudah dibuka untuk orang keluar jika terjadi situasi darurat."


Arzi menatap ke arah yang kutunjuk, lalu dia tergelak.


"Satu lagi... biarkan saja semua orang memakai bahasa Sunda di depanku. Aku gak keberatan. Aku akan tanya maksud mereka apa kalau perlu. Aku juga ingin bisa memakai bahasamu, Sayang!" ucapku lembut.


Ya, lagipula menambah satu lagi bahasa asing bukanlah masalah untuk seorang polygot sepertiku. Belajar bahasa terbaik adalah langsung praktek. Mau salah atau benar, waktu yang akan memperbaikinya perlahan-lahan.


"Whatever you said, Sweetheart," Arzi mempererat pelukannya.


[Apapun yang kau katakan, Sayang]


Aku tersenyum puas. Memeluk Arzi juga lebih erat. Bersyukur memiliki seseorang yang menghargai pendapatku. Senang juga bisa melakukan sesuatu untuk keluarga kami. Aku merasa diriku berharga.


*****


 

__ADS_1


 


__ADS_2