Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 26 - Ikut Dia Selamanya


__ADS_3

Arzi tampak bingung melihatku kehilangan kendali diri. Ia membawaku masuk ke kamar dan membaringkanku di tempat tidur. Tangisku tetap tak mau berhenti, meski aku berusaha keras menahannya. Makin aku berusaha, airmataku justru makin menjadi-jadi.


Tak ada pertanyaan keluar dari mulut Arzi. Dengan tenang, ia memberiku selimut, membiarkanku menangis sepuas-puasnya dan membantu membangunkanku lagi untuk minum segelas air putih. Selesai minum, dan aku masih terus menangis, ia kembali duduk di kursi. Di depanku. Hanya memandangiku. Malu dilihat olehnya, kututupi seluruh tubuhku hingga kepala dan kembali menangis.


Setelah aku lebih tenang, dan hanya sesekali sesegukan, aku tahu Arzi keluar dari kamar. Tak lama, ia kembali sambil membawa bungkusan. Ada aroma makanan tercium. Tapi aku tak sedang ingin makan. Aku hanya ingin menangis dan tidur. Seluruh jiwa ragaku kelelahan atas semua yang terjadi.


Aku tak tahu apa yang terjadi kemudian, karena ternyata aku tertidur. Mataku terbuka ketika mendengar sayup-sayup suara orang. Kupasang telingaku baik-baik dan suara itu... suara yang tidak asing. Suara orang mengaji seperti saat aku pertama kali bertemu Arzi.


Aku diam, mendengarkan. Sama seperti dulu. Suara pelan, tapi begitu jernih. Tidak mendayu-dayu, tapi menenangkan. Aku tak mengerti satupun arti dari bacaan itu, tapi entah mengapa aku menyukainya. Hatiku yang seperti dipenuhi batu, seakan diangkat satu demi satu, lebih ringan.


Aku terkenang Nenek, yang dulu juga sering mengaji di tengah malam seperti ini. Ketika itu, suara Nenek bagai alunan musik untuk membangunkanku, dan biasanya aku terbangun melihat Nenek yang sedang sholat tahajud. Sekarang... di sini, aku kembali diingatkan, sudah lama sekali tak ada orang di sekelilingku yang mengaji.


Tanpa sadar aku bergerak. Gerakanku itu membuat alunan suara mengaji itu berhenti. Aku duduk, melihat ke arah Arzi yang kini sudah berdiri sambil melipat sajadahnya. Ia tersenyum padaku.


"Mau makan?" tanya Arzi sembari mendekatiku.


Aku tersenyum. Menggeleng. Menunduk sambil menghembuskan nafas. Memang aku lebih lega sekarang, tapi tetap saja masalahku tetap ada.


"Makanlah dulu! Nanti baru cerita apa yang terjadi sampai kamu sesedih itu, siapa tahu saya bisa bantu," kata Arzi. Tangannya sibuk mengambil bungkusan dari dalam plastik dan membukanya. Nasi Goreng Merah.


Aku tak menjawab. Tapi membiarkan Arzi duduk di sebelahku dan mulai menyuapkan sesendok nasi. Tanpa membantah atau menolak, aku membuka mulutku.


"Maaf ya agak dingin. Habis tadi kamu malah tidur. Gak tega saya mau bangunin."


Aku tetap diam tak menjawab. Namun, aku membuka mulut dan membiarkan Arzi menyuapiku.


Suasana kamar menjadi sepi. Hanya terdengar suara gesekan bungkus nasi dan sendok di tangan Arzi, deru AC dan sesekali klakson mobil di luar hotel. Tampaknya Arzi tak ingin memaksaku, ia membiarkanku tenggelam dalam pikiranku sendiri selama masih mau makan. Bagai boneka robot, aku mengikuti semua yang ia perintahkan. Makan sampai habis dan minum air putih sampai tandas.


"Kamu mau mandi?" tanya Arzi setelah membereskan sisa makanan. Aku mengangguk lagi dengan patuh. Tanpa bersuara, aku mengambil kunci mobil dari saku jaket. Arzi mengerti. Ia harus mengambil ranselku di mobil.


Seperti saat menyuapiku tadi, Arzi menyiapkan segalanya sebelum aku mandi. Ia turun sebentar, masuk lagi ke kamarnya dengan tas ransel milikku di tangannya. Ia sempat terlihat ragu saat akan membuka ransel untuk mengambilkan baju dan pakaian dalamku. Tapi kemudian, ia melakukannya juga setelah memandangi diriku yang hanya duduk terpaku menatap ke arah jendela yang tertutup.


Usai menyiapkan kamar mandi untukku, Arzi membimbingku. Mungkin kalau ia bisa, ia yang akan memandikanku. Tapi tidak. Setidaknya aku masih bisa mandi sendiri. Itu kalau bisa disebut mandi, karena yang kulakukan hanyalah berdiri di bawah shower dan membiarkan air membasahi tubuhku. Airmataku yang sempat berhenti kembali mengalir.


Setelah mandi, berganti pakaian dan keluar dalam keadaan rambut basah, Arzi sudah menunggu di luar. Spontan ia bergerak mengambil handuk dan menutupi rambutku yang basah kuyup. Aku duduk lagi tepi tempat tidur, kembali diam dan membiarkan Arzi mengeringkan dan menyisir rambutku.


"Kita pulang sekarang ke Sangatta, ya. Kira-kira kamu bisa gak?" tanya Arzi dari belakangku.


Aku diam, sebelum akhirnya menggeleng. Tidak, aku tak sanggup bertemu Andra sekarang. Aku tahu, ia pasti mengira aku sudah pulang ke Sangatta dan saat ini sedang menuju rumah kostku. Aku bahkan tak tahu harus bagaimana menjelaskan padanya. Bukan salahnya. Bukan salah kami berdua. Kami hanya korban.


"Bukannya besok kamu harus kerja?" Kembali Arzi mengingatkan.


Bagaimana aku bisa bekerja sekarang? Aku bahkan tak ingin hidup lagi.


Aku mendengar suara helaan napas dari belakangku. Sebelum akhirnya Arzi berdiri dan kini berada di depanku. Tampak sekali ia ingin bertanya, tapi berusaha menahan diri.


"Inka, mencintai seorang manusia itu selalu berat. Siapapun dia. Orangtua, pacar, teman bahkan diri sendiri. Kalau kamu bingung... kalau kamu merasa sangat susah... pikirkan saja bagaimana caranya untuk menunjukkan cinta pada Allah. Apapun yang kita lakukan demi Allah, pasti bawa kebaikan untuk kita."


Demi Allah?


Aku tak tahu maksud dari kalimat Arzi. Sungguh. Apa yang harus kulakukan untuk Allah sekarang sementara aku saja merasa semua yang terjadi ini terasa tidak adil?


Aku hanya bisa menangis. Tersedu-sedu lagi. Tak tahu harus mulai dari mana menceritakan semuanya. Ini bukan dimulai tiga bulan lalu atau setahun saat aku baru kenal Andra, ini dimulai sejak bertahun-tahun lalu. Keluargaku hancur lebur karena keluarga Andra.


Tangan Arzi menepuk bahuku, menenangkan. Aku ingin memeluknya. Tapi aku tahu, ia pasti tak mau. Bersentuhan saja ia tak mau. Ia duduk di depanku.

__ADS_1


"Saya gak tahu apa masalahmu, tapi saya tahu kamu sedang bingung. Jika ini ada hubungannya dengan saya, saya akan lakukan apapun untuk membantumu. Jika tidak, maka putuskan apa yang paling menurutmu baik untukmu, untuk keluargamu, untuk orangtua dan untuk mereka yang kamu sayangi, In."


Aku mendongak, menatap pria ini. Seakan mengerti, Arzi tersenyum. "Orangtua adalah perpanjangan kasih sayang Allah di dunia, restu dan doa mereka cukup untuk membuat kita keluar dari masalah. Memikirkan kebaikan mereka kewajiban terbaik untuk setiap anak. Memutuskan sesuatu dengan memikirkan mereka juga cara terbaik menyelesaikan semua masalah."


Lelaki ini... tak punyakah ia rasa ingin tahu di balik alasan aku menangis? Bagaimana juga ia bisa bertahan berada dalam ruangan yang sama dengan seorang perempuan dan sama sekali tak melakukan apapun?


Tak ada satu pertanyaan tentang alasan aku menangis dan berlaku seperti sekarang sejak tadi dari mulutnya. Ia benar-benar melakukan semua yang ia janjikan dulu padaku. Menjagaku, mengurusku, menghormatiku...


Menyadari aku dan dia saling bertatapan beberapa menit, Arzi berdiri. Ingin menghindar.


"Pak, dulu Bapak benar-benar serius waktu ingin menikahi aku?" tanyaku tiba-tiba.


Arzi termangu mendengar suaraku. Ini pertanyaanku sekaligus kata-kata pertamaku sejak masuk kamarnya tadi. Ia kembali duduk di depanku, mengangguk penuh keyakinan.


"Kalau begitu, Bapak mau nikahi aku?" tanyaku lebih tegas. Menatapnya.


Aku tahu, ada banyak pertanyaan dalam benak pria di hadapan ini sekarang. Sangat banyak karena matanya yang mengatakan itu padaku. Tapi ia tak mengatakannya sama sekali. Ia hanya menatapku, dan tersenyum.


"Kalau begitu, kalau kamu mau menikah dengan saya, mulai sekarang ikuti apapun yang saya minta. Saya janji, semua yang saya lakukan dan saya minta itu hanya untuk kebaikanmu. Mau?" ucapnya pelan.


Aku mengangguk. Aku mempercayainya.


Sejak awal, ia sahabatku. Arzi tak pernah menuntutku, bahkan tak pernah menanyaiku. Ia selalu bisa membuatku tersenyum, berada di sampingnya membuatku tenang dan melupakan segalanya. Selalu ada jawaban untuk semua yang membuatku gundah. Aku yakin, bersamanya aku bisa menghadapi apapun.


Aku tahu, aku tak mencintainya. Tapi apa gunanya cinta ketika hanya airmata dan beban berat yang diberikan? Tidak, aku tak ingin seperti Mama. Aku tak mau menjadi perempuan yang menangisi cinta, dikhianati cinta berulangkali tapi tak bisa melepaskannya.


Aku perempuan kuat, aku tak boleh kalah oleh cintaku sendiri. Apalagi kini aku sadar, hubunganku dengan Andra takkan mungkin bisa menyatu. Ada luka masa lalu di antara kami, dan aku tak mau menodai pernikahanku dengan luka sekecil apapun.


Aku lebih tak ingin menjadi seseorang yang terjepit antara kekasih dan keluargaku. Pondasi pernikahanku harus kuat. karena hanya dengan itu, aku bisa bahagia. Tak cukup hanya cinta sebagai pondasi terkuat, karena bisa pudar dan tak abadi. Aku harus merasa nyaman, aman dan tenang saat bersama pria yang akan kusebut suami. Itu janji yang kuucapkan bertahun-tahun lalu ketika melihat pernikahan orangtuaku yang semrawut.


"Pak Hans minta aku balik besok. Kerjaanku banyak. Tapi..." Airmataku jatuh lagi. Saat ini aku tak yakin bisa bekerja lagi.


Tangan Arzi bergerak, menghapus airmataku. "Sudah, jangan menangis lagi! Lupakan semuanya! Sekarang ambil wudhu, kita sholat bersama. Bersyukur sama Allah, minta petunjuk sama Allah. Nanti biar saya yang hubungi Hans. Saya yang akan jelasin."


Aku hanya bisa mengangguk.


Seperti yang diinginkan Arzi, kami sholat bersama tengah malam itu. Tapi airmataku tetap jatuh. Bukan karena aku sedih atas kenyataan yang terjadi antara aku dan Andra, justru sebaliknya. Entah mengapa, aku merasakan sesuatu yang sangat indah melihat ada orang lain memimpinku untuk sholat bersama. Orang yang kini kupercaya penuh untuk menjagaku seumur hidup.


Doa yang dilantunkan Arzi setelah sholat cukup panjang. Aku masih tak mengerti, tapi bisa merasakan makna doanya begitu dalam karena aku bisa mendengar suara Arzi yang biasanya jernih sedikit serak menahan haru. Apapun itu, aku hanya bisa mengamini.


"Tidurlah lagi, baru jam 2 pagi," kata Arzi sambil melipatkan sajadahku. Ya ampun, ia benar-benar mengurus segalanya.


"Bapak tidur di mana?" tanyaku iba.


Arzi menunjuk sofa kecil dalam kamar VIP itu. Aku tersenyum dan mengangguk.


Kami berdua tertidur sampai Subuh menjelang. Aku sendiri terbangun ketika Arzi yang membangunkanku. Sekali lagi kami sholat bersama, sebelum mulai bersiap-siap. Saat aku mandi dan selesai berganti baju, aku mendengar Arzi sedang bicara dengan Hans melalui telepon kamar hotel itu.


"... Thank you for your kind, Pak. I really appreciate it... yes sure, sure. I'll make sure she’ll fine... Ok, here she is... " Arzi melepas gagang telepon dari telinganya dan menyodorkan padaku. "Hans mau ngomong!"


[Terima kasih Pak. Saya sangat hargai itu... Ya tentu, tentu. Saya akan pastikan dia baik-baik saja. Oke, dia di sini.]


"Yes, Pak?"


"Are you ok, Inka? Why didn't you tell me that you are getting married to this guy? How about Mr. Andra? Ok, just tell me what your reason to decided this suddenly?"

__ADS_1


[Kamu gak apa, Inka? Kenapa gak bilang kalau kamu akan menikah dengan pria itu? Bagaimana dengan Andra? Oke, jelaskan apa yang jadi alasanmu memutuskan secara tiba-tiba begini?]


Bahkan Hans saja tak bisa menunggu untuk melontarkan pertanyaan. Aku tersenyum, sambil melemparkan tatapan pada Arzi, yang duduk di tepi tempat tidur yang sudah dirapikannya. Untung dia tak cerita kalau semalam aku histeris.


"Hans, I have my own reason and I'll tell you when we meet. But I really need your permission to go back to my parents. May I?" tanyaku penuh harap.


[Aku punya alasan sendiri dan aku aku akan bilang saat kita bertemu. Tapi aku perlu izinmu untuk kembali ke orangtuaku. Bolehkah?]


"Inka, you can go as long as you want. But please return to the office when you ready. I love to work with you, and I don't want to lose my little secretary. Go ahead with your plan! Give my wish to your family and I hope everything is alright for you."


[Kamu boleh pergi selama kamu mau. Tapi kembalilah ke kantor kalau kamu sudah siap. Aku suka bekerja bersamamu dan aku tak ingin kehilangan sekretaris kecilku. Lakukanlah rencanamu! Sampaikan salamku untuk keluargamu dan aku berharap semuanya baik untukmu.]


"Thank you, Hans. Thank you for your understanding. I'll call you if I arrived in Balikpapan," janjiku dengan senyum tipis tersungging.


[Makasih, Hans. Makasih atas pengertianmu. Aku akan menelpon saat tiba di Balikpapan]


"Ok, Inka.* See you then. Take care*."


"You too, Hans. Thank you."


Telepon kami berakhir. Arzi sedang sibuk mengatur tas-tas ransel kami. Ia menoleh melihatku yang hanya berdiri bingung, tak tahu harus melakukan apa.


"Nanti mobilmu dibawa sama teman saya untuk diantarkan ke kantormu. Tadi saya sudah bilang ke Hans. Kuncinya mana? Biar saya urus. Jangan kuatir!"


"Terus kita naik apa ke Balikpapan, Pak?" tanyaku bingung. Kupikir tadi kami akan menyetir ke Balikpapan.


Arzi memutar tubuhnya, menatapku. "Naik pesawat. Kebetulan ada teman saya yang kerja di Badak, jadi mau bantuin ngurusin tiket. Kita langsung berangkat sekarang."


Teman lagi. Teman Arzi cukup banyak untuk ukuran seorang pendatang.


"Sekarang?" ulangku tak yakin. Baru lewat Subuh, dan kami harus berangkat sekarang? Arzi hanya mengangguk dan kembali sibuk mengurusi semua tas. Aku hanya duduk memandanginya.


Kemudian, Arzi mengambil salah satu kerudung yang kemarin ia berikan padaku. Membawanya padaku.


"Inka, mau menutupi rambutmu yang berharga itu untuk saya?" tanya Arzi sambil menyodorkan kerudung berwarna merah muda padaku.


Aku mengangguk, namun menatapnya dengan wajah merona karena malu. "Tapi aku gak ngerti cara pasangnya, Pak."


Dengan sabar, Arzi memasangkan kerudung itu di kepalaku. Tidak sepenuhnya rapi tapi ternyata cukup nyaman. Karena dipasangkan, rambutku masih menyembul sedikit. Arzi bilang tak masalah, namanya juga baru belajar.


Sekitar sepuluh menit kemudian, kami sudah turun ke lobby dan pria yang kemarin kulihat tampak kaget melihat aku berjalan di belakang Arzi. Tapi dengan cepat ia menyembunyikan keheranannya.


"Assalamualaikum, Mas! Ini tadi ada titipan dari Pak Yanto," kata pria itu sambil mengangguk hormat pada Arzi, menyodorkan amplop coklat besar yang terlihat tebal.


"Waalaikumsalam, makasih ya Mas Ikhsan," kata Arzi usai menerima amplop itu, lalu menoleh padaku, "Inka sini! Kenalin nih Mas Ikhsan... Mas, ini Inka, calon istri saya."


Ikhsan tampak terkejut. Usai memberi salam padaku seperti cara Arzi yang tak menyentuh tangan, ia bertanya, "Kapan rencananya, Mas?"


"Secepatnya, Mas. Sebelum saya ke Jakarta kalau perlu."


Kalau Ikhsan terkejut, aku lebih dari itu. Tapi aku sudah menyerahkan semua urusan pada Arzi. Mengikuti semua yang ia mau.


Dalam mobil menuju bandara yang mengantar kami berdua, aku baru tahu kalau amplop itu berisi reservasi booking pesawat dan sejumlah uang tunai. Tanpa sungkan, Arzi membagi dua uang tunai. Tanpa kata, ia memberi isyarat agar aku memberikan tas tanganku. Lalu ia memasukkan sebagian besar uang tunai ke dalamnya, sementara sisanya ke dompetnya sendiri. Aku tertegun. Tapi tak bisa berkata apa-apa hingga ia meletakkan tas kembali ke pangkuanku.


Aku ingin menolak tapi malu membantah. Kuatir terdengar oleh Ikhsan yang sedang menyetir. Arzi juga memberi kode dengan gelengan kepala. Setelah itu, ia sibuk menanyakan beberapa hal yang tak kumengerti pada Ikhsan.

__ADS_1


Aku tak pernah tahu, bahwa kehidupanku akan berputar sangat cepat begitu meminta Arzi menikahiku.


__ADS_2