
"Mbak, gak pulang?" tanya Tammy setengah mengingatkan sambil menunjuk jam yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Saat itu sudah pukul 5 sore. Ia berdiri di pintu.
Aku tersenyum. "Gak, Tam. Kerjaan segini banyak. Mau saya beresin. Bentar lagi Pak Jeremy mungkin ke sini."
Tammy melangkah masuk. "Pak Jeremy gak jadi ke sini, Mbak. Tadi udah info ke supir. Katanya mau langsung istirahat ke hotel, setelah ketemu dengan tamu dan jengukin yang masih stay di klinik. Besok pagi baru ke sini."
Sebenarnya aku juga sudah tahu itu. Tapi tak kusangka gadis muda di depanku ini tahu, jadi aku hanya mengangguk berpura-pura baru tahu soal informasi itu.
"Tapi ini tetap harus saya selesaikan... jadi mau gak mau... " Aku tertawa masam, menunjuk tumpukan file yang bertebaran di mejaku.
Hari pertamaku menjadi Manajer, aku sudah tahu inilah yang akan kuhadapi. Begitu banyak dokumen tertunda karena ketiadaan Manajer. maka saat SK keluar, aku harus segera menyelesaikannya.
Untunglah, selama ini Tammy dan Audia mengikuti dengan baik instruksi yang aku ajarkan pada mereka. Cukup dengan meneliti dan membaca sebentar, aku sudah bisa menandatanganinya. Hanya beberapa dokumen yang masih harus mereka revisi.
"Aku juga kayaknya hari ini nginep di sini. Bareng aja, Mbak!" kata Tammy.
Pucuk dicinta ulam tiba. Tapi hubunganku tak terlalu dekat dengan gadis ini, dan sebenarnya aku sedang ingin sendiri dulu. Lembur hanyalah alasan yang kubuat.
"Memangnya kerjaanmu masih banyak?" tanyaku.
Tammy mengangguk. "Ngecek hitungan slip gaji, Mbak. Tadi baru diselesaikan Audia. Takutnya besok kita makin sibuk."
"Terus kok malah di sini? Sana kerjain! Jangan maksain! Kerjaan kalo dituruti gak ada habisnya," kataku sambil tertawa.
Teringat diriku sendiri saat berada di posisinya dulu. Juga seperti itu. Suka bekerja sambil keliling sana sini, mengobrol dan bercanda sebelum kembali duduk menekuri pekerjaan dengan serius.
Malam itu akhirnya aku dan Tammy sama-sama menginap. Toh pakaian cadanganku dan semua keperluan yang dulu masih tersimpan rapi di lemari dalam kamar itu. Begitu juga Tammy.
Hanya Audia yang pamit karena kekasihnya sudah menjemputnya. Hebat gadis asistenku yang sekarang! Baru kurang dari tiga bulan bekerja, salah satunya sudah punya kekasih.
"Aku belum, Mbak. Cariin ya! Mamaku udah sibuk aja ngejodoh-jodohin!" cerita Tammy usai sholat Isya' saat kami sudah di kamar dan aku menggoda dirinya yang tak punya kekasih.
"Loh? Masih muda juga. Emang umurmu berapa sih?" tanyaku sambil mengambil mug berisi cappucino yang kusuka dan mulai mencecapnya.
"23, Mbak!"
Cairan kopi di mulutku menyembur keluar saat aku terbatuk-batuk usai mendengar jawaban Tammy. Buru-buru aku menyambar kotak tisu.
"Hah? Yang benar?" tanyaku. Tanganku sibuk mengelap lantai dan meja yang terkena kopi dengan tisu.
Tammy mengangguk dan duduk di tepi tempat tidurnya. Ada dua tempat tidur di kamar itu dan salah satunya bertipe bunk bed. Aku memilih tempat tidur single, sementara Tammy memilih bunk bed itu.
"Mi, kamu tau umur saya berapa?" tanyaku lagi sambil menahan tawa.
Tammy menatapku tak mengerti. "Wajah Mbak muda banget sih. Tapi... who knows? Mbak kan udah nikah, jadi mungkin sekitar 25 tahunan."
Aku tertawa terbahak-bahak. Rupanya Arzi sudah menularkan sebagian usianya padaku hingga aku terlihat lebih tua. Masih sambil tertawa, aku meraih tas tanganku yang tergeletak di lemari televisi dan mengambil KTP, yang kemudian kusodorkan pada gadis itu.
"Ooowalah. Ini berarti... Mbak sekitar 19 tahun! What? 19 tahun!!"
"April masih empat bulan lagi!"
Kali ini yang tertawa terbahak-bahak adalah Tammy. Ia mengembalikan KTP-ku. "Gak nyangka aku, Mbak. Lah berarti lulus SMA langsung kerja, atau sudah kerja? Cerita! Ceritain dong, Mbak! Aku emang liatnya penampilan Mbak kayak anak SMA gitu, tapi gak berani bilang. Astaga! Beneran loh aku gak nyangka!"
Lalu aku duduk dan mulai bercerita, tentang alasanku bekerja, tentang bagaimana dulu aku memulai pekerjaanku di perusahaan ini, bertemu Guruh dan Hans, menikah dan akhirnya bertemu Tammy. Sesekali Tammy bertanya, dan aku menjawabnya. Cukup lama kami berbicara, sampai televisi yang awalnya menayangkan berita berganti film dan film itu juga selesai.
Tammy menggeleng-geleng. "Hebat! Aku pikir Mbak pasti lulusan sarjana dari luar. Soalnya kalo klien nelpon, mereka tuh nyarinya selalu Mbak. Staf dan karyawan juga bilang kalo Mbak itu hebat gak cuma di kantor tapi juga di lapangan. Waktu di Balikpapan juga Pak Jeremy bilang yang bisa diandalin di sini cuma Mbak. Aku dan Audia sampe dikasih liat foto-foto Mbak waktu lagi di proyek-proyek, sama Pak Jeremy. Kami disuruh belajar banyak sama Mbak kalo nanti Mbak masuk kerja."
Aku hanya tertawa kecil. Sudah terlalu sering aku mendengar pujian seperti itu. Kepalaku bertumpu pada tanganku sambil menatap pada Tammy. "Dan kamu masih manggil saya Mbak, Mi. Jelas-jelas kamu lebih tua. Udah panggil nama aja!"
Tammy menggeleng dengan tatapan kuatir. "Gak bisa, Mbak Inka! Mbak kan Manajer Cabang. Yang nentuin performa gaji aku. Kasta usia gak berlaku di kantor, Mbak. Berlakunya di sini itu kasta jabatan."
Aku kembali tertawa. Hanya bisa menerima kata-katanya dengan anggukan.
"Mbak luar biasa ya, semuda ini bisa dapetin semuanya. Pekerjaan yang bagus, posisi pimpinan, sudah nikah pula. Suami Mbak kerja di mana?" tanya Tammy. Ia meraih mug kopinya sendiri dan mulai menyeruputnya.
__ADS_1
"Kerja di Tango Delta, staf biasa aja kok. Namanya Arzi Arief... "
Tammy menurunkan mugnya, menatapku tak percaya. "Jangan bilang Ustad Arzi Arief yang suka ngisi kultum Ramadhan di radio XIX itu. Beliau kan kerja juga di sini."
Aku teringat kesibukan Arzi saat bulan puasa beberapa minggu lalu. Ia memang sibuk melakukan rekaman di Bontang. Aku juga yang mengatur pekerjaan itu. Jadi aku mengangguk.
"Masya Allah! Ustad Arzi beneran, Mbak?" Tammy meletakkan mugnya di meja dan berdiri dengan tangan dikibas-kibaskan seperti sayap burung. Ia begitu bersemangat.
"Aku tuh ngefans dengan Ustad Arzi loh, Mbak. Ya Allah! Kalo dia jelasin itu bahasanya gampang banget dimengerti. Enak gitu dengerinnya. Teduh. Pengertian. Pesannya tuh selalu nyentuh hati aku. Astaga... astaghfirullah! Aku tuh nerima kerjaan di sini karena aku pengen ikut pengajiannya. Karena beliau, aku gak jadi gila ketika Mama Papaku berpisah."
Aku menatap Tammy dengan senyum dipaksakan. Bagiku, Arziku berbeda dengan yang ia lihat sebagai Ustad.
Buatku, Arzi-ku hanya seorang pria biasa, yang punya banyak kekurangan sepertiku. Pertengkaran tadi pagi buktinya. Ia bahkan tak bisa memahamiku.
Hanya saja, aku yang awam soal Islam selalu suka cara Arzi menjelaskan segala hal tentang Islam. Tak ada kesan kaku, cenderung santai dan menyenangkan. Bahasanya sederhana dan mudah dimengerti.
Seperti seorang kakak pada adik dibandingkan seorang guru pada muridnya. Alasan itulah yang membuat aku menyarankan Arzi menerima job untuk mengisi kultum di radio.
"Pantas kalo istrinya Mbak Inka. Mbak aja luar biasa. Pasti karena suaminya Mbak ya. Ya ampun, Mbak. Alhamdulillah banget bisa kenal sama Mbak. Aku boleh ketemu sama Ustad Arzi kan, Mbak? Gak untuk apa-apa kok, cuma mau ketemu dan nanya-nanya dikit. Boleh ya, Mbak? Boleh?"
Aku mengangguk. Tentu saja. Itu bagian dari dunia yang digeluti Arzi. Aku sudah tahu itu sejak awal. Tammy tampak bahagia melihat isyarat jawabanku dan gadis itu mulai mengoceh.
"... Yang berkesan itu waktu dia bilang pasangan terbaik itu bukan yang tampan atau cantik, bukan juga yang pintar atau kaya. Tapi jika ia mengajak kita sholat, mengaji dan mengerjakan ibadah. Pasangan yang mengajak menuju kebaikan seperti itu adalah jodoh terbaik ... "
Pikiranku melayang pada kejadian tadi pagi.
"... Ilmu bisa membuat seseorang menjadi sombong, karena itu menikahi pasangan yang gak tau apa-apa jauh lebih baik daripada menghadapi pasangan yang sombong. Pasangan yang gak tau apa-apa bisa dididik dan diajak menuju kebaikan, sementara kalo yang berilmu tapi sombong, pasti akan sulit menghadapinya. Karena itu, tingginya ilmu pengetahuan seseorang tak menjamin akhlaknya baik..."
Tiba-tiba aku ingin pulang. Aku mulai memahami alasan Arzi memilihku. Kesalahannya sekarang seperti terhapus seketika. Kulirik jam di dinding. Sudah pukul 11 malam tapi...
Mendadak aku berdiri, membuat Tammy terdiam.
"Mi, kayaknya saya pulang aja deh. Kasian suami saya di rumah sendirian," kataku sambil mengambil kembali pakaian kerjaku dan memasukkannya ke dalam tas besar yang kuambil dari salah satu laci. Aku juga meraih tas tanganku. "Saya bawa mobilmu dulu ya."
Tammy berdiri. "Iya, Mbak! Bawa aja! Salam ya buat Ustad!" katanya sambil buru-buru mengambil kunci mobil yang tergeletak di dekat tasnya.
"Sudah kamu masuk aja lagi," kataku dengan tangan terayun sebelum melangkah menuruni teras kantor.
Gadis itu menggeleng. "Enggak, aku tungguin sampe Mbak jalan dan... "
Tiba-tiba cahaya lampu menyala menyoroti kami berdua. Tammy dan aku pun menoleh ke arah lampu yang mengarah pada kami itu. Sebuah mobil berjalan memasuki halaman parkir dan berhenti tepat di depanku.
Itu mobil Arzi.
Suamiku turun dari dalam mobil. Rambutnya yang sedikit basah tampak berantakan. Jaket dan kaosnya dipakai secara asal-asalan tanpa dimasukkan seperti biasa. Arzi jarang memakai jins, tapi kali ini ia memakainya. Aku sedikit kaget melihatnya keluar dalam keadaan seperti itu. Ia tak terlihat rapi sama sekali. Ia kelihatan kacau.
"Assalamualaikum!" sapa Arzi, tersenyum tipis padaku dan Tammy.
"Waalaikum salam!" sahutku dan Tammy berbarengan.
"Sudah mau pulang?" tanya Arzi sambil menatapku. Ada kilasan sedih di matanya yang gelap.
Kepalaku otomatis mengangguk.
Tanpa peduli tatapan heran dari aku dan Tammy, ia mengambil tas besar di tanganku dan merangkul pundakku. Seperti tak ada apa-apa yang terjadi di antara kami.
"Pak Ustad?" tanya Tammy yang sudah ikut turun dari teras mendekatiku.
Panggilan itu membuat aku ingat ada Tammy dan menoleh pada Arzi. "Temanku ini fansmu, Mas. Kenalin! Tammy namanya." Tanganku bergerak menyerahkan kunci mobil kembali pada gadis itu. "Gak jadi minjem, Tam."
Arzi mengangguk pada Tammy. "Halo, saya Arzi."
Mata Tammy tampak bercahaya, jelas sekali kalau ia tampak senang. Tapi gadis itu seperti tahu kalau ini saatnya aku dan suamiku harus pulang. "Iya, Pak Ustad. Halo juga. Ya udah, Mbak. Buru-buru... kasihan Pak Ustad udah nungguin. Assalamualaikum!"
"Wa alaikum salam!"
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang, aku memilih tetap diam. Meski sudah melupakan semuanya, aku tak tahu harus mengatakan apa sekarang.
Arzi juga sama. Dia juga diam seribu bahasa. Hanya mobil yang melaju lebih cepat. Mungkin karena jalanan yang sepi, atau karena Arzi memang masih marah dan melampiaskannya ke mobil.
Entahlah, aku tak ingin menebaknya. Aku hanya ingin pulang dan nanti di rumah biarlah aku yang mengalah untuk meminta maaf.
Tapi begitu kami masuk ke dalam rumah, Arzi langsung menutup pintu. Sebelum aku sempat bicara, ia sudah memelukku erat-erat.
"Maafkan saya, In! Maafkan saya bikin kamu malu di depan ibu saya. Saya salah! Saya yang salah!" bisiknya sambil menciumi rambut dan wajahku.
Airmataku mengalir perlahan. Sejak pagi aku tak menangis sama sekali. Tapi setelah mendengar kata-katanya barusan, hatiku benar-benar tersentuh.
"Aku juga minta maaf, Mas. Istrimu ini bodoh semuanya. Tolong ajari aku dulu sebelum Mas bilang itu salah ya!"
Arzi mengangkat wajahku dan jarinya menghapus bulir airmataku yang jatuh. "Iya, Sayang! Saya lupa kalau kamu gak tau seperti apa seharusnya hubungan anak dan ibu kandung itu. Saya yang bodoh. Maafkan saya, Sayang!"
Kujatuhkan kepalaku di dadanya. Menangis lebih keras. Belum pernah aku menyesali kematian ibuku, sampai hari ini.
Andai aku tahu rasanya punya ibu kandung, pasti aku akan bisa memahami kedekatan hubungan suamiku dengan ibunya.
Sesuatu yang mereka anggap biasa saja, bisa jadi tidak kupahami karena aku tak pernah menjalaninya. Dalam hatiku, walaupun mungkin sangat sulit, aku ingin belajar memahami hubungan seorang ibu dengan anaknya.
Pertengkaran pertamaku dan Arzi membuat kami memahami satu hal lain. Ternyata, begitu kami bertengkar, saat itulah penyesalan mulai muncul.
Aku tak tahu berapa lama Arzi sudah menungguku di depan kantor. Tapi esok paginya saat aku mengambil tas besar berisi pakaian kerjaku yang tertinggal di mobil, aku melihat tas lain dan isinya... pakaian kerja Arzi.
"Mas, kemarin gak pulang dulu?" tanyaku sambil memasukkan cucian kotor dalam mesin cuci.
Arzi menggeleng. "Enggak."
"Terus kemarin pake baju siapa?" tanyaku.
"Oh itu, baju cadangan saya di loker kantor," jawab Arzi.
Aku duduk di sebelahnya. "Mas, berapa lama Mas nungguin aku di depan kantor kemarin?"
Suamiku hanya mengangkat bahu, tetap tak memandangku. "Entahlah, saya gak inget sama sekali."
"Mas... "
Arzi mengangkat kepalanya. "Kamu gak siap-siap? Udah jam segitu tuh," tanya Arzi sambil menunjuk ke jam dinding.
Aku masih ingin bertanya, tapi aku tahu Arzi tak ingin meneruskan percakapan kami tentang pertengkaran semalam. Akhirnya aku berdiri dan mengangguk.
Saat tengah berdandan, tiba-tiba aku merasa dadaku berdebar sangat keras. Karena mengejutkan, tak sengaja aku menjatuhkan botol parfum. Botol kaca itu jatuh ke lantai dan pecah berantakan.
Aku menatap pecahan botol itu, tertegun.
Tak lama pintu kamar terbuka dan Arzi menatapku. "Ada apa?"
Kutatap suamiku sebelum tersenyum pahit. "Kesenggol."
"Kalau begitu, tetap duduk! Jangan ke mana-mana! Biar saya bersihkan dulu."
Ketika Arzi kembali membawa perlengkapan menyapu dan membersihkan pecahan kaca itu, aku masih termangu.
Aku tak pernah ingin percaya takhyul.
Tapi setiap kali jantungku berdebar kencang secara tiba-tiba seperti ini, itu artinya ada sesuatu yang akan terjadi padaku, atau pada orang-orang di dekatku.
Mendadak bulu kudukku meremang, rasa takut dan kuatir membuncah dalam hatiku.
Ya Allah, jauhkanlah aku dan keluarga dari marabahaya...
****
__ADS_1