
Pernikahan adalah sebuah hubungan yang kompleks. Aku mulai memahaminya setelah beberapa bulan bersama Arzi. Negosiasi dan kompromi bukan sesuatu yang langsung kami pahami. Mungkin kalau aku dengan usia yang masih begitu muda, orang akan memahami alasannya. Tapi ternyata itu juga berlaku untuk Arzi.
Sebenarnya keributan dan perdebatan kecil sudah sering terjadi, tapi Arzi selalu bisa mengubah situasi menjadi lucu dan aku terbawa suasana itu. Lama-lama aku juga seperti itu. Kalau melihat wajah suamiku mulai berubah cemberut, aku mulai bergelayutan dan merayunya.
Tapi tidak hari itu.
Sejak tahu Andra tinggal tak jauh dari rumah kami, aku merasakan ada atmosfer ketegangan tipis tak terlihat di antara kami.
Aku terbiasa santai dan menggampangkan semua urusan. Sholat selalu mengulur waktu, habis Subuh malah kembali berbaring dan membaca komik sampai setengah jam sebelum waktunya bekerja, makan di manapun aku merasa nyaman bahkan di tempat tidur sekalipun.
Pulang kerja, aku tak langsung mandi tapi menyalakan musik dan tiduran. Baru menjelang Magrib, aku mandi terburu-buru. Malam hari saat waktunya makan malam, aku memasak dan kadang-kadang Arzi harus duduk menunggu sampai hampir pukul delapan malam.
Waktu tidur malampun aku tak pernah teratur. Kadang cepat, kadang menjelang pagi baru aku tertidur. Aku juga bisa tidur di manapun. Aku bisa tertidur di lantai saat baru selesai sholat, atau memejamkan mata begitu saja ketika tengah menonton televisi atau membaca buku di sofa.
Jadi setelah menikah, Arzi menjadi orang yang rajin bangun tengah malam memeriksa istrinya tertidur di mana dan memindahkanku ke tempat tidur.
Kadang aku malah heran pada Arzi yang hidup begitu disiplin. Ia bangun setengah jam sebelum adzan Subuh, kadang malah sudah bangun dari pukul tiga pagi. Sholat Tahajud, berzikir berjam-jam dan meneruskannya dengan Subuh. Tak lupa ia membangunkanku, meski kadang perlu waktu hampir sekitar 10-15 menit.
Setelah sholat, ia akan berolahraga pagi. Aku tak tahu apa itu karena biasanya aku sudah di tempat tidur lagi. Lama sekali baru aku tahu kalau dia melakukan olahraga pernapasan. Setelah olahraga, Arzi akan mandi dan menyiapkan sarapan. Aku hanya melakukannya beberapa kali, dan itu kalau aku sedang ingin saja.
Usai menyiapkan sarapan, ia akan membaca Al Qur'an atau buku apapun yang tulisannya Arab. Biasanya sambil menunggu waktu kerja, ia akan berulang kali menyuruhku mandi dan sarapan. Tapi ujung-ujungnya, biasanya, aku sarapan di mobil. Itu juga setelah setengah dipaksa oleh Arzi.
Arzi berulangkali menyaksikan aku yang berlari panik saat melihat jam dan baru terburu-buru bersiap sebelum berangkat kerja. Ia hanya bisa menghembuskan napas dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ketidakharmonisan cara kami hidup ini adalah awal dari pertengkaran pertama kami.
Suatu pagi, saat Arzi sudah siap untuk bekerja dan aku baru keluar dari kamar mandi, tak sengaja aku mendengar Arzi berbicara di telepon rumah yang ada di ruang tamu.
"Iya... Udah dari tadi, Embi... Inka? Lagi mandi. Dia mah apa-apa nyantai orangnya.... iya, Mbi. Insya Allah sabar ngadepinnya... Pagi? Banguninnya aja susah, Mbi... Udah... udah belajar ngaji juga... Iya, sedikit-sedikit... insya Allah... Yang susah jaga sholatnya nih, Mbi. Harus diingetin terus... iya, iya..."
Obrolan itu masih panjang. Tapi aku tak ingin lagi mendengarnya. Dengan wajah merah karena malu, aku masuk ke kamar untuk berpakaian.
Sejak kecil aku hanya dekat dengan sedikit orang. Meski berganti-ganti wali selain Papa, aku terbiasa menyimpan semuanya sendiri. Aku paling tidak suka orang lain mengetahui kelemahan dan kekuranganku, apalagi membicarakannya di belakangku.
Aku juga tak pernah mengenali sosok ibu yang hangat dan komunikatif seperti ibunya Arzi. Mamaku tipe pendiam, apalagi aku bukan anak kandungnya, tentu saja hubunganku sangat berbeda dengan hubungan Arzi dan ibunya.
Karena itu, aku sangat marah mendengar Arzi seperti mengadukan tingkahku pada ibunya. Seperti seorang anak kecil yang sedang mengadukan mainannya yang dirampas anak lain.
Begitu ia selesai meletakkan gagang telepon dan berbalik, aku sudah berada di belakangnya sambil melipat tangan di depan dada.
"Gak nyangka suamiku ternyata suka mengadu," cetusku dingin. Tak kupakai lagi namaku untuk menyebut diriku seperti biasa.
Arzi menatapku tak mengerti. Hanya sekilas. "Maksudmu apa sih, Yang?"
"Itu tadi. Senang ya punya ibu yang mau dengerin curhatan anaknya?"
Mata Arzi berubah, kali ini ia menatapku dalam-dalam.
"Apalagi yang diomongin? Istri gak tau agama? Gak tau ngaji? Terus kenapa gak sekalian minta sama ibu nyariin perempuan yang bisa ngaji, bisa sholat on time dan bisa nyenengin Mas?" cecarku lagi dengan emosi.
"Ngomong apa sih, Yang? Saya gak ada ngomong yang aneh-aneh begitu!" seru Arzi. Tangannya terulur untuk memegang pundakku.
__ADS_1
Dengan satu hentakan, pegangan Arzi yang sudah menyentuh pundakku terlepas. "Dari awal aku udah kayak gini, Mas. Aku kan sudah bilang, aku manja, aku pemalas, aku gak bisa apa-apa dan mungkin... aku juga gak bisa punya anak. Jadi jangan ngarepin aku jadi perempuan impian Mas!" kataku dengan nada tinggi.
"Coba jangan emosi dulu, Inka! Saya gak pernah nganggap kamu malas atau manja. Saya sudah bilang saya gak peduli kamu bisa punya anak atau tidak!" Suara Arzi juga ikut naik, membuat emosiku makin naik.
"Memangnya Mas pikir aku gak dengar tadi semuanya! Aku dengar tadi Mas cerita ke Ibu soal aku. Siapa yang Mas omongin tadi kalo bukan aku?"
"Iya, saya memang cerita tentang kamu. Tapi bukan ngadu, Ka! Saya hanya cerita! Ibu saya nanya kabar kamu. Itu aja!"
"Bilang aja aku baik-baik saja, gak ada masalah. Selesai! Kenapa harus cerita sesuatu yang malu-maluin aku gitu?"
"Ibu saya gak bakal marah, Ka. Hubungan kami itu memang begitu. Saling terbuka. Gak ada yang dirahasiain. Ibu juga ngertiin kamu!"
"Kalau Ibu ngertiin aku, dia gak akan ikut campur urusan rumah tangga kita!"
Arzi menatapku lama, aku membalasnya dengan tatapan tajam dan menusuk. Lalu ia mengambil ranselnya dan berkata, "Kamu terlalu emosi, Ka. Nanti saja kita bicara."
Setelah itu Arzi meninggalkan rumah, pergi bekerja seperti tidak ada apapun. Tidak menungguku. Juga tidak menawariku tumpangan. Padahal sejak tahu kalau Andra menjadi tetangga kami, ia selalu mengantar dan menjemputku saat bekerja.
Emosiku masih tak reda saat aku juga keluar dari rumah dan memutuskan untuk tetap bekerja seperti biasa meski hari ini harus naik kendaraan umum.
Hari ini ada rapat penting di kantor, karena ada tamu-tamu dari kantor pusat yang akan datang. Aku harus hadir. Untungnya, aku tak melihat ada mobil Andra menghadang di depan gang.
Sejak aku kembali bekerja, posisiku sudah tak lagi sama seperti sebelumnya. Kukira aku hanya akan membantu Tammy dan rekan barunya, Audia untuk menyesuaikan diri mereka dengan job description mereka sampai bisa.
Ternyata tidak, justru Pak Jeremy menawarkan posisi Manajer Cabang untukku. Katanya, pengalaman dan cara kerjaku sudah cukup sesuai. Usai menerima tawaran itu, aku memilih berpikir dulu.
Aku belum cerita soal itu pada Arzi. Bukan karena aku tak ingin berbagi, tapi aku tahu Arzi pasti mengembalikan keputusan padaku lagi. Aku sendiri tak tahu apa yang kuinginkan saat ini. Karena setelah beberapa bulan menikah, aku juga baru menemukan beberapa fakta tentang diriku sendiri.
Sementara saat aku berada di kantor, walaupun puluhan kali Tammy atau Audia datang bertanya, aku bisa dengan sabar menjelaskan semuanya dengan detail.
Aku juga sangat bersemangat saat ada tender-tender yang harus dipersiapkan, meski harus duduk berjam-jam membuka draft dokumen pelengkap atau menghitung ulang semua anggaran yang sudah dibuat oleh para supervisor dan field manager.
Aku juga mulai kangen dengan teman-temanku di luar kantor yang mulai jauh. Aku kangen menghabiskan waktu dengan memancing, bermain golf, makan siang bersama, jalan-jalan ke Bontang atau bahkan sekadar mencari novel dan komik terbaru di toko buku di Town Centre. Aku bahkan mulai merindukan saat-saatku sendirian.
Tapi aku tak berani menceritakan semua itu pada Arzi. Aku kuatir ia salah paham dan mengira aku tak menyukai kehidupan pernikahan kami. Terlepas dari semua yang tak kusukai itu, setiap Arzi pulang dan menemaniku, aku selalu merasa bahagia.
Sekarang, Arzi malah tak memahami itu lagi. Pemikirannya yang kadang terlalu jauh berpikir ke depan dan sulit kupahami, makin terasa jauh sekarang.
Jadi saat pagi itu tiba di kantor dan Tammy menyambutku dengan panik, aku malah bersyukur dalam hati karena ada sesuatu yang bisa mengalihkan perhatianku dari masalah Arzi.
"Mbak, ada big accident!"
"Ada apa?" tanyaku sambil meletakkan tas begitu saja di atas meja. Audia berdiri tak jauh dari Tammy. Sama-sama terlihat bingung.
"Mobil yang jemput tamu dari airport, remnya blong... Mobilnya nabrak pohon dan... "
"Ada korban?" potongku cepat.
Bergegas aku bergerak menuju ruang Manajer Cabang yang kini menjadi ruang kerjaku sementara. Tammy mengikutiku dari belakangku, bersama Audia.
"Tiga luka. Tapi aku gak tahu siapa aja dan gimana kondisinya. Tadi aku ngirim orang ke klinik buat ngeliat dan ngelapor ke sini. Hanya tadi ada orang safety datang dan mereka minta aku bikin laporan dan Polisi juga tadi ke sini. Aku bingung, Mbak."
__ADS_1
Setiap kecelakaan kerja, apapun jenisnya harus selalu dilaporkan ke pihak Safety KPC. Kadang untuk karyawan baru seperti Tammy, itu tak mudah dilakukan. Selain itu, kecelakaan juga wajib dilaporkan pada pihak Kepolisian.
"Mereka di sini?" tanyaku to the point. Tammy mengangguk.
Aku membuka lemari dan mengeluarkan beberapa berkas. Lalu menoleh lagi pada Tammy. "Kamu siapin mobil dengan supir sekalian. Terus ngomong ke Safety Officer-nya dan polisi itu, bilang mereka boleh ikut saya atau bawa mobil masing-masing, terserah... Saya akan ke klinik sekarang. Lihat korban langsung aja."
"Baik, Mbak!"
"Audia suruh cek dengan supervisor atau foreman, kalo ada yang free, suruh nyusul saya ke klinik! Kamu siapin laporannya, contohnya bisa kamu cek di lemari atau cek di folder komputer safety. Nanti saya cek semua. Jangan lupa report lisan dulu ke Pak Jeremy! Minta beliau bantu kita tackle Manajer Maintenance by phone"
"Baik, Mbak!" Lalu kedua gadis itu kembali ke meja kerjanya masing-masing.
Setelah itu, aku berpikir sebentar. "Gak usah deh, Mi. Biar saya ngomong langsung ke Pak Jerry."
Bergegas aku menekan nomor pribadi Pak Jeremy, tak sampai tiga dering, ia menjawabnya. Dengan singkat kujelaskan semua yang terjadi padanya.
Lalu setelah menghembuskan napas, aku berkata, "Pak, untuk nyelesaikan ini, saya perlu kuasa penuh sebagai Manajer. Kalau tidak, saya gak enak nanti... "
"Saya kirim SKmu sekarang by fax, original-nya nanti sore saya bawa. Kamu urus aja semuanya sesuai prosedur, nanti kita bicara lagi," kata Pak Jeremy tanpa menungguku selesai bicara, mengakhiri pembicaraan.
Berbekal surat itu, aku melangkah penuh percaya diri dan mengenalkan diriku pada tamu-tamu yang telah menungguku di ruang meeting. Begitu juga saat kami bersama-sama menuju rumah sakit.
Ternyata hanya ada satu yang mengalami luka cukup parah. Kebetulan, Dirga yang menangani pasien yang mengalami patah tangan itu.
Semuanya berjalan lancar, terutama setelah aku bertemu Dirga. Dirga mengenali polisi yang datang bersamaku dan mengenalkanku sebagai 'anak dari Papa dan adiknya'.
Sungguh ajaib. Wajah kaku polisi itu berubah secara drastis. Itu juga mengubah tatapan sedikit meremehkan dari staf Safety. Pengaruh Papa ternyata luar biasa.
Tapi mata Dirga nyaris keluar ketika ia mendengar kata-kata salah satu Supervisor lapangan yang ikut mendampingiku.
"Bu Inka adalah Manajer Cabang kami, Pak. Jadi untuk semua itu beliau bisa mengambil keputusan."
Aku berpaling dari Dirga. Tak ingin melihat protes di matanya. Sambil menjauh darinya, aku menjelaskan semuanya pada semua. Meski punggungku bisa merasakan tatapan dingin Dirga yang meminta penjelasan.
Hampir seharian aku menyelesaikan masalah ini dan baru menjelang sore kembali ke kantor. Kebetulan aku sempat makan siang dengan para tamu yang boleh meninggalkan klinik, juga dengan polisi dan staf Safety.
Dirga ingin ikut tapi tak ada dokter lain di klinik saat makan siang itu. Setelah mengobrol cukup lama dan mengantar para tamu kembali ke hotel dan berpisah dengan polisi yang juga pamit untuk kembali ke kantor, barulah aku bisa kembali ke kantorku sendiri.
"Mbak, tadi ada telpon dari suami dan kakaknya Mbak," kata Audia sambil menyodorkan buku daftar telepon masuk yang mencariku.
Aku mengangguk. "Hmmm. Makasih ya."
"Minta ditelepon balik katanya, Mbak," kata Audia lagi sebelum keluar ruangan.
Aku kembali mengangguk dan memilih menelusuri nomor-nomor yang mencariku. Tak peduli pada pesan yang barusan disampaikan Audia, aku memilih menelpon para klien yang mencariku. Itu jauh lebih penting saat ini.
Sejujurnya saat ini aku tak mau bertemu atau melihat Arzi. Aku masih kesal. Kesal karena ia meninggalkanku sebelum aku puas mencurahkan seluruh kemarahanku, dan kesal karena ia tak mau berusaha memahamiku.
Maka malam ini kuputuskan untuk bekerja lembur. Kalaupun nanti aku tak ingin pulang, ada kamar khusus untuk staf perempuan yang bisa kupakai. Semua barang yang kuperlukan juga masih tersedia di lemari dalam kamar itu. Saat ini yang jelas, aku sedang ingin sendiri.
Saat memandang bayangan wajahku sendiri di kaca toilet ketika tengah berwudhu untuk sholat Ashar, baru aku menyadari sesuatu. Ini pertama kalinya aku merasa sangat marah pada Arzi dan dia juga marah padaku.
__ADS_1
Ini adalah pertengkaran besar kami yang pertama.