
Begitu mobil yang tadi berhenti itu sudah melaju lagi. Tanpa pikir panjang aku membelokkan mobil, menuju parkiran rumah Arzi. Aku langsung turun dari mobil.
Sementara dari teras rumah itu, Arzi yang baru hendak berdiri mau masuk ke rumah, tertegun melihat kedatanganku.
Aku berlari mendekatinya. "Loh katanya Bapak lembur? Kok di sini?" cecarku dengan nada tak suka.
Aku paling tidak suka dibohongi, sesepele apapun jenis kebohongannya. Ini masa-masa kritis hubungan kami.
Pernikahan kami hampir pasti tak ada cinta di dalamnya, jangan sampai rasa percaya di antara kami juga lenyap karena kebohongannya.
Wajah Arzi jelas tampak tak enak meski ia tersenyum sedikit malu. Ketahuan bohong. Tangannya terangkat, menutup sebagian mulutnya.
"Saya kurang enak badan, gak jadi lembur. Rencananya baru entar habis magrib, saya telepon kamu," katanya memberitahu. Tangannya sibuk mengusap-usap pipi dan rahangnya. Seperti menutupi sesuatu.
Aku makin tak percaya. Arzi tak pernah segugup ini. Ia juga terlihat gelisah. Jadi aku berdiri menatapnya dengan tajam. Memastikan.
Aku belajar banyak dari Papa yang terbiasa mengamati penjahat. Gerakan berulang-ulang, gelisah yang dibarengi dengan kegugupan biasanya digunakan seseorang untuk menutupi kegugupannya karena bohong. Dan Arzi menunjukkannya. Ia masih berbohong padaku.
Arzi memandang ke arah mobilku. "Kok kamu lewat sini? Mau ke mana?"
Tentu saja dia heran. Rumah kostku memang berada sebelum rumah tantenya Ratih dan rumahnya Arzi.
"Aku anterin Mbak Ratih dulu, Pak. Tadi ke belakang!" jawabku dengan nada tak sabar.
"Hmm... " Tak ada pertanyaan lagi.
Tingkah Arzi tampak berbeda. Tangannya terus menutupi sebagian wajahnya. Ia terlalu sering menunduk. Aku makin yakin ia menutupi sesuatu.
Satu lagi yang muncul dalam ingatanku. Kebiasaan Papa juga seperti Arzi sekarang jika sedang berbuat salah terhadap Mama.
Tiap kali ia punya kekasih gelap yang baru, seperti inilah yang ia tunjukkan pada Mama. Teringat hal itu, darahku mendidih. Kakiku melangkah maju dengan cepat, naik ke teras dan merenggut tangan Arzi.
"Bapak jujur deh! Bapak kenapa sih?!" tanyaku kesal.
Arzi tak menjawab. Ia juga tak perlu menjawab.
Lebam biru dengan sisa titik-titik darah menggelap di antara sudut bibir dan rahangnya sudah menjawab itu.
Dari dekat, aku juga baru melihat kalau ada noda tanah kecoklatan di baju seragam biru muda dan celana jinsnya. Ia seperti baru saja selesai... berkelahi?
Melihat tatapanku, Arzi hanya meringis. Tampak bingung. Tak tahu harus berkata apa.
"Siapa?" tanyaku lagi. Dengan mata melotot.
Tangan Arzi terangkat, berusaha menenangkanku. "In, ini hanya salah paham. Tidak ada masalah besar."
__ADS_1
"SIAPA?!" tanyaku setengah membentak.
Ekspresi Arzi berubah. Bibirnya yang tampak bengkak sebagian itu membentuk senyuman lagi.
Ia mendekatiku. Lalu dengan lembut tangannya mendorong punggungku untuk masuk ke rumahnya. Digiringnya aku duduk di sofa ruang tamu, sebelum ia masuk ke ruang lain.
Tak berapa lama, Arzi keluar dengan segelas air putih hangat. Dengan sabar, ia menyodorkan gelas itu padaku.
"Minum dulu! Nanti saya cerita," katanya sabar dan lembut. Aku menatapnya sebelum meraih gelas itu.
Patuh, aku meminum air putih sampai tandas. Emosiku sudah tak sesesak tadi, tapi masih terasa. Siapapun yang menyakiti Arzi, seperti menyakiti hatiku juga. Aku benar-benar tak bisa terima pria sesabar dirinya disakiti seperti ini.
Arzi mulai menjelaskan perlahan-lahan, "Tadi saya makan siang dengan teman saya. Ada salah paham sedikit dengan orang yang kebetulan makan di restoran itu juga. Kamu tahu kan anak teknisi gimana kalo lagi ngomong?"
Aku tak mengangguk. Ingatanku hanya melayang saat mereka dulu membicarakanku. Tentu saja aku tahu, aku pernah menjadi korbannya.
"Gara-gara mereka ngomong inilah, mungkin ada yang tersinggung dan marah. Kebetulan karena saya pake seragam ini, mungkin dikira saya. Tapi... tapi masalahnya sudah selesai. Hanya salah paham."
Mataku lekat menatap mata Arzi, memastikan kebenaran kata-katanya. Karyawan di perusahaan Arzi itu berjumlah tiga kali lipat dari jumlah karyawan di kantorku. Semuanya memakai seragam yang sama.
Namun, benarkah hanya karena tersinggung dan melihat kesamaan seragam, orang itu bisa salah meninju.
Lagipula, semudah itu menghentikan sebuah perkelahian hanya karena salah paham? Setelah meninggalkan bekas bogem di wajah calon suamiku?
"Jangan marah-marah, hai gadis berlesung pipit!" goda Arzi memancing senyumku.
"Tapi marah begini bikin hati kita lelah aja, Inka. Sudahlah... Bersabar ya," bujuknya perlahan.
Mataku menatap ke sekeliling ruang tamu itu. "Ya udah deh, ambilin kotak P3K! Lukanya Bapak biar aku obatin!"
Arzi hanya mengangguk dan berdiri. Tak lama ia muncul lagi dengan kotak berwarna putih. Meletakkannya di sampingku. Sebelum ia kembali masuk.
Tapi tunggu dulu! Seumur hidupku aku mana pernah mengurus orang sakit. Ketika tanganku membuka kotak itu, tak ada satupun obat di dalamnya yang kumengerti gunanya.
Aku hanya bisa memandanginya satu persatu tak mengerti, mengangkat, mengamati lalu meletakkan lagi ke dalam kotak itu. Sampai aku mendengar suara kekeh Arzi.
Ia berdiri di ujung sofa. Tangannya memegang handuk putih, mengompres bagian wajahnya yang lebam itu. Lalu ia duduk lagi, kali ini di sisiku, tangan yang lain sibuk menutup sebelum memindahkan kotak P3K itu ke atas meja.
"Gak usah kuatir, lebam begini obatnya cuma es batu sama handuk aja," kata Arzi. "Besok juga hilang."
Aku hanya diam menatapnya. Lalu tanpa suara aku meraih handuk di tangannya, membuat Arzi menurunkan tangannya sendiri dan membiarkanku mengompres lebamnya perlahan sambil menekannya sedikit.
"Mau Magriban di sini? Habis itu kita sekalian cari makan. Gimana?" tanya Arzi menawarkan.
Aku menggeleng. "Aku gak bawa baju. Lagian rumah kostku kan dekat, Pak."
__ADS_1
"Ya pake baju saya dulu aja. Daripada bolak-balik. Emosimu lagi begini. Sholat dulu. Bisa-bisa orang-orang gak tahu apa-apa kena semprot nanti."
"Bapak kok tau aku masih kesal?" tanyaku lagi. Tak sadar tanganku menekan terlalu keras, Arzi meringis. Melihat itu tawaku tak bisa kutahan.
Setelah beberapa menit, Arzi memintaku berhenti mengompres. Benar saja, lebamnya kini berubah sedikit kemerahan. Bengkaknya juga berkurang. Walaupun masih jelas terlihat, wajah Arzi terlihat lebih baik.
"Ada apa memangnya di kantor?" Arzi meletakkan handuk setengah basah itu ke atas kotak P3K.
Secara singkat aku bercerita tentang Hans dan rencana kepulangannya. Arzi mendengarkan keluhanku tanpa bicara, hanya mengangguk-angguk.
"Saya juga udah tahu. Bosmu sudah ngomong kalo kami ketemu?" Aku mengangguk. Lalu Arzi menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. "Tadinya dia bilang, kasian sama kamu kalo ditinggal sendirian. Dia sempat mikir antara mau ajak kamu pindah ke Sydney atau nyariin bos baru. Karena sekarang ada saya, jadi bosmu itu bisa tenang... "
"Karena aku nanti kerjanya ngurusin Bapak gitu? Ih, kita mah nikah yah, bukan aku yang jadi pembantunya Bapak!" ujarku sengit. Arzi malah tertawa.
"Eh siapa yang bilang gitu? Maksudnya Hans tuh biar kamu ada yang jagain. Gadis cantik tapi pemarah kayak kamu ini harus selalu dikawal, kalo gak... "
"Kalo gak apa?" tantangku.
"Entar banyak yang patah hati."
Tawaku pecah juga. Mimik wajah Arzi lucu saat ia mengucapkan kalimat itu. Bibirnya yang masih sedikit bengkak itu tampak aneh saat ia berusaha menampilkan wajah lucu itu.
Akhirnya seperti yang diminta Arzi, aku mandi di rumahnya dan memakai kaos miliknya yang kebesaran. Tapi kuputuskan tetap memakai celana kantor karena celana Arzi besar semua.
Setelah sholat Magrib, Arzi keluar mencari makan dan kami memilih makan bersama di rumahnya.
Saat itulah, teman-teman satu rumah Arzi pulang. Arzi hanya memperkenalkan kami sepintas, ia tampak jelas tak ingin membuatku berlama-lama bersama mereka.
Aku memilih menyetir pulang sendiri dan menolak tawaran Arzi untuk mengantar. Rumahku itu dekat sekali. Bahkan berjalan kaki juga tak sampai lima menit. Untungnya Arzi mengerti. Ia melepaskanku pergi.
Mobilku memasuki gang rumah kost, dan aku sengaja parkir di samping rumah. Baru saja aku naik ke teras, aku melihat Dirga berdiri di situ. Menantiku.
Ia mengenakan jaket hitam, celana jins biru dan kaos warna putih. Aku menghela napas. Untuk sesaat aku melupakan orang satu ini.
Tapi aku tetap naik. Mata Dirga mengikuti setiap gerakanku, termasuk saat melihat kaos lengan panjang kebesaran yang kupakai.
Saat melepas sepatuku, Dirga bertanya, "Tadi aku ke kantormu katanya udah pulang. Tapi kok baru nyampe rumah jam segini?"
Aku tetap membelakanginya, meletakkan sepatu ke rak sepatu yang ada di teras. "Ke rumah teman."
"Rumah Pak Arzi ya?" tebak Dirga. Tepat pada sasaran.
Aku berbalik dengan cepat, menatap Dirga sebelum melihat ke tangan kanannya. Memeriksa bukti.
Buku-buku jari tangan kanan Dirga membiru. Seperti habis meninju seseorang. Mendadak aku mengerti semuanya.
__ADS_1
Dengan langkah lebar, kudekati Dirga sambil mengangkat tasku tinggi-tinggi, siap menghujamkan seluruh kemarahanku padanya. Memastikan lebam di wajah Arzi juga akan terlihat di wajah Dirga.