Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 57 - Gadis Berkerudung Hijau


__ADS_3

Dirga pulang lebih dulu ke Kalimantan. Ada panggilan tugas dari sana. Tapi menurutku, ia hanya ingin menghindariku untuk sementara.


Aku mengerti. Walaupun bagaimana, tidak mudah berhadapan dengannya saat ini.


Dua hari terakhir, Arzi mengajakku jalan-jalan. Ke beberapa tempat rekreasi di sekitar Jakarta. Tapi waktu kami selalu terbatas.


Tiap kali ia melihatku kelelahan, kami langsung pulang. Hanya saat kami berkunjung di mal, yang membuat Arzi tak bisa menahan mulutnya untuk bertanya.


"Kenapa tiap kali ke mal, istriku ini tahan banget jalan berjam-jam? Gak ada keliatan capek-capeknya. Saya sampe kalah."


Aku meringis menahan geli. "Kan naluri, Mas. Naluri perempuan."


Arzi tertawa mendengarnya.


"Ini kan olahraga juga, Mas. Jalan biar sehat. Coba bayangkan udah berapa kilo kita jalan dari lantai satu ke lantai empat. Belum lagi sambil bawa barang gini. Sambil belanja, sambil olahraga, " celetukku santai.


Tawa Arzi makin lebar. Saat itu kami sedang makan bersama di sebuah restoran siap saji. Beristirahat sambil mengisi perut setelah berkeliling mal. Bagian paling kusukai dalam acara bulan madu kami ini.


Saat itulah, aku teringat si gadis berkerudung hijau.


"Mas, punya adik sepupu perempuan gak?"


Arzi mendongak. "Kenapa? Ada masalah? Saya punya beberapa adik sepupu perempuan," tanya Arzi kuatir. Wajahnya berubah serius.


Aku menggeleng. "Enggak bukan gitu. Waktu kita ke pesantrennya Abah, Inka ketemu sama cewek. Pake kerudung ijo dan ada tahi lalat di dahinya, terus masak dia tau-tau bilang kalo Inka ini sakit."


"Terus?" Arzi memiringkan sedikit kepalanya.


"Ya Inka diam aja. Bingung. Mana Inka ngerti. Pas dia ngomong juga agak aneh. Kok dia ngerti Inka sakit?"


"Habis itu dia ngomong apa lagi?" selidik Arzi. Ia juga tampak keheranan.


Aku berusaha mengingat saat itu lagi. "Dia bilang kalo Inka sayang sama Allah, Allah juga sayang sama Inka. Udah. Habis itu dia pergi begitu saja."


"Kapan itu? Saya di mana saat itu?" tanya Arzi sambil menyodorkan supnya padaku.


Supku sudah habis dari tadi. Belakangan sejak mulai dirawat, makanku cukup banyak. Rupanya aneka macam vitamin akhirnya berhasil memancing selera makanku.


"Lah itu makanya Inka heran. Gak lama cewek itu pergi, Mas ngajakin aku sholat magrib. Jadi Inka heran, kok Mas gak liat? Semenit juga gak sampe. Gak mungkin gak keliatan."


Arzi terdiam. Tak ada lagi pertanyaan. Ia hanya menatapku sambil tersenyum tipis.


Aku sendiri sibuk makan, melupakan obrolan yang kuanggap tak ada artinya itu.

__ADS_1


Obrolan mengenai gadis berkerudung hijau dengan tahi lalat di dahinya itu pun terlupakan begitu saja. Apalagi malam itu Arzi mengajakku menginap di sebuah kamar suite pengantin hotel bintang lima. Hadiah pernikahan dari temannya di Balikpapan.


Keesokan harinya, di malam hari sebelum keberangkatan kami kembali ke Balikpapan, aku menemani Arzi membereskan pakaian kami untuk dimasukkan dalam koper.


Sebagian besar pakaian baru milikku, karena Arzi benar-benar tak ingin lagi melihatku mengenakan pakaian serba mini atau transparan.


"Tolong ambilin album dokumen besar di situ, Yang. Kita harus urus perubahan dokumen keluarga nanti di Sangatta. Bawa aja semuanya!" pinta Arzi sambil menunjuk lemari.


Aku berdiri dan membukanya. Terlihat tumpukan dokumen lama dan album foto besar.


Setelah menyerahkan dokumen yang dimaksud Arzi, aku tertarik melihat salah satu album foto itu. Kutarik album itu dan meletakkannya di lantai.


Rasanya sungguh menyenangkan melihat masa lalu Arzi. Priaku ini ternyata sosok yang berbeda dari yang sekarang duduk di sampingku.


Dulu Arzi sekurus aku, dengan rambut keriting tak beraturan mencuat ke mana-mana. Rupanya demam Fahri Albar di zamannya juga pernah melandanya.


Pakaian jadul yang ia kenakan juga membuatku tersenyum geli sendiri. Celana cutbray dan kemeja lengan pendek kotak-kotak. Penampilan Arzi benar-benar sangat norak bagiku. Bagaimana bisa ia memakai pakaian sejelek itu?


Perbedaan zaman kami berdua semakin terlihat jelas.


Aku menelusuri foto-foto itu satu persatu, sambil mengingat-ingat dan mencocokkan dengannya orang-orang yang kutemui saat ini.


"Ini Bibik ya Mas?" tebakku. Arzi mengangguk.


Arzi melirik sedikit ke album foto. "Hmm, itu mereka masih SD. Masih kecil-kecil. Masih mau dipakein seragam."


Aku tertawa mendengarnya. Sama. Aku juga mengalaminya saat masih kecil dulu. Hampir semua pakaianku selalu sama dengan adik perempuanku.


Lalu saat lembaran kubalik. Seseorang yang menarik perhatianku berdiri di dalam salah satu foto itu.


"Mas! Mas! Ini siapa?" tanyaku spontan sambil melambaikan tangan.


Arzi yang masih sibuk membereskan koper, berdiri mendekatiku. Melihat ke album. Ia sedikit kaget melihat orang yang aku tunjuk di album itu. "Ooh itu... itu adik perempuan nenek saya. Bibiknya Ibu."


"Hah?" Aku menatap Arzi tak percaya. Aku tertawa tak percaya. "Gak mungkin ah! Becanda kan, Mas?"


Arzi menatapku bingung, menggeleng. "Kenapa?"


"Ya gak mungkin. Mas inget kan yang Inka bilang ketemu gadis pake kerudung hijau? Ini dia... seperti inilah gayanya waktu itu. Masih muda. Dia pantasnya jadi adiknya Mas. Dia pakai baju ini. Pakai kerudung ini," kataku penuh keyakinan.


Meski aku bisa melihat foto itu jelas-jelas foto tua. Warna kekuningan yang pudar membayang dalam foto itu.


Arzi diam dan memandangi foto itu cukup lama, sebelum menatapku lagi. "Inka, ini benar-benar foto almarhumah bibik saya. Beliau yang mengasuh saya sampai saya remaja. Beliau gak pernah menikah. Gak pernah punya anak. Hanya saya yang ia rawat selama ia hidup. Bibik suka warna hijau, dan ia dulu seorang dukun beranak... paraji dalam bahasa kami. Bibik juga sudah lama gak ada. Sudah meninggal sepuluh tahun lalu... dan makamnya ada di belakang pesantren Abah."

__ADS_1


Aku termangu. Tak tahu harus mengatakan apa-apa. Terbayang kembali pertemuan petang itu. Aku yakin itu pertemuan nyata dengan manusia. Bukan dengan seseorang yang telah tiada.


Tapi wajah Arzi tak terlihat bercanda. Sama sekali tidak. Ia malah terlihat kuatir.


Lalu aku menghela napas. Mengangkat bahu. “So. Apa itu artinya beliau juga mengkuatirkanku?”


Arzi tersenyum bijak. “Inka, dunia ruh itu adalah misteri meski di dalam Al Qur’an kita juga harus beriman pada hal goib. Tapi kita diwajibkan menjalankan sholat setelah kalimat iman itu. Jadi... tak perlu takut apalagi sampai memujanya. Kita hanya boleh takut sama Allah. Itu ada di hal pertama Al Qur’an loh, nanti kalau kamu udah bisa ngaji lancar, saya ajarin. Soal Mbah Mimi, nanti malam kita tahajud, berdoa untuk beliau.”


“Tapi dia tahu Inka sakit... “ gumamku.


Arzi mengangguk. “Kamu memang sakit. Tapi itu gak ada hubungannya dengan apapun. Oke, udah jangan dipikirkan. Tidurlah... Nanti saya bangunkan untuk tahajud. Istirahatlah sebaik mungkin. Besok kita akan melakukan perjalanan yang jauh.”


Aku mengangguk dengan patuh. Berbaring di tempat tidur sambil memperhatikan suamiku yang bolak-balik menyiapkan segalanya.


“Baru ini aku ngalamin kejadian seperti itu loh, Mas.”


Arzi tertawa kecil. Ia menoleh padaku. “Dunia itu luas, Inka. Ada banyak hal yang sulit dijelaskan. Ada banyak kejadian yang akan kau alami nantinya. Yang penting itu ingat satu hal.”


“Mas Arzi?”


Tawa Arzi terdengar lagi. “Allah, Inka! Ingat sama Allah. Itu sebabnya kita harus berzikir setiap saat. Bahkan saat melangkah. Ketika kaki kanan melangkah, sebut dalam hati Allahu, dan ketika kaki kiri melangkah, sebut Akbar. Maka Allah akan selalu bersama kita.”


“Dan karena itu apapun yang Mas niatkan selalu dilancarkan?”


“Selama niatnya bener. Percuma kalau berzikir tapi niatnya aneh-aneh.”


Mataku mengerling jenaka. “Apa termasuk saat sedang... itu?”


Sebenarnya, aku mendengar Arzi beberapa kali membisikkan doa. Tapi seperti biasa aku tak mengerti.


Kali ini, Arzi tak menjawab. Ia berdiri dan mendekatiku dengan sorot mata berbeda. “Maksudnya apa ini? Ngundang ni?”


Aku tergelak melihat ekspresinya. Ekspresi yang sudah sangat kukenal kalau ia sedang ingin.


Lalu setelah Arzi menunduk untuk mencium bibirku sekilas, ia menatapku lembut sambil berbisik. “Iya, Inka sayang. Bahkan saat kita sedang bercinta, saya berdoa agar Allah melindungi hubungan kita dari gangguan setan dan juga memberi kita berkah bayi yang terbaik.”


Aku tak menjawab, hanya mengulurkan tanganku untuk memeluk lehernya. Berbisik mengingatkan padanya untuk mandi bersama dulu sebelum kami mempraktekkan bersama doa yang akan ia ajarkan.


*****


Editor Notes:


Maaf agak lama, kendala dengan informasi teknis di part 55 dan 56. (CFH)

__ADS_1


__ADS_2