Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 9 - Pengakuan


__ADS_3

Mobil terus melaju di jalan aspal mulus menuju Tanjung Bara. Seperti keinginan Andra, kami tak jadi singgah ke kantornya.


"Kak, Inka boleh buka jendela?" tanyaku memecah kesunyian. Hatiku makin tak karuan berada dalam kesunyian yang seakan tak berujung ini.


Andra hanya mengangguk.


"Kak, Inka boleh teriak?" tanyaku lagi sembari tersenyum jahil.


"Hah?" Akhirnya ia menoleh padaku.


"Inka pengen teriak, kan gak ada yang liat juga," ulangku sekali lagi.


Jalan menuju Tanjung Bara itu selalu sepi. Mobil yang lewat hanya mobil-mobil perusahaan. Sepanjang jalanan yang ada hanya ilalang dan hutan rimba. Jalannya memang mulus, tapi jarang digunakan.


"Terserah kamu. Sejak kapan Inka bisa dilarang?" jawab Andra tersenyum santai.


Senyumku merekah lebar. Dengan sigap tanganku menekan tombol menurunkan jendela. Angin kencang menyapu wajahku, membuat rambut pendekku berkibar-kibar bagai bendera.


"Jangan lama-lama bukanya! Masuk angin!" kata Andra setengah berteriak, mengalahkan deru angin yang menyerbu masuk.


Aku hanya tertawa. Sengaja tak mendengarnya dan membiarkan angin menerpa wajahku.


Ini yang sering kulakukan saat masih kecil. Ketika aku naik mobil saat Papa menjemputku pulang sekolah. Aku suka merasakan angin menyapu wajahku. Makin kencang, makin aku merasakan aroma kebebasan. Sesuatu yang selalu kuinginkan, tapi tak pernah benar-benar kudapatkan.


Kukira aku akan mendapatkannya di kota kecil ini, setelah terlepas dari Papa yang selalu melindungiku. Nyatanya hatiku bahkan terpenjara oleh pria di sisiku ini.


Samar hidungku bisa mencium aroma pepohonan dan rumput bercampur debu pasir yang sepanjang siang disinari matahari. Mungkin aroma kebebasan itu seperti ini. Saat bisa merasakan angin tanpa halangan, aroma alam yang alami tanpa campuran apapun dan kehangatan yang menyinari hingga ke hati. Ini saatnya mengeluarkan semua kekesalan itu.


"Kak Andraaaaaaa... begooooo!" teriakku sekencang-kencangnya. Suaraku tenggelam terbawa angin.


Usai berteriak, sembari menekan tombol agar jendela tertutup lagi, aku tersenyum lega saat kembali duduk tegak di kursi. Pasti ada yang marah.


Benar kan? Saat aku menoleh, mata Andra lurus memandang ke depan. Tidak ada senyum seperti tadi. Rasakan! Yang penting aku puas meneriakinya.


Aku tak peduli Andra marah atau tidak. Aku hanya kesal. Kesal karena dia tak bisa memberiku kepastian apapun. Kesal pada diriku sendiri yang tak bisa melupakan penolakannya. Kesal pada situasi di antara kami yang tak pernah ada.


Tapi tiba-tiba mobil bergerak melambat, dan lama-lama berhenti.


Hayo loh, Inka! Barusan kamu neriakin dia ****, kalo kamu disuruh turun tengah jalan begini, apa gak berabe? Jalanan sepi lagi. Kamu gak pake sepatu kets pula, malah pake high heels. Mau jalan kaki sambil nyeker?


Aku menoleh ketakutan. Kalau benar itu yang akan dilakukan Andra, aku akan tetap duduk dalam mobilnya, kalau perlu kuikat tubuhku di kursi ini.


Tapi yang kudengar malah helaan napas Andra. Seperti orang kalut.


"Kok berhenti?" tanyaku bingung bercampur kuatir.


"Kenapa, Inka? Kenapa saya ****?" tanya Andra sambil menatapku lekat-lekat.


Aku kikuk dipandangi seperti itu, jadi sambil meringis kujawab saja. "Karena Kakak menolak perempuan cantik seperti Inka!" Kadung ah, lebih baik kukatakan saja semuanya.


Mata Andra membesar sedikit. "Menolak? Siapa yang bilang?"

__ADS_1


Aku mengangkat bahu, membuang muka ke arah lain.


Kali ini tangan Andra memegang lenganku, meremasnya sedikit. "Siapa yang bilang?" tanyanya lebih tegas.


Aku balas menatap Andra. "Kakak sendiri yang bilang, dan Inka dengar sendiri," jawabku santai lalu kembali menoleh ke arah lain.


"Inka! Kapan saya ngomong begitu?" Tangan Andra meremas lebih kuat, bahkan sedikit menarikku. Tarikan itu mulai terasa menyakitkan. Tapi sepertinya Andra tak peduli. "Jawab, In! Kapan kamu dengar saya ngomong begitu?"


"Waktu Kak Yudi tanya ke Kakak soal perasaan Kakak ke Inka... Di mess."


Genggaman tangan Andra lepas, aku mengusap-usap lenganku yang terasa sakit. Andra memandangiku. Tak setajam tadi. Malah seperti orang yang merasa bersalah.


"Maafkan saya, Inka! Kamu benar, saya memang ****," gumam Andra. Tangannya memutar kunci dan mobil kembali melaju.


Tak lama mobil melewati pos penjagaan, Andra menghentikan mobil sebentar sebelum kembali melaju. Aku sudah tak berani lagi berbuat aneh-aneh. Sudah cukup. Yang penting aku sudah bilang semuanya. Kalau memang harus berakhir, ya sudah berakhir saja. Ya hubungan kami, ya perasaanku sendiri. Tak perlu ada pertemuan lagi. Kalau masih bertemu, aku takut lama-lama aku yang tak tahan dan menjadi seperti perempuan bodoh lain, menangis memohon cinta. Tidak! Aku tak mau seperti itu.


"Saat itu, saya merasa tak perlu orang lain ikut campur diantara kita, Ka. Saya sayang sama kamu atau tidak, cinta kamu atau enggak. Itu urusan kita berdua. Bukan orang lain."


Dia bicara.


"Saya memperkenalkan teman-teman saya, bukan untuk menjadi orang diantara kita. Itu karena saya tahu Inka tak punya teman di sini. Mereka teman yang baik."


Andra benar. Teman-teman yang ia perkenalkan memang teman-teman yang baik. Mereka banyak membantuku selama melalui proses awal ketika pertama kali bekerja. Kak Yudi mengajariku membuat presentasi powerpoint, Kak Tari mengajariku bahasa Inggris dan Prancis, Kak Tamrin yang banyak menjelaskan mekanisme dunia tambang. Mereka sahabat sekaligus orang-orang yang membimbingku di luar kantor, selain Hans.


"Saya tidak bisa sepertimu, Inka. Saya bukan orang yang bisa terus terang bilang kalau saya cinta sama Inka, sayang sama Inka. Sama Inka aja gak bisa, apalagi sama orang lain."


Tu... tunggu dulu! Barusan tadi apa?


Rupanya Andra baru menyadari kata-katanya barusan. Ia mengerem mendadak, membuat mobil berhenti di tengah jalan. Aku terkejut, ia malah terlihat lebih kaget. Lebih mirip seseorang yang sedang shock. Untung hanya mobil kami yang sedang melewati jalan itu.


"Kak?" panggilku ragu.


"Eh iya... iya! Maaf!" tangan Andra sibuk memainkan persneling lalu mobil kembali jalan.


Kami berdua sama-sama membisu. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Bedanya, kini senyuman tak bisa lepas dari wajahku. Sampai mobil memasuki halaman restoran seafood di Aquatic.


Aku melompat turun sebelum Andra. Kupilih untuk menunggunya di dekat tangga naik menuju restoran. Wajah Andra masih tampak suram. Mungkin karena dia malu setelah isi hatinya ketahuan. Aku malah senang. Misiku berhasil. Aku tak perlu mengatakan apapun. Aku hanya cukup membuat Andra berani. Berani untuk menanyakan apa yang kurasakan padanya. Toh, aku hanya cukup menjawab 'ya' karena kini aku tahu, dia juga suka padaku.


Begitu Andra berada di sampingku, aku meraih tangannya. Menenggelamkan jemariku diantara jemarinya. Seperti mengerti, Andra tersenyum dan mengencangkan genggaman.


"Urusan kita berdua! Urusan kita berdua!" ulangku pelan, tapi pasti terdengar Andra.


Andra mengangkat tangannya yang sedang memegang tanganku. Mencolek dahiku. "Ya gak perlu sampe diomongi terus begitu kali, In! Malu ah!"


Hidungku mengernyit, "Yang malu itu harusnya Inka, Kak. Cowok kok pemalu."


"Iya, saya pemalu. Saya bukan kamu yang urat malu gak kebagian."


Aku tertawa terbahak-bahak. Menarik tangan Andra agar bergegas untuk naik.


Kami makan siang bersama. Cumi-cumi goreng tepung, ikan bawal bakar, tumis sayur kangkung dan kentang goreng. Aku tak terlalu suka dengan nasi, jadi memilih kentang.

__ADS_1


Andra selesai lebih dulu, dan ia memilih pamit ke toilet sebentar. Aku santai menghabiskan ikan. Kalau tak sampai ke tulang, bagiku belum selesai. Aku menyusul Andra mencuci tangan, tapi hanya di keran. Tidak di toilet.


Mumpung Andra belum keluar, aku ke konter kasir.


"Mbak, booking untuk tanggal 8 masih bisa gak?" tanyaku setengah berbisik.


Si Mbak berbaju ala pelaut itu melirik daftar di depan sebelum menjawab, "Full, Mbak. Ada dua event hari itu. Sore dan malam." Ia mengangkat wajahnya dan mengenaliku, "Loh bukannya acara Mbak di-cancel? Salah ya Mbak?"


"Emang saya yang cancel, Mbak. Tapi... " Aku tak mungkin bilang alasannya. Bisa ditertawakan nanti.


"Eh, tapi boleh saya tahu siapa saja yang booking, Mbak?" tanyaku cepat.


"Untuk yang siang sampai sore, itu Pak Hans Andres yang order. Acara birthday party. Itu di atas sini. Nah kalo yang malam, atas nama Pak Dirga Bimantoro, Mbak. Ulangtahun juga."


Oooh.... oooh apa? Hans? Dirga? Loh itu kan? Itu kan?


"Sudah selesaikah, In?" Suara Andra di belakangku. Tersenyum padaku. Cepat-cepat aku mengangguk.


Sementara Andra membayar, aku sibuk berpikir.


Ulangtahunku dirayakan Pak Hans bukanlah sesuatu yang aneh. Aku senang karena ternyata Hans memilih mengambil alih rencana pestaku. Ia pasti merencanakan kejutan, membalas kejutan ulangtahun yang pernah kuberikan padanya saat ia berulang tahun Februari lalu. Tapi kalau Dirga? Ini yang jadi masalah.


Hampir dua minggu ini aku menghindarinya. Memang aku pernah bertemu satu dua kali tanpa sengaja. Tapi itu tak pernah lama. Sekedar tanya kabar, cerita sedikit dan sesudahnya kami berpisah begitu saja. Tak ada pertemuan lain di malam hari. Aku dengar dari salah satu teman yang bekerja sebagai perawat di klinik, Dirga sibuk bolak balik naik pesawat Sangatta Balikpapan. Entah sedang apa.


"Kenapa, In? Ada masalah?" tanya Andra.


Aku mendongak. Duh nih orang tinggi bener sih! Lalu kugelengkan kepala sambil tersenyum. Sambil berjalan menuju mobil, kami mengobrol.


"Enggak kok, hanya mikirin kalau dua hari lagi Inka ulangtahun."


Andra tertawa. "Iya, iya... Saya ingat kok In. Mau dirayakan gimana nih?"


"Gak usah, Kak! Kakak siapin kado aja. Isinya yang mahal ya," jawabku setengah bercanda.


"Inka maunya apa?"


"Cincin kawin boleh?"


Andra tertawa. "Boleh! Boleh! Tapi memangnya Inka udah mau nikah?"


Ganti aku yang tertawa. "Enggaklah! Inka mau kuliah dulu, biar jadi ibu cerdas dan istri pintar. Kan suaminya udah ****."


"Oh ya suaminya ****? Siapa tuuuh?" goda Andra tak mau kalah. Ia mulai berani bercanda. Sesuatu yang tak biasa.


"Yaaah pake nanya! Apa Inka harus teriak lagi nih di sini?"


Wajah kaget Andra memucat. Aku sudah berlari menuju parkiran, tertawa-tawa menikmati wajahnya yang kaget.


Aku tak perlu perayaan apapun. Cinta Andra padaku sudah menjadi hadiah ulangtahun terbaik untukku.


******

__ADS_1


__ADS_2