
Andra memukuli kemudi di depannya berulangkali.
Perempuan itu sangat kejam! Sangat kejam!
Bagaimana semudah itu ia meminta dirinya untuk melupakan segalanya?? Apa ia mengira cukup satu kalimat untuk mengakhiri semua perjuangannya selama ini? Apa perempuan itu tahu apa yang harus ia lewati untuk bisa menyatakan cintanya?
Napas Andra masih terengah-engah. Emosinya nyaris tak tertahankan. Ia ingin menampar wajah gadis yang dengan tenang menyatakan kalau hubungan mereka telah selesai. Tapi ia tak ingin.
Karena itu Andra meninggalkannya. Ia harus menenangkan diri dulu. Andra benar-benar harus menghindarinya, atau ia mungkin menyakiti Inka.
Namun suara air yang memukul kaca mobil di luar membuat Andra tersadar.
Hujan.
Gadis itu masih di sana dan sendirian. Tak mungkin ada kendaraan umum di waktu selarut ini. Bahkan kendaraan pribadi. Tempat itu berada di area perusahaan yang sedikit terpencil.
Bergegas Andra menyalakan mesin dan memutar arah. Kembali ke tempat ia meninggalkan Inka. Merasa jalan ini lebih terasa panjang dari biasanya.
Sial! Aku meninggalkannya terlalu jauh.
Andra keluar dari mobilnya, mencari-cari bayangan Inka di tengah hujan. Suasana gelap gulita dan hujan yang deras membuat pandangannya mengabur. Tapi ia tetap tak bisa menemukan Inka.
Ke mana? Dia ke mana?
Setelah air hujan yang dingin membasahi kepalanya yang panas karena emosi, Andra mulai berpikir lebih jernih. Dengan cepat ia meraih gagang pintu mobil dan masuk. Memecah keheningan malam dengan deru suara mobil yang melaju di tengah hujan.
Mobil berhenti tepat di depan rumah kost Inka. Mobil Inka masih di situ. Tertutup rapat. Tasnya yang jatuh juga masih tergeletak di tanah. Tidak bergerak sama sekali.
Inka belum pulang.
Tangan Andra mengusap rambutnya kasar. Menjambaknya. Kesal dan menyalahkan dirinya sendiri.
Bagaimana aku bisa meninggalkan gadis itu begitu saja?
Andra menatap kedua tangannya yang gemetar. Ia harus berpikir. Ia harus tenang.
Ada seorang pria yang selalu mengaku sebagai kakaknya.
Betul! Pasti kakaknya tahu di mana gadis itu. Andra mengingat-ingat namanya. Ia seorang dokter. Dokter Dirga Bimantoro.
Sekali lagi Andra bergegas masuk ke mobil. Tapi ia berhenti sebentar untuk mengambil tas.
Andra ingin ke klinik. Di sana ia bisa bertanya di mana Dirga tinggal dan mencari tahu tentang Inka. Hatinya bisa merasakan, ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu sekarang. Ia semakin kuatir.
Andra memarkirkan mobilnya di tempat parkir Klinik perusahaan dengan terburu-buru. Tanpa peduli pada hujan yang turun menimpa tubuhnya yang semakin basah, ia menerobos menuju ruang IGD. Satu-satunya pintu yang masih terbuka saat itu.
Tepat ketika ia berjalan di bawah atap teras depan IGD, sebuah mobil mengebut melewatinya dan berhenti mendadak tepat di depan pintu masuk IGD.
Seorang pria turun dari mobil itu dengan tergesa-gesa, memutari mobil menuju kursi penumpang depan. Andra segera mengenali pria itu.
__ADS_1
Dia... calon suami Inka.
Pria itu mengeluarkan seseorang dari mobilnya, saat beberapa orang keluar dari pintu IGD. Seorang dokter dan dua perawat jaga.
“Inka pingsan, Mas! Dia demam.”
Suara pria itu terdengar, diikuti dengan langkah cepatnya masuk ke IGD sambil menggendong seorang perempuan yang terbungkus selimut, dibantu para petugas kesehatan.
Andra tak perlu melihat untuk tahu, kalau perempuan dalam gendongan pria itu adalah Inka. Ia hanya melangkah pelan ke dekat pintu kaca. Walaupun terlindung oleh tempelan stiker redcross besar di pintu kaca, ia masih bisa melihat kesibukan orang-orang di dalam yang tengah mengerubungi tempat tidur sosok berselimut itu.
Salah satu perawat membuka selubung selimut dan Andra bisa melihat wajah Inka sekilas, sebelum perawat lain menarik tirai. Menutupi pandangan Andra sepenuhnya.
Wajah cantik yang biasa tertawa dan tersenyum lebar itu kini diam tak bergerak. Tak ada rona merah atau gelombang lesung pipit lagi di wajahnya. Warna kulitnya tampak begitu putih dan pucat seperti kertas. Nyaris seperti mayat.
Kaki Andra terasa lemas. Tubuhnya limbung. Membuatnya harus berpegangan pada mobil di dekatnya.
Karena dirinya, Inka sakit.
Andra tak ingat bagaimana akhirnya ia duduk di koridor dalam klinik. Ia hanya duduk menunggu dengan baju yang mulai mengering dengan sendirinya.
“Puas sekarang?”
Kalimat itu membuat Andra mengangkat wajahnya. Seorang pria muda berkacamata yang mengenakan seragam oranye berdiri di depannya. Meski ia tak lagi mengenakan jas putihnya, Andra mengenalinya. Dialah Dirga Bimantoro yang ia cari tadi.
Bergegas Andra berdiri. “Ba... bagaimana keadaan Inka?”
Andra meneguk liur. Lidahnya kelu.
“Mengapa Anda meninggalkannya sendirian di tempat terpencil seperti itu? Dalam keadaan hujan. Malam hari. Dengan kondisinya yang sedang tidak fit.”
Andra kehilangan kata-kata.
“Apa Anda tahu kalau Inka sedang datang bulan saat ini? Dalam kondisi biasa saja, dia seharusnya beristirahat. Tapi ini... dia bahkan baru pulang kerja... ” Dirga tak tahu harus berkata apa lagi sekarang. Ia hanya melemparkan tatapan kesal.
“Itu... Saya... Maaf.“
“Bukankah saat itu saya sudah bilang kalau Inka-lah yang memutuskan untuk menikahi Arzi? Kalau itu yang sudah ia putuskan, maka terima saja,” cecar Dirga dengan suara yang sedikit meninggi.
Andra menggelengkan kepalanya berulangkali, ia mulai panik. “Tapi saya mencintainya. Saya sangat mencintainya. Saya ingin menikahinya. Pria itu merebut... “
“Inka seharusnya menikah dengan saya!” potong Dirga cepat. Tangannya sudah terkepal. Nyaris memukul Andra.
Mulut Andra terbuka. Tak percaya. Ia menatap Dirga.
“Inka seharusnya menikah dengan saya,” ulang Dirga sambil mengendurkan tangannya. Lalu diikuti suara helaan napasnya. “Tapi saya membuat satu kesalahan padanya.”
Koridor sepi itu terasa semakin lengang untuk beberapa detik.
“Anda juga telah melakukan kesalahan,” ucap Dirga penuh arti.
__ADS_1
Andra ingin memahami arti ucapan itu. Keinginannya terjawab dalam hitungan detik.
Dirga tertawa sinis. “Kalau Anda mencintainya, Anda pasti tahu. Inka tidak akan pernah menikahi seseorang yang pernah berbuat salah padanya. Ia tidak punya maaf dan ampun pada pria manapun selain untuk papanya. Sebesar apapun dia mencintai orang itu. Satu kesalahan artinya orang itu harus menyingkir dari hidupnya.”
“Tapi... tapi saya... “
“Pergilah! Percuma menunggu dia di sini. Anda hanya membuat dia semakin sakit. Sudah cukup semuanya. Sudah berakhir. Pria yang di dalam itu, bahkan saya harus akui, dia yang terbaik untuk Inka. Bukan saya. Bukan Anda. Anda sudah dewasa. Terimalah itu secara dewasa.”
Andra ingin membantah itu. Tapi wajah tegas Dirga mematahkan keinginannya untuk mengatakannya. Ia menunduk.
“Anda harus bisa mengucapkan selamat tinggal, menerima kenyataan. Itu satu-satunya cara untuk bisa tetap bisa melihat Inka. Jika tidak... “
Suara Dirga berhenti. Lagi-lagi keheningan muncul di antara mereka. Merasa tak perlu ada yang ia bicarakan, Dirga melirik tas kecil di atas kursi. Ia mengenali pemilik tas yang selalu digantungi gantungan kunci berpola kucing Jepang berpita kain itu. Itu pemberiannya saat pulang dari Jepang. Ada ukiran nama Dirga dalam kanji Jepang di bawah kaki kucing itu. Inka bahkan tak tahu soal itu.
“Boleh saya minta tas Inka?” tanyanya dingin.
Tatapan Andra berpindah pada tas Inka yang tergeletak di kursi tunggu. Tanpa kata, ia mengambilnya dan menyerahkan pada Dirga.
“Pulang dan beristirahatlah! Selamat malam.”
Usai mengatakan itu, Dirga berbalik. Berjalan menyusuri koridor dan masuk ke salah satu ruang rawat. Itu ruangan tempat Inka tidur.
Arzi duduk di sisi tempat tidur. Tetap diam memandangi perempuan yang terbaring di depannya. Membiarkan tangannya digenggam oleh Inka yang sesekali masih meracau karena demam.
Dirga memandangi punggung Arzi. Tadi ia tak terlalu memperhatikan. Tapi kini...
Setelah beberapa kali bertemu dengan Arzi, Dirga tahu kalau pria tampan di depannya ini seseorang yang mencintai kebersihan dan selalu tampil dengan rapi.
Sekarang, kaos yang ia kenakan berantakan tak karuan, ada yang terselip di pinggang, tapi ada yang mencuat keluar. Salah satu ujung celana jinsnya tergulung dan sepasang kakinya hanya memakai sandal rumah biasa.
Baju Arzi juga sedikit basah, entah karena keringat atau karena terkena air hujan. Rambut yang biasanya disisir rapi ke belakang itu kini mencuat acak-acakan tak tentu arah. Siapapun akan tahu, betapa terburu-burunya Arzi untuk segera menjemput Inka.
Jaket hitam yang tadi dikenakan Arzi sudah dipasangnya di atas selimut Inka, seakan-akan tak yakin selimut itu cukup hangat.
“Mas, bagaimana kalau Mas istirahat dulu di kamar saya? Bisa ganti dengan baju saya juga kalau pengen ganti baju, Mas. Kebetulan tempatnya gak jauh dari klinik. Nanti ada perawat yang akan menjaga Inka,” tawar Dirga sambil menepuk bahu Arzi.
Arzi menoleh sekilas, tersenyum di wajah lelahnya sebelum kembali berbalik. “Biar saya di sini saja, Mas. Saya gak tega ninggalin Inka. Saya pasti gak bisa tidur juga.”
Dirga menghela napas sambil meletakkan tas kecil Inka di atas sofa. “Baiklah, saya pulang dulu sebentar. Mas bisa ganti baju dan istirahat di sini... Sambil menjaga Inka. Nanti saya balik lagi. Bawa makanan dan baju ganti.”
Arzi tak menjawab, ia hanya mengangguk. Saat ini yang ia inginkan hanya melihat mata bening perempuan di depannya kembali bercahaya seperti biasa.
Dirga tahu. Inilah lelaki untuk Inka.
Tapi pria di koridor itu masih tak bisa menerima. Ia masih terduduk di kursi sambil berbisik berulangkali dalam hatinya.
Gadis itu milikku. Aku mencintainya. Aku mencintainya.
******
__ADS_1