
Tengah malam saat aku terbangun, sayup-sayup aku mendengar suara suamiku mengaji. Walaupun hanya ditemani cahaya temaram, aku bisa melihat Arzi sedang duduk di sofa, membaca Al Qur’an.
Suaranya yang perlahan terdengar seperti biasa seperti air hujan di tengah gurun. Telingaku yang semakin akrab dengan suara itu, menikmatinya diam-diam.
Aku tak ingin mengganggunya. Aku hanya ingin mendengarnya.
Meskipun aku tak terlalu hafal Al Qur’an, setelah sekian lama mendengar, aku tahu itu adalah ayat-ayat Luqman menasehati anaknya.
Arzi pernah menjelaskannya padaku. Karena aku tak pernah mendengarnya sendiri dari orangtuaku, Arzi yang melakukannya untukku.
Tapi aku mengerti, suatu hari Arzi juga ingin membacakan dan menjelaskannya pada putra-putri kami. Hanya saja, dengan kondisiku yang seperti ini, aku benar-benar kehilangan keyakinan.
Tak sadar, airmataku kembali mengalir. Aku tenggelam dalam pikiranku sendiri, sampai tak tahu kalau Arzi sudah lama selesai dan ia sudah berdiri di sisi tempat tidurku.
“Nangis lagi... “ gumam Arzi sambil mengelus pipiku yang dialiri airmata.
Suamiku tersenyum muram. “Sudah, jangan sedih lagi! Kamu masih sangat muda, Inka. Kita punya banyak waktu untuk menyembuhkanmu dan punya anak.”
“Tapi kalau kita gak punya anak sampai Inka tua nanti, gimana?”
Mata Arzi sedikit membulat. “Jadi nangis ini karena kamu takut kita gak bisa punya anak?” tanyanya.
Aku mengangguk. “Inka takut bikin Mas kecewa. Kalau kita gak bisa punya anak selamanya. Mas pasti sedih banget.”
Tawa kecil meluncur dari bibir Arzi. “Istriku sayang, sejak awal kita bertemu, saya sudah dan selalu tahu kondisimu, bukan? Apa pernah saya membahas soal anak?”
Aku termangu. Berusaha mengingat-ingat. Kurasa Arzi benar. Tapi aku diam saja. Masih tidak yakin.
Arzi menggenggam tanganku. “Inka, saya punya banyak adik laki-laki. Jadi walaupun saya tidak punya anak, ada mereka yang akan meneruskan keturunan orangtua saya. Dari awal menikah, saya juga gak pernah menargetkan harus punya anak, harus punya istri begini begitu. Enggak ada itu. Semuanya hanya tergantung pada hati saja.”
Aku menatap Arzi. Berusaha memahami pemikirannya.
“Buat saya, pernikahan adalah ibadah. Jadi jika pernikahan bisa menyelamatkanmu, membuat saya bahagia, membuat kamu bahagia, membuat orang-orang di sekitar kita bahagia. Why not? Soal anak, soal rezeki harta benda dan sebagainya itu... itu hak prerogatif Allah. Kalau diberi alhamdulillah, enggak ya udah. Saya pasti menerima semuanya. Kita berusaha sebaik mungkin, tapi tidak berarti kita memaksakan diri.”
Tiba-tiba Arzi membungkuk padaku. “Saya suka padamu sejak pertama kali melihatmu, Inka. Dalam kepala saya hanya membayangkan hidup bersamamu pasti sangat menyenangkan. Anak hanya bonus. Jika ada, pasti akan melengkapi kita. Tapi jika tidak ada, saya akan pastikan kita akan tetap bersama dalam keadaan apapun.”
“Walaupun kita gak punya anak sampai tua?” tanyaku lagi.
“Walaupun kita gak punya anak sampai tua,” tegas Arzi.
Wajah kami hanya berjarak beberapa senti, aku bahkan bisa melihat sorot matanya yang penuh keyakinan.
Arzi tersenyum padaku. “Inka Nurhayati, seorang muslim seperti kita, punya kewajiban terhadap anak-anak yatim piatu. Mereka itulah anak-anak kita di dunia yang juga wajib kita santuni. Jangan hanya menganggap anak pada anak yang lahir dari kandunganmu.”
“Tetap saja beda rasanya, Mas. Aku punya banyak kakak angkat, tapi tetap saja Papa lebih menyayangiku dan adik-adikku,” sergahku.
Arzi mengelus dahiku lembut. “Bisa, Inka. Kita pasti bisa merasakan kasih sayang yang sama pada anak-anak lain. Kamu hanya belum pernah mencoba melakukannya.”
__ADS_1
“Lalu kalau nanti... “
Telunjuk Arzi menekan bibirku, menghentikan kalimatku. “Tak bisakah kamu membayangkan dari sudut lain? Jangan selalu berpikir negatif hanya karena kata ‘tidak bisa’ atau ‘tidak punya’, Sayang.”
“Maksud Mas?”
Arzi menegakkan punggungnya, dan tersenyum. “Saya senang memilih ke Sangatta. Karena di sana, akhirnya bisa bertemu banyak orang yang berbeda banyak hal dari saya. Salah satunya adalah... bertemu orang-orang dari negeri lain. Kamu tahu... ada teman saya yang berasal dari New Zealand. Ia memilih untuk steril agar tak punya anak. Kamu tahu alasannya, In?”
Aku menggeleng.
“Karena istrinya sakit ginjal sejak awal mereka bertemu. Ia tak ingin merepotkannya soal anak. Jadi ia putuskan untuk steril dan berkonsentrasi menikmati setiap detik dalam hidup mereka dengan sebaik-baiknya. Sampai... istrinya akhirnya meninggal dunia.”
“Itu karena istrinya sakit parah.” Aku mendengus sedih.
Arzi masih tersenyum. Menggelengkan kepalanya. “Bukan, Inka. Itu karena ia memilih untuk melihat sesuatu dari sudut positif. Di balik singkatnya waktu, teman saya berhasil menikmati waktu singkat itu dengan baik. Sampai detik ini, setiap kali ia mengenang istrinya, ia hanya akan tersenyum bahagia. Tidak ada penyesalan. Ia puas bisa melakukan yang terbaik untuk istrinya dan pada akhirnya itu juga membuatnya bahagia.”
“Tapi gak punya keturunan itu, buat kita yang orang Indonesia ini berarti harus kuat ngadepin orang, Mas!” sergahku lagi.
Arzi mengangguk. “Kau benar. Tapi kalau kita gak belajar untuk memilah apa yang harus kita dengar dan apa yang kita lihat dari awal, mau sampai kapan terus menerus hidup dengan penghakiman orang lain? Saya punya keinginan simple kok, Inka. Saya hanya ingin seperti teman saya itu. Gak mau menyesal. Sebagaimana yang diajarkan dalam Islam, beribadahlah seakan-akan besok kita mati. Maka saya akan memastikan ibadah pernikahan saya selalu sempurna, itu artinya membuat istri saya selalu bahagia.”
Aku menepuk paha Arzi. “Inka bahagia kalau Mas bahagia.”
“Nah itu... itu... Noted loh ya! Karena saya ini bahagia kalau istri bahagia. Selama Inka baik-baik saja tanpa anak, saya juga akan bahagia.”
“Bagaimana kalau ada yang nanya kok kita belum punya anak?”
“Kalau mereka minta kita berusaha lebih keras?”
“Saya akan bilang yang menilai usaha kita kurang keras atau tidak itu hanya Allah, bukan manusia.”
“Kalau mereka minta Mas untuk mencari istri lain yang lebih subur.”
Arzi menatapku. Kedut di ujung bibirnya muncul. “Mmm... kalau itu, tergantung istri tercinta deh, bolehin apa enggak?”
“Kalau Inka bolehin? Inka lihat Papa aja bisa.”
Ekspresi Arzi yang malah terlihat terkejut. Keningnya berkerut tak setuju. “Inka, are you serious? Ini saya hanya bercanda loh. I didn’t think you will think like that.”
[Apa kamu serius?... Aku gak mengira kamu akan berpikir seperti itu]
“Loh, maksud Mas?”
“Inka, saya kepikiran pun enggak sama sekali. Saya sudah jatuh cinta sama kamu dan niat saya dari awal hanya satu... sampai mati hanya akan menjadi suamimu seorang saja. Tidak ada yang lain.”
“Benarkah?” Senyum tipis merekah sedikit di bibirku.
Arzi menyentuh ujung hidungku. “Bapak bisa menikah dengan banyak istri. Tapi sekali lihat saja, saya tahu buat beliau tidak mudah bersikap adil. Kamu sendiri, anaknya... selalu merasa orangtuamu adil tidak?”
__ADS_1
Aku terdiam. Ya, salah satu alasanku menikah adalah karena membutuhkan seseorang.
Papaku, yang seharusnya menjadi tempatku mengadu, jarang sekali berada di sisiku, karena sibuk dengan istri-istrinya dan putra-putrinya yang lain.
“Sudahlah, jangan pakai seandainya seandainya terus, Inka! Kita ini baru menikah, sudah dibayang-bayangin seandainya versi negatif begitu. Entar malah kejadian. Lebih baik pikirkan cara terbaik untuk menikmati pernikahan kita. Misalnya... “ Arzi terdiam sejenak, sebelum sebuah seringai jahil muncul di dalamnya. “... walaupun di rumah sakit, ini kamar pribadi loh, Dek,” lanjutnya lagi setengah berbisik.
Aku langsung mengerti. Tiap wajah Arzi berubah seperti itu, ia akan berubah dalam sekejap. Bergegas aku menarik selimut hingga ke kepala.
“Inka ngantuk!”
Tawa Arzi segera terdengar sebelum ia berbaring di sebelahku. Tak peduli betapa sempitnya tempat tidurku.
Lalu ia menarik selimutku memindahkan tubuhku, meletakkan salah satu tangannya di bawah leherku dan tangan lain memeluk pinggangku. Napas hangatnya terasa di sebelah wajahku. Sementara aku bisa merasakan selimut yang membungkus tubuh kami berdua.
“Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut,” bisik Arzi, sebelum mencium pipiku.
[Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup dan dengan nama-Mu, aku mati.]
Aku tersenyum dan menyurukkan kepalaku ke dadanya, mencari sudut nyaman di situ sebelum berbisik doa yang sama.
“I love you, Inka. Thank you for coming to my life. Let’s live well!”
[Aku cinta kamu, Inka. Terima untuk datang dalam hidup. Ayo kita hidup dengan baik!]
Aku tak membuka mataku, hanya bisa tersenyum dan mengiyakan dalam hati.
*****
Author Notes:
Karena ada yang tanya soal jalan cerita Bye, Love. Author klarifikasi beberapa ya:
- Jika ada yang merasa novel ini punya kembaran cerita dengan karya penulis lain\, mohon diinfo judul dan nama penulis yang menulis novel kembaran itu karena Bye\, Love pernah diterbitkan di Watt***\, grup Faceb*** dan blog pribadi iinajid pada tahun 2017-2018 dengan judul sama (sekarang sudah dihapus). Saat itu banyak teman sesama penulis yang mengikuti ceritanya.
- Jika ada kesamaan nama kota\, nama tempat\, nama daerah\, nama orang atau nama suku\, itu kebetulan semata. Author memilihnya karena berpikir simple\, "Apalah arti sebuah nama dibandingkan jalan cerita".
- Mengenai jalan cerita dari Bye\, Love yang seperti nyata\, ya ini sebagian memang diambil dari pengalaman pribadi Author selama berhijrah menjadi muslim. Beberapa kejadian juga diambil dari pengalaman sahabat-sahabat Author yang terdiri dari beragam suku dan bangsa. Semua diramu dan dikembangkan menjadi cerita fiksi.
- Bye\, Love berkisah tentang cara Inka mengucapkan selamat tinggal tidak hanya pada cinta pertamanya\, tapi juga dunia kerjanya\, sahabat dekatnya\, dan nantinya kehidupannya di Kalimantan. Hanya saja\, di sini semua dipandang dari sisi positif.
- Update sedikit lama\, karena kadang harus dicek dulu pada Editor berbeda terutama hal-hal menyangkut Islam yang diucapkan Arzi mengingat dia seorang ustad. Bisa bahaya kalo syiarnya gak bener\, kan? Maafkan untuk dangkalnya ilmu Author soal itu ya.
Oke itu aja dulu ya. Thanks for all support from you.
Iin Ajid
__ADS_1