Bye, Love!

Bye, Love!
Preview - Welcome, Love!


__ADS_3

“Bu! Ini apa?” tanya Farhan sambil mengangkat sebuah kotak berwarna merah.Aku menoleh. Melihat kotak di tangannya. Tersenyum dan mendekat padanya.


“Oh ini... perhiasan.”


Mendengar obrolan kami, Fadillah juga merangkak dan duduk di dekat kakiku. “Dari Ayah ya, Bu?”


Aku menggeleng. Perlahan kubuka kotak itu. Dua gelang, satu cincin dan sebuah kalung masih utuh terletak di dalamnya.


“Ini dari sahabat Ibu. Ibu ingin kalian nanti menyimpannya masing-masing satu.”


“Bu, kami kan laki-laki, harusnya kami yang ngasih perhiasan ke Ibu. Gak usah deh, Bu,” tolak Farhan.


Fadil mengangguk setuju.


“Kalian mungkin menganggap ini hanya perhiasan. Tapi buat Ibu, semua ini kenangan. Nanti kalau sahabat Ibu itu bertemu kalian, ia pasti mengerti arti kalian untuk Ibu. Lagian... Ibu gak akan ngasih ini ke kalian secara langsung. Tapi nanti saat kalian sudah punya istri.”


“Temannya Ibu itu laki-laki atau perempuan, Bu?”


Aku memandangi kedua putraku dengan tatapan jenaka. “Menurut kalian?”


Farhan tertawa kecil. “Pasti cowok! Ayah bilang Ibu itu dulu susah banget dapetnya. Banyak yang pengen nikah sama Ibu.”


“Ayah bilang begitu?” tanyaku sedikit tak percaya.


“Tapi Ibu bilang dulu malah Ibu yang ngajak Ayah nikah kan? Bener gak Bu?” Fadil menatapku penuh tanda tanya.


Aku mengangguk. “Iya, Ibu yang minta.”


“Ibu unik ya, Aa. Berani banget. Biasanya cowok malah kabur kalo ceweknya agresif kan, A Adil?”


Fadil menoleh pada adiknya. Menggeleng. “Kalo secantik Ibu sih, mana ada yang nolak, Han. Apalagi Ayah yang wajahnya standar gitu doang. Dapet Ibu mah Ayah untung banyak.”


Aku tertawa mendengar itu. Sambil mengusap rambut putraku pertamaku yang tampan itu, aku berkata, “Gak boleh bilang gitu. Ayahmu itu justru lelaki paling tampan buat Ibu.”


“Duh please deh, Bu. Cinta Ibu terlalu buta dan terlalu aneh buat kami. Udah deh, udah jangan bahas lagi sebelum aku dan Ahan muntah!”


Lagi-lagi aku tertawa. “Kalian tahu kenapa buat Ibu, Ayah kalian itu paling tampan? Itu karena Ayah kalian itu sabar banget. Sabar ngadepin Ibu, sabar ngurusin Ibu yang suka sakit ini. Kalian juga harus jadi lelaki yang seperti itu.”


“Wueeek, itu mah ke Ibu doang. Coba ke kita! Tanya tuh berapa kali aku sama A Adil dihukum? Cuma gara-gara gak hafal hadits atau nyetor ayat on time, disuruh lari keliling kompleks. Ayah cuma cinta sama Ibu deh. Ayah keji kalo sama kita.”


Fadil menepuk bahu Farhan. “Salah kamu, Han. Ayah juga sayangnya hanya ke anak-anak ceweknya. Coba kalo Fitri atau Farah yang lupa setoran, paling dihukum ngepel atau nyapu doang. Nasib kita, Dek. Gak jauh-jauh dari hukuman fisik dan mental.”


Aku tertawa terkekeh-kekeh mendengar keluhan dua jagoanku itu.


Mungkin mendengar suara kami mengobrol, suamiku masuk. Matanya menyipit melihat dua putra kami duduk di dekatku.


“Ini lagi pada mengadu sama Ibu lagi ya?” tuduh Arzi.


Ekspresi kedua anakku segera berubah. Mereka memasang wajah tak bersalah. “Kita cuma menghibur Ibu aja, Yah. Biar cepet sembuh. Gak maksud apa-apa.”

__ADS_1


Arzi berdiri di dekatku, memainkan jarinya meminta Fadil menjauh dariku. Tanpa banyak protes, Fadil pun pindah ke sisi Farhan, membiarkan ayahnya duduk di sebelahku.


“Udah ah, Bu. Aku sama Ahan mau main bola dulu. Ibu sama Ayah pacaran deh,” kata Fadil sambil menjawil bahu adiknya.


Keduanya pun berlarian keluar meninggalkanku dan Arzi.


Kutepuk paha Arzi. “Tuh anak-anak protes. Mas sih galak banget sama anak. Jangan terlalu keraslah! Kasihan mereka.”


Arzi merangkulku. Tangannya yang lain ditempelkan ke dahiku. “Mereka itu anak laki-laki saya, In. Harus kuat. Harus tangguh. Dilatih fisik dan mental dikit biar bisa melindungi tiga perempuan penting di keluarga ini. Saya ini udah tua. Kalo mereka gak bisa tahan sedikit dengan kegalakan bapaknya, ya gimana mau melindungi ibu dan adik-adiknya?”


“Tapi ya kan kasian... “ kataku dengan suara makin kecil.


Arzi menghela napas. “Demammu belum turun juga. Sudah minum obat?”


“Tadi malah disuntik sama Mas Dirga. Katanya biar cepet turun. Tapi aku udah dari pagi tidur mulu. Bosen.”


“Jangan terlalu banyak terima job deh, In! Kurangi sedikit kesibukanmu. Kayaknya jadwalmu terlalu padat. Fisikmu gak tahan.”


Aku mengangguk. “Iya, Mas Dirga juga udah ngomelin Inka tadi pagi. Apalagi sebentar lagi Fadil dan Farhan bakal lulusan, dia kuatir entar pas anak-anak ujian Inka sakit lagi. Anak-anak pasti gak bisa konsen.”


Dengan lembut Arzi menarik tubuhku agar aku berbaring di atas pahanya. Kuturuti keinginan itu. Lagipula kepalaku masih sedikit pusing.


“Terima kasih untuk selalu patuh pada saya dan Mas Dirga ya, Sayang. Saya tau pasti berat buatmu mengurangi pekerjaan yang kamu suka.”


Aku menatap ke atas, ke wajah Arzi. “Enggaklah, Mas. Aku udah syukur diizinkan kerja lagi.”


“Itu kenapa ada di situ?” tanya Arzi heran.


“Oh, kemarin mau Inka bawa untuk dicuci tapi keburu sakit, Mas. Sudah lama gak dibersihkan. Tadi kebetulan anak-anak masuk dan lihat.”


“Besok biar saya yang bawa ke toko emas. Kamu istirahat aja.” Lalu Arzi menatapku. “Udah lama saya gak denger kabar dari Andra ya. Ada kabar darinya gak?” tanyanya kemudian.


Aku tersenyum sambil mengangguk. “Kemarin Inka baca di statusnya Indra, katanya papanya baru pulang dari Aceh. Sepertinya anak itu seneng banget dibawain snack dari sana.”


“Berarti Andra sehat-sehat ya? Alhamdulillah.”


Kuhela napas perlahan. “I hope so. Orang itu kan gak bisa diprediksi. Suka lupa sama usianya. Kayak Mas Dirga. Sebentar menclok ke Aceh, sebentar ke Sorong, entar tau-tau udah di Senakin. Gak ngerti deh Inka. Udah capek nasehatin.”


Arzi tertawa. “Mmm... sepertinya gak hanya kayak Dirga deh. Bukannya kayak kamu juga gitu?”


Aku tertawa malu sambil menepuk paha suamiku.


Lama kami saling berdiam, dan hanya tangan kami saling menggenggam sebelum aku bicara lagi.


“Inka sebenarnya selalu berdoa agar Kak Andra bisa menemukan seseorang yang bisa membuat dia betah tinggal di Surabaya sana. Tapi selain Indra dan Amira, Kak Andra bahkan gak mau berhubungan dengan keluarganya lagi. Amira bahkan bilang sama aku, kalo dia gak tega ngajak suaminya nyari rumah lain karena kuatir gak ada yang ngurusin Indra.”


Arzi mengelus anak rambut di dahiku. “Kalau misalnya saya jodohkan Andra dengan sahabat kita, boleh gak, Yang?”


“Lah kok nanya Inka toh, Mas? Nanya ke Kak Andralah!”

__ADS_1


“Dia kan mantanmu.”


Wajah penuh senyumku langsung berubah cemberut. “Inka gak suka kalo Mas ngomong gitu loh ya!”


“Maaf, maaf, maaf, Sayang! Keceplosan.”


Aku menghela napas lagi. “Carikan, Mas! Kalo perlu Mas bilang aja itu Inka yang minta.”


“Baik, Ibu Ratu.”


“Kita harus membuat Kak Andra punya istri yang lebih cantik dan lebih baik buatnya.”


“Baik, Ibu Ratu.”


“Kita harus menemukan ibu yang baik dan sayang sama Indra.”


“Tentu, Ibu Ratu.”


Aku bangun dari tidurku, menatap suamiku dengan sebal. “Apaan sih, ibu ratu, ibu ratu terus!?”


Tanpa berkata apa-apa, Arzi hanya tertawa dan merangkulku. Menghujaniku dengan ciuman lembutnya. Itu caranya yang paling cepat setiap kali aku terlihat marah atau kesal padanya.


Aku ingin Andra juga sepertiku. Mengucapkan selamat datang pada cinta yang baru. Menutup semua masa lalu yang telah lewat.


 


 


 


Author Notes:


Novel Bye, Love! berakhir sampai Epilog Andra dan bab ini adalah salah satu bagian dari novel lanjutannya, Welcome, Love!


Welcome, Love! adalah bagian kedua dari cerita kehidupan Inka setelah pindah, juga menceritakan sedikit tentang Dirga dan Andra.


Saat ini novel Welcome, Love! belum terbit dan masih dalam proses plotting.


Terima kasih atas semua dukungan pembaca selama ini untuk saya dan Editor Cindya. Semoga bisa mengambil pesan dan pelajaran yang baik di balik semua cerita dalam novel ini.


Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dan kesalahan selama penulisan novel ini.


Juga terima kasih saya atas semua like, vote, maupun komentar para pembaca. Semoga Allah SWT membalas dengan keberkahan yang lebih besar.


Salam hangat selalu dari meja Author Iin Ajid. 


 


 

__ADS_1


__ADS_2