Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 43 - Hikmah Di Saat Sakit


__ADS_3

Aku benar-benar tak tahu apa yang disembunyikan semua orang dariku.


Pagi itu setelah aku tiba di bandara dan langsung dibawa ke rumah sakit terdekat, Arzi bersama Dirga menemui Papa tanpa kehadiranku. Membiarkan Mama bersama dua petugas kesehatan mengurusku.


Saat kursi roda yang membawaku bergerak menuju kamar, telingaku masih menangkap suara Papa yang sedikit keras di belakangku.


“Mah, Papa marah sama Mas Arzi ya?” tanyaku panik.


Mama yang ikut berjalan di sebelahku menggeleng. Ia tersenyum. “Kayak gak tau papamu aja, Neng. Gak ada masalah! Papamu hanya sedikit kesal karena kamu sakit. Justru semalam waktu ditelepon, Papamu bersyukur ada Arzi yang ngurusin. Tenang aja!”


Tapi aku tetap merasa tak tenang. Papaku terkenal galak. Dulu ia paling tak bisa menerima kalau aku disakiti atau diganggu. Entah aku yang salah atau benar, Papa akan selalu menyalahkan orang yang kebetulan berada di dekatku.


Sampai kurang dari satu jam kemudian, Arzi masuk ke ruang rawat VIP itu. Sendirian.


“Papa ke mana?” tanya Mama pada Arzi.


“Tadi bareng Mas Dirga. Ada yang mau diurus, Ma. Kata Papa, nanti sore Papa kembali,” jawab Arzi santun.


Mama mengangguk-angguk. Lalu tersenyum padaku. “Tuh, masih utuh kan suamimu! Kalian mau bicara kan? Mama tinggal dulu deh.”


“Maaf, Ma. Kalau bisa Mama di sini saja. Saya tidak akan lama,” pinta Arzi dengan wajah malu.


Mata Mama sedikit membulat tapi ia mengangguk dan kembali duduk di sofa, sementara Arzi mendekatiku. Aku melirik Mama yang tersenyum penuh arti padaku.


Aku tahu, Arzi tak ingin kami hanya berduaan di kamar itu. Kami belum resmi menikah, belum boleh berduaan saja. Di klinik dan berulang kali di mobil, Arzi sudah melanggar itu. Kalau ia bisa mencegahnya, ia pasti akan melakukannya.


“Kenapa harus kembali lagi? Kan tinggal dua hari, Mas. Bukankah Mas seharusnya tinggal di rumah Mbak Nurul?” tanyaku ketika dia berpamitan.


Saat itu Mama yang duduk di sofa sambil menonton TV, hanya menatap Arzi sekilas. Seperti ikut menanyakan hal yang sama.


Arzi tersenyum padaku. “Saya harus menyelesaikan kerjaan yang tertunda saat merawatmu kemarin, Inka. Kasian rekan kerja saya kalo ditinggal begitu saja.”


Aku terdiam sejenak sebelum bicara lagi. “Maafkan Inka ya, Mas. Gara-gara Inka sakit, jadi ngerepotin Mas,” gumamku lesu.


Kepala Arzi segera menggelengkan kepalanya. “Tidak juga, Inka. Ada masalah mendadak di kantor. Itu sebabnya saya harus kembali.”


Aku tersenyum. “Apa Mas butuh bantuan? Inka menganggur. Untuk sekadar berpikir dan mengatur orang, Inka masih bisa.”


“Sekarang, bantu saya dengan satu hal saja. Urus dirimu dengan baik, Inka. Jaga dirimu agar cepat sembuh! Setelah kita menikah, kita harus berangkat ke Jakarta. Kalau kamu masih sakit, Papa mungkin tidak akan mengizinkan.”


“Bukannya Mas bilang kalau kita sudah menikah, maka Inka akan menjadi tanggung jawab Mas selamanya?” kilahku.


Arzi tertawa kecil. “Tapi menghormati keinginan orangtua kita berdua sangat penting, Inka. Lagipula saya juga tidak akan melakukannya kalau kamu masih sakit. Lebih baik batal daripada membuatmu makin sakit.”


“Arzi betul, In. Ini aja udah untung Papamu gak batalin. Undangan sudah terkirim semua. Hotel dan gedung sudah disiapkan semua. Sekarang itu tinggal fisik pengantinnya aja,” kata Mama menyela obrolan.


Kami berpaling pada Mama yang kini berjalan mendekati tempat tidurku.


“Papa tadi marah sama kamu gak, Zi?” tanya Mama ingin tahu. Tapi aku tahu, ia sengaja bertanya karena ia tahu keinginanku.

__ADS_1


Arzi menggeleng. “Enggak, Ma. Papa hanya menyesalkan Inka tetap bekerja padahal sudah mau menikah. Harusnya sejak minggu lalu Papa menjemput Inka pulang.”


Mama tertawa, mengelus kepalaku. “Emang anak keras kepala dan keras hati begini bisa diminta pulang dan menganggur seminggu?” ucapnya sebelum berbalik kembali ke sofa.


Aku dan Arzi hanya bisa tersenyum. Jelas Mama sangat benar. Sejak minggu lalu, Mama sudah berulangkali memintaku pulang, tapi aku tak pernah mendengarkannya.


Tak lama seorang teman Arzi mengetuk pintu kamar dan Arzi pun berpamitan.


“Mas... “ panggilku saat Arzi sudah berada di depan pintu.


“Hmm?” Arzi kembali ke dekatku. “Ada apa?” tanyanya.


Tanpa mengatakan apapun, kuraih tangan Arzi dan mencium punggung tangannya. Arzi terkejut, tapi ia tak menariknya. Lalu tanpa berkata apapun, ia menyentuh kepalaku. Kami saling memandang dan tersenyum sebelum Arzi berbalik dan sekali berpamitan pada Mama.


Ya Allah, betapa indahnya hubungan ini.


Aku benar-benar dibuat mabuk kepayang oleh cinta sederhana ini. Tapi sungguh hatiku begitu sesak karena bahagia.


Arzi benar. Semakin banyak kesulitan yang kami jalani, semakin terasa nikmat semua kebahagiaan sekecil apapun itu.


Dari Mama, aku mulai mengerti situasi yang terjadi.


Papa memang sempat memikirkan kemungkinan untuk memundurkan acara. Tapi setelah membicarakan dengan dokter yang merawatku, dari Dirga dan dari seluruh keluarga besar Papa. Semua sepakat untuk melanjutkan seperti biasa.


Tidak ada yang perlu dikuatirkan.


Melalui Arzi yang rajin menelponku, persetujuan Papa juga melegakan semua keluarga dan teman-temannya yang menjadi pengganti walinya di Balikpapan. Sejujurnya, mereka bahkan sudah memperhitungkan yang terburuk setelah melihat keadaanku saat baru tiba dari Sangatta.


“Kak, ini obatnya. Mau dimakan semua atau satu-satu?” tanya adik perempuanku sambil menyodorkan aneka pil dan tablet di telapak tangannya.


“Kalau aku bisa ngabisin ini sekali minum, aku mau pinjem set komik barumu ya?”


Adik perempuanku, Malika melotot. “Iiih delapan biji mau dimakan semua? Ini gede-gede banget loh!” serunya.


“Boleh gak?” tanyaku dengan tersenyum simpul.


Malika ragu sejenak tapi kemudian ia tersenyum juga. “Oke kalo gitu. Kalo Kakak bisa tanpa muntah, komiknya boleh Kakak duluan deh. Entar aku ngalah ulang baca yang lama dulu.”


“Oke!” kataku sambil mengambil semua obat dari tangan Malika.


“Eh tapi tunggu!” Malika mengambil gelas yang tadi ia sodorkan padaku, mengambilnya dan membawa ke wastafel, menuangkan separuh isi gelas sebelum memberikannya padaku.


Aku tertawa. “Waaah, curang! Ini sih mau nyuruh aku kesedak!”


Malika juga terkekeh. Tapi ia mengambil gelas lain dan mengisinya hingga penuh. “Kalo Kakak gak bisa, aku udah siapin kok. Tapi itu artinya Kakak kalah ya.”


Aku mengangguk dan menggoyangkan obat di tanganku sebelum memasukkan ke mulut. Baru setelah semuanya masuk aku minum air. Meski air belum habis, aku sudah menelan semua obat sekaligus.


Mulut Malika terbuka dengan kening berkerut, membayangkan sulitnya minum obat sebanyak itu dalam sekali teguk.

__ADS_1


“Selesai!” seruku penuh semangat.


Malika mendelik tak percaya. “Beneran itu masuk semua, Kak?”


Aku membuka mulut lebar-lebar sebelum tersenyum puas padanya.


Dengan wajah dipenuhi rengutan, Malika menyerahkan satu set koleksi komik terbarunya yang ia beli dari tabungan mingguannya. Aku benar-benar senang bisa mengerjainya.


Malika tak tahu, setahun terakhir ini aku sangat tergantung dengan vitamin dan aneka obat perawatan. Semua harus kulakukan agar siap untuk dioperasi dalam keadaan lebih sehat. Sayangnya, ada saja yang terjadi. Yang semuanya juga berhubungan dengan obat.


Itu sebabnya menelan delapan obat sekaligus hanyalah satu hal kecil.


Setelah makan malam, adik laki-lakiku, Rafiq yang datang. Dia membantuku menyiapkan semua obatku.


“Dek, kalo aku bisa ngabisin ini, PS barumu bawa ke sini ya? Aku pinjem,” kataku memancing jiwa kompetitifnya.


Rafiq menatap obat yang sudah berpindah ke tanganku. Ia mencibir. “Gak takut kalo kalah? Segitu emang bisa? Kalo Kakak kalah, beliin aku CD games yang baru di Jakarta ya!”


“Easy itu sih! Gimana? Mau gak taruhan?” tanyaku lagi.


Saat Rafiq mengangguk, Malika yang baru selesai mandi keluar dari toilet. Ia melirik kami berdua sebelum duduk di sofa.


“Maulah... “ Rafiq mengambil segelas air, tapi kemudian seperti Malika, ia mengurangi isinya hingga separuh sebelum menyodorkannya padaku.


Melihat itu, Malika menatap kami berdua. “Kamu diajak taruhan juga, Dek?” tanyanya.


Rafiq mengangguk.


Tapi sebelum Malika menjelaskan, aku sudah menelan seluruh obat dan berseru, “Selesai! Sudah habis semua!”


Rafiq terperangah.


“Taruhannya apa, Kak?” tanya Malika sambil tertawa-tawa, mengejek Rafiq yang masih memandangi tanganku, memastikan aku benar-benar menelan semuanya.


“PS, Mal. Aku bosen tiduran mulu, pengen maen. Ha ha ha!”


Malika tertawa makin keras. “Bodo kamu, Fiq. Kak Inka itu ahlinya nelan obat. Tadi pagi komikku udah disandera sama dia gara-gara taruhan minum obat juga. Pasti kalah kita. Orang penyakitan kek Kakak biasa aja makan obat segitu banyak.”


Adik laki-laki itu hanya bisa menatapku kesal. “Kenapa Kak Lika gak cerita?”


“Yeeee, kamu gak nanya dulu. Maen terima-terima aja!”


Dan tawaku bersama kedua adikku terus terdengar bergaung dalam kamar.


Sebentar lagi kami mungkin takkan bisa bercanda sesering ini lagi setelah aku menikah nanti.


Ah, sekali lagi Arzi benar.


Allah sesungguhnya sangat sayang sama aku. Ia memberiku penyakit, mungkin tujuannya ini, untuk memberiku waktu bersama kedua adikku. Saat-saat berharga yang sangat langka.

__ADS_1


 


 


__ADS_2