
Setelah malam itu, Arzi memutuskan untuk tak lagi membiarkanku sendirian.
Berulangkali aku ingin cerita apa yang terjadi selengkapnya, tapi baru sampai mengatakan kalau Andra, mantan pacarku yang datang dan meninggalkanku di sana, Arzi pasti langsung memotong, "Mulai sekarang, saya yang akan mengantar dan menjemputmu bekerja!"
Maka sejak saat itu Arzi yang mengantar dan menjemputku, tepat waktu. Juga datang saat waktu makan siang tiba.
Tak lagi seperti sebelumnya. Setiap kali datang, Arzi akan memarkir mobilnya, menjemputku di ruang kerjaku dan jika aku belum selesai, ia akan menyapa para supervisor senior di kantor.
Tapi ia hanya akan menyapa seperlunya, tersenyum dan mengangguk pada Ratih. Tanpa banyak bicara.
Aku bukan anak kecil yang tak bisa membaca sikap gugup Ratih. Aku justru merasa tidak enak padanya
“Next, nunggu di mobil aja, Mas. Aku gak enak sama Mbak Ratih,” pintaku saat kami sudah berkendara pulang.
Arzi menggeleng. “Dia harus membiasakan diri. Saya dan juga kamu. Hidup harus jalan terus, Sayang! Dia seharusnya sudah melupakan semuanya. Kami bahkan tak pernah bersentuhan atau berduaan. Taaruf yang gagal bukan berarti pemutus silaturahim.”
“Hmmm... Never touch ya... Mmm, maaf ya Pak Arzi Arief, terus kemaren kemaren itu kita ngapain? Hayooo!”
Arzi tertawa malu. “Ya bedalah. Makanya waktu saya lamar dulu terima aja kenapa. Pake ragu-ragu segala sih. Kita jadi kebanyakan dosa!”
Aku memutar mata. “Kok Inka sih yang disalahin? Udah bagus loh om-om kek Mas diterima. Bersyukur gitu... Alhamdulillahirabballamiin.”
“Ha ha ha... Alhamdulillah wa syukurillah. Iya, iya, Nyonya Arzi.”
“That’s quite nice to hear that title, My future hubby!”
[Cukup menyenangkan mendengar panggilan itu, Calon suamiku!]
Tawa kami kembali pecah.
Aku tak tahu kalau perasaan seperti ini bisa terasa sangat indah. Kupalingkan wajah melirik sisi wajahnya yang sedang fokus mengemudi.
Bagiku, tak ada yang istimewa di tampilan luar Arzi. Biasa saja. Tapi setiap hari aku tahu, aku jatuh cinta padanya.
Jatuh cinta pada ketulusannya.
Jatuh cinta pada perhatian dan cintanya.
Jatuh cinta pada kesalehannya.
Bahkan aku kadang bingung, bagaimana bisa seorang gadis dengan orangtua yang mengalami masalah rumah tangga sepanjang hidupnya, justru berani menerima lamaran pria yang nyaris tak dikenal?
“Udah... udah panas nih wajah saya dipandangi terus. Mau berapa lama lagi, Mbak Inka? Jadi gak fokus.”
Kalimat Arzi itu membuat senyumku berubah menjadi kekeh.
“Mas, Inka nanya deh.”
“Apa?”
“Mas kok baik banget sama Inka sih? Emang seberapa besar sih cinta Mas ke Inka?”
Sedetik, Arzi malah tertawa. “Saya itu... sangat sangat sangat mencintai... Allah, Inka.”
Wajahku berubah serius. Kukira ia akan menyebut namaku. Aku tahu, aku tak bisa mengalahkan cinta Arzi pada Allah. Tapi sejujurnya aku sedikit kecewa.
“Karena cinta itulah, makanya saya akan selalu bersyukur untuk semua yang Allah karuniakan ke saya. Mencintaimu, baik sama kamu, sayang sama kamu adalah bentuk rasa syukur dan rasa cinta saya ke Allah juga. Karena Allah, kita dipertemukan. Maka karena Allah juga, saya akan mencintaimu sebanyak mungkin. Saya tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan mencintaimu, Inka.”
Harusnya aku tertawa keras. Harusnya aku mengejek rayuannya.
Tapi yang ada justru mataku yang mulai berair. Sengaja kualihkan tatapan keluar jendela, menahan keharuan.
Ya Allah, inikah sebabnya Engkau balikkan hatiku dengan sangat cepat? Apa untuk memenuhi keinginan hamba kesayanganMu di sebelahku ini?
__ADS_1
Orang sebaik dirinya memang benar-benar pantas untuk bahagia, tapi apa aku bisa membahagiakannya?
Bantu aku mencintainya sebesar ia mencintaiku, ya Allah.
Jika aku bisa membalas semua kebaikannya.
Jika aku bisa membuatnya sebahagia diriku.
“Terharu yaaa... “
Seketika keharuanku buyar mendengar. Dengan wajah cemberut, aku menoleh. “Apaan sih! Lagi ngobrol serius juga.”
Arzi terkekeh. Tangannya melambai di wajahnya. “Kamu benar-benar polos ya, Sayang. Semua emosi keliatan jelas banget di wajahmu itu. Lucu. Jadi bawaannya pengen ngegodain aja nih.”
Aku mencibir. “Ketawa kalo lucu.”
“Ha ha ha ha ha!” Dan pria itu benar-benar tertawa terbahak-bahak, membuatku semakin manyun.
Tapi jauh dalam hatiku, aku suka mendengarnya.
Usai makan siang, Arzi dan aku juga mengantar undangan pada beberapa kenalan dan sahabat di kantor mereka.
Seperti dugaanku, banyak yang kaget. Tak menyangka.
“Loh, kalian... “ Salah satu kenalan kami, juga ikut terperangah. Dia adalah staf keuangan perusahaan utama yang selama ini berhubungan denganku, juga dengan Arzi. Tapi ia tak pernah menyangka kalau aku dan Arzi saling kenal.
Arzi hanya mengangkat bahu. “Datang ya, Friend!”
“Tunggu, Pak Arzi! Sejak kapan... “ Ia tampak ragu meneruskan dan hanya memberi isyarat pada matanya.
Aku tahu, ia tak enak bicara di depanku. “Mas, aku ke sana sebentar. Mau nganter undangan ke Mbak Ningsih di gedung sebelah. Entar tunggu di lobby aja ya!”
Arzi hanya mengangguk.
“Dulu waktu kompetisi golf akhir tahun lalu, saya pernah bilang ke dia kalau... “ Arzi menoleh padaku sekilas, tersenyum. “... kaulah calon istri saya.”
Mataku membulat. “Really? Bukannya kita belom kenal saat itu?”
Arzi menggeleng. “Kamu yang belum kenal saya, Sayang.”
Aku terperangah. Orang ini... Apa dia sudah segitu lama menyukaiku?
“Tapi kenapa Mas gak pernah usaha deketin Inka?” tanyaku ingin tahu.
Sedikit ada rasa kesal dan sesal. Andai ia melakukannya dari dulu, aku tidak akan telanjur jadi pacarnya Andra.
“Usaha kok. Mana mungkin Allah mengabulkan keinginan kalau kita gak usaha.”
Aku melipat kedua tanganku di depan dada, menoleh dengan bibir sedikit kerucut. “Usaha apa? Kayaknya gak pernah tuh nongol atau nelpon kalo gak karena Inka yang mulai.”
“Bedakan usaha ala orang dewasa dengan anak kecil ya, Sayang.”
“Iiih apa bedanya?”
Walau matanya memandang ke depan, tapi sekilas aku bisa melihat ekor mata Arzi yang melirik padaku.
“Usaha orang dewasa itu memang gak keliatan tapi efeknya akan luar biasa. Step by step.”
“So explain to me, step by step.”
[Kalau begitu jelasin padaku. Satu demi satu.]
“Ha ha ha... Pertama, berdoa.”
__ADS_1
“Basi itu sih!”
Arzi menggeleng cepat. “Eh jangan bilang basi. Kita mau jungkir balik usaha kalau gak benar-benar berdoa, meminta dengan setulus hati, Allah gak akan mengabulkan.”
“Iya ya ya deh. Terus usaha lain apa?”
“Membiarkan anak-anak yang lagi ngaji mainin lampu di mesjid.”
“Mainin lampu? Maksudnya?” Keningku berkerut. Tak mengerti.
Bibir Arzi berkedut. Menahan tawa. Tapi ia tak menjelaskan lebih lanjut, membiarkan aku berpikir. Butuh beberapa detik sebelum aku memekik.
“Astaghfirullah! Jadi yang ngerusakin lampu-lampu itu.... Astaghfirullah! Ini ustad yang dihormati orang-orang? Oh ya ampun... Astaghfirullah! Ha ha ha!” Aku tergelak tak tertahankan.
Saat tawaku mereda. “Entar Inka kasih tau Pak Haji aaah, biar Mas dimarahi. Ha ha ha.”
“Pak Haji sudah tahu,” sahut Arzi tenang.
“Oh ya?”
“Waktu lampu-lampu itu rusak, sebenarnya ada kontraktor yang nawarin. Free malah. Lalu, saya bilang ke Pak Haji, kalau baikin lampu mesti lewat ABS supaya saya dapet kesempatan menemukan jodoh.”
“What? Ha ha ha... Idiih noraknya!”
“Tau gak jawaban Pak Haji? Ehem ehem... Zaman sekarang anak-anak muda memang pandai-pandai. Terserah kamu kalau begitu! Lakukanlah! Tapi harus sesuai aturan ya, Zi,” kata Arzi menirukan suara berat Pak Haji.
“Hah? Ha ha ha ha... Jadi itu toh alasannya kenapa ngelamar Inka buru-buru.“
Lalu setelah berbaring miring, bersandar pada kursi aku kembali bertanya, “Pernah ngerasa ragu gak, Mas?”
Arzi mengangguk kecil. “Secara manusiawi tentu saja, Sayang. Kamu itu temannya banyak banget. Di mana-mana orang bilang... Kamu cantik, pintar walaupun masih belia. Teman-teman bujang saya selalu membicarakanmu. Sementara siapa saya? Siapa yang gak minder jadinya.”
“Lalu? Kenapa tidak mengenal kata menyerah, Mas?”
“Karena kamu yang datang pada saya saat saya mulai ragu, Inka. Itu sehari setelah malamnya saya istikharah loh. Galau karena saat itu ibu saya sakit keras dan saya belum berhasil menemukan cara agar kita bisa kenalan.”
“Oh ya? Kapan itu?” tanyaku heran.
“Ingat gak saat saya memberi rok mukena di mesjid?”
Aku mengangguk penuh semangat. Tentu saja. Itu pertemuan pertama kami bagiku. Pertemuan paling mengesankan.
“Saat melihatmu tidur sembarangan itulah saya yakin seyakin-yakinnya harus menjagamu dunia akhirat. Sayangnya... “ Ia tertawa sebelum melanjutkan. “... saya malah gugup luar biasa. Makanya pas udah selesai sholat Jumat, saya sengaja ngaji dulu buat menghindari kamu walaupun saya tahu kamu lagi nungguin. Saya kuatir keceplosan langsung pengen ngajak nikah.”
“Aduuh, ya Alloh, Mas... Aku sakit perut jadinya ketawa mulu. Jadi saat itu... Saat itu Mas udah kepikiran mau nikah aja?” Aku benar-benar tertawa lepas.
Bagaimana kalau ia tahu, aku justru menyukai suaranya bahkan sebelum aku melihat wajah dan mengenal dirinya?
Ini terlalu membahagiakan mendengar seseorang yang kukira tak romantis, ternyata menyimpan pengalaman luar biasa yang semuanya ia rencanakan dengan manis.
“Terima kasih, Mas!” ucapku tulus.
Arzi menoleh. “Bersyukurlah pada Allah, Inka. Dia yang mempertemukan kita. Semakin kita bersyukur, semakin besar Allah akan memberi kebahagiaan buat keluarga kita nanti.”
“I will, Mas. I will do it. Thank you for choosing me.”
[Baik, Mas. Aku akan lakukan itu. Makasih sudah memilihku]
“Me too, Sayang. Thank you for letting me come to your life.”
[Saya juga, Sayang. Makasih sudah mengizinkanku hadir dalam hidupmu]
Kini aku tahu rasanya jatuh cinta setiap hari.
__ADS_1
*****