
Setelah terburu-buru berangkat ke Balikpapan, berlari-lari mengejar waktu dan langsung bergerak menuju di lokasi proyek, usaha kami terbayar juga.
Semprotan air disertai lumpur dari dalam tanah itu mulai menunjukkan tanda-tanda berkurang. Air tak lagi sebanyak pertama kali keluar.
Tinggi semburan air makin lama makin berkurang setelah tim bantuan bahu membahu menggunakan berbagai teknik. Walaupun memang benar-benar berhasil meluluhlantakkan proyek pembangunan taman itu sepenuhnya.
Hans dan aku mulai bekerja bersama beberapa manajer lapangan dan supervisor, meeting di lokasi dengan keadaan seadanya.
Tubuh Hans basah kuyup demi mendekati sumber masalah. Sementara aku mengubah pos satpam menjadi kantor sementara kami.
Aku juga menyetir sendiri ke mal terdekat mencari pakaian ganti untukku dan Hans, juga perlengkapan mandi, karena kami tak sempat membawa perlengkapan ganti pribadi. Lalu mendatangi kantor pusat untuk mengatur dua asisten membantuku dan Hans.
Tak hanya itu, aku juga mempersiapkan ruang kerja Hans selama di Balikpapan untuk beberapa hari.
Sampai proyek ini normal kembali, ia akan bekerja di kantor pusat. Aku akan kembali ke Sangatta usai mempersiapkan segalanya.
Terbiasa dengan ritme kerja cepat dan dinamis, dua gadis asisten sementaraku tampak kesulitan mengimbangi cara kerjaku ini.
Mereka tampak kelabakan, ketika aku menjelaskan semua yang ada di dalam koper yang kubawa.
Mereka kebingungan ketika aku menyebutnya dengan cepat. Aku harus segera kembali ke proyek untuk membawa pakaian ganti untuk Hans sekaligus menyusun semua rencana yang telah diputuskan. Tapi sepertinya itu tak mungkin.
Aku menyerah setelah beberapa saat dan akhirnya meminta mereka merekam saja semua ucapanku agar lebih cepat. Cara ini lebih efektif karena aku bisa melakukannya sambil mandi sebentar.
Penampilanku juga sudah tidak karuan. Pakaianku sedikit basah dan kotor karena tadi bersama Hans di proyek tanpa persiapan apapun.
Aku memilih memakai kaus lengan panjang yang tebal seperti sweater dengan celana jins. Dengan gaya kasual begini, akan lebih nyaman dipakai saat di proyek.
Aku membelikan kemeja dan jins untuk Hans. Juga beberapa pakaian dalam dan jaket untuknya.
Setelah memastikan hotel dan kantor Hans telah siap, aku pun pergi lagi ke proyek usai sholat Magrib. Aku memilih makan seadanya di mobil sementara kendaraan itu melaju kembali menuju proyek bersama salah satu asistenku.
Hans ternyata sudah menunggu. Pakaian basah yang ia pakai malah sudah sedikit mengering saat aku datang.
Sambil meminta maaf, aku menyodorkan pakaiannya. Tak lupa, aku menyodorkan makanan dan obat-obatannya.
Selama ia berganti pakaian dan makan, aku memeriksa pekerjaan sekaligus menyusun kembali hal-hal yang harus kukerjakan. Sambil tak lupa menelpon Arzi.
"Gimana? Masalahnya parah?" tanya Arzi setelah kami saling mengucap salam.
"Alhamdulillah mulai ada hasil sih, Mas. Tapi mungkin aku gak bisa pulang cepat. Paling besok. Itu juga tergantung Hans..."
"You will return tomorrow afternoon, Inka. You should." Suara di belakangku membuatku menoleh, Hans sudah berdiri dengan tangan memegang tas. Lalu dengan kode jari-jari yang digerakkan, ia meminta gagang telepon. Aku menyodorkannya.
[Kamu akan kembali besok sore, Inka. Kamu harus kembali]
"She will return tomorrow, in the afternoon flight, Mr. Arzi.... Hmm.... yes, sure! I'll make sure. She will stay at the company's hostel near this project. Me too. Don't worry! Your wife is under the safest hands. Haha... Yes, ok! Ok!" kata Hans pada Arzi.
[Dia akan pulang besok, dengan pesawat sore, Pak Arzi... Ya tentu saja! Saya akan pastikan. Ia akan tinggal di wisma perusahaan dekat proyek ini. Saya juga. Jangan kuatir! Istrimu berada di tangan teraman. Ya, Oke!]
Gagang telepon dikembalikan padaku. "Halo? Ya Mas?"
"Udah makan?" tanya Arzi lembut.
"Ya Mas, udah. Udah mandi, udah ganti baju, udah makan dan udah sholat juga tadi."
Terdengar helaan napas lega. "Syukurlah. Kalau begitu, baik-baik di sana ya... Sayang. Tidur yang cukup sesibuk apapun kamu di sana ya. Jangan lupa itu."
"Iya, Mas."
"Sudah dulu ya. Assalamualaikum. I love you."
Senyumku merekah. "Waalaikum salam. Love you too, Mas," bisikku malu-malu sebelum mengakhiri hubungan telepon.
Saat aku mendongak, Hans tersenyum-senyum melihatku. Tawanya baru terdengar saat tatapan kami bertemu. Wajahku terasa hangat dan memerah.
"I never see you like this before, even with Andra. That old guy really takes your heart, Little Lady," komentar Hans sebelum kembali menunduk memperhatikan gambar sketsa proyek di depannya.
[Saya gak pernah lihat kamu begini sebelumnya, bahkan dengan Andra. Pria tua itu benar-benar merebut hatimu, Gadis kecil.]
Aku hanya tersipu sebelum membereskan pakaian Hans yang kotor dalam tas plastik untuk dicuci di wisma nanti oleh para petugas. Setelah itu, aku bergabung dengan Hans, mulai melakukan pekerjaan kami.
Tak lama beberapa manajer dan supervisor juga datang lagi. Mereka semua sudah berganti pakaian lebih santai.
__ADS_1
Setelah mengobrol sebentar, kami mulai bekerja. Sampai menjelang tengah malam, sebuah rencana baru akhirnya selesai disusun. Dengan sigap, aku mencetak semuanya menjadi dokumen tertulis untuk dilaporkan.
Aku dan Hans kembali ke Wisma yang sudah disediakan hampir pukul 2 pagi menggunakan bis dari perusahaan, bersama beberapa staf dan field supervisor yang juga dipanggil secara mendadak.
Meski rumahku ada dalam kota yang sama, aku lebih suka tinggal di wisma khusus karyawan dan tamu.
Perlu sekitar satu jam kalau ingin ke rumahku dari proyek ini. Terlalu jauh dan aku juga terlalu lelah.
Aku bahkan tertidur di sepanjang perjalanan menuju wisma, begitu juga Hans. Kami berdua seperti robot saat masuk ke kamar masing-masing.
Saat bersikat gigi dan mencuci muka, aku baru ingat kalau belum menelpon Ibu kost, maka buru-buru aku menelpon.
Meskipun tengah malam, ibu kost terbiasa menerima telepon. Tak ada batasan itu karena jam kerja sistem shift juga mempengaruhi jam datang dan pergi para penghuni kost.
Tapi aku hanya bisa terperangah saat ibu kost memberitahu, "Iya, Inka. Tadi pulang kerja, Pak Arzi juga singgah kemari, ngasih tau Ibu kalo kamu mendadak ke Balikpapan. Udah, Neng. Santai aja!"
Sampai aku menutup telepon aku masih tak habis pikir. Betapa cepatnya Arzi menyesuaikan dirinya dengan diriku.
Kehidupanku yang tidak teratur bisa diimbanginya dengan baik. Ia bisa mengingat hal-hal yang kulupakan dan menanganinya dengan baik.
Entah mengapa, aku merasa beruntung bisa berbagi beban dengannya seperti ini. Di saat-saat aku paling membutuhkan tapi malah lupa banyak hal lainnya.
Kepalaku terlalu penuh, bebanku terlalu banyak dan Arzi ada untuk mengurangi semua itu. Sambil tersenyum, aku memejamkan mata yang mulai mengantuk.
***
Tidurku benar-benar pulas, hingga adzan subuh membangunkanku. Tapi saat aku bangkit dengan cepat, pinggang dan perutku sakit sekali. Aku terkejut dan bergerak menuju toilet.
Ah, benar saja. Tamu bulananku datang. Dan ini sungguh tidak kuharapkan saat ini.
Dengan tubuh terbungkuk sambil memegangi perutku yang sakit, aku menelpon petugas front desk wisma, meminta beberapa jenis obat dan vitamin sekaligus.
Biasanya aku tak bekerja setiap hari pertama ketika tamu bulanan ini datang. Pinggangku akan sakit sepanjang hari, dan kadang-kadang kram hingga ke kaki. Belakangan ini rasa sakit itu justru makin menjadi.
Beberapa menit kemudian, seorang housekeeper datang membawakan semua pesananku.
Pintu memang sudah tak kukunci lagi. Jadi ia masuk setelah kuperintah dari dalam.
Ia sedikit kaget melihatku terbaring lemah di atas tempat tidur dan sempat menawariku ke rumah sakit.
Rupanya, si housekeeper itu masih kuatir dan menyampaikannya ke petugas front desk yang saat itu sedang berbicara dengan salah satu staf perusahaan yang tinggal di wisma ini juga.
Kebetulan staf itu mengenaliku dan ia langsung menghubungi Hans, bosku. Hans yang juga sudah bangun sejak pukul 5 pagi pun segera mendatangiku.
"Are you Ok, Inka? Do you want me to send you to hospital?" tanyanya kuatir sambil memegangi dahiku. Aku tersenyum pahit.
[Apa kau tidak apa-apa, Inka? Apa kau ingin saya bawa ke rumah sakit?]
"Hans, this is only my monthly sickness. Woman problem. I've taken the medicines. With sleeping for a couple of hours, I'll be ok."
[Ini hanya penyakit bulananku. Masalah perempuan. Aku sudah minum obat. Tidur beberapa jam, aku akan baik-baik aja]
"Can you go back this afternoon?" tanya Hans dan aku mengangguk.
Wajah Hans terlihat lebih tenang. Ia memperbaiki letak selimutku sebelum kembali melanjutkan. "I'll call Arzi to pick you up at the airport and let him know about this. Is it ok?"
[Bisa kamu kembali sore ini? Aku akan telepon Arzi untuk menjemputmu di bandara dan memberitahunya soal ini. Apa itu gak masalah?]
Aku hanya mengangguk. Ya... aku membutuhkan Arzi.
Untungnya, setelah beristirahat lalu memaksakan diri untuk mandi dan makan, aku bisa berangkat.
Para petugas bandara sempat berulang kali bertanya saat melihat wajahku yang menurut mereka pucat sekali.
Setelah diyakinkan oleh staf perusahaan yang mengantarku, barulah mereka mengizinkan.
Aku juga harus duduk paling depan, dekat dengan pilot. Aku hanya bisa pasrah menuruti keinginan mereka.
Tidak mudah beraktifitas dalam keadaan begini, apalagi dengan kondisi sedang dalam perjalanan seperti ini. Ini benar-benar sangat menyiksa.
Tapi pernikahanku kurang dari seminggu, sementara pekerjaan di Sangatta juga masih banyak yang harus kukerjakan.
Aku mengambil cuti dua hari sebelum hari pernikahan, jadi waktuku tak sampai empat hari untuk menyelesaikan semuanya sebelum meninggalkan kantor hampir 15 hari.
__ADS_1
Aku memaksakan diri untuk tidur sepanjang perjalanan udara itu. Tapi sulit sekali. Sesekali petugas tambahan yang duduk di samping menyentuh tanganku, memberi isyarat apakah aku membutuhkan bantuannya dan aku hanya menggeleng pelan.
Selama kurang dari satu jam, aku berusaha agar tak terlalu memperlihatkan rasa sakit menyengat di sekitar pinggang dan perut melalui ekspresi wajah.
Setelah pesawat berhenti, aku memilih menunggu sampai semua orang turun dulu baru keluar. Tapi baru saja hendak berdiri, seseorang masuk dari pintu pesawat. Mencari-cariku dan ia tampak lega saat melihatku.
Arzi.
Karena suara bising pesawat masih terasa di telingaku, Arzi tak bicara apa-apa selain memberi kode pada petugas di sampingku kalau ia sedang menjemputku.
Setelah itu Arzi membantuku keluar. Saat di dekat pintu ia turun lebih dulu, dan begitu aku sampai di ujung tangga, ia meletakkan tangan kanannya di belakang kedua lututku dan tangannya yang lain menahan punggungku.
Ia menggendongku.
Sementara petugas yang mengiringi kami, membungkus tubuhku dengan selimut kecil.
Mau tak mau untuk menjaga keseimbangan, aku mengalungkan kedua tanganku di leher Arzi, menenggelamkan wajahku ke dadanya, menahan malu ditatap begitu banyak orang di sekitar bandara Sangatta yang terbuka itu.
Kupejamkan mataku rapat-rapat. Tapi memang, kalau tidak begini aku mungkin sulit untuk berjalan normal.
Sejak tadi pinggang hingga kakiku sudah kram lagi. Aku sudah memaksakan diri terlalu banyak hari ini.
Arzi membawaku menuju mobil yang pintunya sudah dibuka. Diletakkannya tubuhku dengan hati-hati, menarik sabuk pengaman dan menguncinya. Setelah itu ia menutup pintu.
Ia kembali berlari mendekati petugas yang membawakan tas kecil yang kubawa dan mereka bicara sebentar. Sepertinya Arzi sedang berterima kasih.
Selesai bicara, ia berbalik dengan langkah lebar kembali ke mobil. Membuka pintu belakang untuk meletakkan tasku dan menuju pintu pengemudi. Ia menyetir sendiri hari ini.
"Gimana? Masih sakit banget?" tanyanya ketika mobil sudah melaju menuju kota. Keningnya berkerut.
Aku mengangguk.
Arzi menatapku sekilas, lalu mengambil sesuatu dari laci. Botol minuman berwarna biru tua. Ia menyerahkannya padaku.
"Itu air asam jawa dengan gula merah. Ibu saya bilang bagus untuk ngurangin sakit karena haid. Minumlah! Masih hangat."
Patuh aku membuka tutup botol dan aroma asam yang khas tercium. Perlahan aku minum.
"Baca Bismillah dulu, Sayang!" kata Arzi mengingatkan.
Aku berhenti minum dan tersenyum malu. "Bismillahirohmanirrohim," ucapku sebelum minum sekali lagi. Lebih banyak.
Rasa jamu ini enak, aku suka. Asam tapi bercampur manis yang enak. Segar rasanya.
Setelah meminumnya, aku kembali menutup botol itu dan hanya meletakkannya di kotak kecil yang ada dekat rem tangan.
Tapi ternyata Arzi belum selesai, ia mengambil botol lain yang terbungkus handuk dan menyodorkan padaku lagi.
"Ini air panas, botol kaca. Kata Bibi saya, kalo sakit tekanin aja ke bagian yang sakit. Nanti sakitnya pasti berkurang."
Sepertinya Arzi menanyai semua orang cara mengatasi sakit ini. Aku tersenyum tipis sembari menggelengkan kepala, tapi tetap melakukan seperti yang ia sarankan.
Karena masih terlalu panas, aku tak membuka gulungan handuk yang melingkari botol kaca itu, dan menempelkannya ke bagian perutku yang sakit.
Ah, Bibinya benar! Perutku terasa lebih nyaman.
"Apa ini selalu terjadi, Inka?"
Suara di sebelahku membuat aku tersenyum pahit. "Mas lupa kalau Inka punya kista?"
"Kalau begitu setelah kita menikah, kau harus langsung operasi," tegas Arzi.
Aku terdiam. Ini pertama kalinya, aku mendengar nada otoriter di suaranya. Raut wajahnya yang biasa penuh senyum dan santai, tak nampak kali ini.
"Apapun yang Mas mau. Inka patuh aja deh."
"Kalo begitu kita menikah besok saja."
Aku mendelik. "Lagiiii... kebiasaan yak!"
Lalu suara tawa kami pun pecah bersama-sama. Namun, karena nyeri perutku belum sepenuhnya hilang, tawaku segera lenyap.
Setelah itu aku menyandarkan punggung dan menutup mataku. Berusaha untuk tidur.
__ADS_1
Perjalanan kami masih jauh. Sepuluh atau dua puluh menit tidur adalah waktu berharga.
Seperti memahami kebutuhanku, Arzi juga tak lagi bicara.