
Saat aku terbangun sore itu, Dirga sudah pergi. Hanya sebuah pesan yang ia titipkan pada Arzi. Seperti biasa, semua hanya tentang kesehatanku.
Aku tak merasakan sesuatu yang aneh dengan kepergian Dirga saat itu. Sesuai rencana, ia melanjutkan rencana liburannya, sementara aku dan Arzi memulai perkenalanku dengan keluarganya.
Semua mungkin terlihat mudah di permukaan, apalagi ibu mertuaku sangat baik. Begitu pula adik-adik suamiku. Tiga adik laki-laki dan tiga adik perempuan.
Adik Arzi lahir secara berurutan sesuai gendernya. Arzi berbeda lima tahun dari Saleh, lalu lahir Amran dan Ismail. Setelah itu barulah adik-adik perempuannya lahir. Yang pertama Viarany, lalu Amina dan hanya setahun kemudian disusul kelahiran Sariyah.
Adik perempuannya yang tertua, Viarany seusia denganku dan paling akrab denganku. Sedang ayah mertuaku, walaupun sedikit pendiam, tapi ia selalu berusaha membuka obrolan denganku. Malah aku yang kadang bingung harus mengatakan apa pada pria yang seumur dengan kakekku itu.
Tak ada masalah berarti dengan keluarga inti suamiku. Tapi itu berbeda ketika berurusan dengan orang-orang di sekitar rumahnya atau keluarga dari pihak Ayah dan Ibu mertuaku.
Perlahan aku mengerti kenapa Arzi meminta seluruh adik dan orangtuanya untuk selalu menggunakan bahasa Indonesia saat berada di depanku.
Pagi berikutnya, aku keluar dari rumah dan melihat-lihat ke halaman rumah yang luas. Adik-adik Arzi tengah duduk bersama anak-anak remaja sekitar desa mereka di bawah gazebo.
Di antara mereka ada beberapa wajah asing yang kulihat. Mereka tak melihatku, karena aku berdiri di balik pohon. Tapi sayup-sayup aku mendengar nama panggilanku disebut oleh adik-adik dan orang-orang asing itu.
Hanya saja aku tak mengerti bahasa mereka. Itu bahasa Sunda halus yang baru kali ini kudengar secara langsung. Arzi jarang berbahasa Sunda di depanku, jadi meski aku bisa dengan cepat menyerap bahasa asing, aku tak bisa menangkap maksud mereka.
Ekspresi mereka dipenuhi tawa dan senyum saat mengucapkan namaku. Namun entah mengapa, jauh di sudut hatiku, aku merasa mereka tengah membicarakan sisi jelekku. Sedikit rasa sedih menyelusup di hatiku.
Bagaimana kalau dugaanku itu benar?
Kakiku mundur dua langkah, ingin masuk ke rumah lagi. Tapi punggungku menabrak sesuatu. Saat aku menoleh, ada Arzi berdiri di belakangku. Ia tersenyum penuh pengertian.
“Itu namanya Yanto. Anak tetangga depan yang sudah menganggap rumah Embi seperti rumahnya sendiri. Dia bilang, pantas saja Aa Arzi gak mau dijodohkan dengan cewek-cewek di kampung. Sekalinya bawa istri, lewat semua.”
Aku termangu. Antara percaya dan tidak.
Arzi merangkul pundakku. “Itu yang berdiri sambil merokok, adalah adik sepupu saya. Dia bilang, gak nyangka Aa bisa dapat istri secantik artis di tipi. Masih muda pula. Dia... “ Arzi tertawa kecil sebelum meneruskan. “Dia mengejek Via. Seumuran denganmu tapi belum berani menikah. Via bilang, dia menunggu jodoh yang tepat.”
Kali ini aku mendongak, menatap Arzi. “Tadi Amina bilang apa? Via sampe malu begitu.”
Amina itu adik Arzi dan lahir setelah Via. Tapi tubuhnya jauh lebih besar dan lebih tinggi dari Via. Ia juga sosok yang ramai dan periang.
“Dia bilang... Via juga pasti nunggu calon yang baik seperti saya. Lalu dia juga ngasih tau kalo saat ini cowok sempurna yang pas dengan tipe Via itu, contohnya... “ Arzi berhenti bicara. Ia menatapku dengan bibir yang tertutup. Enggan meneruskan informasinya.
“Siapa, Mas?” tanyaku penasaran.
Ada keraguan di mata Arzi. “Seperti adik-adik saya menyukai Dirga, In.”
Mendengar itu aku tersenyum lebar. “Benarkah? Oh My... That’s good, Husband! That’s very good!” [Aah, itu bagus, Suami! Sangat bagus!]
__ADS_1
Suaraku yang setengah berteriak itu menarik perhatian para pemuda pemudi yang tengah berbincang di gazebo. Serempak mereka menoleh pada kami. Tersenyum dan mengangguk padaku.
Arzi menggandengku mendekati mereka.
“Ngobrolin apa?” tanya Arzi santai.
Via memberi isyarat padaku untuk duduk di sisinya. “Duduk di sini, Kak!”
“Godain si Via, Aa! Seumuran Kak Inka, tapi gak berani menikah.”
Via melotot pada Yanto. “Siapa yang takut? Aku hanya menunggu jodoh yang tepat. Ya kan, A?”
Arzi mengangguk-angguk.
“Menunggu jodoh yang sempurna itu sulit, Vi. Terima saja yang ada di depanmu,” sela sepupu Arzi yang sedari tadi melempar lirikan jenaka ke arah Yanto.
Via menggeleng kuat. “Enggak! Aku mau seperti Aa. Mendapat jodoh yang terbaik. Lihat Kak Inka! Cantik, muda, manis dan pintar. Aku juga ingin begitu. Sekarang aku hanya ingin berbaik hati pada Embi.”
Aku keheranan. “Maksudnya?”
Amina yang duduk di arah yang berlawanan denganku yang menjawabnya. “Waktu Aa ngasih tahu ke kita kalau Kak Inka nerima lamarannya, Aa bilang terimakasih karena Embi yang gak berhenti doain Aa. Aa janji akan menjadi anak yang lebih baik supaya balas doanya Embi. Jadi itu sebabnya Ceu Via pengen didoain juga.”
Aku mengangguk-angguk mengerti. “Kalo doa kakak ipar gimana?”
“Insya Allah, Vi. Kak Inka bakal selalu doain kamu. Semoga kamu dapet jodoh terbaik bahkan lebih baik dari harapanmu. Seseorang yang bisa membuat Via-nya Embi semakin bahagia.”
“Aamiiin.”
Semua orang mengamini ucapanku. Bahkan Arzi yang sedari tadi hanya diam saja.
Jauh di dalam hatiku, aku punya rencana lain. Aku ingin menjodohkan Via dengan Dirga.
Membuat Dirga sebagai bagian dari keluargaku adalah impianku yang lain. Menjodohkannya pada adikku sendiri, jelas tidak mungkin karena Dirga tak pernah suka dengan adik perempuanku. Tapi jika ia bisa kujodohkan dengan Via, yang sedari awal selalu bersikap baik padaku, jelas ini kesempatan yang tak ingin kulewatkan.
Dua adik laki-laki Arzi yang lain sedang bicara saat aku tenggelam dalam lamunan.
“ ... Kalau Aa gak kembali, semua akan makin susah... “
Aku menoleh pada Arzi. Berusaha memahami isi percakapan mereka. Tapi saat itu Via berdiri dan pamit ke belakang. Sekarang hanya aku dan Amina.
“Aa masih harus di sana minimal 3 tahun lagi, Leh,” kata Arzi pada adiknya, Saleh.
Saleh sudah menikah dan sudah memiliki seorang putra. Amran belum, meski usianya sebentar lagi 30 tahun. Sedangkan adiknya, Amran tinggal di Jakarta, tengah melanjutkan S2 dan bekerja di sebuah perusahaan ekspor impor. Sementara Ismail masih kuliah dan bekerja di salah satu perusahaan engineering di Bandung.
__ADS_1
Saleh menghembuskan napas. “Sekarang sekolah-sekolah modern lebih menjanjikan dalam soal masa depan, A. Makanya anak-anak sekarang lebih ke future job oriented. Mereka tidak mau masuk pesantren karena menurut mereka, kesempatan dapet PTN juga kecil.”
Mendengar ini, aku mulai mengerti apa yang terjadi.
“Abdi terang alesana... nu damel contohna, abdi teh... “ Amran berhenti bicara saat ia melirikku. Lalu meneruskan dalam bahasa Indonesia. “... Eeeh, saya ngerti sih alasannya. Contohnya waktu ngelamar kerja juga sempat kepentok sama faktor ini juga, A. Untungnya, karena Aa bilang penting bisa ini itu, akhirnya saya bisa masuk karena kemampuan bahasa sama mengemudi. Kalo ndak, masih nganggur kali saya, A.”
Aku tersenyum. Amran mungkin ingin menggunakan bahasa Sunda tadi. Berhubung dia melihatku, walau terdengar kaku, ia menggunakan bahasa Indonesia.
“Hffh, Aa ngerti. Tapi untuk saat ini, Aa juga harus mengurus masalah pribadi Aa dulu. Selain itu, butuh perencanaan untuk keputusan besar itu. Inka juga... “ Arzi menatapku. “... dia bekerja di sana. Pekerjaannya bahkan lebih bagus dari Aa.”
“Oh ya? Kak Inka kerja?” tanya Saleh.
Aku mengangguk. “Hanya admin biasa kok, Leh. Gak spesial.”
Yanto yang tadi agak cuek ikut bertanya, “Tapi Kak Inka gak kuliah?”
Aku menggeleng.
“Dulu diterima kerja bagaimana?” Kali ini Amran yang nampak tertarik.
“Dia pinter bahasa Inggris dan Mandarin, Ran. Kalah kamu soal itu sama istri Aa,” Arzi yang menjawab dan tersenyum bangga padaku.
“Benarkah? Waaah! Kak Inka kursus atau gimana?” tanya Saleh penuh semangat.
“Nenek dan pamannya yang ajarin. Keduanya kepala sekolah loh. Pamannya Inka itu... Beliau luar biasa!” kata Aa lagi. Masih dengan nada bangga.
Aku tertawa. “Sesuatu yang sebenarnya gak perlu heran, Leh. Saya dibesarkan menggunakan kedua bahasa itu, jadi kebiasaan aja. Di tempat saya lahir, ada banyak keturunan Chinese. Sekitar 30% dari total penduduk, jadi bahasa itu bagian dari bahasa pergaulan di sana.”
Arzi menatapku penuh arti. Aku tahu, ia tahu soal sejarah ibu kandungku yang masih memiliki keturunan Tionghoa. Tapi aku lebih suka menyimpan informasi itu sendiri.
“Jadi kalau Aa dan Kak Inka ikut bergabung, waduh... kita punya tim pengajar luar biasa. Anak-anak pasti menyukainya! Bukannya bahasa asing juga salah satu kriteria yang paling banyak diminta?”
Aku tak mengerti maksud Saleh yang nampak bersemangat. Tapi aku tak bertanya lagi.
Lalu obrolan sore itu mengalir lancar ke topik lain. Kecanggungan yang sempat muncul, lenyap tak bersisa. Aku mengobrol lepas seperti mereka sudah lama kukenal.
Aku menyukai adik-adik Arzi. Mereka menghormatiku, tapi tidak bersikap kaku padaku. Mereka mengobrol santai, sama seperti bersama teman. Bahkan menurutku, cara mereka bicara padaku lebih santai dibandingkan saat bicara pada Arzi. Mereka, termasuk anak-anak remaja sekitar, selalu berbicara dengan nada hormat pada Arzi.
Menikah, membuatku menemukan adik-adik yang baru.
__ADS_1