Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 36 - Undangan


__ADS_3

Pagi itu sebelum berangkat kerja, aku menelpon Arzi.


"Assalamualaikum Pak, hari ini Inka harus selesein beberapa hal penting. Jadi nanti gak bisa sarapan dan makan siang bareng ya," kataku sambil menekan 'speaker' dan meletakkan gagang telepon. Aku tetap bergerak merapikan penampilanku.


"Waalaikum salam. Malam gimana?" suara Arzi bertanya. Seperti ia juga melakukan hal yang sama karena suaranya terdengar jauh.


Aku mendekati telepon. "Inka usahain yaaa," seruku manja.


Tawa senang Arzi terdengar. "Oke kalo begitu. Inka... Tunggu!" Tanganku urung menekan tombol 'end' di telepon.


"Ya?" tanyaku sambil mengangkat gagang telepon.


"Kita mau menikah. Kita perlu restu semua orang. Jadi apapun masalah yang harus kamu selesaikan. Tolong jangan pake emosi ya, In! Mengerti?"


"Mengerti, Calon Suami!" Kembali aku menjawab penuh semangat. Aku jadi banyak belajar sabar dengan Arzi.


Setelah bertukar salam, telepon pun berakhir. Dengan santai aku mengambil tas kain yang berisi semua pemberian dan dokumen pribadi milik Andra yang semalam kusiapkan, juga kunci kamar yang pernah ia berikan padaku.


Pagi-pagi sekali, aku juga sudah menelpon Mess-nya dan bertanya pada temannya, kalau sudah beberapa hari ini Andra bertugas di Bontang. Jadi aku bisa masuk ke kamarnya dengan bebas untuk mengembalikan semua tanpa harus bertemu.


Tepat pukul delapan, aku sudah mengarahkan kemudi menuju rumah tempat Andra dan teman-teman sekantornya tinggal. Tak ada orang. Tentu saja, ini jam kerja. Mereka pasti sudah berangkat tadi pagi.


Aku sengaja datang satu jam setelah mobil jemputan mereka datang mengantar mereka yang bekerja di malam hari dan pergi menjemput mereka yang bekerja di *shift *pagi.


Biasanya yang bekerja malam, akan tidur sampai siang nanti. Dengan begitu, aku tak perlu bertemu mereka dan menjawab pertanyaan basa-basi.


Kupandangi sekali lagi tas kain yang tergeletak di kursi penumpang di sebelahku, dan meraihnya. Aku hendak turun ketika teringat sesuatu. Undangan! Benar undangan pernikahan yang mulai hari ini akan kubagikan ke teman-teman dekatku.


Tidak banyak yang kuundang. Tapi teman-teman Andra dulu cukup akrab denganku. Dengan memberikannya, aku tak perlu menjelaskan banyak alasan mengapa aku mengembalikan semua pemberiannya. Cukup dengan undangan saja.


Pintu mobil kututup perlahan, agar tak membangunkan mereka yang sedang tidur. Pintu Mess selalu terbuka, jadi aku langsung masuk.


Kamar Andra tampak tertutup rapat dan aku mengetuk dua kali sekadar memeriksa ada orang atau tidak. Tak ada jawaban, jadi aku membukanya dengan kunci.


Kamarnya masih seperti dulu. Tampak bersih dan rapi. Aku menghela napas. Bersyukur ia tak ada. Kuletakkan tas kain itu ke atas meja kerjanya, bersama satu lembar undangan di atasnya.

__ADS_1


Aku mengambil sticky note kuning yang tergeletak di atas meja dan menuliskan 'Terima kasih untuk semuanya'. Lalu dengan tangan sedikit gemetar, aku menempelkan kertas itu di atas undangan.


Setelah selesai, aku keluar dari kamar Andra, menguncinya kembali dan memasukkan anak kunci melalui bagian bawah pintu. Selesai. Benar-benar selesai.


Aku bergerak menuju ke bagian belakang Mess, menemui petugas pembersih Mess yang langsung melepas gagang sapu dan menyapaku akrab.


"Eeeeh, Mbak Inka! Udah lama gak keliatan? Ada apa, Mbak? Mas Andra ne lagi ke Bontang."


Aku menggeleng sambil tersenyum. "Saya datang ke sini bukan mau ketemu Kak Andra, Pak. Saya mau minta tolong."


Pria itu mendekatiku sambil mengelap tangannya. "Minta tolong apa nih? Monggo, monggo."


Kukeluarkan beberapa undangan dari dalam tas yang tersampir di bahuku. "Ini, Pak. Nanti tolong disampaikan ke teman-teman yah. Ini juga satu buat Bapak, kali aja bisa mampir ke Balikpapan."


"Loh ini siapa yang mau nikah?" tanyanya heran.


"Saya, Pak. Saya yang mau menikah."


Wajah penuh senyuman itu langsung berubah. Kebingungan. Tapi tangannya menerima semua undangan dan juga kunci kamar Andra dariku. Setelah sedikit mengobrol, aku pun pamit padanya.


Tak ada lagi hubungan antara aku dengan Andra, hanya ada aku dan Arzi. Tidak ada lagi masalah.


Begitu masuk, aku disambut oleh Ratih. Wajahnya tampak sedikit pucat. "In, kamu beneran mau nikah?"


Aku menatap Ratih, sebelum mengangguk. Tapi aku tak merasa perlu menjelaskan karena saat itu ada Hans berdiri tak jauh dari Ratih. Ia memberi isyarat agar aku segera masuk.


"Sama siapa, Inka? Dengan Mas Arzi?" tanya Ratih sambil berusaha menjejeri langkahku.


Aku mengangkat tangan, memintanya berhenti bertanya, memilih tak menjawab dan langsung masuk ke ruang kerjaku dan Hans.


Begitu masuk, Hans sudah memegang beberapa dokumen. Sesuatu terjadi di Balikpapan.


Salah satu proyek mengalami kecelakaan, sumur besar yang sedang digali tak sengaja menyemburkan air setinggi lima meter. Airnya cukup deras mengalir keluar seperti air mancur yang disertai dengan lumpur hingga membanjiri areal proyek dan menghancurkan tiang-tiang penahan sekitar sumur.


Sampai pagi ini, air masih terus keluar dari dalam sumur. Proyek ini sebenarnya ditangani cabang lain, tapi kini semua cabang mencoba mencari solusi. Tentu yang paling diharapkan adalah cabang Sangatta, satu-satunya cabang yang memiliki satu tenaga asing sebagai technical advisor.

__ADS_1


Dokumen yang dipegang Hans adalah semua informasi yang dikirim dari Balikpapan mengenai proyek tersebut. Buru-buru aku duduk dan mulai mencari berbagai proyek yang mirip sebagai perbandingan.


Sementara tanganku sibuk mencari, aku memasang headset telepon dan mulai menelpon ke beberapa rekan Hans yang juga bekerja di bidang yang sama. Mencari tahu tentang informasi apapun yang mungkin bisa membantu kami.


"This afternoon, we will go to Balikpapan. Can you go with me, Inka?" tanya Hans mendadak. Spontan aku mengangguk, melupakan fakta kalau dalam seminggu aku akan menikah.


[Sore ini kita ke Balikpapan. Kamu bisa pergi bersamaku, Inka?]


Setelah mendengar perintah itu, aku memerintahkan Ratih untuk memesan dua tiket pesawat siang ini. Dengan cepat, aku dan Hans bahu membahu memasukkan semua data, dokumen, bahkan aneka blueprint* menyerupai proyek itu dalam tas koper yang memang selalu disediakan di kantor.


Selama itu, kami berdua bergantian menelpon ke berbagai nomor untuk mencari informasi. Aku bahkan membentak Ratih saat ia malah melamun ketika ditanya soal tiket dan persiapan mobil ke bandara.


Setelah aku dan Hans berdiri menunggu di ruang tunggu bandara Sangatta, aku baru teringat Arzi. Aku belum meminta izinnya. Segera aku menuju counter tiket Bandara kecil itu, meminjam telepon.


"Mas, ini Inka," seruku cepat tanpa salam.


"Ada apa, Inka?" tanya Arzi kaget. Jelas ia kaget melihat ekstension yang kugunakan. Pasti terlihat di ID-Caller telepon perusahaannya.


"Inka harus ke Balikpapan sama Hans, gak tau kapan pulang. Urgent! Ada masalah proyek di Balikpapan. Nanti malam Inka telepon jelasin deh. Sekarang Inka harus pergi dulu," kataku menjelaskan.


"Pergilah, hati-hati ya. Jangan lupa makan! Gak usah mikirin apapun. Sebisanya aja kamu nelpon. Jangan maksain! Mengerti?" Suara tenang Arzi mengalir menulariku. Mendadak jantungku yang tadi berdebar, berubah tenang.


Aku tersenyum. "Iya, Mas Arzi sayang. Kalo Inka sempat ya. Pokoknya pasti Inka telepon. Daah. Love you. Assalamualaikum!"


Saat aku meletakkan gagang telepon, dua petugas reservasi dan dua petugas lain yang berdiri di belakang mereka tersenyum-senyum menatapku.


Mereka pasti mendengar obrolan tadi. Aku hanya meringis. Lupa untuk sesaat kalau sedang berada di tempat umum. Setelah mengucapkan terima kasih, aku kembali mendekati Hans.


Dalam perjalanan udara menuju Balikpapan, aku baru teringat sesuatu. Selama dalam keadaan terburu-buru tadi, saat menelpon Arzi, aku memanggilnya 'Mas' dan mengucapkan 'Love you' tanpa sadar.


Love you...


Aku mengakui cinta pada Arzi untuk pertama kalinya.


Footnotes:

__ADS_1


*Blueprint, Denah/Sketsa/Cetak Biru Desain Bangunan/Gedung/Proyek


__ADS_2