
Kalau Papa tahu aku melakukan perjalanan pulang bersama seorang pria yang seusia dengan paman, mungkin ia akan langsung menyeretku ke penjara yang ia jaga selama ini. Memastikan putri kesayangannya agar tak melakukan perbuatan bodoh itu.
Tapi, aku hidup di lingkungan yang berbeda sekarang. Hampir setiap hari aku menghabiskan waktu bersama lawan jenis beragam usia. Kadang hanya berdiskusi berdua, kadang beramai-ramai. Entah itu dalam meeting room, atau lokasi tempat proyek sedang berlangsung.
Bukannya ingin memberi alasan, tapi karena sering melihat semua pria dari beragam jenis itu lama-lama perasaanku sedikit tumpul, tak lagi gampang tergoda hanya karena penampilan luar.
Sangatta tempat para pekerja dari berbagai belahan dunia datang. Maka tak heran, aku bisa menemukan pria berwajah bintang Hollywood dengan mudah. Atau menemukan pria-pria sekelas bintang film Asia segampang mencari supir angkot di jalan. Jangan tanya soal pameran perut berkelas ala atlet bina raga. Pemandangan seperti itu akan mudah ditemukan saat jam-jam istirahat para pekerja tambang itu.
Jadi, untuk wajah sekelas Arzi, itu hal biasa saja. Apalagi kekasihku sendiri mantan model. Tentu saja ia tak termasuk dalam jenis pria idamanku. Hans bahkan lebih tampan darinya.
Lalu kenapa aku bisa selalu tertawa dan merasa senang selama pesawat Casa membawa kami terbang?
Padahal kami nyaris tak bisa bicara. Suara deru pesawat ini juga memaksa setiap penumpangnya menggunakan headset dan ear plugs. Kami nyaris tak bisa mendengar dan tak bisa bicara.
Hanya dengan melihat ekspresi wajahnya, isyarat tangan dan gerak-gerik tubuhnya, aku tertawa lepas. Sesekali kami mengintip di jendela pesawat, ketika Arzi menunjukkan sesuatu. Awalnya aku tak mengerti, tapi melihat pemandangan yang terlihat lebih dekat dibandingkan pesawat biasa, baru aku melihat keindahan itu dengan kagum.
Awan terlihat begitu dekat, jalan raya bisa kutelusuri seperti melihat miniatur arsitektur di kantor, bahkan melihat mobil melaju, orang-orang bekerja dan bangunan besar dengan mudah. Hingga lama-lama mataku terasa berat.
Arzi menawari bahunya, tapi caranya melindungi kami agar tak saling bersentuhan, membuat aku tak bisa menahan tawa. Ia meletakkan jaket miliknya menutup pundak hingga kepalanya. Ketika aku menarik jaket itu, ia memberi kode bahwa sentuhan masih terlarang buatnya. Aku benar-benar salut pada pria ini. Pantas saja ia belum bertemu jodoh di usianya yang sudah melewati kepala 3 itu. Ketika aku benar-benar merebahkan kepala, Arzi membiarkanku tertidur sampai pesawat tiba di Bandara Sepinggan.
Setelah hampir dua jam, Arzi dan aku sudah berada dalam taksi menuju rumah sakit. Kami sengaja langsung menuju rumah sakit, agar bisa segera pulang sore hari nanti. Jadwal pesawat Casa yang terakhir menuju Sangatta. Arzi sudah membuat janji dengan dokter dan kami datang sedikit terlambat.
Untungnya tak banyak pasien yang datang, jadi kami bisa segera menemui dokter yang sudah menunggu. Rupanya kami bukan pasien pertama dari Sangatta yang berkonsultasi.
Aku menyerahkan semua dokumen yang kudapatkan dari Dirga. Hasil pemeriksaan darah, urine, foto USG dan riwayat rekam medis. Aku juga diwawancara oleh seorang petugas medis untuk data medis di rumah sakit itu.
"Walinya siapa, Mbak?" tanya pemuda berpakaian seragam medis itu.
Aku terdiam.
"Saya, Pak. Saya walinya. Muhammad Arzi Arief," jawab Arzi ringan. Aku mendongak menatapnya. Ini pertama kali aku mendengar nama lengkapnya.
"Hubungan dengan Wali?" tanya petugas itu lagi sambil sibuk mengetik.
Aku meneguk liur. Kami sama-sama saling melempar tatapan.
"Kakak. Saya kakaknya," jawab Arzi akhirnya. Aku tak bisa menyembunyikan senyumku. Kupikir tadi ia akan menyebut 'suami'. Siapa sangka dia mengatakan hal lain.
"Ini kartu pasiennya ya, Mbak. Silakan menunggu di klinik 2, nanti Mbak akan bertemu dokter di sana. Terima kasih."
Aku masih tak bisa menghilangkan senyum di wajahku, mengingat yang barusan terjadi.
"Kok dia percaya ya, Pak?" tanyaku tiba-tiba.
"Ah, apa? Siapa?" tanya Arzi yang sibuk membaca lembaran kertas di tangannya. Lembaran itu berisi informasi daftar Medical Check-up yang harus kujalani.
"Petugas tadi itu loh. Kok dia percaya kalo Bapak ini kakakku?"
__ADS_1
Arzi tertawa masam. "Kenapa? Apa saya harus revisi jadi adik kamu gitu?"
"Waduh, wong udah berkerut gitu. Masih maksa aja jadi adikku?"
"Loh, ini kerut ganteng. Gak ada bedanya sama lesung pipi kamu itu."
Kalimat terakhirnya membuatku tertawa lepas, karena ia memperlihatkan wajah jenaka, dengan berani kali ini kutinju lembut bahunya. Tak peduli ia suka atau tidak. Boleh atau tidak.
Kami baru memasuki ruang tunggu klinik 2, ketika seorang perawat mendekat. "Ibu Inka Nurhayati?"
Aku mengangguk. Tapi hatiku mulai merasa gugup. Raguku makin menggumpal. Kakiku juga terasa berat melangkah.
"Boleh saya temani adik saya, Sus?" Permintaan itu dijawab anggukan oleh sang perawat. Aku menoleh, berterima kasih pada Arzi. Ia hanya tersenyum mengangguk padaku. Beriringan kami masuk ke dalam ruangan.
Arzi memang menemaniku. Tapi ia memilih tetap duduk menunggu, ketika dokter memeriksa memakai USG di ruang lain. Setelah itu, dokter memintaku melakukan pemeriksaan lengkap lagi. Selama itu, Arzi selalu berdiri di dekatku. Bahkan di ruang MRI, ketika aku hampir menangis melihat lingkaran sempit yang harus kumasuki, ia melanggar aturannya lagi. Tangannya menggenggam erat tanganku.
"Gak papa, In. Bacalah Al Fatihah dalam hati. Kamu kan gak boleh bergerak, tapi boleh pejamin mata. Pejamkan saja. Bayangkan kalau seperti sedang berusaha tidur. Jangan pikirkan apa-apa! Saya ada di sini nemenin kamu."
Aku mengangguk walau masih takut. Dan benar saja. Semua pemeriksaan yang kulakukan, berjalan lancar tanpa masalah. Seperti janjinya, Arzi benar-benar selalu bersamaku. Entah kapan juga ia sempat membeli dua botol air mineral dan beberapa roti untukku.
"Saya gak tahu kamu sukanya apa, jadi saya beliin aja beberapa macam. Ada yang gurih dan ada yang manis."
Kupandangi roti-roti dalam plastik yang kini pindah ke pangkuanku. Sambil mengambil salah satu diantaranya, aku berkata, "Aku suka coklat, semua coklat. Aku benci rasa strawberry, tapi aku bisa makan buah strawberry sepiring penuh. Aku suka lemon tart, tapi aku gak suka sari lemon. Aku suka puding buah, tapi gak suka jeruk. Buah yang kusuka itu jambu. Semua jenis jambu. Aku juga suka kacang ijo. Bubur kacang ijo, pia isi kacang ijo, es krim kacang ijo. Aku suka daging dan ikan, tapi aku gak terlalu suka ayam. Aku suka bihun goreng dan makanan paling kusukai diantara semuanya adalah... nasi goreng."
"Wow!" Arzi tercengang beberapa detik sebelum tertawa setelah mendengar kalimatku. Ia menggeleng-geleng tak percaya.
Tawa Arzi makin kencang, membuat beberapa orang menatap tak senang padanya. Bagaimanapun ini rumah sakit. Ketenangan harus terjaga. Aku menatap tak enak pada orang-orang tersebut dan memberi isyarat dengan anggukan, meminta maaf. Arzi juga menyadari hal itu dan ia menoleh ke sana ke mari sambil mengatupkan kedua tangannya di depan hidung.
"Kamu ya... kalo gak becanda emang gak enak ya?" tanya Arzi sambil menyantap satu dari roti itu juga. Aku hanya tersenyum.
Arzi tak tahu, kalau ini hanyalah caraku untuk menghilangkan kekuatiran yang menyusup masuk. Sebentar lagi, hasil pemeriksaan akan selesai dan mungkin aku akan menerima berita terburuk dalam hatiku. Selama itu belum terjadi, aku ingin tetap merasa senang.
Saat menunggu, Arzi mengajak makan siang. Tapi kutolak halus. Ia juga tak beranjak, meski aku menyuruhnya makan siang saja sendiri kalau ia mau. Kami malah duduk, bicara dan bercanda, sambil menyantap lagi sisa roti yang dibeli Arzi. Tiga buah roti. Cukup membuat perutku kekenyangan.
Sampai kemudian perawat memanggilku lagi. Kukuatkan hatiku untuk mendengar apapun yang akan dikatakan dokter. Arzi memberiku senyuman tulus. Memberitahukan dengan isyarat, ada dia bersamaku.
Aku terdiam saat dokter mengatakan ada daging tumbuh di dalam kandunganku. Dokter menyebutnya kista. Namun, tak seperti Dirga, melihat diameter kista yang masih cukup kecil dan keadaanku yang belum menikah, dokter tak menyarankan untuk segera operasi. Aku masih bisa mengurangi rasa sakit yang hanya datang saat haid itu dengan obat nyeri.
"Apa ada kemungkinan kista itu kanker, Dok?" tanyaku penasaran.
Dokter tampak ragu. "Apa Mbak punya riwayat keluarga yang terkena kanker?" tanyanya.
Aku mengangguk. Saat itu aku melirik Arzi yang terus menatapku. Ia banyak melanggar pantangan karenaku. "Ibu saya. Ibu saya meninggal karena kanker leher rahim," jawabku. Tumben ia mau memandangiku seperti itu
"Kalau begitu, Mbak bisa monitor diameter kistanya secara rutin. Jika ada pengembangan diameter yang terlalu cepat, berarti kemungkinan besar harus segera dioperasi dan nanti kita bisa tahu apakah itu jinak atau ganas setelah operasi."
Lagi-lagi aku tak bisa berkata apa-apa jika menyangkut masalah operasi. Tapi akhirnya, aku bertanya. Biaya, waktu, dan pilihan jenis operasi seperti apa yang bisa kujalani. Juga kemungkinan jika aku menjalani jenis perawatan lain. Aku tak ingin meninggalkan pekerjaanku terlalu lama. Tak sadar aku meraih tangan Arzi, menggenggamnya erat. Meminjam kekuatannya. Arzi tak menghindar, ia juga menggenggam tanganku.
__ADS_1
Makin aku tahu tentang apa yang terjadi pada tubuhku, rasa takutku semakin besar. Tapi di akhir penjelasannya, dokter mengatakan sesuatu yang menghibur.
"Mbak belum menikah, kan? Mohon maaf saya nanya begini. Kista Mbak ini masih sangat kecil. Jangan terlalu takut atau kuatir. Dengan memeriksakan diri secara rutin, insya Allah, operasi tidak perlu. Ada pasien saya yang justru hamil dulu baru tahu punya kista, dan bisa mengandung sampai melahirkan dengan rajin memonitor kistanya. Mbak juga masih muda."
"Saya jadi pengen nikah secepatnya, Dok," kataku sekenanya.
Dokter tertawa. "Beberapa penyakit bisa sembuh setelah seseorang menikah dan merasa bahagia loh, Bu."
"Benarkah?" tanyaku tak percaya. Tapi aku kini bisa tersenyum.
"Karena sumber penyakit paling utama ya di hati, Mbak."
Kata-kata itu terus berseliweran di dalam kepalaku hingga kami naik taksi. Melamun menatap keluar jendela mobil, dan tak memperhatikan Arzi yang sedang bicara padaku.
" ... Di rumah makan dekat... In, Inka, kamu denger saya?" Aku tergagap dan menatapnya bingung.
Arzi tersenyum. "Kita makan dulu ya, masih ada dua jam lagi sebelum check-in time. Kamu mau pulang dulu, atau kita makan dekat bandara aja?"
"Bapak tahu rumahku di Balikpapan?" tanyaku heran.
Arzi menggeleng. "Saya gak tahu. Saya hanya tahu kamu berasal dari sini."
"Gak usah, Pak. Aku pengen langsung ke Sangatta aja. Entar kalo singgah ke rumah, nanti disuruh nginep lagi. Kita makan aja deket Bandara. Ada restoran sop buntut favoritku deket situ. Atau Bapak mau nyoba kepiting asam manis?"
"Sop buntut saja. Saya gak makan kepiting."
"Loh, kenapa? Enak loh kepiting itu," kataku berusaha meyakinkan. Salah satu makanan favorit para turis di Balikpapan ya kepiting ini.
Arzi menunduk sedikit. "Masih subhat untuk saya. Lebih baik menghindar."
Apalagi itu? Subhat? Walaupun aku tak mengerti arti kata itu, aku tak bertanya. Bersama Arzi, aku akan selalu mendengar istilah asing seperti itu. Lama-lama aku makin sadar, perbedaan kami terlalu jauh.
Taksi melaju menuju alamat yang kusebutkan pada sang supir. Memberiku waktu lagi untuk berpikir. Memikirkan tentang semua pilihan yang kini terletak di tanganku. Memutuskan sesuatu ternyata tak semudah bayangan.
Aku hanya ingin sehat. Itu saja. Tapi mengapa memilih untuk hal itu saja terasa sulit?
*****
Author Notes:
Maaf kemarin ada kesalahan satu bab tidak ter-publish. Ini diulang lagi.
(^_^)/
IinAjid
__ADS_1