Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 64 - Perdebatan


__ADS_3

Dalam perjalanan kami ke kantor, Arzi seperti merasakan kegalauanku. Ia pun bertanya.


"Gak ada apa-apa. Inka hanya mikirin kecelakaan tamu-tamu kemarin," jawabku berusaha seringan mungkin.


"Ooh, tapi gak ada yang sampe harus dikirim ke kota lain kan?" tanya Arzi lagi.


Aku menggeleng. "Hanya luka-luka kecil... Satu aja yang harus dirawat. Oh iya, anterin Inka ke rumah sakit ya Mas. Mau nengok yang masih dirawat itu. Siapa tahu hari ini udah boleh pulang."


Arzi mengangguk. "Sekalian ketemu sama Mas Dirga, minta resep vitamin dan obatmu. Kemarin saya lupa."


Aku tak menjawab. Tentu saja ia lupa. Kemarin Arzi parkir di depan kantorku terus. Boro-boro ia sempat memikirkan yang lain.


"Inka, kalau bisa ajak Mas Dirga makan malam di rumah kita. Dari kita datang sampai sekarang, Mas Dirga gak pernah ke rumah."


Lagi-lagi aku mengangguk.


"Nanti sore saya jemput. Kalau Mas Dirga setuju, gak perlu repot masak. Nanti saya beli di luar aja."


"Entar Inka telepon Mas aja deh. Liat gimana nanti."


Aku turun di depan pintu masuk klinik dan berjalan menuju lobby. Suasana sudah cukup ramai. Sebagian orang-orang yang memeriksakan diri, sebagian lagi sepertinya adalah para petugas kebersihan dan para dokter yang tengah bersiap.


Aku singgah ke ruang perawatan, berbicara dengan tamu yang masih menjadi pasien. Ternyata para tamu yang tidak dirawat juga sudah berada di sana, memeriksa keadaan rekan mereka.


Kini aku menghadapi satu masalah baru. Pagi ini sebenarnya aku akan datang ke hotel mereka untuk menawarkan solusi masalah itu. Namun berhubung mereka semua berkumpul, aku langsung membicarakannya.


"Bagaimana kalau saya merekam dan mengambil foto semua site agar Bapak-bapak bisa tetap beristirahat di hotel?" tawarku dengan jantung berdebar.


Para tamu ini adalah investor utama perusahaan yang sedang ingin mengamati seluruh proyek di Sangatta. Beberapa baru bergabung sehingga aku belum terlalu mengenal mereka.


Dulu karena memandang Hans, mereka jarang melakukan audit langsung di lapangan. Namun sekarang ketika resesi ekonomi masih membayang, kekuatiran mereka mulai meningkat.


Seorang Bapak yang merupakan senior di antara para tamu memandang yang lain, lalu ia tersenyum padaku. "Kalau Mbak Inka bisa memberikan gambaran lengkap dan transparan, kami gak masalah."


Debaran jantungku seketika kembali normal, aku tersenyum mengangguk. "Tentu saja, Pak. Saya bisa memberikan seluruh data dan gambaran di site, sampai Bapak-bapak seakan merasa di sana."


Para tamu itu mengangguk-angguk kompak, puas terpancar di wajah mereka. Semangatku kembali lagi.


Aku bergegas pamit, dan menuju ruang kerja Dirga. Pria itu sedang berkeliling saat aku datang. Karena para perawat sudah mengenalku, mereka membiarkanku duduk di ruangannya.


Tanpa sungkan aku memakai pesawat telpon Dirga untuk menghubungi Tammy.


"Kamu nyusul aku ya, Tam. Bawa kamera dan handycam*! Sama bawa mobil rada gedean dikit, bawa dua orang labor juga. Kita harus take photo dan video di site untuk reporting."


[Saat itu ada perbedaan fungsi kamera untuk foto dan kamera untuk video. Belum ada fungsi kamera ganda (foto/video). Kalaupun ada, masih langka]*


"Oh? Jadi mereka gak perlu ke site, Mbak?"


"Yep, no need. Tapi kita harus ngambil gambar yang cukup sampai mereka puas. Buruan deh!"


"Oke, Mbak! Tunggu aku lima belas menit!"


"Okay!"


Saat aku menutup telepon, aku baru sadar kalau Dirga sudah berdiri di belakangku.


"Jadi sekarang kamu udah jadi Manajer Cabang?" tanya Dirga dengan nada dingin sambil duduk di kursinya.

__ADS_1


Aku mengangguk tenang.


"Bukannya kamu mau resign?"


"Tadinya... tapi aku pikir lebih baik kerja aja. Gak enak juga stay di rumah mulu."


"Lalu rencana pengobatan dan terapimu gimana?" tanya Dirga. Ia memajukan tubuhnya dan melipat kedua tangan bertumpu di meja. "Bukannya kamu akan makin sibuk?" lanjutnya. Sedikit sinis.


Aku mengangkat bahu. "Ya sambil jalanlah. Ini aku datang juga buat ngambil obat. Emang gak bisa?"


Dirga tampak terpana. "Inka, yang kamu butuhkan itu hanya istirahat, istirahat dan istirahat! Kalau kamu masih kerja begini terus, sebanyak apapun obat tidak akan berhasil!" omelnya panjang.


"Aku tahu... "


"Kalau kamu tahu, kenapa gak resign?" potong Dirga. Ia jelas terlihat marah.


"Mas, please! Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tahu Mas dokterku, tapi gak berarti harus ngatur-ngatur hidupku segala dong."


Dirga terdiam. Ia menatapku cukup lama. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia mengeluarkan sebuah kotak besar dari dalam laci mejanya.


Setelah menyodorkan kotak itu padaku, ia menulis di kertas. Aku tahu itu daftar obat dan jadwalnya. Kotak itu pasti berisi obat-obatku untuk satu bulan ke depan.


"Arzi bilang padaku, beberapa hari ini kamu gak bisa tidur dan kamu makan tidak teratur. Apa itu belum jadi bukti kalau pekerjaanmu itu hanya akan jadi masalah?" katanya lagi masih sambil menulis.


Mataku lurus menatap Dirga. "Mas Arzi bilang begitu? Aku gak ngerasa tuh! Kenapa Mas Arzi harus bahas itu dengan Mas?"


"Dia suamimu, Inka. Wajar kalau dia konsultasi ke aku. Semua itu berhubungan dengan kesehatanmu. Kami kuatir dan ingin memastikan kamu menjalani terapi dengan benar."


Aku tertawa pahit. "Apa kalian berdua memutuskan untuk menjadi pengganti Papa yang ngatur-ngatur hidupku sekarang?"


Dirga mengangkat kepalanya. Ia terkejut mendengar kata-kataku. "Bukan begitu... "


"Kamu mau ke mana, Ka? Obatmu... "


Kalimat Dirga terputus saat aku keluar dari ruang kerja dan berjalan cepat meninggalkan ruangannya begitu saja. Aku bisa mendengar Dirga memanggilku, tapi aku tak peduli dan makin bergegas.


Saat aku menuruni tangga, aku melihat mobil Tammy baru saja parkir. Gadis itu akan keluar ketika aku langsung membuka pintu penumpang sampingnya.


"Ayo kita pergi sekarang!"


"Hah? Oh... oh iya iyaa!"


Buru-buru Tammy men-starter mobil lagi dan memundurkan mobil. Saat itu aku mendongak, melihat Dirga berdiri di teras klinik tak berdaya mencegah kepergianku.


"Kita ke mana dulu, Mbak?" tanya Tammy ketika mobil telah meluncur di jalan raya.


Aku berpaling padanya dan baru menyadari kehadiran dua orang pria muda yang duduk di belakang kami. Keduanya menyapaku.


Setelah mengatakan rencanaku untuk berkeliling ke semua site yang masih aktif, kami mulai dari yang terjauh terlebih dahulu.


Selesai membahas, aku membesarkan volume suara radio mobil yang berisi percakapan para pekerja di lapangan.


Tiba-tiba,


"B3, B3, Monitor. Over."


Aku dan Tammy berpandangan. Kode B3 adalah kode untuk Manajer Cabang. Itu artinya aku. Dengan cepat aku meraih mic radio dan mulai menjawab, "Base Monitor! B3 di sini. Over."

__ADS_1


"Mbak eh.. B3, ada tamu yang cari di office. Posisi di mana, over?" Itu suara Audia, yang memegang kendali Base utama di kantor.


"Siapa? Over!"


"Mmm... Pak Dokter, over!"


Aku menghela napas panjang. "Sampaikan saya hari ini sibuk cek site sampai sore, nanti saya kontak dia. Over."


"Di-copy, B3. Base out!"


Baru selesai aku bicara dengan Audia, tak lama serangkaian panggilan untukku terdengar. Yang memanggilku adalah para supervisor lapangan yang mengecek jadwal kedatanganku ke lokasi mereka.


Dalam sekejap, soal kedatangan Dirga tak lagi kuingat. Tenggelam di tengah kesibukanku.


Tapi saat sampai di lokasi pertama, aku menelpon Arzi. Kebetulan di tiap site dengan proyek besar, biasanya tersedia site-post, sebuah kontainer kecil yang difungsikan sebagai kantor kecil sementara di lokasi proyek.


Di dalamnya ada telepon yang bisa digunakan untuk menghubungi nomor yang masih berada dalam lingkungan perusahaan tambang.


Saat itu hanya ada aku di ruangan site-post, Tammy dan dua labor sibuk mengambil gambar dan merekam video, dibantu supervisor lapangan.


"Assalamualaikum, Mas Arzi?"


"Waalaikum salam, Inka? Eh Sayang?"


"Inka lagi di luar." Aku teringat ucapan Dirga tadi. "Mas, Mas harus ya bicara dengan Mas Dirga sampe ke urusan pribadi kita di rumah?" tanyaku lagi.


"Ada apa sih, Sayang? Urusan pribadi yang mana?" balik tanya Arzi dengan lembut.


"Dirga bilang kalo Mas cerita ke dia kalo Inka susah tidur dan makan gak teratur. Bener?"


Arzi diam. Aku tahu Dirga memang mendengar dari dia.


"Harus gitu... lapor-lapor yang gak penting itu ke dia? Dia sampe ngelarang Inka kerja tau, Mas!"


"Inka, tunggu dulu! Sabar dulu, Sayang! Jangan marah dulu!"


"Kalian tau gak sih apa yang Inka rasakan sekarang? Inka itu ngerasa jadi boneka yang harus nurutin kemauan orang lain. Inka bosen di rumah. Inka gak suka diam aja."


"Inka... Dengar! Dengar dulu!"


"Pokoknya Inka mau kerja! Kecuali kalo Inka hamil, Inka bakal stay di rumah. Tapi kalau Mas minta sekarang, bahkan meski Mas, Mas Dirga dan semua orang ingin Inka stay, Inka gak mau! Pokoknya gak mau!" kataku kesal.


"In... "


Sebelum Arzi sempat bicara, aku sudah memutuskan telepon.


Dua titik airmata mengalir pelan di pipiku. Sebelum kuhapus dengan cepat.


Aku tak boleh menangis. Pernikahan ini adalah bagian dari keputusanku. Aku tak ingin menyesal.


Aku hanya ingin Arzi mengerti diriku.


*****


Author Notes:


Selamat Tahun Baru Islam.

__ADS_1


Semoga Allah SWT memberikan berkah dan kebahagiaan kepada kita semua.


__ADS_2