Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 75 - Berita Kehamilan


__ADS_3

Seluruh rencana kami akhirnya berubah.


Arzi yang sedang sakit membuat kami harus tinggal lebih lama di Samarinda. Seluruh rencana perjalanan kami juga dibatalkan.


Selama di Samarinda, sahabat Arzi, Bayu dan istrinya menyediakan sebuah rumah kecil di dekat rumah sakit untuk memudahkan aku dan Arzi bolak balik untuk pemeriksaan. Aku sempat bertanya biaya sewa rumah tersebut, tapi lagi-lagi kami hanya diminta untuk fokus pada penyembuhan sepenuhnya.


"Sudahlah, Yang. Terima aja! Kalo gak nanti mereka maksa saya ke Singapur."


"Maksud Mas?" tanyaku tak mengerti.


"Kata Bayu, kalo kita ngeyel gak mau terima bantuan mereka, mereka akan maksa saya berobat ke Singapur sekalian. Mau dibius terus diterbangkan diam-diam."


Aku tertawa. Lalu setengah bercanda aku berkata, "Bukannya diiyain. Inka kan belom pernah ke Singapur. Mas berobat, biar Inka bisa jalan-jalan."


"Dasar!" Tangan Arzi menjewer telingaku lembut sambil tersenyum lebar.


“Kalau saya sudah sembuh, kita akan pergi jalan-jalan ke manapun kamu mau, Sayang. Saya janji, Inka. Jangan sedih!”


Aku mencium pipi Arzi. “Gak usah janji, Mas. Janji Mas itu hanya perlu satu. Mas harus cepat sembuh.”


Arzi mengangguk dan menggenggam tanganku dengan tangan kirinya.


“Dua bulan ini saya nyusahin kamu, Sayang. Maaf ya.”


“Nyusahin apa sih, Mas?” Bibirku cemberut, memandang dengan sedih. “Kan Mas sendiri yang bilang, semua yang dilakukan istri untuk suaminya itu adalah ladangnya pahala. Pegangan tangan aja pahala, apalagi ngurus suami. Mas gak pengen Inka disayang sama Allah ya?”


Arzi tertawa kecil. “Ya enggak, Inka cantik. Justru saya yang kuatir, kamu capek. Terus kenapa-kenapa nanti sama anak kita.”


Anak?


Aku menatap suamiku kaget. Senyum di wajahnya tak hilang.


“Mau nunggu sampai kapan untuk ngasih tau saya?” tanya Arzi sedikit menyeringai dengan nada menggoda.


“Mas tau dari mana?” tanyaku heran.


Arzi menghela napas, mempererat genggaman tangannya padaku. “Istriku tak suka makan jeruk, tidak suka rasa strawberry. Penyuka ikan bakar, dan hampir gak ada masalah dengan bawang goreng.”


Kukerutkan alisku. Masih tak mengerti.


“Tapi itu... “ Suamiku menunjuk ke meja kopi depan sofa. Ke atas piring buah. “Jeruk, selai strawberry... sekarang, kemarin, dua hari lalu. Satu-satunya buah yang kamu beli selalu dua itu saja. Lalu... beberapa hari ini istriku yang cantik tak lagi mau melihat ada bawang goreng di semua makanannya. Bahkan, seminggu ini, setiap kali lihat ikan, istriku selalu ingin muntah.“

__ADS_1


Aku tersenyum. Menyipitkan mata. “Kok Mas bisa ngerti hal-hal gitu sih? Udah pernah jadi bapak yaa?”


Senyum Arzi semakin melebar. “Lupa kalau teman-teman saya itu rata-rata pria menikah. Mereka sering cerita tentang kebiasaan istrinya yang mendadak berubah saat hamil. Makanya saya bisa menarik kesimpulan begitu.”


“Aaaah, ternyata gini ye punya suami tua. Pengalamannya terlalu banyak. Terlalu paham karakter orang. Susah dibohongi!” ejekku sambil tertawa dan bergerak menuju lemari pakaian.


Aku bisa mendengar suara kekeh Arzi. Lalu sembari membawa semua informasi dan foto USG bayi kami, aku kembali ke samping tempat tidurnya.


“Ini... ini foto bayi kita, Mas. Foto pertama, kedua... “ ucapku perlahan sambil memberikan dua foto USG pada Arzi.


Arzi mengambilnya. Matanya berubah sangat lembut. Ia mengusap lembaran hitam putih pelan, sebelum kudengar suaranya membisikkan doa yang tak kumengerti.


Dan untuk pertama kalinya, aku melihat mata Arzi berkaca-kaca. Melihatnya menangis di video, jauh berbeda saat melihatnya langsung. Apalagi saat ini aku tahu, Arzi sedang terharu.


Arzi kembali menatapku. “Makasih, Sayang. Makasih udah berusaha untuk sehat,” bisiknya dengan suara bergetar.


Aku tak bisa mengatakan apapun. Hatiku dipenuhi terlalu banyak emosi saat ini. Satu-satunya yang kulakukan akhirnya hanya memeluk Arzi.


Sesaat kami diam dalam keharuan yang dalam. Hanya saling berpelukan dan mengelus satu sama lain.


Tak pernah terlintas dalam pikiranku, kurang dari setahun saat aku mengira bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang tidak mungkin, kini di rumah mungil, di tengah semua ujian yang diberikan Allah pada kami, aku justru merasa berada di bagian terbaik dalam hidupku.


Aku sudah melepas pekerjaan yang kusukai. Aku kehilangan banyak teman dan bahkan akan meninggalkan kampung halaman serta keluargaku.


Hanya dengan Arzi yang masih bisa memelukku. Hanya dengan bayi yang bahkan belum kulahirkan.


Alhamdulillah...


Perlahan kata syukur terlintas olehku. Seperti Arzi, aku mengikutinya caranya.


“Allah itu Maha Hebat ya, Mas. Padahal dokter bilang Inka bakal susah punya anak. Ternyata... sekejap saja semua itu bisa dibalik.“


Arzi melepaskan pelukannya, menatapku dengan sayang. “Itu karena kamu juga mau berusaha, Sayang. Berdoa, berusaha dan bersabar. Allah akan selalu bersama orang-orang yang bersabar. Itu sebabnya, kita dikasih kesempatan untuk jagain titipanNya.”


“Maaf ya Mas, Inka baru ngasih tau sekarang. Inka kuatir sama keadaannya Mas waktu itu. Jadi gak berani cerita dulu. Terus Inka lupa deh,” kataku sambil duduk di tepi tempat tidur.


“Sini... “ Arzi menepuk pahanya, memintaku membaringkan kepala. Dengan patuh aku melakukannya. Tangan Arzi mulai mengelus rambutku lembut.


“Dua hari lagi Mas Bayu dan adik saya akan ke sini, Ka. Mereka yang akan urus semua urusan saya. Setelah itu kita akan langsung ke Jakarta. Gimana?” tanya Arzi.


Aku melihat ke atas. Pada wajah Arzi. “It’s ok, Mas! Inka mah ngikut aja. Yang penting selama perjalanan, Inka minta disediain jeruk sama strawberry aja.”

__ADS_1


Arzi terkekeh. “Sebegitu enak ya sampe gak bisa lepas?”


“Gak ngerti deh. Pokoknya udah semingguan ini, Inka selalu pengen makan jeruk atau selai strawberry. Kalo gak dituruti, pas makan malah gak bisa masuk. Pasti muntah. Tapi kalo udah makan dua itu, lancar semua deh.”


Tangan Arzi pindah ke dahiku. Memijat ringan. “Jangan kuatir! Di sana malah lebih mudah dapetin. Waktu saya cerita kalau istri saya mungkin hamil, ibu udah nyuruh untuk nginget semua makanan yang kamu suka.”


“Tunggu! Tunggu! Jadi Mas cerita ke Ibu?”


Arzi mengangguk.


“Waah itu artinya Mas sempat nanya ke Ibu dong? Berarti bukan karena pengalaman denger dari teman-teman Mas aja kan?” tebakku sambil duduk.


Wajah Arzi memerah. Ia mengangguk. “Saya kan harus nanya ahlinya juga, Sayang. Ibu kan udah punya tujuh anak.”


Aku tergelak. “Gitu bilang pengalaman. Gak taunya tetap aja nanya ke Ibu, ha ha ha... “


“Ya ya, istriku menang kali ini. Tidak ada yang bisa mengalahkan pengalaman perempuan.”


Lalu aku teringat sesuatu. “Mas, apa Ibu cerita waktu Inka nyampein kejadian yang nimpa Mas?”


Arzi mengangguk. “Tau apa yang Ibu saya bilang, Ka?”


Dadaku berdebar. Aku ingat saat itu Ibu hanya menangis tanpa bisa berkata apa-apa. Baru setelah telepon diambil alih adiknya, Saleh. Bahkan adik laki-laki Arzi itu tak bisa menyembunyikan tangisannya saat mendengar kabar itu.


“Ibu saya gak pernah menyalahkan takdir, Inka. Apalagi menyalahkan dirimu. Justru sebaliknya. Ibu ingin berterima kasih sama kamu, karena mau menjaga dan mengurus saya sendiri. Sayangnya, kata Ibu, akhir-akhir ini kamu gak nelpon. Padahal ibu kangen banget sama kamu, Inka.”


Aku menatap suamiku. “Inka bener-bener gak enak sama Ibu. Inka ngerasa bersalah. Kalau bukan karena Inka, Mas gak akan...“


“Inka, stop saying something hurt ya! Kamu lagi mengandung. Biasakan mengatakan kata-kata yang baik dan menyenangkan. Supaya anak kita jadi anak yang soleha dan manis, biarkan ia denger kata-kata yang baik,” kata Arzi lagi.


Senyum di wajahku menghilang. “Kok soleha dan manis? Gimana kalo ini anak laki-laki? Bukannya anak pertama itu seharusnya anak laki-laki?”


Arzi tertawa. “Baiklah. Apapun jenis kelaminnya. Yang penting dia jadi anak yang bertakwa, tapi seceria mamanya.”


“Tunggu dulu! Kenapa Inka dipanggil Mama? Inka gak mau. Inka maunya dipanggil ibu.”


Lagi-lagi Arzi tertawa. “Ya udah, whatever you like, Inka. Berarti saya nanti dipanggil Ayah?”


“Whatever you like, Husband!” jawabku dengan nada suara yang sama.


Tawa kami terdengar bersamaan memenuhi ruangan, seperti seluruh kebahagiaan yang memenuhi hatiku dan Arzi.

__ADS_1


 


 


__ADS_2