
Aku sengaja menunggu Andra di tempat parkir kantor. Waktu makan siangku hanya satu jam dan aku tak ingin membuang-buang waktu membuat Andra harus berbasa-basi dengan rekan-rekan kerjaku.
Hans juga sedang tidak ada di kantor. Lagipula, aku benar-benar sibuk belakangan ini. Kalau bukan karena ia kekasih hatiku, tak mungkin aku mau menghabiskan waktuku bersamanya.
Andra menjemputku sebelum makan siang dimulai. Aku langsung masuk ke mobilnya. Kali ini ia memakai mobil yang dulu dipakai Bill lagi.
Saat masuk, mataku memeriksa setiap sudut mobil. Banyak yang berubah. Lebih bersih. Tapi sudah ada music player terbaru menempel di dasbor mobil itu. Aku tersenyum saat melihat Andra tersenyum penuh arti.
"Udah! Tenang! Silakan periksa, Nyonya!" kata Andra setengah menahan geli. Aku tertawa.
"Jadi sekarang udah resmi nih, kebagian mobil ini?" tanyaku menggodanya. Teringat penemuan ajaibku beberapa waktu lalu saat laci dasbor terbuka. Kali ini aku tak berminat memeriksa. Aku percaya pada Andra.
Andra mengangguk. "Nah itu tuh, saya mau nyeritain soal itu."
"Ya udah. Buruan deh. Aku gak bisa lama loh Kak. Kerjaanku banyak."
"Krismon ini ngaruh juga ke kantormu?" tanya Andra.
Aku mengangguk tanpa menjawab. Tentu saja. Aku bahkan harus menyiapkan daftar panjang karyawan yang harus 'diistirahatkan' untuk waktu yang tak bisa kami ramal. Perubahan nilai tukar yang makin gila-gilaan benar-benar membuat goyang lini keuangan perusahaan. Tapi aku tak mungkin membicarakan ini pada Andra. Bagaimanapun salah satu kewajibanku adalah menjaga rahasia perusahaan, apalagi urusan keuangan.
Kami berhenti di Sangatta Baru, tempat favorit para pekerja di kota ini. Tanpa banyak bicara kami menemukan sudut restoran yang nyaman, dan aku membiarkan Andra memilihkan menu apapun yang dia pesan.
Sebenarnya aku tak terlalu suka makan siang, sebungkus coklat entah itu Silverqueen atau Toblerone sudah cukup untuk menggantikannya. Jadi aku biarkan Andra yang memesan.
Saat Andra berjalan kembali ke arahku, tak sengaja aku melihat ke meja-meja lain. Baju biru muda yang dikenakan para karyawan di salah satu meja menarik perhatianku. Benar saja, salah satunya adalah pria yang kukenal, Arzi.
Arzi juga melihatku. Tapi ia hanya menatap sekilas, tidak tersenyum atau melambai, malah kembali terlihat asyik mengobrol dengan teman-teman. Ia seperti tidak mengenalku. Aku sempat menunggu, mengira ia akan menoleh lagi padaku. Tidak, ia tetap tertawa-tawa dan mengobrol dengan teman-temannya itu.
"Siapa?" tanya Andra. Ia sudah di dekatku dan melihat ingin tahu ke arah mataku tertuju.
Aku menoleh padanya dan menggeleng, "Gak ada, Kak. Gak ada apa-apa. Kakak pesan apa?" tanyaku mengalihkan pertanyaannya.
"Ayam goreng dan sop ayam. Minumnya tadi saya pesanin es jeruk dua," jawabnya sambil duduk di depanku. Aku tak bisa lagi melihat ke arah meja tempat Arzi duduk bersama teman-temannya.
Aku mengangguk-angguk dan tak sengaja tersenyum kecil. Sepertinya Andra tak tahu kalau aku kurang suka makan ayam dan es jeruk.
Tapi sudahlah... tak enak membatalkan. Lagipula, aku menyerahkan keputusan padanya. Itu juga tak penting. Yang penting, kekasihku mau menghabiskan waktu bersamaku.
Tangan Andra tiba-tiba menggenggam tanganku. Spontan aku menarik tanganku. Wajah Andra tampak berubah. Penuh tanda tanya.
Keningku berkerut, menatapnya dan berbisik, "Gak enak, Kak. Banyak orang."
Andra melihat ke sekeliling kami dan akhirnya mengangguk setuju. Untungnya, tak lama pesanan kami datang. Melihat porsinya, aku termangu. Ini terlalu banyak untukku.
"In, kira-kira kalau rencana pernikahan kita ditunda dulu kamu masalah gak?" tanya Andra saat aku tengah mengaduk-aduk sop sambil berpikir cara menghabiskannya.
Aku terdiam. Itu jelas di luar rencanaku. "Emangnya ada apa, Kak?"
"Kemarin setelah training supervisor, saya rencananya mau kuliah lagi, In. Kuliah weekend. Kebetulan kemarin saya udah sempat cek di beberapa kampus dan it's ok, saya bisa kerja dan kuliah kejar S2 sekalian. Pimpinan saya juga udah setuju dan mereka bahkan janjiin promosi kalo saya selesai."
Aku tak tahu harus berkata apa. Baiklah, aku juga ingin kuliah. Itu kurencanakan setelah kami menikah. Tentu aku senang mendengar ia mau kuliah juga, tapi tak berarti mengorbankan keinginan yang lain.
"Kita berdua masih sama-sama muda. Pernikahan itu kan beda sama pacaran. Saya kuatir, nanti kita malah sama-sama gak fokus. Mumpung kita berdua masih muda, kita kuliah berdua, sambil nabung dikit-dikit untuk modal nikah sambil memantapkan hubungan. Dengan begini, kita bisa mendapatkan semua yang kita inginkan. Keluarga yang mapan lahir dan batin. Gimana?"
__ADS_1
Tapi bukan itu yang kuinginkan, Kak! Aku ingin berobat. Aku sakit. Aku harus melakukannya sekarang. Aku tak punya pilihan sepertimu.
Namun, kalimat jawaban itu kutelan dalam hati. Tak mungkin aku mengatakannya. Andra punya mimpi yang tak boleh kuhalangi. Hanya saja, aku teringat kata-kata dokter. Aku masih bisa menunggu.
"Kira-kira berapa lama, Kak?"
"Apanya?"
"Rencana Kakak bakal nikahi aku," jawabku. Jika memang harus menunggu, aku akan menunggu.
"Mm... Tiga tahun mungkin. Dua tahun untuk nyelesein S2 saya dan setahun untuk persiapan pernikahan. Saat itu umurmu sudah... 22 tahun. Panjang umur kita punya anak saat usiamu sudah 23 tahun. Pas! Itu usia ibu saya saat mengandung saya."
3 tahun? Punya anak di usia 23 tahun?
Kupalingkan wajahku ke arah lain, tepat saat rombongan berseragam biru muda lewat. Seseorang yang berada paling belakang, berjalan mendekati mejaku dan tak seperti tadi, wajah ramah itu tersenyum tipis padaku. Hanya sekilas. Saat lewat, ia tetap tak menyapaku. Lewat begitu saja.
Andai Andra tahu, betapa inginnya aku membuat ia diam saat ini. Betapa inginnya aku mengatakan semua yang ada di hatiku ini. Betapa inginnya aku menunjukkan bahwa ada orang lain yang bersedia menikahiku detik ini juga.
Andra dulu pendiam, tapi sekarang... ia bahkan membicarakan rencana masa depan yang ia inginkan. Lalu bagaimana dengan aku?
Aku mengangkat wajah, menghembuskan napas kuat-kuat dan menatap tajam padanya. "Aku maunya kita menikah tahun ini juga."
Senyum Andra menghilang. "Tapi itu terburu-buru, In. Menikah itu bukan urusan sepele."
"Aku tahu. Kita nikah di KUA saja. Aku gak perlu pesta. Aku hanya ingin kita menikah."
"Tidak bisa begitu, Inka. Kita punya orangtua. Pikirkan mereka! Masak anaknya menikah, mereka gak ngadain pesta mengundang keluarga. Pasti mereka maunya ada pesta."
"Tapi semua itu perlu uang, Inka. Lagipula, saya sudah mendaftar kuliah. Bulan depan semester baru dimulai." Suara Andra merendah. Mungkin ia malu kalau didengar orang-orang.
Aku menatap tajam pada Andra. Ia bahkan memutuskan sesuatu tanpa meminta pendapatku. "Makanya aku bilang yang penting resmi aja dulu. Menikah gak berarti gak bisa kuliah kan? Aku memang ingin kuliah. Tapi gak sekarang. Aku hanya ingin kepastian hubungan. Dari awal aku jadian sama Kakak, aku gak pernah mikir mau pacaran lama-lama."
"Tapi Inka... menikah itu perlu rencana matang."
"Tapi aku gak bisa nunggu, Kak!"
"Kenapa?"
Mulutku terkunci. Tak tahu harus mulai menjelaskan dari mana. Ia tak pernah ada saat aku membutuhkannya. Tapi aku tak bisa menyalahkannya karena itu. Ia tak tahu apapun, namun aku tak bisa menjelaskan semuanya tanpa kuatir. Bagaimana kalau ia tahu aku akan sulit punya anak saat ia sangat menginginkannya?
Emosi sudah memenuhi hati kami berdua. Aku bahkan terlalu kesal untuk bisa menelan makanan. Sudah dari tadi aku meletakkan sendok dan garpu. Tak berselera lagi.
"Kenapa, Inka?" tanya Andra mengulang.
Aku menatapnya. Lebih lembut. "Aku butuh seseorang untuk menjagaku, Kak. Aku ini masih sangat muda. Kakak tahu kondisi di sini bagaimana kan? Aku lelah ngadepin segalanya sendirian, aku butuh seseorang yang bisa membantuku. Orangtuaku tahu ini dan mereka gak mau aku kerja selamanya di sini. Mereka ingin aku pulang setelah setahun kerja. Kembali ke Balikpapan dan kerja di sana."
Raut wajah Andra terlihat lebih santai. Ia tersenyum padaku. "Soal itu gampang, In. Kita bisa cari rumah sewaan dan tinggal bareng. Tenang... tenang... jangan negatif dulu. Kamar kita berbeda. Tetap seperti biasa. Tapi dengan begini, saya bisa jagain kamu."
Hatiku mencelos mendengarnya. Seseorang seperti Andra melontarkan ide yang sama sekali tak terbayangkan olehku.
"Kakak udah gila ya? Kak Andra mau aku dibunuh Papa? Kak Andra tahu itu artinya apa?" desisku menahan geram.
Andra merunduk sedikit. "Tapi Inka... di sini itu hal biasa. Sebagian teman-teman kita melakukannya. Toh mereka gak ngelakuin apa-apa kok. Just living together. It's only about distance. We're just reduce the distance." (Hanya tinggal bareng. Ini hanya soal jarak. Kita hanya mengurangi jarak)
__ADS_1
"This is about moral, Kak. Even Hans told me a thousand time, never do like a stupid girl did. And I'm not stupid. If you don't want to marry me, then... hhffhh," aku kehabisan kata-kata dan berdiri. Bersiap meninggalkan restoran yang semakin lengang itu. (Ini tentang moral, Kak. Bahkan Hans bilang padaku ribuan kali, jangan pernah melakukan apa yang dilakukan gadis bodoh. Dan aku gak bodoh. Kalo Kakak gak mau nikahi aku, ya sudah... )
"Tunggu! Tunggu, Inka!" Andra kebingungan. Ia belum membayar makanan kami.
Aku berhenti, menoleh lagi padanya. "Aku perlu waktu, Kak. Tidak, kita perlu waktu. Aku pulang sendiri saja. Aku gak mau liat Kakak. Nanti saja kita bicara lagi."
Selesai mengatakannya, aku keluar dari restoran itu, meninggalkan Andra. Aku sempat meliriknya, dan kulihat Andra tampak duduk melamun. Ia mungkin terkejut melihat responku. Selama ini aku selalu patuh dan mendengarnya. Aku juga terang-terangan mengejar cintanya lebih dulu. Tapi itu tak berarti ia bisa menyetirku. Apalagi saat ini. Kupercepat langkahku.
"Sudah ngobrolnya?" tanya seseorang dari balik dinding sebuah toko. Aku menoleh. Arzi berdiri di situ, sambil memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku. Kali ini ia pakai jaket hitam.
Hatiku kesal, panas dan kecewa. Tapi bukan pada Arzi. Jadi meski berat, aku tak mau menampakkannya. Kusunggingkan senyum tulus padanya. Aku tahu senyumku pasti terlihat jelek. Arzi seperti tak peduli soal itu, ia masih tersenyum padaku dengan wajah tenang.
"Loh kirain udah balik kantor, Pak?" tanyaku sambil mendekatinya.
Seperti biasa, Arzi selalu melihat ke arah lain. Ia menunduk. "Saya lagi gak enak badan, mau pulang."
"Gak sekalian berobat?"
"Udah tadi, kebetulan habis itu diajakin makan siang dengan teman-teman di sini. Ini mau pulang."
"Nah ini Bapak ngapain coba di sini? Nungguin aku yaaa," tebakku asal-asalan.
Arzi mengangguk. "Iya, kangen ngobrol sama kamu. Sampe sakit saya."
Aku tergelak. Orang ini jujur banget sih. "Hahaha... Bapak iiih. Entar pacar saya dengar, dikira kita selingkuhan lagi."
Masih sambil tersenyum, Arzi berkata, "Selingkuh itu hanya untuk mereka yang sudah menikah, Inka manis."
Kemudian aku teringat sesuatu. "Eh tadi Bapak kok gak negur-negur sih? Bapak liat aku kan?"
"Beda, Inka. Saya jaga perasaanmu. Kalo saya sapa kamu, terus pacar kamu nanya saya siapa, kamu mau bohong atau ngomong jujur?"
"Bohong sih pastinya, Pak," jawabku jujur. Tentu saja. Kalau kujawab jujur, maka aku harus menjelaskan dari awal tentang semuanya. Baru dengar kabar aku diantar pria lain saja, Andra sudah cemburu. Bagaimana kalau ia tahu itu Arzi, laki-laki yang selama ini membuatnya cemburu?
"Ya udah, mau pulang atau kembali ke kantor nih? Saya bawa mobil. Atau kamu bawa?" tawar Arzi sambil memamerkan kunci yang dari tadi dimainkannya.
"Enggak, anterin aku ke kantor ya. Gantian deh hari ini aku numpang Bapak."
Sambil terus mengobrol dan sesekali saling mengejek, Arzi mengantarku kembali ke kantor. Mendadak semua kemarahan di hatiku menguap begitu saja. Berkat dirinya.
Dan aku baru sadar saat melepas kepergian Arzi usai mengantarku.
Arzi tak pernah satu kalipun bertanya soal Andra.
*****
__ADS_1