
Waktu berlalu begitu cepat dan saatnya kami kembali ke Sangatta. Dunia nyata tempat kami bertemu dan pada akhirnya membangun rumah tangga. Aku sedikit takut, tapi sekaligus bersemangat.
"Istri seperti apa yang Mas inginkan nanti?" tanyaku dalam penerbangan kembali ke Balikpapan.
Arzi menoleh padaku. Matanya setengah mengantuk tapi ia tersenyum saat menjawab, "punya istri yang sehat."
"That's it?" tanyaku heran. Arzi mengangguk.
Aku hanya menghela napas. Pertanyaan itu sudah berulangkali dijawab Arzi. Jawabannya pun selalu sama. Tapi aku tak yakin.
Dia pasti menjawab seperti itu untuk menenangkanku. Mana ada suami punya keinginan sesederhana itu? Adikku yang masih SMP saja sudah punya tipe istri yang diidamkannya.
Aku kembali bertanya. “Walau gak bisa masak, gak bisa nyuci, gak bisa kerja apa-apa di rumah?”
Arzi tertawa. “Memangnya saya nikah untuk nyari pembantu? Udah ah, Sayang. Kamu itu percaya diri dikit dong! Konsen sama kesehatanmu saja.”
Tapi kalau itu yang diinginkan Arzi, aku akan melakukannya. Sesuai janjiku pada Arzi dan Dirga, aku harus sehat.
Hanya saja aku tak tahu kalau menjadi istri yang sehat fisik dan mental itu tak semudah yang dipikirkan.
Realita rumah tangga akhirnya kuhadapi hanya beberapa jam saat kami tiba di Sangatta. Mama sempat ingin membekaliku dengan makanan untuk disantap saat tiba nanti, tapi karena bawaan kami dari Jakarta sudah cukup banyak, aku menolaknya. Kupikir, akan sangat mudah memasak satu dua jenis makanan hanya untuk dua mulut.
Kami tiba di rumah yang sudah disewa Arzi sebulan sebelumnya. Rumah itu sudah dibersihkan dan diatur rapi oleh teman-teman Arzi. Aku tak tahu siapa mereka, tapi begitulah yang dikatakan Arzi.
Masih ada beberapa hari sebelum Arzi kembali bekerja, jadi Arzi dan aku memutuskan untuk menata rumah baru kami. Beberapa barangku dan Arzi memang hanya diletakkan begitu saja. Teman-teman Arzi tak berani menyentuhnya.
Saat ini hanya satu tempat tidur dan satu buah lemari besar menghias kamar tidur. Satu lemari pajang, satu lemari buku besar, televisi dan karpet besar menghiasi kamar tamu. Masih banyak yang berserakan seantero rumah, termasuk isi koper-koper yang belum semuanya sempat kami pindahkan ke lemari.
Aku bahkan terkejut saat melihat lemari koleksi buku Arzi yang nyaris tak terhitung. Kebanyakan koleksi buku dengan huruf Arab tanpa tanda baca yang tak bisa kupahami. Al Qur’an saja aku baru belajar membacanya, apalagi ini. Setelah berulangkali bertanya, aku menyerah. Aku memilih mengurus bagianku saja. Dapur.
Tapi saat berada di dapur... Aku menahan napas saat melihat sebuah kompor berbentuk tak biasa berdiri di atas meja.
Aku pernah melihat kompor ini di rumah Nenek dulu sekali. Saat aku masih SD. Kompor yang menggunakan sumbu tali putih dengan memakai minyak tanah sebagai bahan bakarnya.
Sedangkan selama ini aku terbiasa memakai kompor gas. Bahkan karena di rumah Mama dan ketika tinggal beberapa bulan di kamp, aku hanya tahu kompor listrik yang tinggal tekan. Di rumah kost-ku, aku bahkan tak pernah ke dapur sama sekali.
Sambil berusaha mengingat-ingat cara pemakaiannya, aku membuka kompor itu dan ternyata... sumbunya belum terpasang.
Cukup lama aku berjongkok di depan kompor yang kuturunkan di lantai, sambil memandangi sumbu tali dan kompor yang sudah kuangkat bagian atasnya. Memikirkan cara memasangnya.
"Ngapain?" tanya Arzi mengecekku.
Arzi baru saja selesai membereskan koper-koper dan bawaan kami. Belum selesai, tapi karena aku tak bersuara, ia pun penasaran menyusul ke dapur.
Dengan tatapan tak enak, aku menoleh pada Arzi. Kutunjukkan tali sumbu itu padanya. "Inka gak tau cara masangnya, Mas."
Arzi ikut berjongkok. Ia juga melihat-lihat sumbu dan memeriksa kompor. Sepertiku, raut wajahnya jelas menunjukkan kalau dia juga bingung.
Lalu ia menatapku, "Lanjutin beresin koper sama bawaan kita deh, Yang. Biar ini saya yang urus."
"Mas bisa masangnya?" tanyaku penuh harap.
Arzi tertawa malu. Menggeleng. "Enggak sih. Tapi kayaknya gampang. Tenang aja!"
Aku pun ikut tertawa dan meninggalkannya. Terakhir aku melihat Arzi mengambil pisau dan tang. Entah untuk apa. Sambil berjalan riang menuju kamar, aku mulai berdendang.
Tanganku baru memasukkan beberapa pakaian ke lemari, ketika terdengar suara barang berjatuhan. Buru-buru aku ke dapur.
Di dapur, Arzi berdiri di depan kran wastafel, sedang mencuci tangannya. Aku mendekat dan terpekik melihat warna air dari kran yang berubah menjadi merah setelah terkena tangannya. Tangan Arzi terluka. Cukup lebar hingga aku bisa melihat daging yang terkelupas.
"Mas, kenapa?" tanyaku panik.
__ADS_1
Bergegas kuraih lap yang masih baru, terlipat di rak dekat pencuci piring. Kuberikan padanya untuk menutupi luka itu.
Arzi menunjuk kompor itu. Wajahnya tak tampak kesakitan. Ia begitu tenang. "Tadi pas masang malah kena pinggirannya itu. Ada yang tajam. Hati-hati!"
Aku menatap kesal pada kompor itu, sebelum kembali ke kamar, mencari kotak obat. Untunglah, saat pindah ternyata Arzi tak lupa membelinya. Aku bergegas kembali ke dapur membawa kotak P3K.
Saat aku melihat lukanya, hatiku terasa sakit. Hanya karena ingin memasak saja, tangan suamiku jadi korban.
Salahku tak mengerti apapun soal dapur, sekarang Arzi yang ikut terkena getahnya. Karena kesal dan merasa bersalah, airmataku mengalir ketika membantu mengobati luka Arzi.
"Lah kok nangis, Yang? Ini beneran gak sakit. Hanya luka kecil aja. Tergores dikit. Udah. Udah," bujuk Arzi sambil mengusap airmataku yang mengalir di pipi dengan tangannya yang tak terluka.
Aku menatapnya sedih.
"Kita gak usah makan di rumah. Kita makan di luar aja ya," lanjutnya lagi.
Aku mengangguk setuju.
Malam itu, kami makan malam di luar. Setelah itu kami berjalan-jalan ke pertokoan terdekat untuk membeli perlengkapan dapur yang masih kurang.
Saat itulah, aku melirik kompor gas. Perlahan kudekati si penjual ketika Arzi sedang sibuk memilih rak sepatu. Setelah bertanya harganya, aku tersenyum senang. Bersyukur selama ini punya tabungan yang cukup untuk membeli semua keperluanku sendiri. Harga sebanyak itu aku masih mampu menanggungnya.
Tapi saat aku bilang akan membelinya, si penjual menatapku bingung. "Mas yang tadi di depan itu suaminya Mbak, kan?"
Aku mengangguk. Tentu saja. Kami kan tadi datang bersama.
Si penjual tersenyum. "Tadi Masnya udah bilang mau beli kompor yang ini, Mbak. Sekalian nanti diantar."
"Oh ya? Loh kapan suami saya bilang?" tanyaku heran.
"Tadi pas Mbak lagi sibuk milih kulkas," jawab si penjual sambil mencatat sesuatu di notanya.
Aku menoleh, menatap pada Arzi yang berjalan menghampiriku.
"Enggaaak. Gak ada apa-apa kok. Seneng aja!" kataku dengan mata bersinar senang.
"Ada lagi yang mau dibeli? Ada peralatan dapur yang kita perluin lagi gak?" tanya Arzi.
Aku memandangi sekeliling toko elektronik sekaligus furniture rumah tangga itu. Sejujurnya aku tak tahu apa yang harus disediakan di dapur. Bahkan aku tak terlalu yakin saat memilih tadi. Aku memilihnya berdasarkan penampilan barang yang kusuka saja.
Seumur hidupku, aku hanya belajar di sekolah. Setelah lulus, aku bekerja. Aku tak tahu apapun soal dapur.
Malah tadi kebanyakan Arzi yang memilih peralatan panci dan sebagainya itu. Aku hanya memandanginya tak mengerti.
Setelah menggeleng dan Arzi selesai membayar semua barang, kami langsung pulang. Buru-buru menyiapkan tempat untuk aneka elektronik yang telah kami beli tadi.
Tak sampai setengah jam, suara klakson mobil pick-up dari toko elektronik terdengar di depan rumah kami. Arzi bergegas turun dan mulai memberi instruksi.
Ketika semua sudah selesai. Ketika seluruh perlengkapan dapur sudah disusun rapi di dapur, termasuk kompor gas baru yang sudah menyala dengan ceret air yang otomatis berbunyi saat air mendidih, aku tersenyum bahagia.
Kini aku mengerti mengapa Mama, Tante-tanteku atau bahkan teman-teman perempuanku yang telah berumah tangga begitu bahagia saat dibelikan panci baru. Dan alasan mereka mudah sekali merasa ikhlas tak membeli pakaian demi menabung untuk kulkas atau kompor baru. Karena seperti itulah perasaanku sekarang.
"Sampe berkaca-kaca gitu matanya. Udah ah. Jangan nangis deh, Yang!" tegur Arzi sambil merangkulku.
Aku mencium pipinya. "Ini terharu namanya, Mas. Seneng akhirnya besok Inka bisa masak sarapan buat Mas."
"Emangnya bisa masak? Jangan dipaksain deh, Yang. Entar kamu kenapa-kenapa lagi. Memasak itu sebenarnya bukan kewajiban istri. Yang wajib menyediakan makan itu justru suami. Istri hanya wajib menyenangkan hati suami. Nah, kebetulan aja banyak suami yang senang kalo dimasakin istri."
"Terus Mas sendiri?" tanyaku manja masih sambil bergelayut padanya.
Telunjuk Arzi menyentil ujung hidungku. "Dipeluk gini aja saya mah udah seneng. Malah kamu masak saya jadi kuatir, Yang."
__ADS_1
Aku tersenyum dan mempererat pelukanku.
"Lagian besok paling kita makannya mie aja. Gak ada nasi," kata Arzi tersenyum geli.
"Hah? Kok bisa?" Aku menatapnya penuh tanda tanya.
"Kita lupa beli rice cooker," jawab Arzi menahan tawa.
Mataku membulat, memperhatikan meja makan yang dipenuhi dengan belanjaan kami tadi. Benar, tak ada rice cooker di situ. Tapi ada ide lain muncul di kepalaku.
"Gak masalah! Kita bisa masak nasi pake kukusan. Tadi Mas beli panci komplit kan?"
Arzi benar-benar tertawa kali ini. "Memangnya kamu bisa masaknya, Yang?" tanyanya setengah meledek.
Pipiku merona dan sambil malu-malu, aku menggeleng. Pengantin tanpa kursus rumah tangga sepertiku memang benar-benar tak bisa diharapkan.
Malam itu, saat kami tertidur karena kelelahan mengurus rumah, aku tersenyum diam-diam dalam pelukan Arzi. Baru hari pertama saja sudah begitu banyak masalah di rumah. Anehnya aku malah merasa bahagia. Justru aku tak sabar menunggu hari esok.
Aku ingin menelpon Mama dan tante-tanteku, untuk bertanya banyak soal dapur, masakan dan peralatannya. Juga ingin bertanya pada teman-temanku yang telah bersuami, meminta tips cara menyenangkan suami.
Tak ada yang lebih menyenangkan selain melihat suami tersenyum bahagia untuk istrinya.
Arzi bangun lebih dulu sebelum aku, ia mandi dan baru membangunkanku setelah selesai. Karena tak tahan dingin, dan tak ada water heater seperti di kamar kost-ku, aku tak mau mandi. Arzi hanya terkekeh.
Tapi kami sholat Subuh bersama. Sedikit mengobrol tentang satu dua hadist dan ayat Al Qur’an, sebelum Arzi keluar dari kamar. Aku tetap berbaring karena kepalaku sedikit sakit.
Baru setelah beberapa lama, aku bangkit untuk mandi.
Selesai mandi, aku keluar mencari Arzi. Berniat menyiapkan sarapan pagi dan air panas untuk Arzi
Tapi, lampu dapur sudah menyala dan ketika aku masuk, Arzi berdiri di depan kompor minyak tanah yang kemarin jadi penyebab lukanya dengan senyum lebar.
"Yang, lihat tuh! Kompornya udah nyala! Udah bisa dipake," katanya bangga.
Aku terperangah melihat raut wajahnya yang sangat berbeda. Baru kali ini aku melihat raut wajah Arzi sebangga itu.
Karena sebuah kompor. Hanya karena kompor.
Kudekati kompor itu dan menatap Arzi.
"Kapan Mas ngerjainnya?" tanyaku bingung.
Arzi menatapku penuh arti. Tidak menjawab pertanyaan itu. Lalu ia menunjuk ke arah kompor gas yang juga sedang menyala. Ada panci kukus di atasnya.
"Tuh, nasi juga bentar lagi matang. Dan..." Ia menunjuk ke atas meja. "... Saya juga udah bikinin susu coklat kesukaanmu, Yang. Tinggal minum. Tapi hati-hati masih panas," lanjutnya masih dengan nada bangga.
Satu persatu aku memandangi semua hasil pekerjaan Arzi. Ternyata tak hanya aku yang berpikir untuk menyenangkan hatinya. Suamiku juga sama.
Tak ada lagi yang bisa kuberikan padanya. Tapi aku tahu yang paling ia harapkan saat ini. Maka aku mendekati Arzi dan menghadiahinya ciuman.
"Thank you, Dear Husband!" bisikku sambil memeluk pinggangnya.
Penuh semangat Arzi menangkup wajahku dan membalas sikap mesraku. Kali ini sikapnya benar-benar sangat berbeda. Lebih mesra, lebih aktif, lebih berani.
Aku tak ingat kapan kompor-kompor itu mati dan kapan kami pindah dari dapur ke kamar tidur. Aku juga tak lagi kuatir soal 'benda' menakutkan yang pernah kulihat di tubuh Arzi itu.
Semua ketakutan dan kekuatiranku hilang pagi itu. Hanya ada tawa bahagia dan senyum gembira. Kami berpadu bersama di tempat tidur tanpa beban.
Rumah tangga dengan segala kekurangannya ini ternyata menjadi bukti betapa menyenangkannya hidup yang baru ini.
Ini saat bahagia kami. Ini saat kami saling menyenangkan hati. Ini saat kami menghadapi masalah berdua dan menyelesaikan bersama. Karena kami kini adalah dua orang dalam satu tujuan yang sama. Ingin menjadi bahagia.
__ADS_1