Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 23 - Kenangan Masa Lalu


__ADS_3

Kutatap semua perhiasan yang diberikan Andra sejak kami mulai berhubungan. Setiap kali aku kesal atau marah padanya, ia memanjakanku dengan memberikan perhiasan. Kalau aku perempuan matre, mungkin sudah kupikirkan seribu satu cara untuk mengajaknya bertengkar setiap hari. Baru kurang dari tiga bulan aku pacaran, aku sudah punya dua gelang, satu cincin dan satu kalung.


Belum lagi pouch hitam dan file dokumen sertifikat properti Andra yang ia tinggalkan begitu saja. Dari tadi aku belum membukanya, hanya duduk memandangi. Tak tahu harus meletakkan dimana. Kalau dicuri orang bagaimana? Kalau rumah ini kebakaran bagaimana?


Aku bahkan tak pernah melihat sertifikat properti kedua orangtuaku. Tidak pernah. Papa memang sering cerita punya tanah ini dan rumah itu. Tapi mana pernah Papa memberiku kepercayaan seperti yang Andra lakukan ini. Dompetku saja sering ketinggalan di mana-mana.


Sekarang aku malah tak bisa memejamkan mata. Tubuh lelah, mataku mengantuk tapi kepalaku penuh dengan aneka perasaan. Sungguh ini sudah bukan hubungan yang sederhana lagi.


Tapi aku senang, kami mencapai kesepakatan. Waktu setahun adalah waktu yang bisa kunegosiasikan dengan Papa saat nanti aku pulang cuti tahunan. Untuk penyakitku, aku bisa mengendalikannya dengan pemeriksaan rutin dan jika terjadi sesuatu, aku akan cerita pada Andra. Nanti, saat hubungan kami jauh lebih dekat, jauh lebih baik dari sekarang. Hubungan kami masih sangat baru. Aku terlalu malu untuk menceritakan penyakitku padanya.


Dan tadi baru aku periksa kalau di semua perhiasan yang diberikan Andra, ada grafiti inisial aku dan Andra di dalamnya, tercetak "A ♥ I". Ini sudah cukup untuk membuat Dirga mengerti, kalau ia takkan pernah menjadi kekasihku.


Karena aku tak bisa tidur, dengan pikiran yang berkecamuk, kuputuskan untuk menyiapkan keperluanku berangkat ke Bontang. Tidak banyak. Hanya sebuah ransel. Lagipula aku hanya semalam, dan aku berniat membeli beberapa kaos dan setelan baru. Yang lebih tertutup. Bertemu Arzi membuatku mulai merasa canggung memakai rok mini, jins ketat dan kaos pendek.


Mungkin karena lelah, aku tertidur juga. Tak seorangpun membangunkanku, termasuk ibu kost. Aku mulai jauh dengan penghuni kost yang lain. Frekuensi pertemuan kami memang sulit diakurkan. Shift berbeda dan perusahaan berbeda, makin memperlebar jurang diantara kami. Ketika bangun jam 8 pagi lewat itu, suasana rumah kost masih sesepi semalam. Bedanya, kali ini semua penghuninya sebagian mungkin berangkat kerja atau sedang berlibur.


Usai mandi, sarapan mie instan dan setengah batang coklat, aku menyetir santai menuju Bontang. Aku sudah menghubungi hotel dan membooking kamar untuk malam ini, tapi baru pukul 2 siang nanti, kamar itu siap. Jadi aku akan jalan-jalan dulu ke beberapa tempat.


Awalnya, karena aku belum terlalu lapar, dan ingin mencari beberapa buku novel, maka aku memilih singgah di mal Bontang Plaza. Tapi mungkin karena terlalu pagi, belum banyak pengunjung dan toko yang buka, termasuk toko buku yang belum buka. Jadi aku sekalian singgah ke Koperasi Karyawan PKT yang terletak tak jauh dari Plaza. Niatku bukan sekedar berbelanja, tapi karena kedua tempat ini lekat dalam kenangan masa kecil dan remajaku saat masih tinggal di kota ini, termasuk danau buatan di tengah perumahan yang berada tak jauh dari Koperasi.


Dulu, saat masih duduk di SD, Papa pernah mengajakku ke tempat ini. Hanya sekedar mencicipi es krim, sambil bermain di tamannya. Setelah itu, kami harus pindah ke kota lain beberapa kali dan aku tinggal dengan Nenek dan Paman bergantian.


Namun saat aku duduk di SMA, Papa kembali bertugas di kota ini dan aku ikut orangtuaku lagi. Saat itu, untuk menghindari pertengkaran orangtuaku yang tidak ada habisnya di rumah, aku sering duduk di sekitar taman Danau buatan itu. Sekedar mengobrol dan membaca beraneka macam buku bersama teman-temanku, atau menikmati musik sendirian.


Sekarang, aku menganggapnya sebagai tempat pelarianku dari sumpeknya pekerjaan. Senang rasanya bisa mengingat masa remaja saat aku menggoda temanku yang pacaran di balik pepohonan, atau memancing diam-diam bersama sahabatku yang lain. Entah berapa kali juga aku bolos dan kami tidur di bawah pohon hanya berbantalkan tas berisi buku-buku sekolah. It was my amazing moment between my struggling time.


[Itu saat menyenangkan diantara masa penuh perjuanganku]


Puas berjalan-jalan di sekitar Danau, aku kembali ke Plaza dan membeli beberapa ATK manis untuk menghiasi meja kerjaku, beberapa novel dan buku menarik serta satu stel pakaian kerja. Karena perutku sudah lapar, aku memilih mencari makan siang.

__ADS_1


Sebenarnya aku ingin menghubungi sahabat baikku. Ansyah. Teman priaku sejak kami masih sama-sama duduk di bangku SD. Teman yang terus berhubungan denganku sampai kami bekerja. Sepertiku, ia juga langsung bekerja setelah lulus SMA. Persahabatan belasan tahun ini membuatku selalu menganggapnya seperti kakak karena kami beda setahun. Tapi, aku tak ingin mengganggu kesibukannya. Aku juga sedang ingin sendiri.


Kuputuskan makan di Bontang Kuala. Di situ ada sebuah tempat makan yang kusuka. Beberapa kali aku membawa klien makan di tempat itu dan aku mengenal baik pemiliknya. Mereka juga sudah hafal menu kesukaanku. Kebetulan aku kangen makan makanan laut yang segar. Di tempat ini, aku bisa makan sambil melihat ke laut lepas. Pemandangan paling kusuka.


Tak sengaja, aku melewati bekas sekolah dasarku dulu. Salah satu dari sekian banyak sekolah yang pernah kujalani. Karena Papa, aku pindah sekolah nyaris setiap tahun.


Tapi sekolah itu meninggalkan kenangan mendalam dalam ingatanku. Walaupun hanya bersekolah kurang dari dua tahun, aku mengenal Ansyah sahabat yang sampai sekarang masih menjalin komunikasi . Satu lagi aku punya kenangan tentang seorang anak laki-laki yang pendiam tapi sangat baik padaku. Ia lebih tua dariku, sayangnya aku tak ingat namanya lagi. Yang aku ingat dia selalu menemaniku duduk di tepi danau dekat sekolah, saat menunggu Papa atau asistennya menjemputku.


Setelah makan, aku kembali ke hotel. Cukup jauh sebenarnya dari Bontang Kuala. Tapi aku punya banyak waktu. Hotel yang kupilih berada di sekitar jalan Angkasa, karena malamnya aku ingin jalan-jalan di Pasar Malam Berbas.


Saat aku memasuki halaman parkir hotel yang sudah ku-booking itu, terlihat sudah banyak mobil-mobil khas untuk ke tambang di depannya. Ada bis ukuran sedang juga. Ini pemandangan biasa. Hampir setiap akhir pekan, para karyawan di Sangatta, beramai-ramai ke Bontang untuk menghabiskan liburan mereka. Makanya aku menelpon dulu sebelum datang. Kulirik jam tangan. Sudah pukul 2 lewat sedikit.


Aku berjalan masuk menuju petugas Front Desk. Begitu selesai menyebut namaku, meninggalkan kartu identitas dan menerima kunci, seseorang memanggilku.


Seorang gadis berjilbab panjang. Bukankah ini... Saras? Saras dengan nama panjang yang sulit kuingat. Gadis yang memberiku pinjaman mukena saat di mesjid dulu.


"Assalamualaikum, Inka."


"Alhamdulillah, baik. Lagi liburan atau kerja, In?" tanya Saras hangat, usai memelukku.


"Liburan, Mbak."


"Sendirian?" tanya Saras lembut. Aku hanya mengangguk. Mata Saras sedikit membulat tapi dengan cepat ia tersenyum lagi. Apa ada yang salah kalau aku liburan sendiri? Sudahlah, ia pasti mengerti kalau aku banyak tak tahu soal aturan dalam Islam.


"Mbak sama siapa?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. Saras menoleh ke belakang. Aku mengikuti arah tatapannya.


Tampak serombongan perempuan berjilbab panjang di sudut lobby itu. Ada yang duduk, ada yang berdiri. Mereka tampak memperhatikan aku dan Saras meski sembunyi-sembunyi.


Tentu saja. Penampilanku bagai langit dan bumi dengan mereka. Mereka memakai baju muslim panjang, rok panjang dan jilbab panjang. Sementara aku memakai celana jins sobek sana sini memamerkan kulit paha dan kaki, dengan kaos lengan pendek ketat. Tadi aku pakai jaket, tapi karena kepanasan, saat turun tadi jaket kusampirkan di ransel yang ada di punggungku begitu saja. Jelas mereka merasa aneh.

__ADS_1


"Itu dengan teman-teman di pengajian. Besok ada acara pengajian bersama di Mesjid Bontang, jadi kami menginap di sini."


Aku ber'oooh'


"Udah dapet kamar, Mbak?" tanyaku hangat. Kebetulan aku memesan kamar paling besar di hotel ini. Meski aku tak terlalu suka berbagi kamar, kalau mereka perlu bantuan, dengan senang hati aku membantu.


Saras mengangguk. "Alhamdulillah, udah In. Barusan aja. Ini kami lagi nungguin kamar aja."


"Oooh, ya udah, Mbak... Aku mau ke kamarku dulu ya, gerah. Kamarku di sini," kataku memperlihatkan nomor kamar di kunci yang ada di tanganku, "Kalau ada teman Mbak kekurangan tempat untuk istirahat, kebetulan aku kan sendirian, dateng aja ya. Atau Mbak perlu bantuan kendaraan, kebetulan aku juga bawa mobil sendiri."


Saras tersenyum manis. Mengangguk penuh rasa terima kasih. "Iya, In. Terima kasih banyak, insya Allah semua sudah dapet."


"Oke, aku naik dulu ya Mbak." Tepat saat aku berbalik, dari pintu hotel seorang pria masuk. Itu Arzi.


Arzi berhenti melangkah saat melihatku. Bengong. Ia juga. Sebelum tersenyum dan mendekat.


"Loh kamu di sini juga, In?" tanyanya begitu berada di dekat kami.


Aku juga bingung. "Loh, Bapak ikut toh?" tanyaku balik.


"Kami ada dua rombongan, In. Rombongan akhwat di hotel ini, rombongan ikhwan di hotel yang ada di depan itu. Mas Arzi pimpinan rombongan Ikhwan," katanya menjelaskan padaku, lalu menoleh pada Arzi. "Inka lagi liburan, Mas," katanya pada Arzi.


Kami berdua mengangguk-angguk. Tak sengaja tatapan kami bertemu, dan tawa kami meledak bersama. Lucu sekali. Seperti sudah diatur, kami bisa memikirkan hal yang sama. Ini aneh tapi nyata, kami selalu bertemu secara kebetulan di banyak tempat berbeda.


Namun, mendadak aku tak bisa bicara apa-apa. Perasaan canggung tiba-tiba terbit saat melihat tatapan para anggota rombongan akhwat dan Saras yang jelas-jelas menunjukkan keingintahuan melihat cara aku dan Arzi yang saling melempar tatapan penuh arti. Jadi setelah menjelaskan kalau aku datang sendirian dan menyetir sendiri dari Sangatta, aku pamit naik ke kamarku dengan terburu-buru.


Aku tak nyaman dengan tatapan mereka. Mereka dan aku satu agama. Kalau aku masih belum banyak mengerti soal fiqih, tak seharusnya mereka memandangiku seperti berasal dari planet lain.


Tapi saat melangkah naik tangga dan berhenti di depan jendela besar yang memantulkan bayanganku, aku berhenti. Menatap sekujur tubuhku.

__ADS_1


Penampilan inikah yang membuatku berbeda dari mereka?


__ADS_2