Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 67 - Kesayangan Allah


__ADS_3

Hari kelima, ketika aku sudah bisa bernapas lega dan bisa melepaskan ventilator, Audia dan Tammy datang menjengukku. Arzi yang sudah lepas infus dari kemarin dan sebenarnya sudah boleh pulang, memilih memberi ruang untuk kami berbincang dengan pamit menemui Dirga di ruang kerjanya.


Tammy memelukku dan menangis cukup lama.


“Mbak, maaf. Maaf!”


“Udaaah. Gak nyangka cewek tomboy kek kamu ternyata bisa nangis juga,” godaku.


“Mbaaak!” kata Tammy merajuk.


Aku terkekeh. “Saya yang minta maaf, ngerepotin pastinya. Gimana? Di kantor gimana?”


Keduanya kompak menggeleng. “Kan ada Pak Jeremy, begitu accident Mbak, Pak Jeremy udah langsung pegang koordinasi. Sampe sekarang beliau masih di sini. Katanya mau jenguk Mbak sore ini.”


Aku mengangguk-angguk.


“Mi, saya bisa minta tolong?”


Tammy mengangguk cepat.


Kutepuk-tepuk tangannya yang berada di atas pahaku. “Saya benar-benar minta maaf, Mi. Tapi saya rasa saya gak bisa lama-lama bekerja bersama kalian. Saya sakit, Mi. Walaupun saya sangat suka bekerja dengan kalian berdua dan sudah berusaha untuk bekerja, tapi saya gak mampu. Dari awal kita ketemu, niat saya memang ingin resign.”


Audia dan Tammy menatapku sedih.


“Saya sudah bicara dengan Pak Jeremy. Saya juga sudah punya kandidat. Setelah kemarin berkunjung ke lokasi, saya baru ingat kalau ada banyak calon Manajer yang lebih baik dari saya. Hanya karena keburu accident, saya belum sempat ngomong.”


“Mbak akan langsung resign?” tanya Audia cepat.


Aku menggeleng. Tersenyum padanya. “Jelas enggak, Di. Saya akan serah terima dengan baik-baik. Sampai kalian semua bisa mengerjakan dengan baik, saya akan tetap kerja. Hanya mungkin tidak bisa bekerja seperti dulu.”


“Berapa lama, Mbak? Kami benar-benar takut gak mampu. Selama ada Mbak, aku dan Audia ngerasa banget kalo kami terbantu banget.”


“Paling lama sebulan. Itu karena saya yakin, kalian sebenarnya jauh lebih mampu dari saya, Tammy. Yang kamu butuhkan hanya seseorang yang mengorganisir dan kandidat yang saya pilih punya kerja sama yang baik dengan kalian berdua.”


“Benarkah? Jadi kami mengenalnya?”


Aku mengangguk. “Tapi saya gak bisa ngomong sekarang ya. Saya harus ngomong dulu ke Pak Jeremy.”


“Tapi kami masih boleh ketemu dengan Mbak juga kan? Cuma main-main gitu, ngobrol... “


“Of course. Saya akan punya banyak waktu untuk kalian. Whenever you want, just come. Kalian itu nanti palingan yang sibuk.”


[Tentu saja.... Kapanpun kalian mau, datang aja... ]


“Aku sih pasti bisa. Kost-anku deket dari rumah Mbak Inka,” sambar Audia sambil tertawa lebar. Aku tertawa melihatnya.


Sebelum pulang, Tammy menyinggung sesuatu.

__ADS_1


“Mbak, sebenarnya ada yang mau kutunjukkan sama Mbak. Tapi nanti deh kalo Mbak udah sehat. Di kantor aja.”


Aku mengangguk setuju tanpa terlalu memikirkannya.


Tepat ketika Tammy membuka pintu, Dirga juga sedang membukanya. Mereka nyaris bertabrakan. Ada baki di tangan Dirga. Aku hafal baki itu, isinya obat dan suntikan untukku.


Setelah saling minta maaf, Audia mengerling padaku.


“Pak dokter, kapan nih ngajakin kita makan bareng? Masih ada yang belom punya pacar nih!” goda Audia sambil melirik Tammy.


Dirga tersenyum. “Kalau begitu kalo adik saya udah sehat lagi , kita makan-makan bareng.”


Keduanya mengangguk sambil cekikikan dan keluar setelah berpamitan padaku.


“Mas Arzi ke mana, Mas?” tanyaku.


Dirga menatapku. Wajahnya yang tadi dipenuhi senyum sudah tampak tanpa ekspresi lagi.


Mendadak hatiku terasa kosong. Seperti ada yang hilang. Sejak aku dirawat di sini, Dirga jarang sekali tersenyum padaku. Ia bicara pun seperlunya saja.


Merasa aku akan dicuekin lagi, aku memilih merebahkan diri. Tapi tak disangka, Dirga justru membantuku. Ia memperbaiki bantal dan selimutku.


“Arzi keluar sebentar, ketemu sama Papa dan Mama. Hari ini mereka kembali ke Balikpapan,” jawab Dirga akhirnya. Tangannya sibuk menyuntikkan sesuatu di lubang kecil yang ada di tanganku.


“Mmm... “ Ganti aku yang menjawab seadanya. Aku lupa kalau orangtuaku tadi menunggunya.


“Mas, aku yang salah.”


“Inka, aku minta maaf kalau perhatian dan cinta yang kurasakan buatmu justru jadi beban. Aku janji, Ka. Aku akan mencoba membuka hati untuk seseorang. Aku akan mencoba tidak ikut campur dengan urusanmu lagi. Tapi... “


Dirga terlihat berat mengucapkannya. Ia duduk di kursi yang ada di sisi tempat tidurku. Tercenung sesaat.


“Aku janji akan lakukan semua yang kamu mau. Tapi... tapi tolong biarkan aku tetap menjagamu... “ ucapnya lirih.


Aku mengangkat tangan. “Mas, berhenti! Berhenti!”


Kali ini kepala Dirga terangkat. Ia menatapku heran.


“Aku selalu menganggap Mas Dirga itu kakakku, sahabatku dan dokterku. Kalau Mas perlu waktu, selama apapun aku akan lakukan. Soal siapa yang salah atau benar, aku gak pernah nyalahin Mas. Aku yang harusnya minta maaf, selalu egois sama Mas. Mungkin Allah menghukum aku sakit begini karena ngelawan kalian...”


“Gak boleh ngomong gitu, Inka! Kamu gak tau kalo kami panik setengah mati.”


Aku meringis. “Maaf, tapi... “


“Sudah! Gak usah dilanjutkan. Sekarang, kamu harus sehat lagi.” Dirga bergerak dan tiba-tiba berhenti. Wajahnya tampak ceria.


“Kemarin aku sempat meriksa kamu pakai USG, Ka. Apa kamu tahu kalo kondisimu jauh lebih baik sekarang? Obat itu sepertinya efektif.”

__ADS_1


“Benarkah?” tanyaku tak percaya.


“Iya, memang ada sedikit masalah dengan paru-paru setelah kecelakaan itu. Tapi kalo kamu terus jaga kondisi dan rutin terapi, insya Allah gak ada masalah.”


“Alhamdulillah, Mas Arzi udah tahu?” Aku tak sabar ingin dia mendengarnya.


Dirga mengangguk. “Tadi kami udah bicara. Papa dan Mama juga udah dengar.”


“Mereka tahu?” tanyaku panik.


Dirga menggeleng. “Tenang aja! Mereka hanya tahu sebatas kondisimu paska tenggelam. Masalah rencana operasi dan lainnya, mereka tidak tahu.”


Aku menghela napas lega.


“Inka... “


“Hmmm...”


“Jangan pernah marah pada suami baik seperti Arzi, Dek!”


Aku menatap Dirga dengan sedikit kernyit di dahiku.


“Arzi itu suami yang sangat baik, Ka. Tapi dia itu bukan orang sembarangan. Dia seorang ustad, itu pekerjaan terbaik di mata Allah. Kesayangan Allah. Kalo kamu menyakiti seseorang yang disayangi Allah... Sadar atau tidak. Walaupun Arzi sendiri gak mungkin berharap kamu celaka. Tapi aku benar-benar kuatir akan peringatan Allah padamu,” kata Dirga menasehati dengan sangat hati-hati.


Aku mengerti maksud Dirga. Aku juga merasa kalau sedang ‘dihukum’ karena keegoisanku.


Sambil tersenyum tulus, aku mengangguk.


Dirga menghela napas lega. “Kalau kamu mau marah, marah sama aku aja. Jangan sama Arzi! Cukup bilang aja yang bikin kamu kesal, tapi jangan membuat dia susah hati. Percayalah... Arzi itu sangat takut kamu kenapa-kenapa. Dia paling bingung kalau kamu ngambek. Bahkan waktu kamu ngambek, dia sampe nanya harus gimana ke aku.” Senyum lebar terbentuk di wajah Dirga. “Trus aku bilang... aku aja sampe sekarang masih sering bingung. Lah gimana mau ngasih nasihat?”


Kami sama-sama tertawa mendengarnya.


Tepat saat itu pintu terbuka, Arzi kembali dengan wajah merah padam. Seperti sedang menahan marah. Ia jarang seperti itu. Tapi aku mengenalnya dengan baik.


Aku ingat tadi Dirga bilang Papa dan Mama bersamanya. Apa sesuatu terjadi?


Aku baru ingin bertanya saat Arzi sudah bicara pada Dirga.


“Mas, saya lupa kasih tahu. Malam kemarin, ada tamu tak diundang yang dibolehkan masuk tengah malam oleh perawat yang namanya Nike. Tadi saya lihat dia berjaga lagi malam ini. Saya kuatir dia begitu lagi.”


Dirga mengangguk. “Saya udah tahu, Mas. Perawat yang jaga bareng dia juga udah info ke saya. Tadi pagi saya udah sampaikan ke dia juga. Insya Allah, dia gak akan berani lagi.”


Aku memasang wajah sepolos mungkin. “Emangnya siapa tamunya, Mas?”


Arzi menggeleng dan tersenyum penuh arti. “Rahasia!” katanya sambil bertukar tatapan dengan Dirga.


Tanpa membantah aku hanya mengangkat bahu. Tak peduli. Lebih baik mereka mengira aku tak tahu apa-apa. Selama Andra tak lagi bisa masuk, aku akan menganggap seolah-olah tak ada yang terjadi.

__ADS_1


*****


__ADS_2