Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 51 - Anak Gembala


__ADS_3

Ketika kami sudah berada di kamar, Arzi sedang duduk di tepi tempat tidur dan aku baru selesai mandi, kami kembali membahas mengenai adik-adik Arzi dan anak-anak remaja seusia adik-adiknya.


“Karena mereka itu lebih mirip anak-anak saya, daripada adik,” kata Arzi saat aku bertanya mengapa mereka begitu menghormatinya, bahkan lebih daripada saat mereka bicara pada ayah mertuaku.


“Maksudnya?” tanyaku sambil menoleh padanya dan meletakkan sisir ke meja rias.


Arzi tersenyum simpul. “Keluarga kami bukan kalangan mampu, In. Juga buat sebagian besar orang-orang di kampung ini. Kebanyakan semua orangtua harus kerja keras. Ibu saya mengajar. Ibunya Yanto harus jualan di pasar. Pulangnya kadang baru pada sore hari. Mereka gak sempat mengurus anak-anak. Saat itulah saya yang tertua di sekitar sini, yang mengurus mereka.”


“Mengurus mereka? Termasuk makan dan sebagainya itu?” tanyaku heran.


Arzi mengangguk. “Iya, gampang kok. Kami semua kan anak kampung, selama perut kenyang, semua urusan beres. Paling sesekali bantu mereka ngerjain PR sekolah. Semua anak yang lebih tua, akan bergantian mengurus anak yang lebih muda ketika para orangtua bekerja.”


“Itu sebabnya Saleh ingin membangun sekolah?” tanyaku teringat obrolan kami pagi tadi.


Arzi menggeleng. “Bukan mendirikan, tapi mempertahankan. Pesantren Abah sudah mulai kurang peminat semenjak Abah sakit dan gak bisa ngajar lagi. Sedangkan cucu-cucu Abah, seperti saya, Amran dan sepupu-sepupu saya yang lain menyebar mencari nafkah di kota bahkan di negara lain. Akhirnya... sekolah itu hanya dilanjutkan oleh santri-santri yang baru lulus saja. Itu juga silih berganti. Seperti kata Saleh, urusan perut lebih penting.”


Masalahnya tak hanya itu. Arzi tampak termenung sebelum melanjutkan, “Yang lebih buruk, pesantren dianggap pilihan terakhir buat mereka yang berniat melanjutkan ke perguruan tinggi. Jelas ini makin merugikan. Bahkan Saleh bilang, saat ini santri per tingkatan hanya belasan orang. Terus berkurang setiap semester.”


“Itu sebabnya Saleh ingin Mas kembali ke sini?” tebakku.


Arzi menatapku. Ada tanda tanya di matanya. “Kira-kira Inka keberatan kalo nanti akhirnya kita harus tinggal di kampung begini?”


Aku terkekeh. “Ya enggaklah, Mas. Sejak Inka nerima Mas sebagai suami, udah kewajiban Inka ikut suami ke manapun. Tapi untuk ngajar... mmm... it’s quite interesting. New challenge for me.” [Itu cukup menarik. Tantangan baru buatku]


“Kemarilah!” Arzi menepuk pahanya.


Aku berdiri, berniat duduk di sebelahnya. Tapi Arzi memeluk pinggangku dan memaksaku duduk di atas pahanya. Aku tertawa, namun tak menolak.


Tangan Arzi memelukku, sementara yang lain memegang tanganku. “Ada banyak hal yang harus direncanakan setelah menikah, Inka. Tapi seperti yang selalu saya tekankan. Kamu harus sehat dulu. Saya masih harus menyelesaikan tiga tahun kerja di Sangatta sebelum kembali ke Jakarta. Jadi selama menunggu itu, tolong fokus saja jadi sehat ya, Sayang! Gak usah mikirin apapun dulu.”


Aku memeluk leher Arzi. “I know, Hubby. Tapi beneran... tawaran Saleh itu menarik. Inka kan dulu suka banget maen guru-guruan. Belum lagi memahami sifat anak-anak itu.”


Arzi tertawa sambil menyentil hidungku. “Mengajar itu tak semudah permainan, Inka. Perlu rencana, perlu konsep, perlu target.”


“I know. Inka kan diasuh oleh dua Kepala Sekolah. Dari kecil Inka melihat semuanya, bahkan kadang ikut bantuin nyiapin,” kataku santai.


“Saya tahu, Inka. Saya yakin kamu mampu. Tapi lepas dari semua itu, kamu harus sehat dulu.”


Kucium pipi Arzi. “Iya, Mas. Iyaaa... Inka ampe bosen jawabnya.”


“Hmmm... “ Hidung Arzi menempel di leherku. “Haruuum... Istriku wangi sekali.”


Aku tergelak. “Dan suamiku bauuu, belum mandi.”

__ADS_1


Tawa Arzi pecah. Tapi ia tak melepaskan pelukannya. Masih ingin memelukku.


Tiba-tiba aku teringat kata-kata Amina. “Mas, kata Mas doa ibu yang membuat Mas menemukan jodoh terbaik?”


“Hmmm... “ Arzi masih sibuk menciumi leherku.


“Kalau gitu, bagaimana kalo kita minta ibu doa buat kita biar cepat punya anak?” tanyaku.


Arzi mengangkat kepalanya, menatapku setengah tertegun sebelum ia tersenyum lebar. “I always ask her again and again, Inka. Tapi walau saya gak minta, Embi adalah orang yang selalu paling lama berdoa di rumah ini. Beliau juga gak pernah lepas ber-tahajud hanya untuk memastikan doanya cukup buat anak-anaknya. Percayalah... doa Embi akan selalu bersama kita.”


Aku mengangguk. Lega mendengarnya. Tapi sesaat kemudian aku teringat sesuatu.


“Inka gak punya ibu, jadi... gak bisa minta doa. Coba kalau ibu Inka masih ada ya, Mas?” bisikku sambil menyandarkan kepalaku pada Arzi.


“Sayang, doa seorang anak soleha untuk ibunya yang telah tiada itu bisa jadi jalan hikmah juga loh. Dengan karomah dari doa yang didapat seorang anak piatu sepertimu, maka semua niat baik insya Allah akan dikabulkan.”


“Jadi Inka tetap bisa dapat kebaikan, meski ibunya Inka gak ada?”


Arzi mengelus punggungku. “Tentu Sayang. Malah belum tentu juga doa ibu yang masih hidup di dunia bakal dikabulkan. Hanya ibu-ibu yang soleha, yang takwa kepada Allah yang punya hak itu.”


Aku mengangguk-angguk. “Hmmm... “


Setiap kali mengobrol, rasanya pengetahuanku tentang banyak hal selalu bertambah. Padahal aku tak pernah merasa digurui oleh Arzi, walaupun itu niatku dari awal. Malah aku senang, Arzi selalu bersikap mesra setiap kali kami bicara berduaan.


Tanganku ikut merayap ke mana-mana seperti Arzi, kali ini mengelus rambut suamiku. “Kan anak-anak itu kadang nyebelin, Mas! Apalagi anak cowok suka berantem. Dulu Mas gimana cara ngadepin mereka?”


Kembali Arzi mengiyakan. “Selama berantemnya masih wajar, saya biarkan aja. Mereka berantem di depan saya saja, kadang saya biarkan dulu. Nanti juga capek sendiri. Saya hanya mastiin mereka gak memukul terlalu keras atau pada tempat yang berbahaya.”


“Dibiarin?” Aku menatap Arzi dengan ngeri. Membayangkan kalau ia menjadi ayah nanti. Apa ia akan membiarkan anak-anak kami saling beradu jotos?


Arzi tertawa. “Saya sudah SMA saat itu, Inka. Tentu saya tahu batasan melarang dan membiarkan. Tenang saja! Anak laki punya energi lebih yang harus dikeluarkan. Berantem kecil tak masalah, asal diawasi.”


“Please don’t do that for our children ya, Mas! I don’t like it!”


[Tolong jangan lakukan itu ke anak-anak kita ya, Mas! Aku gak suka!]


Tangan Arzi melingkari pinggangku. “Whatever Madam Arzi said, I’ll follow.”


[Apapun kata Nyonya Arzi, saya akan ikuti]


Aku juga melingkarkan kedua tanganku pada pinggang Arzi hingga kami saling berhadap-hadapan. “Lalu apa lagi yang Mas kerjakan saat itu selain mengurus adik-adik?”


“Mmm... Ngangon kambing sekitar... 30-40 ekor setiap hari.”

__ADS_1


“What? Mas mantan anak gembala dong!”


Bibir Arzi berkedut menahan tawa. “Juga 3 ekor sapi kakek saya.”


“Hah? Sapi juga? Itu sendirian aja ngangonnya?” tanyaku kaget.


Dengan sorot mata bangga, Arzi mengangguk. “Karena itu ngurus bocah-bocah di rumah mah gak ada apa-apanya, Inka. Kalo kambing itu tinggal nyari aja bandotnya, entar yang lain pasti ngikut. Sama kayak mereka, tinggal nyari yang paling bandel dan ngasih instruksi, yang lain pasti ngikut. Kalo adik saya itu dulu yang paling badung itu si Amran, ya tinggal ngawasin atau nyuruh dia aja.”


Aku tertawa tergelak-gelak. “Entar Inka aduin sama Amran kalo Mas nganggep dia bandot kambing, ha ha ha...”


“Dia pasti tahu, karena setelah saya kuliah di Jakarta, dia yang jadi anak gembala gantiin saya. Juga ngurusin adik-adik yang lain. Malah dia yang paling sibuk kayaknya, dia kan kakaknya adik-adik perempuan,” ujar Arzi juga dengan senyum lebar.


“You have an amazing life, Husband!” 


[Hidupmu luar biasa, Suami!]


“*And I like to tell yo*u everything, Inka. Next, kita ke kampung kelahiranmu yah. Ceritakan soal hidupmu di sana!”


[Dan saya suka menceritakan semuanya, Inka. Lain kali... ]


Mendengar itu, tanganku segera melepaskan pegangan. “Mas mandi dulu deh. Beneran Inka gak tahan nyium baunya, ha ha ha ha!”


Saat Arzi keluar kamar untuk mengambilkan handuk, aku menatap punggungnya dengan mata sendu.


Apa yang bisa kubanggakan dari tempatku dilahirkan?


Papa tak pernah menerima kepergian almarhumah ibuku yang tiada hanya beberapa hari setelah melahirkan putri mereka. Aku juga selalu berada dalam kebingungan di antara perselisihan Papa dan keluarga besar orangtua almarhumah ibuku.


Aku belum menceritakan itu pada Arzi. Andai bisa kuhapus, ingin kuhapus babak itu.


Sungguh... keributan antar orangtua hanya akan membuat anak-anak menjadi korban. Meski orangtuaku bercerai karena kematian, tapi masalah setelah itu juga membuatku menderita.


Dan aku tak ingin bagian menyedihkan itu diketahui Arzi.


Hanya saja, aku tahu cepat atau lambat Arzi akan tahu.


 


*****


 


 

__ADS_1


__ADS_2