
Setelah sembuh, aku kembali ke kantor. Pekerjaanku kembali menumpuk. Padahal baru dua hari aku resmi jadi Manajer sebelum sakit. Untungnya, masalah para tamu investor sudah diselesaikan oleh Pak Jeremy bersama Tammy.Sebenarnya selain Tammy dan Audia, teman-temanku yang lain di kantor juga datang menjenguk. Tapi karena selalu ada Arzi di sisiku, mereka tak banyak bercerita tentang masalah di kantor.
Aku ingat Tammy bilang ada sesuatu yang ingin ia sampaikan padaku saat ia menjengukku. Sudah beberapa hari aku menahan rasa penasaran. Karena itu begitu tiba di kantor, aku langsung memanggilnya.
“Ada masalah apa di kantor?” tanyaku sambil meletakkan tas kerja di atas meja.
Tammy menggeleng. Tersenyum tulus padaku. “Enggak ada, Mbak. Semuanya bisa kok aku urus. Hanya ada yang ke-hold dikit.”
“Tapi waktu saya di klinik, katanya ada yang ingin kamu sampaikan,” kataku mengingatkan.
Kepala gadis muda itu mengangguk. Matanya terlihat muram. “Iya, Mbak. Tapi gak ada hubungannya dengan kerjaan.”
“Apa itu? Suami saya nyalahin kamu?” tanyaku cepat.
Lagi-lagi Tammy menggeleng.
“Tunggu sebentar, Mbak! Aku ambil dulu.” Gadis itu segera keluar dan kembali dengan cepat.
Di tangannya ada cakram perak kecil, yang kemudian disodorkannya padaku.
“Ini video yang mau aku kasih ke Mbak. Tapi aku gak enak ngasih depan suami dan kakak Mbak.”
Aku menatap video itu bingung. Namun mengambilnya dari tangan Tammy.
“Mbak tonton aja itu. Aku gak bisa ngomong apa-apa,” ujar gadis itu lirih, lalu ia menatapku dengan sorot mata sedih. “You have a best husband and brother, Mbak,” lanjutnya sebelum berbalik.
Sebelum keluar dan menutup pintu, Tammy menutup vertikal blind di seluruh jendela besar ruang kerjaku. Membuat orang yang berada di luar takkan bisa melihatku.
Video apa ini? Mengapa Tammy sesedih itu?
Kunyalakan PC komputerku dan memasukkan cakram perak itu ke CD-Player.
Gambar diawalai rekaman saat Tammy tengah merekam video di proyek water intake. Sepertinya gadis itu memotongnya cukup panjang.
Sampai kemudian layar komputer memperlihatkan saat aku berdiri di tengah jembatan dan berteriak memanggil mereka. Lalu beberapa kali kamera tertutup oleh tubuh dua pekerja dan Tammy yang sepertinya bolak balik di depan kamera.
Lalu...
Pemandangan paling menakutkan dalam ingatanku terlihat jelas. Saat aku memandangi gadis yang kupakaikan safety rope dari tubuhku dan kemudian aku terpeleset jatuh. Tercebur di sungai.
Teriakan-teriakan riuh terdengar, termasuk jeritan Tammy yang berlari menjauh dari kamera. Tapi tak hanya itu yang direkam oleh video itu.
Di seberang aku melihat Arzi, Dirga dan beberapa pekerja berlompatan masuk ke dalam sungai menyusulku. Tanganku bergerak menutup mulutku, melihat suasana panik dalam video itu.
Beberapa kali aku melihat kepala Arzi muncul di permukaan air dan berteriak memanggil namaku, sebelum masuk kembali ke dalam sungai yang semakin naik. Begitu juga Dirga.
Tepat ketika beberapa pekerja yang ikut menceburkan diri, mulai naik karena tak kuat menahan arus, aku melihat Dirga menopang kepalaku, menyeret tubuhku ke tepian. Ke arah daratan di mana video itu masih berdiri dan terus merekam. Melihat Dirga berhasil menemukanku, semua orang mengerubung membantunya.
Arzi juga keluar dari dalam sungai, bergegas mendekati tubuhku yang dibaringkan telentang oleh Dirga. Ia bersimpuh saat melihat keadaanku. Lemas.
Semua orang juga bersimpuh di sekitar mereka. Rata-rata berusaha menenangkan napas mereka yang masih terengah-engah. Dirga memberi kode agar semua orang menjauh, memberi ruang padanya. Hanya Arzi yang tetap diam memandangi wajahku dengan kuatir.
Dirga memeriksa pernapasanku, dan kepalanya menggeleng-geleng. “Please, Inka! Please!” gumamnya sambil mulai menekan dadaku, memberikan CPR. Aku tak terlalu bisa mendengarnya dalam rekaman, tapi aku bisa melihat gerakan bibirnya.
Arzi tak kalah cepat. Melihat Dirga berusaha keras membantuku. Ia pun bergerak.
Bersama Dirga, ia memberiku napas buatan. Keduanya bahu membahu memberiku pertolongan pertama.
“Inka, please! Bangun, Dek!”
Aku tak mendengar suara Arzi. Tapi video itu dengan jelas memperlihatkan wajah suamiku yang basah. Bukan hanya karena air sungai dan hujan yang makin deras. Tapi aku bisa melihat kalau itu karena airmata.
Arzi sedang menangis!
Ia benar-benar menangis karena wajahnya merah dan bibirnya gemetar setiap kali mengangkat wajahnya ketika memberiku napas buatan.
Airmata yang sama juga mengalir di wajah Dirga. Berulangkali aku mendengar ia memohon, berdoa bahkan akhirnya berteriak memanggil namaku.
Wajah semua orang yang mengelilingi mereka juga tak kalah murung. Bahkan suara Tammy yang terisak-isak terdengar jelas di video yang masih berdiri dalam diam.
__ADS_1
Sesaat aku mulai menangkap keputusasaan di wajah para supervisor dan pekerja. Tapi dua lelaki-ku tak berhenti memberiku pertolongan. Meski semakin lama, aku bisa melihat wajah mereka makin pucat.
Suara ambulans terdengar di seberang sungai. Tepat saat itu, aku terbatuk kecil. Air mengalir keluar dari mulutku.
“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!” teriak Arzi sambil memelukku erat-erat. “Alhamdulillahilladzi... “ doanya sayup-sayup, yang tak sepenuhnya bisa kudengar. Tapi aku yakin itu doa syukur yang pernah ia ajari padaku. Doa saat terlepas dari bahaya.
Aku melihat saat Arzi menggendongku sendiri. Ia menolak bantuan semua orang. Bahkan saat jembatan darurat itu kembali harus dilewati. Arzi mengikat tubuhnya bersama tubuhku.
Saat Arzi menghilang dalam ambulans, video masih merekam saat Dirga harus dipapah rekan kerjanya yang baru datang.
Ini pertama kalinya aku melihat mereka begitu berbeda. Mereka tak pernah terlihat begitu lemah. Tak berdaya dan menangis seperti orang putus asa.
Tak terasa wajahku sudah dipenuhi airmata.
Tak menunggu lagi, aku bangkit dari tempat duduk, mengambil tas. Di luar aku melihat Tammy berdiri di depan pintu.
Aku tersenyum padanya. Langsung memeluknya. “Maafkan saya membuatku kuatir ya, Tam. Maaf banget!”
Tammy tak menjawab, ia hanya mengangguk sambil menangis.
“Saya harus temui suami dan kakak saya sekarang. Siang saya kembali,” kataku sambil melepaskan pelukan.
Sekali lagi gadis baik itu mengangguk.
Saat aku akan membuka pintu, aku kembali menoleh padanya. “Makasih banyak ya Tam! Makasih sudah memberitahu kalau dua orang itu sangat sayang sama saya. Video itu adalah hadiah terbaik dalam hidup saya.”
“Iya, Mbak. Sama-sama.”
Saat mengemudikan mobil menuju kantor suamiku, airmataku tak kunjung berhenti. Teringat yang terjadi beberapa hari ini.
Selama kami dirawat, Arzi sangat protektif. Ia seakan ingin terus menempel padaku. Tak seperti biasa, Arzi jarang membantah bahkan lebih sering memandangiku diam-diam dengan sorot mata yang sulit kupahami.
Kadang ketika tanganku terasa panas karena digenggam, aku sering diam-diam melepaskan saat Arzi tidur. Lalu tiba-tiba ia terbangun seperti orang kaget dan baru terlihat lega ketika melihat aku tertawa kecil melihat tingkahnya.
Apa karena semua yang telah terjadi?
Ketika mobilku berbelok di gate, satpam perusahaan Arzi segera mengenaliku.
Aku mengangguk setelah berterima kasih.
Aku tak sabar bertemu suamiku. Akan kukatakan betapa aku mencintainya. Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkannya. Aku bahkan takkan pernah membantahnya lagi.
Tak ada yang paling menyedihkan, menyakiti orang yang mencintaiku seperti itu.
“Inka?”
Suara yang memanggilku itu membuatku menoleh. Aku melihat Arzi tengah berdiri di depan pintu workshop yang memang berada tepat di sebelah tempat parkir.
Senyumku mengembang. Dengan langkah makin cepat dan setengah berlari, aku bergerak ke arahnya. Tak peduli beberapa orang yang lalu lalang di sekitar kami, aku memeluknya.
“I love you, Husband! I love you so much!” bisikku di telinganya.
Arzi tak menjawab. Ia buru-buru menutupi tubuhku dengan jaket yang ia kenakan. Tapi tetap saja siulan menggoda terdengar di sekitar kami.
Aku benar-benar tak peduli. Buatku, setiap detik, setiap menit, setiap waktu kini sangat berharga. Seluruh peristiwa yang kualami adalah peringatan bahwa cinta kami bisa terpisah kapan saja. Jadi selamanya aku ingin menghargai semua waktuku bersamanya.
Bersama Arzi, aku juga datang ke klinik untuk menemui Dirga.
“Tapi gak boleh pelukan!” kata Arzi saat aku bilang mau memberi kejutan pada Dirga sepertinya.
Aku mengangguk-angguk.
Kami berdua melangkah di sepanjang lorong sambil bergandengan tangan. Karena baru kami pasangan yang dirawat di klinik ini bersamaan, banyak perawat yang mengenali kami. Di sepanjang lorong, beberapa di antara mereka menyapa dan sesekali menggoda.
Sampai aku melihat Dirga baru selesai memeriksa pasien di IGD. Tangannya masih dibungkus sarung tangan plastik yang berlumuran darah.
Mataku kembali terbayang video yang kutonton itu. Saat melihat Dirga bahkan tak bisa berdiri dan terhuyung dipapah oleh rekan sesama dokter. Ketidakberdayaannya itu membuatku menyadari betapa pentingnya aku bagi dirinya.
Tak peduli dengan pesan Arzi sebelumnya, juga tak lagi melihat darah yang masih menetes di sarung tangannya, aku menyongsong ke arah Dirga, melingkari pinggangnya dan menjatuhkan kepalaku ke dadanya.
__ADS_1
“Owh! Heh? Inka?”
“You are the best brother in the world, Mas,” bisikku sambil membiarkan airmataku jatuh di jas putihnya.
[Mas adalah kakak terbaik di dunia]
“Inka... “
“Makasih sudah menolong Inka ya Mas. Maafin Inka. Maafin Inka,” bisikku berulangkali di dadanya.
Dirga menggerak-gerakkan tubuhnya. Kedua tangannya terangkat menghindari tubuhku. “Inka... Lepasin dulu! Gak lucu drama di sini! Suamimu ngeliatin tuh. Di sini banyak pisau, gimana kalo aku yang gantian jadi pasien karena suamimu cemburu?”
Aku terkekeh. Airmataku masih menggenang tapi senyumku sudah memenuhi wajahku. Dengan patuh, aku melepaskan diri dan melirik Arzi.
Tapi berbeda dengan yang dikatakan Dirga, Arzi justru tersenyum tulus.
“Tuh kan! Bajumu jadi kena darah. Haduh nih anak gak mikir dulu kalo bertindak. Begini ini yang namanya Manajer?” omel Dirga sambil melepaskan sarung tangan plastiknya yang kotor, menggulungnya terbalik dan membuangnya ke tempat sampah.
Dirga menarik tanganku, dan memberi kode pada Arzi untuk mengikutinya.
Di ruang kerjanya, Dirga menarik lengan blusku yang ternoda darah, mulai membersihkan dengan air dari wastafel. Setelah berulangkali, tetap saja noda itu terlihat.
“Ih nih anak beneran dah. Dewasa dikit! Bisa berbahaya kalo kamu meluk-meluk dokter sembarangan kayak tadi. Jangan diulangi! Darah pasien itu bisa mengandung penyakit.” Kembali Dirga mengomel.
Arzi tertawa. “Udah Mas, nanti biar Inka ganti baju di rumah aja sekalian. Habis ini kami mau makan siang di rumah aja.”
Aku memandangi keduanya dengan senyum lebar. “Inka mau jadi anak kecil selamanya. Inka gak mau jadi Manajer cabang. Inka hanya ingin jadi istri Mas Arzi dan adik yang baik buat Mas Dirga. Inka akan resign. Inka akan berusaha untuk sehat.”
“Hah?”
Kedua pria kesayanganku tertegun menatapku.
Tanpa menghilangkan senyum di wajahku, aku mengangguk penuh keyakinan.
“Dari awal aku udah bilang mau resign dan aku hanya kerja sementara sampai Pak Jeremy nemu orang yang lebih pantas. Kemarin aku ditunjuk itu karena terpaksa aja. Ada masalah di kantor dan itu satu-satunya cara untuk menyelesaikan,” kataku menjelaskan.
Perlahan wajah kedua pria di depanku lebih rileks.
“Kalo Mas Arzi mau aku berhenti. Aku akan berhenti sekarang. Tapi... “
Kepala Arzi langsung menggeleng. “Tidak! Tidak perlu. Selesaikan saja! Tapi jangan lembur lagi! Saya benar-benar kangen masakan istri.”
“Emang Inka bisa masak?” tanya Dirga dengan tatapan tak percaya pada Arzi. Ia bahkan mengernyitkan dahinya saat berpaling padaku. “Kamu bisa masak apa coba? Bukannya disuruh Mama masak air aja bisa gosong?”
Aku tersenyum sangat manis, walaupun jengkel mendengar pertanyaan meremehkan itu. “Masak mi instan dooong!”
Tawa menggelegar pun pecah memenuhi ruangan itu. Hanya Arzi yang berusaha keras menahan tawa. Sementara aku memasang wajah cemberut pada Dirga.
Tapi kakakku itu tak peduli. Ia terus tertawa terbahak-bahak.
Lagipula aku tak benar-benar marah
Tak bisa. Hatiku saat ini terlalu dipenuhi cinta. Untuk kedua orang yang membuatku bertekad untuk hidup selamanya.
*****
Author Notes:
Sampai sini dulu. Sekarang udah ngerti kenapa Inka melawan suami? Pelajaran apa yang ia dapat dan mungkin semua pembaca?
Please, hargai saya dengan tidak menggunakan kata-kata makian untuk berkomentar! Bahkan jika Anda kesal pada tokoh dalam novel saya. Setiap novel itu selalu ada dinamika emosinya. tapi gak perlu dianggap sebagai nyata. Ini kan hanya fiksi.
Sejujurnya, setiap penulis itu ingin karyanya dihargai. Buat saya, vote dan like serta komen positif udah sangat berarti. Kalaupun tidak suka, tidak dihina juga sangat bersyukur. Jadi biasakanlah menghargai karya orang. Agar saya semangat terus untuk menulis, mengorbankan waktu istirahat di tengah kesibukan semester baru ini.
__ADS_1
Salam sehat,
Iin Ajid