Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 59 - Saatnya Bicara


__ADS_3

Setelah cuti lebih dari satu bulan, akhirnya aku memutuskan untuk benar-benar resign dari kantorku.


Sebenarnya, menurut Arzi, beberapa kali pihak kantorku menghubunginya selama kami cuti.


Mereka meminta bantuan Arzi agar membujukku kembali. Banyak masalah yang timbul setelah aku cuti dan memutuskan untuk mengundurkan diri secara mendadak.


Arzi sendiri kaget ketika aku bilang, "Inka gak mau kerja lagi, Mas. Gak papa kan?"


"Kenapa?" tanya Arzi. Ia sedang menulis sesuatu di meja kerjanya dalam kamar kami.


Tanganku yang sibuk melipat pakaian berhenti sejenak. "Hans udah gak ada di Indo. Gak enak. Lagian... " Aku memandangi Arzi sebentar sebelum melanjutkan, "Inka gak enak sama Mbak Ratih, Mas."


"Sayang, sini sebentar! Duduk sini!" panggil Arzi sambil menepuk pahanya dan menggeser kursi.


Aku berdiri dan duduk di pangkuannya. Ia memeluk pinggangku sembari menatap wajahku penuh cinta.


"Kadang, kita berpikir untuk melarikan diri dari masalah sebagai penyelesaian. Tapi itu salah, Sayang. Kita gak pernah boleh menghindari masalah. Apalagi kalau itu menyangkut hubungan dengan manusia. Ratih dan kamu kan sudah berteman lama. Hanya karena saya gak berjodoh dengannya dan memilih kamu, bukan berarti hubungan baik kalian harus terputus," kata Arzi. “Memutuskan silaturahmi itu berarti memutuskan rezeki, Inka,” lanjutnya.


Aku menghela napas. "Masalahnya, Inka takut. Nanti ada lagi yang mau nyakiti Inka. Inka aja gak tau siapa yang ngeracuni Inka dulu. Gimana mau kerja kalau Inka aja gak ngerasa aman?"


"Kamu belum tau apa yang terjadi di kantor setelah pergi kan, Yang? Kenapa gak ngecek dulu?" Arzi balik bertanya.


"Emang ada apa, Mas?" tanyaku bingung.


Kali ini Arzi menghembuskan napas kuat-kuat sebelum ia mulai menjelaskan. "Hari itu, setelah kamu dirawat, banyak polisi datang ke kantormu dan semua orang diperiksa. Saya gak tau kalo selama ini Papa dan Dirga selalu berhubungan. Jadi begitu kamu tiba di rumah sakit, Papa memerintahkan semua polisi untuk ke kantormu dan menyelidiki kasus keracunanmu. Waktu saya sibuk di rumah sakit itu, Ratih, dua temanmu dan beberapa orang yang datang ke kantor hari itu semuanya dibawa ke kantor polisi. Bahkan baju Pak Guruh masih penuh darah saat ia harus menemani orang-orang dari kantormu di kantor polisi."


"Mbak Ratih? Pak Guruh? Mereka dipenjara?" tanyaku panik.


Semarah-marahnya aku pada Ratih, aku tak tega membayangkan perempuan seperti dirinya dipenjara seperti seorang penjahat. Aku anak polisi yang tahu benar seperti apa penjara itu. Apalagi Pak Guruh. Aku ingat kejadian hari itu, aku muntah darah. Ia bahkan tak peduli soal itu.


Untunglah, Arzi menggeleng. "Pak Guruh juga kuatir soal keracunan itu, Inka. Kalau Ratih, ia hanya diinterogasi. Tapi setelah polisi datang ke rumah sakit dan memberitahu, saya yang minta mereka untuk segera melepaskan Ratih dan semua teman-temanmu itu. Saya bilang, cukup kumpulkan saja buktinya dulu dan jika memang terbukti, barulah kamu dan saya yang akan memutuskan soal nerusin kasus ini atau membiarkannya. Dirga dan Papa juga setuju."


"Terus? Hasilnya?"


Arzi menatapku. "Sebelum hasil laboratorium keluar, Ratih sudah menemui saya bersama calon suami dan keluarganya. Mereka meminta maaf dan memohon agar kasus ini tidak diteruskan. Mereka berjanji akan membayar semua biaya pengobatanmu."


"Jadi Mbak Ratih yang... "


Arzi menatapku. "Kamu ingat makan apa hari itu?"

__ADS_1


"Mmmm... sup jamur aja. Tapi teman-temanku yang lain juga ikut makan itu bersamaku, Mas," jawabku mulai ragu.


Aku sebenarnya sudah mulai menduga arah interogasi Arzi. Aku benar-benar ingin menutupinya.


"Dengan apa? Kamu inget kebiasaanmu apa selama ini?" tanya Arzi lagi. Wajahnya begitu serius.


"Kecap asin. Kecap itu... Tapi itu Inka beli sendiri loh, Mas. Emang stok pribadi Inka sendiri," sergahku cepat.


"Itulah, Inka. Ratih bilang ia hanya ingin menghentikan pernikahan kita dengan obat yang ia masukkan dalam botol kecap. Ia tahu kebiasaanmu yang kalo makan suka nambahin kecap asin. Tidak pernah ia bayangkan kalo reaksi kimia dari obat yang ia pakai ternyata sangat keras. Lambungmu yang memang kurang sehat pun terluka dan... " Arzi tidak melanjutkan dan menatapku. Ia tampak kuatir melihat reaksiku.


Karena saat itu airmataku sudah jatuh bercucuran. Aku benar-benar tak percaya mendengar apa yang sanggup dilakukan Ratih padaku.


Sekian lama kami bekerja dan bersahabat, hanya karena suatu hal kecil, ia melakukan hal setega itu padaku. Aku sudah menduganya karena saat itu rasa kecap asin itu sedikit berubah. Tapi tetap saja, mendengarnya langsung sangat menyakitkan.


Kami pernah tertawa, bercanda, bahkan bercerita sepanjang malam saat aku menginap di rumahnya, atau kami terpaksa lembur dan tidur di kantor.


Tak pernah kubayangkan kasih sayang persahabatan kami ternyata tak bersisa di hatinya. Hatiku benar-benar patah mendengar informasi ini.


Arzi merangkulku lebih erat. "Jangan nangis, Sayang. Saya tahu hatimu terluka. Tapi Ratih juga sama. Waktu saya ketemu dia, Ratih itu sangat histeris. Dia ketakutan, capek, malu, sedih dan merasa bersalah. Saya yakin kalo kamu ketemu dia pun pasti sama gak teganya kayak saya. Dia ingin sekali ketemu kamu, meminta maaf dan kalo perlu berlutut padamu."


"Mas bilang apa sama... dia?"


Aku agak berat menyebut nama Ratih di tengah isakanku. Sungguh aku sangat berharap pelakunya bukan dia, walaupun sejak awal aku selalu mencurigai itu.


"Terus?" Isakanku mulai mereda.


"Ratih menangis lama sekali. Dia bilang, dia gak papa dipenjara asal kamu mau maafin dia. Itu aja. Dia sama sekali gak ada niat bikin kamu sampai segitu. Dia pikir, paling-paling hanya diare. Lalu saya bilang, untuk sekarang... yang saya mau darinya sebagai suami Inka, saya minta dia untuk tidak bekerja di kantor yang sama denganmu lagi. Tidak hanya untuk dirinya karena semua orang pasti akan menyalahkannya. Tapi juga untuk nama baik perusahaan."


"Jadi?"


"Jadi Ratih sudah resign saat kita menikah. Seharusnya dia juga sudah menikah gak lama setelah kita, tapi karena statusnya masih tahanan kota, sampe sekarang pernikahannya terus diundur. Yang bikin saya gak enak itu... mmm... " Arzi berhenti bicara, ia tampak segan melanjutkan. Mungkin kuatir melihat reaksiku jika mendengarnya.


Aku menggoyang tubuh Arzi. "Apaan? Ngomong aja!"


"Keluarganya menawarkan kompensasi buatmu. Saya udah nolak berulangkali tapi... mereka mengirimnya ke rekening pribadi saya. Saya juga gak tau dari mana mereka tau rekening saya. Karena itu... Mau gak mau kamu harus ketemu Ratih, Sayang. Kita berdua. Nyawamu itu tidak ada harga, kalo kita nerima kompensasi itu sama aja kayak ngukur nilai nyawamu," kata Arzi sambil mempererat pelukannya di perutku.


Kusandarkan kepalaku ke pundaknya. "Inka sebenarnya udah menduga kalau kemungkinan pelakunya Mbak Ratih. Tapi tetap aja sedih dengernya. Inka gak nyangka kalo Mbak Ratih bisa setega itu sama Inka, Mas. Kami pernah ngobrol sampai pagi, kami pernah bercanda bareng... Kok Mbak Ratih tega... “


Airmataku mengalir pelan, tak sanggup lagi meneruskan kalimatku. Mengingat masa-masa indah saat persahabatanku dan Ratih berjalan sangat manis di saat ini justru terasa pedih. Aku benar-benar menganggapnya seperti kakakku sendiri.

__ADS_1


Aku hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Persahabatan bagiku adalah hubungan yang langka. Karena itu, aku benar-benar menyayangi Ratih terlepas masalah di antara kami.


Arzi tak berkata apa-apa. Ia hanya diam mendengarkan keluhanku. Tangannya bergantian memeluk dan mengelus tubuhku, menenangkan.


Setelah sedikit lebih tenang, aku bergumam, “Inka gak mau kerja bukan hanya karena Mbak Ratih, Mas. Inka emang capek kerja. Batin Inka pengen istirahat. Pengen di rumah aja, gemukin badan, nyehatin diri. Supaya bisa operasi dan kita bisa punya anak. Cuma itu."


"Saya tahu, Sayang. Itu kan tujuan kita sekarang," ucapnya sambil mencium ujung pipiku.


Aku menengadah lagi, menatap suamiku dengan rasa bersalah. "Inka minta maaf ya Mas. Udah bikin masalah banyak banget. Sebenarnya dulu dengan Kak Andra, kami juga belum bener-bener selesai. Waktu itu, Kak Andra ngamuk saat Inka jelasin dan semua yang dia kasih dibuang gitu aja. Tapi Inka kumpulin lagi, dan rencananya Inka mau balikin. Sekarang nambah masalah ini lagi."


"Soal Andra itu, saya kan udah tahu sejak kita belum bersama, Sayang. Waktu dia nelpon saya, mukul saya dan bahkan mengancam saya melalui teman-teman kerja saya, saya sudah tahu dan siap untuk itu. Kamu kan bukan perempuan sembarangan. Seribu Andra atau seribu Ratih sekalipun, takkan bisa menghentikan takdir yang udah ditentuin Allah. Karena itu saya bismillah aja... maju terus, pantang menolak rezeki istri sepertimu," ujar Arzi dengan senyum lebar.


Aku sedikit tertawa mendengar kata-katanya.


Tapi aku agak kaget mendengar kenyataan yang terjadi tanpa sepengetahuanku. Mungkin itu juga alasan Arzi tak pernah menyinggung soal Andra di depanku, meski saat itu beberapa kali kami bertemu dan aku keceplosan.


Arzi pria dewasa yang tahu benar bagaimana harus bersikap. Aku mungkin akan selalu berpikir pendek, dan dia akan selalu berpikir dua kali lebih panjang dariku.


"Jadi Inka harus gimana, Mas?" tanyaku. Sejauh ini, aku merasa buntu dengan semua masalah ini.


"Bekerjalah kembali, atau kalo masih segan, datanglah ke kantormu lagi. Bersilaturahmilah dengan teman-temanmu dulu. Datang baik-baik maka pamit baik-baik juga. Setelah itu, kita ketemu dengan Ratih. Soal Andra... kalo dia masih di sini, kita temui bersama. Jelaskan padanya, alasan kamu gak bisa menikah dengannya. Ada alasannya, kan?" Arzi menatapku lekat.


Aku hanya mengangguk.


Arzi mengelus rambut. "Inka sayangku, istriku yang cantik, nanti sampai kapanpun kita bersama, kalo kamu merasa perlu menyampaikan sesuatu, mau buruk, mau bagus, jujurlah sama saya. Kita akan selalu bisa menyelesaikan segalanya, selama kita berdua membicarakannya. Gak papa kalo itu bikin kita berdebat atau ribut. Tapi jangan pernah menyimpan semuanya di hatimu. Sekarang kita sudah menikah, sudah barengan, sudah jadi partner, jadi semuanya harus diselesaikan bareng juga. Ngerti?"


Lagi-lagi aku mengangguk.


"Dan Sayang... bisa saya minta sesuatu?" tanya Arzi.


Aku mendongak. Tiba-tiba terpikir sesuatu. Mataku menyipit saat bertanya balik. "Minta jatah ya?" tanyaku setengah menggoda.


Arzi tertawa. "Aduuuh, gak mikir loh tadinya. Hahaha... bukan itu, Sayang! Saya cuma mau minta, ini loh... " Tangan Arzi memegang beberapa helai rambutku. "... minta rambutmu dipanjangin. Gak enak pas lagi ngelus-ngelus terus cuma sampe segini."


Ganti aku yang tertawa malu.


Tapi Arzi menyelipkan kedua tangannya di bawah lutut dan punggungku, menggendongku dan berjalan masuk ke kamar sambil berbisik, "Jadi beneran pengen minta deh."


Kuhujamkan kepalaku ke dadanya lagi, menahan semburat merah hangat yang mulai memenuhi wajahku.

__ADS_1


 


 


__ADS_2