
Gadis kecil itu duduk di atas jembatan tanpa pagar sambil mengayun-ayunkan kakinya. Menunduk ke bawah. Melihat permukaan air danau yang tenang.
Aku berlari cepat ke arahnya.
“Hei! Hati-hati! Nanti kamu tercebur!” teriakku sambil terus berlari.
Gadis kecil itu menoleh. Tapi ia hanya menatapku tanpa ekspresi, sebelum kembali menatap air danau.
Aduh, anak ini! Apa dia tak tahu kalau tempat ini terlarang untuk dimasuki!
“Kamu sekolah di sini?” tanyaku sambil duduk di sampingnya.
Tindakanku itu akan mengamankan posisinya. Setidaknya kalau ia jatuh, aku bisa menangkapnya.
Anak perempuan itu mengangguk.
“Kelas berapa?” tanyaku. Walaupun di dalam kepalaku bisa menebak kalau anak ini paling-paling baru kelas dua atau tiga SD.
Ia menoleh padaku. “Lima,” jawabnya singkat.
Mataku membulat tak percaya. Anak kelas lima? Dengan tubuh semungil ini? Apa dia cacat?
Tapi aku tak berani bertanya. Kuatir itu akan membuatnya tersinggung. Tapi kuperhatikan sekelilingnya.
“Sudah sepi begini kok kamu belum pulang? Apa gak tau kalo anak-anak gak boleh lewati pagar itu?” tanyaku sambil menunjuk ke arah pagar pembatas antara danau dan halaman sekolah.
Anak kecil itu menatap ke arah pagar sebelum mengangkat bahu tak peduli.
“Inka mau maen di sini,” katanya singkat.
Aku hanya bisa melongok, sebelum dengan cepat berkata, “Tapi di sini itu bahaya buat anak kecil. Kamu bisa kecebur!”
Anak itu menatapku dengan ekspresi tak suka. “Kakak sendiri gak takut? Kakak kan anak kecil juga!”
“Eh, aku ini udah SMP! Bisa berenang juga. Kamu bisa?”
“Enggak, tapi kan Inka gak niat nyebur.”
Bibirku mencibir. “Iya, tapi siapa tahu nanti kamu kepleset. Sudah sudah... sekarang lebih baik kamu pulang saja. Aku mau ngunci pagarnya.”
Anak itu kembali menoleh ke arah sekolah. “Tapi Papa belum jemput... “
Apa? Anak ini sedang menunggu papanya menjemput?
Setiap sore, sehabis pulang sekolah, aku ditugaskan Bapak untuk mengunci pagar pembatas antara sekolah dan danau kecil ini. Bapakku, seorang pemborong bangunan, sedang memimpin proyek pembangunan taman depan sekolah dasar ini, yang kebetulan tak jauh dari rumah kami.
Pagar pembatas memang tak dibuat permanen. Karena itu, walaupun dikunci gembok, anak kecil ini bisa masuk. Ia pasti merayap melalui pintu kawat yang tak sepenuhnya tertutup.
Tapi ini sudah lewat pukul tiga sore, sementara sekolah berakhir sejak jam 12 siang tadi. Berarti sudah lebih dari tiga jam ia menunggu. Sendirian.
Hatiku mencelos karena iba. “Mau kuantarkan pulang? Rumahmu jauh gak?” tanyanya.
Anak itu mengangkat kepalanya lagi, menatapku datar. “Inka gak boleh ikut orang asing sembarangan.”
Come on, Little Girl! Kamu bahkan sudah bicara denganku sejak tadi!!!
“Tapi ini sudah sore. Lihat sekitarmu! Cuma tinggal kita berdua. Kalau aku pulang, kamu sendirian loh. Gak takut?”
“Enggak!” Lagi-lagi ia hanya memberi jawaban singkat.
Aku benar-benar tak tahu harus bilang apa lagi. Jadi kuhela napas dan duduk diam. Tak lagi bertanya. Memutuskan untuk menemani anak kecil keras kepala dan pandai menjawab itu sambil memikirkan cara membujuknya.
Ketika aku tengah melamun, tiba-tiba tangan anak bernama Inka itu menarik baju kaosku.
“Kak! Kak!”
“Ya?”
__ADS_1
“Kakak ada makanan?” tanyanya tanpa sungkan, menatapku dengan bola mata bening yang indah.
Aku menatapnya. “Kamu lapar?” tanyaku.
Inka mengangguk. Lalu ia menunjuk ke belakang kami, ke arah tas sekolah. “Tadi udah makan roti, tapi sekarang Inka lapar lagi. Kakak ada makanan gak?”
Aku menggeleng. Aku tadi datang dengan terburu-buru. Pulang sekolah tadi aku bermain bola dulu, jadi datang ke sini pun agak terlambat. Begitu selesai makan siang, aku langsung pergi. Tak membawa apapun, selain kunci.
“Tak berguna!”
Hah? Kata-kata apa itu tadi?
Tapi Inka sudah kembali menunduk. Masih seperti tadi, menatap air danau tanpa mempedulikanku.
Aku ingin marah, tapi hatiku iba. Anak ini menunggu begitu lama, sampai kelaparan dan orangtuanya belum juga menjemput. Bagaimana ia bisa sesabar itu? Orangtua macam apa yang membiarkan putri mungil secantik ini duduk sendirian menunggu selama ini?
“INKA!”
Suara panggilan keras terdengar. Kami berdua sama-sama menoleh pada pemilik suara itu.
Aku terkejut ketika melihat seorang polisi berdiri di balik pagar. Pria itu mengenakan jaket hitam, tapi tidak mengancingnya hingga terlihat jelas ada seragam di balik jaket itu.
Inka, gadis kecil di sebelahku, langsung bangun dan berlari mengambil tasnya. Tanpa menungguku, ia berlari ke arah polisi itu. Sementara tanpa kusadari, aku mengikuti gadis kecil itu.
Aku masih mengunci pagar, sambil mendengarkan obrolan Inka bersama polisi itu di belakangku.
“Sorry, Princess! I’ve so many works to do today. I can’t pick you up on time.”
[Maaf, Putri! Papa banyak kerjaan hari ini. Papa gak bisa jemput kamu tepat waktu]
“It’s ok, Capt! I have a friend with me.”
[Gak papa, Kap! Ada teman bersamaku]
“A friend? Who? Him?”
[Teman? Siapa? Dia?]
“Makasih ya Dek, udah nemenin anak saya. Penjaga sekolah di sini?” kata Pak Polisi itu dengan ramah saat melihat padaku, sambil menggendong Inka.
Aku tertawa malu. Menggaruk belakang kepalaku. “Bu... bukan, Pak. Saya disuruh Bapak saya untuk mengunci pagar ini. Tadi kebetulan saya lihat adek Inka masuk, kuatir kecebur jadi saya temenin.”
Polisi itu memandang wajah Inka dengan serius. “Anak Papa bandel ya. Inka kan gak bisa renang. Harusnya gak boleh masuk situ. Bahaya!”
Bibir gadis kecil itu cemberut dan ia menatapku jengkel sebelum kembali berpaling pada Polisi itu. “He’s too noisy, Capt! I just wanna sit and wait you! I’m doing nothing.”
[Dia berisik, Kap! Aku cuma mau duduk dan menunggumu! Aku gak ngapa-ngapain]
“Pake bahasa kalo depan orang lain, Inka!” kata Polisi itu sambil menoleh padaku. “Maaf ya Dek, udah ngerepotin. Makasih udah nemenin anak saya tadi.”
Keduanya pun meninggalkan halaman sekolah. Tapi aku sempat melihat Polisi itu mengeluarkan kue pia besar dari kantung jaketnya, membukakan bungkusnya dan menyuapi putrinya. Pemandangan itu membuatku tersenyum.
Biasanya yang menjemput anak-anak di sekolah ini adalah ibunya. Jarang sekali ada ayah yang menjemput, apalagi sampai sesore ini. Apa gadis kecil itu sudah tak punya ibu?
Rasa penasaran membuatku menemui Inka lagi esok harinya. Ia tak lagi menunggu di atas jembatan, tapi hanya berdiri di luar pagar.
“Papa bilang, Inka gak boleh ke danau lagi,” katanya dengan mata melotot marah padaku. “Semua gara-gara Kakak ngaduin!” lanjutnya kesal.
Aku tertawa. Dengan santai, kubuka pintu pagar dan mengajaknya masuk. Untungnya, gadis keras kepala itu tak menolak. Apalagi setelah aku menyodorkan kue pia padanya. Senyuman merekah di wajahnya. Aku langsung tahu, kalau itu pasti salah satu kue kesukaannya.
Anak itu bernama Inka. Seharusnya ia masih duduk di kelas tiga SD, tapi karena kecerdasannya ia dibiarkan belajar di kelas lima. Tak ada masalah baginya, menyerap pelajaran yang harusnya bukan untuk usianya. Ketika aku tak percaya dan mengetesnya, anak cantik itu menjawab dengan mudah.
Ia tak punya ibu. Tapi ia punya mama tiri. Begitu yang ia ceritakan dengan polos padaku. Ia tak pernah menyalahkan papanya yang sering terlambat menjemput.
"Karena Papa bekerja untuk negara, bukan untuk Inka aja. Inka bisa nunggu, tapi orang lain belum tentu bisa," kata gadis kecil bersuara manja itu dengan nada tegas. Sepertinya kata-kata itu juga yang ia dengar dari sang Papa.
Kami menjadi akrab hari demi hari setelah itu. Inka mungkin anak kecil yang baru berusia sembilan tahun. Tapi ia benar-benar gadis luar biasa.
__ADS_1
Aku jadi rajin belajar bahasa Inggris karenanya. Semakin lama, aku makin bisa mengobrol walaupun dalam kalimat pendek dan sederhana. Kadang-kadang aku juga bertanya padanya. Gadis itu seperti kamus berjalan, apapun yang kutanya, ia selalu menjawab dengan baik.
“How come a big boy like you so stupid like this, hah?” ucapnya suatu hari. Wajah Inka nampak kelam.
“Apa?” Aku menatapnya tak mengerti.
Inka memutar bola matanya sebelum menerjemahkan. “Kok bisa ada anak cowok bodoh kayak kakak?”
“Eh!!?”
“Inka gak bakal mau nikah sama kakak.”
“Hah?”
“Kata Papa, kalo ada cowok lebih bodoh dari Inka, Inka gak boleh nikah sama dia. Inka pasti mati kesal.”
Mataku berkedip dua kali, menatap gadis kecil yang berceloteh ringan di sebelahku. Kakinya masih menjuntai bergoyang-goyang santai, sementara tangannya masih memegang kue pia kesukaannya yang sudah tinggal separuh.
“Inka... mau nikah sama... aku?” ulangku perlahan-lahan.
Inka mendongak. “Sekarang enggak deh. Kakak bodoh soalnya.”
Aku tersenyum malu. “Kalo aku nanti jadi juara kelas, jadi... enggak, enggak... nanti aku akan jadi juara umum dan pinter kayak kamu, kamu mau nikah sama aku, Ka?”
Tanpa ragu, gadis kecil itu mengangguk. “Sure!”
Aku terkekeh, menangkup pipi tirus gadis kecil di sebelahku. “Janji ya? Beneran janji ya? Kalo kamu gak mau nikahin Kak Dika, kakak bakal nyari kamu sampe ke ujung dunia.”
Gadis itu meronta, melepaskan tanganku. “Iiih! Rumah Inka itu di asrama polisi! Bukan di ujung dunia!”
Tawaku meledak mendengar kata-kata polosnya saat itu.
Tapi gadis kecil itu pergi, sama cepat seperti saat ia hadir dalam hidupku secara tak terduga. Ia tak lagi datang ke danau. Ia bahkan tak lagi bersekolah di SD itu lagi.
Inka pindah sekolah mengikuti papanya. Papanya ditugaskan ke daerah lain.
Hanya itu informasi yang kudapat dari guru kelasnya yang sengaja kutemui.
Gadis kecil yang pintar itu hanya datang sebentar dalam hidupku, tapi kesannya begitu mendalam. Bahkan selama bertahun-tahun, aku tak bisa melupakan gadis bernama Inka dengan lesung pipi kirinya yang manis.
Aku tak pernah sedetikpun melupakan janjiku padanya. Aku belajar dengan rajin dan mengubah kebodohan yang ia benci menjadi prestasi. Tak hanya di sekolah, aku bahkan menerima tawaran untuk menjadi model demi memperlihatkan pada Inka, di manapun ia berada, kalau aku, kakak yang ingin menikah dengannya kini bukan anak laki-laki bodoh lagi.
Begitu lulus dari STM Kimia, aku langsung diterima di sebuah perusahaan ternama berkat prestasi itu. Perusahaan bahkan mengizinkanku untuk bekerja sambil meneruskan pendidikan.
Lalu suatu malam seorang gadis bertubuh mungil muncul di restoran tempatku dan teman-teman biasa makan malam. Senyumnya mengingatkanku langsung pada Inka kecilku.
“Kak Andra, kenalin temanku nih! Namanya Inka Nurhayati. Dia baru seminggu di sini. Baru lulus SMA. Cantik kan temanku?” kata putri pemilik restoran yang memang akrab denganku sambil menarik Inka mendekat padaku.
Napasku terasa berhenti ketika mendengar nama itu. Apalagi ketika tatapan kami bertemu. Lesung pipit itu, *** lalat di sudut matanya...
Wajah mungil itu masih seperti dulu, tapi kini kedua mata beningnya ditutupi kacamata tanpa frame yang mungil. Ia tak lagi suka cemberut seperti dulu, justru senyum selalu mengembang di wajahnya, menambah kecantikannya berlipat kali lebih dari sebelumnya.
Sejujurnya, aku ingin mengatakan semuanya sejak awal. Kalau itu bukan pertemuan pertama kami. Aku adalah Andika, kakak yang pernah ingin ia nikahi.
Tapi aku takut... aku benar-benar takut tidak memenuhi kriteria lelaki sempurna seperti yang dia harapkan dulu. Sainganku begitu banyak, Inka dikelilingi banyak pria hebat.
Akhirnya... meski hubungan kami sempat terjalin, meski Inka dan aku sempat menjadi pasangan kekasih... tak ada yang bisa mengira semua harus berakhir.
Bahkan ketika aku mencoba sekuat tenaga memenuhi harapan Inka dan janjiku, justru gadisku berpaling pada seseorang yang lain. Lelaki yang justru jauh dari kriterianya. Lelaki yang sangat berbeda.
Inka sudah tak lagi mengingat janji kami. Ia bahkan tak menganggap kehadiran penting untuk dikenang. Ia melupakanku.
Aku justru membuat kesalahan terbesar dalam hidupku. Tak hanya membuat Inka pergi dari kehidupanku, tapi melukai perasaannya. Penyesalan berjuta kalipun tak mampu menggambarkan betapa ingin aku membalik semua keadaan ini, mengembalikan ke saat kami bertemu di restoran itu lagi.
Andai itu terjadi, akan kuceritakan siapa aku. Akan kuceritakan semua isi hatiku. Akan kukatakan jutaan kalimat untuk mengatakan betapa aku mencintainya.
Tapi sekarang, aku hanya bisa memandangi dirinya menjauh pergi dariku. Ketika ia akhirnya menyadari siapa aku, aku tahu semua sudah terlambat. Apalagi saat ia mengelus perutnya yang mulai mengembang, aku tahu... aku sudah menjadi lelaki bodoh yang tak pantas bersamanya.
__ADS_1
Inka, gadis kecil yang pintar itu sudah bukan lagi milikku.
Cinta pertamaku sudah bukan lagi milikku.