Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 39 - Malam yang Menakutkan


__ADS_3

“Ada apa, Inka? Ada apa?” tanya Arzi cepat begitu mendengarku.


“Jem... put In..ka, Mas! Hu hu hu hu.”


Aku tak peduli ketika melihat pemilik rumah dan istrinya yang baru muncul di ruang tamu mereka, memandangiku dengan iba.


“Kamu di mana?” tanya Arzi lagi. Suaranya sedikit bergetar.


Aku melepas gagang telepon dari telingaku, menoleh pada pemilik rumah. “Pak, hiks... Teman saya nanya alamat.. hiks..”


Pria itu tersenyum padaku. “Sini biar saya yang jelasin!”


Setelah aku menyerahkan gagang telepon padanya, istri pemilik rumah mendekatiku dan membawaku ke sofa tanpa peduli tubuhku yang basah. Lalu ia mengambilkan segelas air putih hangat padaku. Menenangkanku tanpa bertanya apa yang terjadi. Ia sempat masuk ke dalam lagi dan keluar membawa pakaian.


“Mbak ganti baju dulu, sambil nunggu temannya datang,” bisik perempuan berkerudung itu lembut sambil menyodorkan pakaian bersih itu padaku.


Aku menggeleng. “Tidak usah, Mbak. Saya mau langsung pulang saja.”


Pria pemilik rumah membujukku juga, tapi aku tetap menggeleng. Aku sudah merepotkan mereka datang semalam ini. Aku tak ingin menambahnya lagi. Lagipula, aku canggung memakai pakaian orang.


Akhirnya, istri pemilik rumah mengambilkan selimut besar dan jaket untukku. Tanpa peduli penolakanku, ia memakaikan jaket itu padaku dan juga memasang selimut menutupi seluruh tubuhku.


"Nanti Mbak masuk angin. Bibir Mbak udah sebiru itu, wajah Mbak juga udah pucat banget. Bahaya."


Setelah itu aku diam seribu bahasa. Aku sedang datang bulan, dan aku benar-benar takut mengotori selimut bersih itu dengan noda yang mungkin membanjir keluar karena tubuhku yang basah.


Tapi istri pemilik rumah malah duduk di sisiku, memegangi kedua tanganku yang dingin. Ia melirik tas plastik lusuh di pangkuanku. Mungkin ingin bertanya, tapi kuatir aku tak suka, jadi ia diam saja.


Tas plastik itu berisi perhiasan yang kutemukan di lapangan tadi. Karena tak membawa apapun, aku memungut plastik yang ada di sekitar tempat itu. Memasukkan semua perhiasan itu ke dalamnya.


Tapi itu tak lagi penting.


Aku benar-benar kedinginan sekarang. Meski terbungkus oleh jaket dan selimut, tubuhku mulai bergetar. Makin lama makin kuat. Bibirku tak bisa menyembunyikannya.


Saking dinginnya, kepalaku mulai berdenyut-denyut tak nyaman dan dadaku seperti diisi batu. Sesak. Perlahan, kusandarkan kepalaku yang makin berat ke sofa.


Saat ini aku hanya ingin Arzi segera datang, membawaku pulang dan meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Aku benar-benar tak menyangka, Andra yang dulu selalu bersikap lembut padaku bisa setega ini.


Tak sampai satu jam, aku mendengar suara deru mobil melaju kencang dan berhenti dengan decitan keras di depan rumah itu. Aku segera bangun dan duduk tegak di sofa, sementara pria pemilik rumah keluar menyambut Arzi.


Dari suara di luar, kurasa mereka saling mengenal karena sayup-sayup aku bisa mendengar suara kaget si pemilik rumah saat melihat Arzi.

__ADS_1


“Assalamualaikum!” Suara Arzi kemudian terdengar lebih dekat dan sedetik kemudian aku melihatnya muncul di pintu.


“Waalaikum salam,” jawab istri pemilik rumah yang duduk di sampingku.


Arzi mengenakan jaket hitam, kaos dan jins biasa. Penampilannya tak serapi biasanya. Ia seperti baru bangun tidur karena rambutnya saja masih acak-acakan dan wajahnya kusut. Tapi bagiku, saat ini dia bagai malaikat penolong.


Airmataku yang tertahan cukup lama kembali jatuh tak terbendung lagi. Bergegas Arzi mendatangiku, ia bersimpuh di depanku dan menatapku heran.


“Ada apa, Inka? Kenapa semalam ini kamu ada di sini?” tanya Arzi dengan wajah dipenuhi kekuatiran.


Aku menunduk. Masih sesegukan. Sulit sekali bicara. Tapi akhirnya aku menyebut satu nama. “Kak... Andra.”


Mendengar itu, Arzi menghela napas panjang. “Tapi dia gak nyakitin kamu kan?”


Aku menggeleng. Tapi tangisku tetap tak bisa kukendalikan. Sambil duduk aku berusaha menenangkan diriku. Sulit sekali. Dadaku mulai sesak, sakit rasanya setiap kali menarik dan menghela napas. Ada bunyi mulai terdengar.


Kening Arzi berkerut saat ia melihatku lagi. “Nanti kita bicara lagi.”


Arzi berdiri dan menyalami si pemilik rumah. “Ini calon istri saya, Mas. Yang kemarin diumumkan di mesjid oleh Pak Haji.”


Si pemilik rumah terbelalak. “Oh, benarkah? Masya Allah... kami gak tau Mas Arzi. Maaf kalau kami gak mengurus Mbak dengan baik.”


Arzi menggeleng. “Ini aja saya sudah bersyukur banget Inka ketemu sama Mas dan Mbak di sini. Alhamdulillah. Makasih banyak.”


Keduanya tersenyum pada Arzi. “Sama-sama, Mas. Apapun yang terjadi, bersabar ya Mas. Kasian Mbaknya itu. Tadi benar-benar ketakutan,” kata pria pemilik rumah.


Dibantu istri pemilik rumah, aku masuk ke dalam mobil. Tanganku menggenggam erat plastik lusuh tadi. Jaket dan selimut juga tetap kupakai karena pasangan itu tahu aku membutuhkannya.


Di dalam mobil, kupejamkan mataku segera. Kepalaku sakit sekali. Sampai kurasakan tangan Arzi meraba dahiku.


“Kamu demam, In. Kita langsung ke klinik ya.”


Aku tak menjawab. Aku benar-benar lelah dan mengantuk. Kupikir sudah ada Arzi yang menjagaku maka sebaiknya aku tidur sebisaku walau hanya sebentar.


Besok aku masih harus bekerja.


Aku tahu Arzi menyetir mobil dengan kecepatan tinggi. Tapi aku tak bisa mengatakan apapun.


Aku juga tahu ia menggendongku turun dari mobil. Hanya mataku sangat berat. Tak ada yang bisa kulakukan selain berbaring di dadanya yang hangat.


“Inka, Inka... “


Seseorang memanggilku. Itu bukan Arzi.

__ADS_1


Dirga.


Aku mencoba bicara. “Mas... “


“Iya Inka, ini Mas Dirga.”


Kukedipkan mataku dan terbuka. Kilatan cahaya terang membuatku menutup mata lagi. Sekali lagi kucoba, dan wajah Dirga terlihat olehku. Ia tersenyum hangat.


Mas Dirga... Kakakku ada di sini.


Hidungku terasa panas lagi dan airmataku jatuh seketika. Lalu susah payah aku mengatakannya. “Kak... Andra jahat! Jahat! Jahat sama aku.. “


Hanya itu sebelum kegelapan datang lagi. Tapi aku bisa mendengar bisikan Dirga. “Istirahatlah, Inka! Istirahatlah!”


Kelelahan, akhirnya aku tertidur. Saat kantuk menyerangku, aku bisa merasakan tangan-tangan yang bergerak mengurusku. Entah apa yang mereka lakukan, karena aku hanya merasakan kenyamanan dan perlindungan.


Alhamdulillah. 


Kata Arzi, bersyukurlah meski sesempit dan sesulit apapun keadaanmu karena selama masih bernapas, itulah rezeki terbaik. Dan sebelum gelap sepenuhnya menguasaiku, aku mengucapkan terima kasih itu pada Sang Maha Pengatur Nasib.


Tapi malam itu, aku berulangkali terbangun dengan menjerit. Mimpi buruk menderaku semalaman. Seakan-akan ada seseorang berwajah hitam tengah mengejarku.


Aku takut sekali. Dadaku terasa sesak, tubuhku terasa seperti terbakar dan tenggorokanku sakit sekali.


Tapi seseorang memegang tanganku sepanjang malam. Aku tidak tahu siapa. Tubuhku yang terasa panas dan tak nyaman, mulai merasa sejuk ketika kurasakan sesekali ada handuk hangat menyapu wajahku lembut. Perlahan aku juga bisa bernapas normal lagi.


Beberapa jam kemudian, aku terbangun karena mimpi buruk lain. Aku bisa melihat Arzi duduk bersama Dirga. Mengobrol tak jauh dari tempat tidurku. Mereka tak tahu kalau aku sudah bangun.


“...isinya perhiasan, Mas. Ada nama mantan pacarnya di situ.”


Arzi mengangguk. “Iya, saya sudah lihat juga.”


“Apa Mas gak mencoba bicara dengan Andra? Dia mungkin masih ada di luar.”


“Tidak sekarang, Mas. Saya sudah pernah berusaha. Tapi setiap kali saya mencoba bicara, dia selalu ingin menyelesaikan dengan kekerasan. Sekarang lebih baik saya hindari dulu. Biar saya fokus urus Inka dulu. Setelah saya dan Inka menikah, saya akan menemuinya lagi.”


“Kalau dia mikirin Inka, gak seharusnya dia memperlakukan Inka seperti itu” Kepala Dirga berpaling padaku, membuatku memejamkan mata dengan cepat.


Suara obrolan mereka terputus. Hanya deru AC dan jangkrik di luar gedung yang terdengar.


Lama sekali, baru aku mendengar suara Arzi.


“Untuk pertama kalinya saya benar-benar merasa marah, Mas Dirga. Saya berjanji apapun yang terjadi, saya akan selalu menjaga Inka... “ Hening lagi. “...saya akan menjaganya,” ulang Arzi.

__ADS_1


Suaranya pelan, tapi janji itu terdengar bagai gema besar di telingaku.


Dua titik air mengalir keluar lagi dari mataku. Bukan tangis ketakutan, apalagi kesedihan. Ini keharuan dan terima kasih. Untuk pria yang akan menjadi suamiku.


__ADS_2