Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 48 - Perjalanan ke Kampung


__ADS_3

Pulang dari rumah sakit, setelah serangkaian pemeriksaan kesehatan, aku dan Arzi memilih langsung ke kampung halamannya.


Tadinya aku mengira Arzi lahir dan dibesarkan di lingkungan kota yang modern. Ternyata tidak. Meski memiliki rumah di Jakarta, orangtua dan keluarga besar Arzi ternyata tinggal di kampung yang berjarak sekitar 5 jam dari Jakarta menggunakan kendaraan pribadi.


Karena kondisiku yang masih belum sepenuhnya sembuh, Dirga dan Arzi memilih menggunakan kendaraan pribadi. Mereka mengemudikannya bergantian. Setelah Dirga mengantar kami, dia akan menginap dan berlibur di kota-kota terdekat, Cirebon, Majalengka dan Bandung. Ia akan menjemput kami nanti saat pulang ke Jakarta lagi.


"Kenapa tidak ikut menginap di kampung saya saja, Mas?" tawar Arzi saat kami dalam perjalanan.


Dirga menggeleng. "Sudah lama saya ingin ke Cirebon. Jalan-jalan mencicipi makanan khas yang enak-enak itu. Kapan lagi kalau bukan sekarang. Mumpung liburan."


Aku tersenyum simpul. Aku tahu alasan Dirga menolaknya. Dengan alasan mengantar kami, ia bisa memastikan ke mana Arzi membawaku. Papa tidak mungkin melepaskanku bersama Arzi begitu saja meski kami sudah menikah.


Sambil mengobrol dengan Arzi yang duduk di depan, sesekali Dirga melirikku dan tatapan kami bertemu. Aku memilih lebih banyak diam, hanya tersenyum padanya.


Walaupun bagaimana, Dirga pernah mencintaiku. Mungkin hingga saat ini, perasaan itu masih ada.


Sebenarnya jika bisa, aku ingin menghindar. Tapi aku tahu Dirga tidak akan pernah membiarkannya. Meski itu artinya setiap hari ia harus menahan rasa sakit. Aku tahu soal itu, begitu juga Arzi.


Karena itu kami sepakat untuk tidak terlalu menunjukkan kemesraan di depannya. Paling tidak sampai Dirga menemukan sendiri tambatan hati yang sesungguhnya.


"Tapi nanti istirahat dulu sebentar di rumah saya, Mas. Setidaknya sholat dan makan dulu."


Dirga melirikku melalui kaca spion. "Gimana, Ka? Boleh gak?"


Aku tertawa. "Ya bolehlah, Mas. Kalo Mas Arzi aja sampe nawarin nginep, apa hak aku ngelarang sekadar makan dan sholat?"


"Kalau begitu, baiklah... ke Cirebon dari kampung Mas kira-kira sejam sampai gak?" tanya Dirga pada Arzi lagi.


Arzi mengangguk. "Iya, kira-kira segitu lamanya kalau santai dan kena macet dikit di Palimanan."


"Oooh, semisal saya perginya setelah sholat Ashar, entar Magrib keburu gak nyampe di Cirebon?"


Arzi terkekeh. "Di sini gak sama kayak di Kalimantan, Mas. Kalaupun kemagriban di jalan, sepanjang jalan banyak mesjid, bisa singgah."


Dirga tergelak. "Oh iya ya, kebiasaan! Saya suka lupa kalo ini bukan Kalimantan yang kanan kiri hanya ada hutan. Ha ha ha... Maklum, Mas Arzi... di belakang lagi bawa satu penghuninya."


"Apaaaa?!!" pekikku pura-pura marah.


Tawa dua pria di depanku membuat aku hanya bisa cemberut.


Karena aku tak bisa duduk lama, setiap satu jam mobil berhenti. Aku dan Dirga menikmati semua hal baru yang kami lihat. Kadang dibantu dengan penjelasan Arzi yang bernostalgia.


Aku membeli beberapa jajanan seperti kerupuk miskin, ubi cilembu, tape dan penganan khas Jawa Barat saat kami singgah di sebuah mesjid di Purwakarta untuk sholat Zuhur.


Melihat banyak boneka, aku juga membeli beberapa. Aku tahu dari Arzi kalau ia punya banyak adik sepupu dan keponakan.


Setelah berbelanja, kami makan siang di sebuah restoran lesehan ala Sunda yang juga menawarkan aneka seafood.


"Jangan makan aneh-aneh, Inka! Pencernaanmu belum pulih!"


Kening Dirga terus berkerut ketika aku memilih makanan. Bibirku hanya bisa maju dua senti saat tidak diizinkan memesan kepiting, udang goreng, bahkan ikan bakar pun tidak boleh.


Tak tega melihatku merana tidak bisa makan makanan yang kusukai, Arzi memilih memesan makanan yang sama denganku. Serba rebusan dengan nasi putih. Hampir tak ada gorengan atau makanan pedas.


Sementara Dirga justru sebaliknya. Semua yang kuinginkan tapi tak bisa kumakan, dipesannya dengan sengaja.

__ADS_1


"Semoga keselek! Semoga keselek!" doaku kesal. Terang-terangan di depan Dirga.


Dirga tak peduli. Ia membuka cangkang kepiting di depanku, dan menyedot dagingnya sambil meram melek, menggodaku.


Tak mau kalah, aku menoleh pada Arzi. "Mas, dulu bilang gak makan kepiting karena apa tuh... masih sub sub... "


"... Subhat," lanjut Arzi meneruskan ucapanku.


Tangan Dirga berhenti bergerak. Ia menatap Arzi dengan mulut menggembung penuh makanan.


Arzi tersenyum padaku. "Tapi yang dimakan Mas Dirga itu jenis rajungan. Kepiting yang hanya bisa hidup di laut. Kepiting lain, yang masih diperdebatkan halal haramnya itu yang hidup di dua alam, dan karena saya gak tahu kepiting di Kalimantan itu jenis apa, saya memilih gak makan. Itu subhat."


Dirga terkekeh dan kembali melanjutkan godaannya, malah sengaja mengacungkan daging yang berhasil ia pisahkan dari cangkang padaku.


Aku mendelik pada Arzi. "Kenapa gak bilang haram aja sekalian?! Biar rasain yang gak tau agama tapi rakus," sindirku.


Senyum di bibir Arzi masih terlihat. "Tidak boleh asal mengharamkan sesuatu, Inka. Apalagi jika itu makanan. Salah-salah kita bisa melakukan perbuatan mubazir. Itu juga dosa."


Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya bisa membuang pandang ke makananku sendiri. Meskipun Arzi membujuk, aku hanya makan sedikit.


Melihatku benar-benar kesal ternyata tak membuat Dirga senang. Ia mulai memisahkan sedikit daging rajungan dan menaruhnya di piring kecil. Juga beberapa potong cumi goreng tepung.


"Makanlah. Gak papa kalo hanya sedikit," kata Dirga lembut.


Mataku berbinar. "Beneran? Boleh?"


Dirga mengangguk.


"Makasih, Mas Dirgaaa!" Dengan gerak cepat, aku mulai makan semua yang ada di piring kecil itu.


Arzi berulangkali mengingatkan. "Pelan-pelan, Inka! Nanti keselek."


Tak ada yang pernah tahan melihatku merajuk. Bahkan Dirga sekalipun. Aku sempat melihat Arzi yang menatapku dalam-dalam, seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi akhirnya ia hanya tersenyum padaku.


Setelah makan siang dan minum obat, kami kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini Arzi yang mengemudi. Namun, sekitar setengah jam kemudian, mobil berhenti lagi.


Dirga melihatku tertidur di belakang dan posisi tidurku tidak baik untuk perut. Karenanya, Arzi membantuku memperbaiki tempatku tidur. Berkat jok mobil yang multifungsi, aku bisa tidur seperti berada di atas tempat tidur yang empuk.


Aku baru terbangun ketika mobil sudah berjalan di jalan raya yang lebih sempit. Suasana pedesaan juga sangat terasa saat aku melihat keluar. Motor dan mobil yang lewat hanyalah kendaraan keluaran lama. Hampir tak terlihat kendaraan mewah seperti di kota.


"Ini kampung saya, Inka," kata Arzi. Ada kebanggaan mengalir dari nada suaranya.


Aku memandangku keluar jendela. Memandangi jejeran sawah yang berada di kedua sisi jalan. Hanya beberapa rumah yang terlihat. Sebuah bendungan besar juga terlihat tak jauh dari sawah. Airnya cukup bening dan tak terlihat ada sampah. Bersih. Sangat mengejutkan masih ada air sebening itu di sini.


"Makin ke atas, airnya makin bening," kata Arzi lagi sambil menunjuk ke arah pegunungan.


Aku menatapnya. "Apa kita akan ke gunung itu?" tanyaku.


Arzi menggeleng. "Tidak kali ini. Kamu masih kurang sehat. Nanti saja. Ada banyak kesempatan nanti untuk kita sampai ke sana. Keluarga Ibu saya banyak yang tinggal di sana. Kita bisa silaturahmi sambil jalan-jalan."


Kuanggukkan kepalaku. Lalu kembali melihat keluar jendela.


Semakin masuk ke kampung Arzi, suasana pedesaan makin terasa. Semakin banyak pepohonan, sawah dan lebih sedikit rumah penduduk. Bahkan di sekitar alun-alun kampung Arzi, aku hanya menemukan kantor fasilitas umum seperti kantor Lurah, kantor pos, mesjid, pos polisi, Puskesmas dan rumah Karang Taruna.


Saat melihat sebuah gedung berbentuk sekolah, Arzi menunjuk dengan penuh semangat.

__ADS_1


"Itu pesantren Abah, Pak Kyai yang juga kakek saya. Saya dulu belajar di situ. Sebelum nerusin ke pesantren yang di Tasik. Nanti kita akan ke situ. Mau kan?"


Aku hanya mengangguk pelan. Memandang gedung sekolah itu. Meski terlihat tua, tapi kondisinya masih cukup terawat. Banyak tanaman dan pohon yang tersebar di sekitar gedung itu. Sungguh asri dan nyaman.


Aku bisa membayangkan Arzi duduk di bawah salah satu pohon itu, bersandar sambil mengaji atau mengulang pelajaran. Aku tak mendengar obrolan Arzi dan Dirga di depanku sampai mendengar kata 'bandel'.


"... Bandel juga, Mas. Gak keitung berapa kali saya dibotakin gara-gara melanggar," kisah Arzi dengan tawa malu.


"Hah dibotakin? Maksudnya?" tanya Dirga heran.


"Jadi kalo ada santri yang melarikan diri, melanggar jam malam, hukumannya dibotakin, terus disuruh bersihin lapangan atau ngisi air di bak. Gak sakit sih. Cuma ya malunya itu."


Aku cekikikan. Dirga terkekeh.


"Kok bisa sih? Gak nyangka Mas bisa bandel juga."


Arzi menatapku sekilas. "Ya namanya remaja, Mas. Apalagi sejak saya kecil, udah dibawa orangtua bolak balik ke Jakarta. Udah kenal Aldiron, udah kenal pelem remaja. Begitu ada pengumuman misbar, demi apa juga dilakuin. Hiburan zaman itu kan hanya begitu."


Ganti aku yang bingung. "Misbar? Aldiron? Itu apa, Mas?"


"Ha ha ha ketahuan beda zaman banget. Misbar itu layar tancep, Sayang. Nontonnya di lapangan. Kalo Aldiron itu... sekarang orang-orang menyebutnya Blok M," kata Arzi menjelaskan. Memanggilku dengan panggilan yang harusnya tak ia ucapkan di depan Dirga.


Aku berusaha mengacuhkan rasa tak enak di hatiku karena panggilan itu. "Aku tahu kalo layar tancep. Nontonnya sambil pasang obat nyamuk kan? Tapi Mas... mmm... aku tahu itu pas nemenin Papa tugas. Masih SD apa TK gitu ya? Pokoknya waktu itu kita harus nginep gitu."


Dirga tertawa. Arzi juga. Sepertinya Dirga tak terlalu peduli soal panggilan itu.


"Bener-bener anak Papa, nemenin sampe ke desa-desa juga?"


Aku mengangguk. "Yep, kalo Papa lagi tugas keluar kota lebih dari sebulan, aku biasanya ikut."


"Sekolahmu?" tanya Arzi heran.


Dirga yang menjawab santai. "Inka itu jenius, Mas. Dari kecil udah pinter. Dia sekolah hanya beberapa hari dalam sebulan, lebih banyak di rumah baca buku. Tetap aja semua pelajaran bisa dilalapnya."


Arzi menoleh padaku lagi. "Apa dulu kamu gak suka ke sekolah, Yang?"


Aku hanya tersenyum simpul. Dirga yang kembali menjawab pertanyaan itu.


"Dari kecil Inka sakit-sakitan, Mas. Kena hujan dikit, demam. Salah makan dikit, muntah-muntah. Sebut aja nama penyakit anak-anak, hampir semua dia sudah ngalamin. Daya tahan tubuhnya sangat rendah. Makanya saya pilih ngambil kedokteran. Biar anak keras kepala tapi penyakitan ini ada yang ngurus."


Kalimat itu keluar dari bibir Dirga begitu ringan. Tapi aku dan Arzi sama-sama terdiam. Mata Arzi tampak fokus mengemudi. Sementara aku menatap keluar jendela mobil.


Dirga menjadi orang terakhir yang menyadari kalau kalimat terakhirnya mengandung isi hatinya yang tak sadar ia keluarkan. Ia melirikku dan tersenyum masam. Meminta maaf secara tak langsung. Aku hanya membalasnya dengan gelengan kecil dan senyum tipis.


Yang jelas, Arzi kini semakin tahu. Perasaan Dirga padaku bukan hanya perasaan baru yang ia akui setahun dua tahun, tapi sesuatu yang juga menentukan keputusan dalam hidupnya sejak dulu.


Jika ada lelaki yang bisa mengubah jalan hidupnya demi seorang perempuan, siapapun akan paham arti penting perempuan itu baginya.


Aku tahu sulit bagi Arzi untuk menerima kedekatanku dengan Dirga. Karena bagaimanapun, ia bukan keluarga yang sedarah denganku.


Tapi untuk bisa melepas Dirga seperti aku melepas Andra, aku belum siap. Bagiku, Dirga jauh lebih berharga. Dia kakakku, temanku dan juga pengganti papa untukku. Kini, ia juga dokter pribadiku.


Suka atau tidak, aku hanya berharap Arzi bisa menerima itu.


*****

__ADS_1


 


 


__ADS_2