Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 31 - Hari-hari Penantian


__ADS_3

Ketika tante dan pamanku menikah, aku sering bingung melihat mereka malah bertengkar dengan calon pasangannya menjelang hari pernikahan. Padaku, justru sebaliknya.


Setiap malam, aku dan Arzi mengurus semua persiapan pernikahan. Mulai mengambil foto berdua, membuat daftar undangan sampai merencanakan bagaimana kami melewatkan 14 hari setelah hari pernikahan itu.


Tak ada rencana romantis, malah dipenuhi dengan janji bertemu dokter, jadwal periksa, berkenalan dengan keluarga Arzi di kota A, B, C dan terakhir ada sisa tiga hari kami akan berkeliling Jakarta. Arzi menyimpan itu sebagai kejutan untukku. Seorang anak asli Kalimantan yang hanya ke Jakarta untuk urusan pekerjaan.


Tak ada pertengkaran. Tidak ada sama sekali. Bahkan ketika beberapa hal tak sesuai rencana. Selalu ada kompromi di antara kami berdua.


"Maaf Pak, hari ini gak bisa ambil foto. Aku dan Hans ada acara makan malam dengan klien."


"Iya gak papa. Perlu dijemput?"


"Hmmm... Gak usah, Pak. Biasanya langsung dianter pulang sama Hans atau supir."


"Oke, kalau begitu besok saja kita sarapan bareng gimana? Saya jemput," kata Arzi. Aku menyetujui.


Sampai sekarang aku masih segan memanggilnya mesra selain 'Pak', dan Arzi tak pernah memaksa. Semua selalu dilakukan Arzi dengan perlahan.


Ketika aku makan terlalu lama, ia akan menunggu dengan sabar, tak pernah mengatakan kalau setelah itu ia sampai ditegur atasannya karena kembali dari makan siang terlalu lama.


Saat aku membuatnya menunggu demi meeting yang tak jelas kapan selesainya, Arzi akan melakukannya tanpa keluhan sama sekali. Aku sampai heran, orang ini punya stok sabar berapa banyak sih?


Tapi mungkin karena itulah, aku mengikuti caranya. Aku juga belajar berkompromi untuk menyesuaikan dengan dirinya. Karena Arzi selalu mengusahakan kami bertemu sekali dalam sehari, aku pun selalu mengusahakannya.


Daftar undangan kami berdua tidak banyak. Aku bingung harus mengundang siapa karena acara kami memang cukup sederhana. Hanya ijab kabul. Kami lebih fokus pada urusan perawatan kesehatan.


Nanti setelah satu bulan baru ada pesta. Itu juga pesta yang direncanakan Papa dan Mama. Karena itu untuk acara pernikahan, kami hanya mengundang teman-teman terdekat dan itu tidak banyak.


Padahal di saat yang sama, sudah berkali-kali Ibu kost memberitahuku. "Andra tadi datang, Inka."


Untungnya aku selalu berhasil menghindarinya. Aku masih bingung bagaimana cara memberitahunya. Ia pasti mencari penyebabnya, padahal bukan salah Arzi yang hadir di tengah kami atau dirinya atau diriku. Takdir kami yang menyebabkannya.


Sampai kapanpun kalau hubungan kami tidak bisa dilanjutkan, takkan pernah ada kebahagiaan di antara kami.


Tapi untuk bertemu langsung, apalagi untuk menjelaskannya, aku tak sanggup.


Saat ini aku hanya ingin membangun hubungan lebih baik dengan Arzi sampai aku tak lagi terlalu canggung padanya.


Kemanapun Arzi mengajakku, aku selalu berusaha mengatur jadwal agar bisa mengikutinya.


Setiap hari kami sarapan bersama, lalu Arzi mengantarku bekerja walaupun hanya sampai di tempat parkir. Siangnya, kami jarang makan siang bersama. Hanya satu dua kali. Kadang aku yang kesulitan meluangkan waktu.


Tapi Arzi selalu mengirim makanan melalui orang-orang suruhannya. Entah itu supir, atau teman kerjanya. Uniknya, Arzi selalu mengirim dua porsi makanan yang ditujukan 'Untuk dua gadis ABS'. Hanya itu. Dan yang menerima selalu Ratih.


Sore hari, seminggu 3x, aku dan Arzi mengikuti pengajian. Aku yang belajar mengaji dan calon suamiku sibuk sendiri dengan urusan jamaah pria yang biasa mereka sebut sahabat ikhwan. Malah banyak yang mengira kami datang sendiri-sendiri.


Walaupun awalnya tak terlalu mengerti, tapi perlahan-lahan aku menyukai kegiatan baru ini. Buatku yang masih terbata-bata saat mengaji, mendengar orang lain mengaji dengan lancar sungguh menenangkan. Aku juga ingin bisa mengaji selancar seperti mereka secepatnya.


"Nanti, nanti pasti kamu bisa, In," kata Arzi saat kami baru pulang dari pengajian.


"Kapan?" tanyaku tak sabar.


"Tergantung dirimu sendiri. Al Qur'an itu mukjizat, semakin sering dibaca, maka semakin membuat kita menyukainya. Semakin sering dipahami, semakin kita bahagia. Semakin sering membacanya, semakin fasih dengan sendirinya. Yang penting dengar, baca dan pahami."


"Benarkah?" tanyaku tapi sedikit tak percaya.


Arzi hanya mengangguk-angguk. "Nanti tapi... nanti."


Hari-hari berlalu tanpa terasa. Arzi sudah menjadi bagian dari rutinitasku. Tapi hanya beberapa orang saja yang mengetahui hubungan kami sejauh ini karena kami memang jarang menunjukkan kebersamaan di tempat umum. Bahkan Hans dan Pak Guruh sempat kaget ketika aku memberitahunya, beberapa hari setelah kembali dari Balikpapan.


"Sorry, Hans. I can't tell you the reason. But, I didn't know about Andra's family until I met them. Unfortunately, we can never be together."


[Maaf, Hans. Saya gak bisa kasih tahu alasannya. Tapi, saya tidak tahu tentang keluarga Andra sampai saya ketemu mereka. Sayangnya, kami takkan pernah bisa bersama]

__ADS_1


Hans hanya mengangguk-angguk. Berusaha memahamiku. "Whoever you choose, make sure he will always support you as a woman, Inka. Not just a wife he has."


[Siapapun yang kamu pilih, pastikan dia selalu mendukungmu sebagai wanita, Inka. Bukan hanya menjadi istri yang ia miliki.]


Pak Guruh berkomentar lebih sarkas. "Pacarannya sama siapa, nikahnya sama siapa. Kamu benar-benar sulit dipahami, Ka."


Aku hanya tersenyum menanggapi hal itu. Tapi demi kenyamanan, aku meminta keduanya merahasiakan rencanaku dan Arzi dari semua orang, terutama Ratih.


Aku tahu itu sedikit egois, hanya saja aku mulai mendengar sesuatu yang tidak enak belakangan ini tentang dirinya dari teman-teman dekatku. Baik di kantor, atau dalam lingkaran sosial kami berdua.


Aku berusaha melihat rumor itu dari berbagai sudut pandang dan tetap saja aku belum melihat hal itu sebagai sesuatu yang baik.


Banyak yang bilang, Ratih sering memberitahu Andra tentang keberadaanku. Dia juga yang memberitahu alamat rumah Paman Hakim padanya.


Mungkin maksudnya baik, tapi sungguh aku jadi bertanya-tanya, dia itu asistenku atau asisten Andra. Tetap saja karena ia lebih tua, aku merasa tidak enak bertanya padanya.


Sampai suatu sore, saat itu aku hendak pulang dan Arzi sudah menungguku di mobilnya.


Hari ini ada jadwal mengaji, kami akan langsung ke sana. Mobilnya biasa menunggu di jalan, tidak masuk ke tempat parkir.


Tapi belum lagi aku keluar dari kantor, Andra sudah berdiri di lobby kantor. Tampak lega ketika bisa melihatku.


"Sudah mau pulang kan? Sekalian yuk! Saya anterin."


Aku tak mungkin menghindar lagi. Tas sudah tersampir di bahuku dan aku juga sudah memakai sepatu. Sepatu slip-on yang dibelikan Arzi beberapa hari yang lalu.


Kata Arzi, kalau pergi mengaji, lebih baik memakai sepatu jenis ini, lebih mudah dilepas dan dipasang. Juga tidak berbahaya saat naik turun tangga.


"Aku ngaji hari ini, Kak. Udah ditunggu... teman," kataku beralasan.


Andra menatapku dengan sorot mata kecewa. "Hari ini ulang tahun Mas Yudi, dia ngajak kita makan-makan. Mereka sudah nunggu di mobil."


Apa? Andra tidak sendiri?


"Tapi Kak... temanku juga udah nunggu. Gak enak." Aku melirik ke arah mobil putih yang sedang parkir di bawah pohon pinggir jalan. Aku sudah hafal siapa supirnya.


Andra yang menyusulku juga melihat ke arah tatapanku. "Siapa dia?" tanyanya. Ada nada cemburu terdengar.


Aku menatap Andra, menghela napas. "Aku mau ngaji, Kak. Bukan main-main." Setelah berkata seperti itu, aku mendatangi Yudi. Sahabat kami yang berulangtahun. "Mas, maaf ya... aku gak bisa ikutan. Udah telanjur janjian sama ustad di mesjid."


Yudi juga menatapku tak percaya. "Kamu ngaji?"


Sambil tersenyum aku mengangguk. "Iya. Karena itu... aku ngucapin di sini aja ya, Mas. Selamat ulang tahun, semoga panjang umur dan berlimpah berkah. Selamat bersenang-senang ya Mas." Aku menyalami tangan Yudi yang masih keheranan sebelum mengangguk pamit dan berlari menuju mobil Arzi secepat yang aku bisa, tanpa peduli lagi.


Begitu masuk, "Pak, buruan! Langsung pergi aja deh!" kataku sambil memasang sabuk pengaman.


"Tapi temanmu ke sini tuh," kata Arzi yang melihat dari kaca spion. Akupun menoleh, Andra tampak berjalan mendekati mobil Arzi. Oh tidak!


"Sudah, Pak! Buruan. This is not the right time to tell everyone."


[Ini bukan waktu yang tepat memberitahu semua orang.]


Arzi sempat ragu, tapi kemudian ia segera membebaskan rem dan mobil melaju meninggalkan Andra yang nyaris berhasil mendekati mobil.


Kukira Arzi akan bertanya soal Andra dan teman-temannya itu, tapi tidak sama sekali. Ia malah sibuk menceritakan soal telepon Papa yang mengabari soal urusan administrasi pernikahan.


"Tapi tenang saja, keluarga saya sudah mengirimkan semua yang diperlukan di sini. Kita nunggu aja."


"Padahal waktu itu kalo gak salah aku denger tuh Pak Haji bilang jika ada yang mau menikah gak boleh dipersulit ya Pak, karena menikah itu ibadah. Eh ini malah negara yang ngeribet-ribetin."


"Haha... Enggak juga sih, In. Tujuan negara mungkin memastikan mereka yang menikah itu sudah sesuai informasinya. Usia saya kan gak lazim menikahi perempuan semuda kamu. Wajar kalau mereka berpikir yang enggak-enggak."


"Eeeh, itu Bapak tahu. Gak lazim. Jadi nanti Bapak harus hargai aku bener-bener loh ya. Harus!"

__ADS_1


“I do, My Future Wife. I’ll always respect you.”


[Tentu, Calon Istriku. Aku akan selalu menghargaimu.]


Arzi tertawa. Melihat tawanya itu, aku tiba-tiba merasa sesuatu yang hangat. Hubungan kami mungkin tak seromantis pasangan lain, tapi bersamanya aku selalu merasa tenang.


Usai pengajian, Arzi mengantarku hanya sampai depan gang. Aku ingin berjalan kaki masuk dan menyinggahi warung kecil untuk membeli beberapa keperluan.


Persediaan snack di kamarku sudah habis dan malam ini aku ingin memeriksa beberapa hal sambil makan makanan ringan.


Aku mengulang-ulang tahrim yang belakangan ini akrab di telingaku sambil memainkan ujung kerudung yang masih bergelayut di leherku, sampai tak menyadari ada mobil parkir di depan rumah.


Baru setelah berdiri di depan rumah, aku melihatnya. Saat aku akan naik tangga teras, pintu-pintu mobil terbuka dan empat perempuan muda keluar.


"Hei, kamu Inka ya?" tanya gadis berambut panjang ikal.


Aku mengangguk ragu-ragu. Melangkah turun lagi. Kubenahi kerudung yang hanya menutupi sebagian kepalaku itu agar tak jatuh.


Arzi memintaku berkerudung biasa dulu. Tak perlu langsung menutup semua. Pelan-pelan saja. Jadi aku sedikit heran melihat penampilan gadis-gadis yang turun ini. Mereka... cukup terbuka.


"Kamu pacaran sama Andra?" tanya gadis itu lagi sembari mendekatiku.


Dulu ya, sekarang tidak lagi. Setidaknya menurutku. Tapi apa urusan mereka?


"Maaf, Mbak. Itu urusan pribadi saya dan Kak Andra," kataku sambil tetap melangkah naik. Merasa tak perlu meladeni mereka.


Tapi rupanya itu membuat mereka gusar. Dengan kasar, perempuan yang bertubuh paling gemuk di antara mereka menarik kerudungku hingga aku tertarik turun.


Karena tidak seimbang, aku tersungkur jatuh di atas bebatuan. Lututku menghantam sesuatu yang menyakitkan. Kerudung panjangku juga direnggut hingga lepas dan jatuh melayang tak jauh dari tempatku tersungkur.


"Dasar tidak sopan! Aku belum selesai bicara, udah mau pergi aja." Perempuan berambut panjang ikal itu melangkah mendekatiku, diikuti tiga orang lainnya.


Mereka semua menatap aku yang masih merangkak di tanah dengan sinis.


"Andra itu pacarnya Santi! Jangan berani-berani dekati dia! Kamu itu hanya anak kecil aja! NGERTI!" seru yang lain sambil menunjuk wajahku.


Kututup mataku menahan emosi. Bukan karena cemburu. Tapi karena cara mereka ini. Aku anak Papa, seorang anggota polisi yang juga pelatih bela diri. Dirga saja tidak berani sembarangan menyebutku anak kecil, bahkan sekedar membentak. Sekarang mereka malah...


Aku berdiri, melirik lututku yang berdarah sebelum menatap keempatnya dengan tatapan tajam. "Saya mau dekati Kak Andra atau tidak. Mau pacaran atau putus dengannya. Itu urusan saya. Mbak-mbak ini gak ada hak ikut campur. Kalau Mbak merasa Kak Andra itu pacar Mbak. Jangan ke saya komplennya dong! Langsung ke orangnya! Kenapa dia masih deketin saya?"


"Eeeeh, dikasih tahu malah ngeyel!" Temannya yang dari tadi diam maju, gadis dengan rambut terikat maju dengan cepat. Tangan gadis itu terangkat, hendak memukul kepalaku. Tapi aku menangkap dan memutar lengannya. "Aaaw!! Aaw!!"


Mata ketiga temannya langsung berubah saat melihatku memuntir tangan gadis yang lebih tinggi dariku hanya dengan tangan sebelah. Mereka mundur beberapa langkah, membiarkan temannya mengaduh-aduh.


"Saya gak pernah mukul perempuan, walau saya ini perempuan. Tapi kalau kalian maksa, ayo sini! Biar tahu rasanya pake eye shadow hasil tinju. Sini! Ayo tunggu apa lagi!" tantangku dengan nada tinggi.


Suara ribut-ribut di halaman memancing beberapa penghuni rumah kost keluar. Bahkan tetangga juga ikut bermunculan. Ibu kost-ku berlari menuruni tangga, mendekati dan memegang bahuku.


"Ada apa, In?" tanyanya waspada sambil menatap keempat gadis di depannya.


"Eeeh, ini ada apa? Kok malam-malam begini rame banget?" Seorang pria setengah baya juga mendekati kami.


Kulepaskan tangan si perempuan dengan ikat rambut itu, dan keempatnya bergegas masuk ke dalam mobil. Mobil mereka melaju mundur dengan cepat, sampai-sampai menggilas kerudungku.


Aku menatap emosi pada mereka. Kerudungku, pashmina panjang berwarna putih yang dibelikan Arzi, kini sobek dan kotor. Aku memungutnya dan airmataku menitik.


Tak peduli apapun yang para perempuan itu inginkan. Arzi memberiku beberapa barang bukan untuk memenangkan hatiku, tapi untuk menutup tubuhku, kerudung ini salah satunya. Ia tahu pakaianku banyak yang masih terbuka dan tak punya banyak kerudung. Ia rajin membelikannya. Tak ada yang mahal, karena ia membelinya bersamaku. Mungkin lebih murah dari yang biasa dibelikan orangtuaku.


Tapi, ia membelikan semua itu selalu dengan menjelaskan fungsinya. Semuanya rata-rata untuk menunjang kebutuhan seorang perempuan. Perempuan yang dilindungi dari tatapan nafsu birahi. Dan sekarang aku marah, karena tak bisa melindungi pemberiannya.


Aku teringat para perempuan tadi. Rok dan celana yang mereka pakai semua pendek atau ketat, baju mereka berpotongan rendah, rambut terurai ke mana-mana.


Ah, tentu saja... mana bisa mereka menghargai arti sebuah kerudung. Aku menatap kerudung itu dengan rasa bersalah.

__ADS_1


__ADS_2