
Dulu waktu mendengar godaan bernada mengejek tentang para pengantin baru, aku selalu tak mengerti.
"Cieee, yang keramas! Semalam berapa ronde, Bang? Masih sanggup kerja?"
"Kayaknya ada yang harus beli penahan lutut nih! Hahaha!"
"Mata sampe berkantong gitu, Bang! Hati-hati lemas!"
Dan tawa berderai pun pecah di antara mereka. Aku juga ikut tertawa, tapi aku tak pernah mengerti mengapa hal-hal seperti itu yang dijadikan bahan bercanda.
Mungkin orang mengira aku gadis yang berpura-pura polos tak mengerti soal hubungan sex yang dilakukan suami istri. Soal itu aku pasti tahu.
Aku juga bukannya tak tahu kalau seorang anak dihasilkan dari hubungan sex dua orang berlawanan jenis. Yang tidak kumengerti adalah prosesnya!
Tapi aku tak pernah cerita pada siapapun soal ini. Di masa remajaku saat di sekolah, berdiskusi tentang sex adalah hal yang tabu. Apalagi untuk gadis sepertiku. Ini ditambah dengan pengetahuan Biologi yang hanya kuperoleh di sekolah menengah pertama.
Zamanku belajar saat itu, tak ada petunjuk detail mengenai proses terjadinya pembuahan. Kalaupun ada hanya saat ****** sudah sampai ke rahim. Tapi bagaimana ****** itu bisa sampai ke rahim, kami tak pernah tahu.
Menurut teman-temanku, semua itu baru dijelaskan saat di SMA. Lengkap dengan gambarnya sebagai contoh. Masalahnya... aku tak bersekolah di SMA, aku mengambil jurusan administrasi sejak masuk SMK. Jadi tak ada pelajaran IPA sama sekali dalam kurikulum yang kujalani di sekolah.
Kenakalan remajaku juga sebatas bolos dari sekolah, tak pernah ingin menonton film-film porno seperti teman-temanku yang lain. Aku tak suka. Jijik. Melihat orang berciuman saja aku ingin muntah. Apalagi sampai harus menonton... eeuwh! Tidak! Aku tak menyukainya sama sekali.
Sampai Andra mengajariku kalau sebuah ciuman bisa membuatmu merasa seluruh dunia berada dalam pelukannya. Hanya beberapa kali dan aku sempat merencanakan masa depan bersamanya. Barulah aku mulai paham. Bahwa mencintai itu artinya berbagi dalam bentuk apapun. Bahkan sesuatu yang terkesan menjijikkan.
Sayangnya cinta itu berakhir sebelum aku mengenal hubungan sex yang lebih jauh. Maka ketika Arzi menikahiku, aku berpikir sederhana. Selain berpegangan, sentuhan, pelukan dan ciuman, tak ada lagi proses yang lain. Itulah hubungan sex menurutku.
Karena Arzi tak pernah melakukan lebih dari itu.
Minggu pertama setelah pernikahan, kami memilih menghabiskan empat hari pertama di rumah dan tiga hari berikutnya di hotel dekat bandara Sepinggan yang menghadapi ke laut lepas.
Selama berada di rumah, tamu-tamu bergantian datang silih berganti jadi kami selalu berbaring dalam keadaan lelah. Papa bahkan sempat melarangku ikut menyambut tamu ketika dua hari setelah menikah, aku terkulai lemas setelah sempat terlambat makan karena tamu yang tak pernah berhenti datang. Jadi Arzi tak pernah melakukan apapun selain memeluk dan menemaniku tidur.
Pantai berpasir putih yang terdapat di belakang hotel tempat kami menginap selanjutnya mulai hari ketiga paska menikah, menjadi saksi malam-malam menyenangkan saat kami berpegangan tangan menikmati angin laut yang hangat atau makan malam berdua sambil mengobrolkan banyak hal menyenangkan. Ini hadiah dari paman-pamanku untuk kami berdua.
Hingga hari ketujuh, kami tetap menghabiskan semuanya seperti itu. Tapi seperti sebelumnya, Arzi tak pernah melakukan apapun lebih dari sekadar bersentuhan biasa.
Tapi di manapun kami berada, Arzi tak pernah lupa mengajakku beribadah bersamanya. Setiap waktu sholat tiba, ia mencium keningku mengingatkan.
__ADS_1
Aku mulai hafal, Arzi selalu mengaji saat Magrib, jadi setelah sholat biasanya aku bersandar di dada atau pahanya sementara ia mengaji. Aku suka bermanja-manja seperti itu. Anehnya Arzi tak pernah menolak.
Satu hal yang kusukai itu adalah perhatian Arzi yang tak pernah kudapatkan bahkan dari orangtuaku sendiri. Setiap waktu makan tiba, Arzi memastikan aku makan teratur.
Walaupun untuk itu ia kadang sampai menyuapiku. Tidak hanya makan pagi, siang dan malam. Tapi juga makan di antara waktu itu. Antara jam 9 pagi dan jam 3 sore. Coffee time istilahku.
"Karena makan teratur itu baik untuk pencernaanmu, Istriku." Itu alasannya setiap aku mengeluh kenyang.
Aku tak peduli soal itu. Selama aku bisa memeluknya kapanpun yang aku suka dan memintanya menggendongku sesekali, apapun yang inginkan aku patuhi.
Apalagi... aku baru tahu kalau aku sangat suka berciuman. Sesuatu yang kuanggap sebagai sesuatu yang menjijikkan di masa lalu, justru kini aku yang lebih sering mencuri ciuman dari suamiku.
Lagipula aku sadar betapa ringannya berat tubuhku dibandingkan orang normal. Karena Arzi hampir tak punya kesulitan berarti menggendongku atau membiarkanku saat menggelayutinya seperti anak kecil. Katanya, tubuhku seringan kapas.
Mungkin karena itulah, Arzi tak pernah benar-benar menjalani tugasnya sebagai suami di atas tempat tidur. Siapa yang tega meniduri istri kurus kering penyakitan yang rapuh sepertiku?
Aku bahkan sering terbangun saat ia sedang memandangiku diam-diam. Tatapan iba bercampur sedih terlihat jelas di sorot matanya. Dan si pengantin bodoh ini menerimanya begitu saja. Menganggap semua yang kami jalani adalah sesuatu yang normal bagi setiap pasangan pengantin.
Sampai di hari terakhir kami di Balikpapan sebelum menuju ke Jakarta esok paginya, aku sengaja memeluk suamiku lebih lama, lebih sering dan lebih intens. Saat-saat kami berdua mungkin akan berakhir besok pagi karena serangkaian acara akan menyambut kami di sana, yang sudah direncanakan keluarga Arzi jauh-jauh hari sebelumnya.
"Ada apa?" tanya Arzi yang saat itu sedang duduk membaca buku. Disentuhnya hidungku perlahan.
Arzi tersenyum. "We will. Di sana kita akan punya banyak waktu untuk ini, Sayang."
Aku tertawa kecil. Memilih untuk memeluk Arzi lebih erat lagi, sambil bergerak mencium bibir Arzi. Aku suka melihat ekspresinya yang selalu sedikit terkejut tiap kali aku melakukan gerakan romantis tak terduga. Wajahnya seperti anak kecil yang baru melihat sesuatu yang menyenangkan. Sesuatu yang baru kupahami setelah beberapa hari terakhir ini.
Tak seperti biasanya, kali ini aku tak langsung melepaskan pelukan dan berhenti menciuminya. Aku ingin mengeksplorasi kemampuanku yang baru ini dengan lebih berani.
Sepertinya Arzi terpancing. Ia mengangkat tubuhku, membalik situasi. Tangannya menjatuhkan buku yang sedang ia baca dan memindahkan tubuhku ke atas pangkuannya. Sambil tetap memelukku, bibir kami saling menjelajahi.
Intensitas yang semakin mesra, membuat sofa tunggal itu tak lagi terasa nyaman. Arzi juga merasakan itu, jadi ia menggendongku ke tempat tidur. Tanpa melepaskan bibirnya yang terus menempel di wajahku.
Dibaringkannya tubuhku dengan lembut ke atas tempat tidur, mulai mengambil dominasi yang kumulai. Ia menindih tubuhku sedikit lebih dekat, hingga aku bisa merasakan dada kami saling bersentuhan. Tubuhku menggeliat sedikit, menyesuaikan.
Arzi mengangkat wajahnya, melepaskan ciuman sesaat sambil menatapku. Aku mengeluh protes, dan kembali menarik leher Arzi. Arzi tersenyum dan kembali menunduk, tapi tidak untuk mencium bibirku lagi. Dengus napasnya terasa menyapu leherku, dadaku dan terus turun ke perut. Geli, tubuhku bergetar hingga tak sadar menjerit tertahan. Mendengar itu, Arzi kembali mencium bibirku.
Tangan Arzi juga sudah mulai berpindah. Menyentuh bagian-bagian yang selama ini asing. Sentuhannya membuat seluruh tubuhku seperti dikerubuti ulat bulu. Aku menggelinjang menahan deraan keinginan untuk sentuhan yang lebih intens. Seperti membaca keinginanku itu. Tangan Arzi bergerak seakan punya mata sendiri, membuat aku tak bisa menghentikan napasku yang mulai terengah-engah.
__ADS_1
Mengikuti gerakannya, tanganku juga mulai bergerak. Ingin mengenalnya lebih baik. Meraba tubuh yang bukan milikku. Sedikit terasa aneh, tapi cukup menyenangkan. Sampai tanganku terus turun ke bawah pinggang Arzi hingga menyentuh sesuatu yang...
"Ini apa?" tanyaku tiba-tiba.
Kepala Arzi yang sedang menunduk di antara dadaku yang sudah terbuka separuh terangkat. Matanya yang tampak beda itu memandangku heran.
"Ini loh... Apa ini?" tanyaku lagi sekali lagi memegang sesuatu yang berada di bawah sana. Bagian bawah tubuh Arzi yang terasa seperti batang kayu.
Arzi terdiam, menatapku. Aku tak bisa memahami makna sorot mata yang menjadi gelap itu. Ia berkedip dua kali. "Kamu gak tahu, Yang?" bisiknya dengan suara serak.
Aku melongok. "Ya makanya Inka nanya, Mas. Itu apaan sih?" tanyaku.
Aku mendorong tubuh Arzi untuk melihat apa yang baru saja kupegang itu. Sesuatu yang keras di balik celananya itu.
Tapi saat aku duduk di tempat tidur, Arzi malah langsung berdiri. Menghindari tanganku yang kini memegang udara. Ia tersenyum-senyum melihatku, sebelum tertawa terbahak-bahak.
Untuk pertama kalinya aku melihat dia tertawa sekeras itu. Aku jadi makin bingung. Setelah tawanya mereda, Arzi menggeleng-geleng dan menunduk untuk menciumku sekali lagi.
"My Stupid Bride, sudah ah! Cukup ngerjain saya. Belum mandi kan? Mau mandi barengan? Biar dapet jawabannya kalo pengen tahu."
Pipiku merona. Ini pertama kalinya aku mandi dengan seorang lawan jenis. Tapi itu terdengar menyenangkan, jadi aku mengangguk.
Tanpa menunggu lagi, Arzi duduk di tepi tempat tidur, memberi isyarat agar aku naik ke punggungnya. Aku menyambutnya dengan penuh semangat.
Baru setelah kami berada di kamar mandi yang memang didesain cukup luas dan modern dengan bak mandi besar dan shower, aku mengerti mengapa suamiku tertawa sekeras itu. Pantas ia menertawaiku. Pantas ia menatapku tak percaya seperti itu.
Meski sudah mendapat pelajaran singkat mengenali anatomi tubuh manusia terutama tubuh pria yang tak pernah kudapatkan di masa sekolah, aku justru berbaring dengan mata nyalang. Diam tak berani bergerak sepanjang malam. Berpikir dengan masih tak percaya. Sementara di sebelahku, Arzi terus tertawa tiap kali melihatku.
Kami masih belum melakukannya dengan benar. Itu tak semudah yang dikatakan orang. Bahwa semua akan terjadi secara alami. Bahkan Arzi juga merasakan kesulitan sendiri. Ketakutanku yang jadi masalah. Aku ngeri membayangkan benda itu saat... Aaah tidak!
Aku menutup wajahku dengan selimut mengingat jeritanku tiap kali Arzi berusaha. Wajahku terasa pias tiap kali mengingat adegan-adegan mulai dari kamar mandi hingga di kamar tidur tadi.
"Santai saja, Sayang! Masih banyak waktu!" bisik Arzi sambil memelukku.
Entah mengapa aku kini paham kenapa Arzi menyebutku 'My Stupid Bride'.
*****
__ADS_1