Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 61 - Kecurigaan


__ADS_3

Otomatis tanganku terjulur dan memegangi tangan Arzi yang sedang memegang gagang persneling.


"Ada apa?" tanya Arzi sembari menoleh.


Aku tetap membisu. Masih berusaha memahami situasi yang terjadi. Mungkin saja aku salah lihat. Tidak mungkin itu dia. Akupun menoleh pada Arzi dan menggeleng.


"Cuma pengen pegang tangan suami yang ganteng aja!" jawabku asal.


Arzi hanya tersenyum. Sepertinya ia mulai terbiasa dengan rayuanku.


Tapi malam itu aku terbaring nyalang di tempat tidur. Gelisah memikirkan pertemuan tanpa sengaja itu. Mungkin karena merasakan gerakan di sebelahnya terus menerus, Arzi juga terbangun.


Dengan mata mengantuk, kehangatan tangannya menyentuh pipiku. "Ada apa, Yang? Gak bisa tidur?"


Aku mengangguk.


"Ada yang sakit? Kamu ngerasain apa?" tanya Arzi lagi. Kali ini dia duduk dan matanya benar-benar terbuka lebar.


Aku tertawa kecil. "Enggak, Mas. Hanya gak bisa tidur. Masih keingetan anak-anak tadi."


Wajah Arzi berubah penuh senyum. "Ya udah deh, kita nyambi olahraga aja. Biar bisa tidur dan bisa punya anak seperti mereka."


"Olahraga sekarang? Gimana caranya?" tanyaku tak percaya, bagaimana bisa setelah bangun dari mengantuk yang terpikir malah olahraga? Tengah malam pula.


Arzi terbahak, sebelum menunduk dan menciumku. "Olahraga yang ini maksud saya... " Dan suaranya pun tenggelam dalam pelukan dan sentuhan yang membawaku ke langit yang tinggi, melupakan sejenak semua yang terjadi malam ini.


***


Tapi semua yang kulihat itu ternyata nyata.


Keesokan paginya, saat aku tengah berjalan keluar dari gang untuk berangkat kerja, aku melihatnya lagi.


Pria itu duduk di teras dan mobilnya terparkir di depan rumah itu. Aku langsung mengenali plat nomor itu. Tentu saja... Dulu mobil itu sering mengantar dan menjemputku.


Sungguh aku ingin segera kembali ke rumah setelah melihatnya. Tapi aku teringat kata-kata suamiku, bahwa tidak ada lagi hubungan di antara kami dan aku tak perlu takut menghadapi apapun. Masa lalu tidak perlu dihindari, karena akan selalu menjadi bagian dari hidup kami.


Tapi aku agak menyesal, tadi sebelum Arzi berangkat kerja, aku menolak ikut mobilnya karena ingin menyiapkan bahan masakan untuk sore nanti. Andai aku ikut dia, tentu aku tak perlu menghadapi orang itu lagi.


Tepat ketika aku berjalan melewati rumah dengan teras cantik itu, lelaki yang bisa kupastikan sekarang tak lain adalah Andra itu mendekatiku.


"Hai, lama gak ketemu!" sapanya ringan. Wajahnya terlihat tenang.


Aku menoleh. Teringat suamiku yang selalu menyapaku dengan salam dan kuputuskan untuk melakukan hal yang sama. "Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!" jawab Andra spontan.

__ADS_1


Ia masih tersenyum padaku seperti tak ada masalah. Sama seperti dulu. Dengan senyum seperti bayi tak berdosa.


"Mau kerja?" tanya Andra lagi.


Aku mengangguk.


"Aku anterin ya! Sekalian... aku juga mau kerja," katanya lagi menawarkan.


Aku menggeleng. "Enggak, Kak. Terima kasih!"


"Kenapa? Dilarang suamimu?" tebak Andra lagi. Senyuman yang sedari tadi kulihat menghilang seketika saat menyebut kata 'suami'.


Aku menggeleng lagi. "Bukan... bukan itu. Aku pengen ke tempat lain dulu, Kak. Bukan ke kantor."


"Ke mana?" desak Andra. Ia merangsek maju membuatku otomatis mundur beberapa langkah.


Aku tahu apapun alasannya, Andra akan terus mendesakku kalau aku terus memberinya alasan. Aku harus bersikap tegas padanya.


"Aku gak bisa ikut Kakak. Sekarang. Nanti. Kapanpun. Ke manapun," ucapku tegas.


Andra menatapku tak percaya sebelum ia tertawa pahit. "Dulu kamu malah memaksa ingin ikut saya ke manapun saya pergi, In."


"Dulu, tidak sekarang. Dulu saat aku belum tahu apapun." Aku berbalik, memutuskan untuk menyudahi percakapan kami. "Maaf, Kak. Aku harus pergi."


Tapi Andra tampak tak terima. Ia menjajari langkahku. "Kenapa, In? Kita kan gak berbuat yang tidak-tidak. Kita hanya bicara."


Tepat saat itu, aku sudah tiba di tepi jalan. Andra masih berusaha bicara padaku. Tapi tiap kali ia menatapku, aku memalingkan wajah darinya.


Ketika aku mulai bingung cara menghadapinya, sebuah mobil berhenti di depan kami. Mobil dengan warna oranye terang yang kukenal baik. Mobil dinas suamiku.


Itu mobil Arzi. Aku berlari menyongsongnya dan masuk ke mobil tanpa melihat ke Andra lagi. Hatiku terlalu senang melihatnya. Belum pernah seingin ini hatiku bertemu dengannya.


"Ya Allah, makasih Mas udah balik lagi! Inka ampe bingung mau ngomong apa sama dia," cerocosku sambil memasang sabuk pengaman.


Arzi tertawa sambil mulai mengemudi. "Bukannya seneng ketemu mantan?" godanya jenaka. Tak ada kesan cemburu di wajahnya. Syukurlah.


Giliran aku terbahak. "Bukannya Mas cemburu ya Inka ketemu mantan?" balasku tak mau kalah.


Kami sama-sama tertawa lepas. Sebelum akhirnya mulai bicara dengan serius.


"Saya tadi sempat lihat temanmu itu pas keluar. Cuma gak yakin. Pas di jalan, makin mikir, makin feeling gak enak, makanya balik lagi. Ternyata dugaan saya benar," kata Arzi perlahan. Senang mendengarnya menggunakan 'teman' untuk menyebut Andra.


Aku mengangguk. "Beneran Inka makasih banget, Mas. Inka gak tau harus gimana ngadepin Kak Andra."


"Sama istri, suami wajib melindungi. Tapi kamu belum jelasin ke dia masalahnya apa?" tanya Arzi lagi.

__ADS_1


"Bukannya gak mau, Mas. Tapi kalo Inka jelasin, entar dia pasti ribut sama orangtuanya. Orangtuanya mungkin nanti cari ribut lagi dengan keluarga Inka. Enggaklah. Cukup dulu kami ribut-ribut dan bikin adek Inka jadi korban aja. Uang gak bisa nyelesein masalah. Keluarganya lebih kuat dari Papa. Inka gak mau ngulangin kesalahan."


Arzi mengangguk-angguk. "Uang memang takkan pernah menyelesaikan masalah."


Kami berdua pun memandang lurus ke depan, sepakat untuk segera melupakan kejadian barusan. Ada hal-hal yang harus kami pikirkan dan Andra hanyalah masa lalu yang tak seharusnya jadi masalah kami lagi. Ia kembali atau tidak, semuanya sudah selesai.


"Saya hanya berharap dia juga sepertimu, Sayang. Kadang ada orang-orang yang tak mudah melupakan seseorang yang pernah mereka sayangi."


"Seperti Mas?" tanyaku kembali menggodanya.


Suamiku berpaling sebentar, sebelum kembali konsentrasi melihat ke depan. "Bukan itu, Yang. Orang sepertimu itu yang sulit dilupakan. Saya mencintaimu, dia juga. Makanya saya mengerti kalo dia sulit ngelupain kamu."


Aku menatap Arzi penuh cinta. Ia jarang sekali mengumbar kata cinta seperti ini. Tapi kali ini ia mengucapkannya seperti sesuatu yang biasa. Padahal saat mendengarnya, hatiku bergetar.


"Tapi kan perasaan gak bisa dipaksakan, Mas. Cinta Inka sama dia itu cuma cinta monyet."


"Oh ya? Jadi dulu Inka monyet gitu?" canda Arzi.


"Iiih sembarangan aja! Maksudnya cinta Inka dulu itu baru sekadar cinta-cintaan, beda sama perasaan Inka sama Mas Arzi sekarang."


"Oooh kalo sekarang udah cinta manusia ya? Ha ha ha... " Arzi terbahak lagi, apalagi saat melirik aku yang kembali manyun.


Aku hanya ingin terus seperti ini bersama Arzi. Berbicara dengan bebas, tanpa rahasia, mengungkapkan semua yang ada di hatiku dengan bebas. Juga tetap tertawa tanpa beban apapun padanya. Karena inilah yang kupelajari dalam beberapa bulan terakhir, rahasia hanya akan jadi masalah.


Aku tak tahu apakah aku bisa memberitahu Andra. Atau perlukah aku melakukan itu? Keluarga Andra jauh lebih berkuasa dibandingkan keluargaku.


Papaku memang seorang pejabat, tapi ia punya prinsip yang terkadang terlalu idealis. Takkan mungkin Papa mau memanfaatkan kuasanya untuk kepentingan pribadi atau keluarga. Dulu untuk menyelesaikan semuanya, Papa mengajak serta Tante dan adik sepupuku pindah.


Tanteku bahkan memutuskan menghentikan upaya banding karena tak ingin lagi melihat atau mendengar almarhum Om Markus dipermalukan di muka umum, dengan kesalahan yang mereka juga tak tahu itu benar atau tidak.


Tujuan Papa hanya satu, menghindari keributan lebih panjang, sama seperti jalan pikiran Tante Martha yang ingin membesarkan anaknya dengan tenang dan damai. Ia tak ingin suatu hari putranya menemukan berita buruk mengenai papanya karena kasus perebutan warisan ini.


Aku tahu karakter Andra yang mudah meledak walaupun pendiam. Siapa yang tahu apa yang akan ia lakukan saat tahu yang sebenarnya? Peristiwa malam itu masih terbayang olehku dan aku teringat sesuatu...


Astaghfirullah! Aku lupa kalau perhiasan pemberian Andra masih ada padaku.


Jangan-jangan ia menginginkan semua itu kembali padanya...


*****


Author Notes:


Just info to reminder again, setting waktu untuk novel ini antara tahun 1998 - 2000, jadi disesuaikan dengan pengalaman Author yang belum punya ponsel atau gadget canggih di periode itu. Saat itu komunikasi antar perusahaan lebih banyak bertemu langsung atau telepon. Dokumen dan surat menyurat juga masih serba kertas. Penggunaan email masih sangat jarang. 


Thanks for all support.

__ADS_1


Iin Ajid


__ADS_2