
Nenek pernah bilang padaku, bahwa hal tersulit dalam hidup manusia adalah memaafkan. Karena itu Nenek berpesan untuk sebisa mungkin tak menyakiti orang lain dan aku harus belajar untuk sering mengucapkan maaf.Aku membuktikannya sepanjang hidupku, tak pernah ada orang yang benar-benar mampu memaafkan kesalahan orang lain. Kecuali itu dalam film atau drama. Bahkan saat aku sendiri disakiti, memaafkan selalu menjadi bagian tersulit.
Sampai aku melihatnya langsung pada suamiku sendiri.
Seminggu nyaris berlalu sejak kejadian hari itu. Aku tak lagi bekerja, dan sepenuhnya mengurus suamiku.
Selama seminggu itu, Arzi menjalani tiga operasi sekaligus. Kondisinya benar-benar jatuh pada titik terendah. Hampir selama itu, ia selalu tertidur dan hanya sesekali saja bangun untuk makan atau berganti pakaian.
“Inka... ngaji untuk saya, Inka,” bisiknya setiap kali ia akan tidur kembali.
Aku menurutinya. Meski bacaanku tak sempurna dan terbata-bata, aku bisa melihat wajah Arzi selalu terlihat tenang mendengar suaraku mengaji.
Karena itulah, dengan persetujuan Dirga dan kedua orangtuaku, aku sepakat merahasiakan kehamilanku. Aku ingin suamiku fokus pada kesehatannya sendiri.
Arzi menjalani dua kali operasi. Yang pertama adalah ketika ia di-pax ke rumah sakit di Bontang untuk penanganan luka luarnya.
Tapi karena Arzi mengalami pendarahan yang cukup hebat, ia baru sadarkan diri di hari kedua. Di hari ketiga, Arzi dikirim ke rumah sakit di Samarinda untuk operasi syaraf tangannya.
Di sini aku memutuskan sekalian untuk memeriksakan diri karena perjalanan dari satu kota ke kota lainnya mulai membuatku kelelahan.
Untunglah janin berumur 16 minggu dalam kandunganku cukup sehat. Hanya saja gejala anemia membuat Dirga memaksaku untuk diinfus vitamin lagi. Aku bahkan sempat kaget saat tahu kalau janinku ternyata sudah melewati trimester pertama.
Dalam keadaan paling menyedihkan ini, aku merasakan arti sahabat yang sesungguhnya. Jarang sekali aku melihat teman-teman Arzi berinteraksi saat keadaannya sehat. Mereka jarang menelpon apalagi berkunjung. Tapi saat mereka tahu Arzi dirawat, barulah mereka bermunculan.
Di Bontang, saat kami tiba tengah malam, seorang dokter menemui Dirga. Ia salah satu sahabat Arzi. Selama kami di sana, dokter itu yang membantu kami.
Dari dokter itu, Arzi dipindahkan ke RS di Samarinda. Awalnya suamiku dirawat di kamar kelas dua, sesuai jatah dari perusahaannya. Tapi belum lagi malam datang, Arzi sudah dipindahkan ke ruang VVIP yang ruangannya seperti cottage kecil.
Ada ruang tamu, dapur bahkan toilet pribadi lengkap dengan ruang khusus penunggu pasien yang nyaman.
Aku juga sempat kaget saat melihat ada satu tim dokter khusus untuk Arzi yang semuanya dikoordinasi oleh Dirga, sahabatku yang terus mendampingiku dan Arzi sejak kami meninggalkan Sangatta. Aku sempat bertanya pada Dirga.
"Loh, Mas juga gak tau. Mereka bilang mereka itu teman-temannya Mas Arzi. Mereka akan bantu Mas Arzi apa aja," kata Dirga menjelaskan.
"Temannya Mas Arzi?"
Dirga tertawa kecil. "Kamu gimana sih, In? Mas Arzi kan suamimu, masak gak kenal?"
Aku mengangkat bahu. "Aku juga gak tau, Mas. Temannya banyak banget."
Tak mungkin kami bertanya pada Arzi, karena keadaannya. Hanya sesekali aku bisa mengobrol singkat dengannya.
Saat Arzi terbaring sakit ini, aku baru tahu kalau ternyata ia punya masalah tekanan darah tinggi. Karena itu, dokter mulai membatasi jam jenguknya.
__ADS_1
Karena itulah, walaupun banyak pengunjung yang datang, entah itu jamaah atau sahabat-sahabatnya, tak semua dari mereka bisa menjenguk Arzi. Hingga sampai dua minggu setelah kejadian itu, pasangan yang paling tak kuharapkan datang menemui Arzi.
Aku tak tahu mereka datang karena saat itu aku sedang di ruang periksa dokter kandungan. Aku ingin memberi hadiah pada suamiku saat nanti ia selesai dirawat. Sebuah foto hasil USG pasti jadi hadiah terbaik untuknya. Kabar terbaik yang mungkin takkan bisa ia percayai kecuali dengan bukti foto.
Hatiku yang berbunga-bunga, dengan senyum merekah lebar di wajah setelah melihat janin dalam rahimku dan mendengar suara detak jantungnya yang sehat, langsung lenyap ketika melihat dua orang itu duduk di sebelah suamiku di kamarnya.
Arzi memang sudah bisa duduk, walaupun tak lama. Begitu melihat aku datang, keduanya berdiri dengan tatapan kuatir.
Sementara saat itu, aku ingin sekali melemparkan semua benda yang ada di dekatku ke arah mereka. Semua yang terjadi ini karena mereka.
"Makasih sudah datang, Bapak, Ibu. Soal itu nanti akan diurus oleh teman saya. Bapak Ibu jangan kuatir! Saya dan istri saya insya Allah akan memaafkan Mas Andra," kata Arzi tenang sambil menegakkan punggungnya, menyambut salam tangan dari kedua orangtua Andra itu, sebelum aku sempat melontarkan kemarahanku.
Aku menatap Arzi tak percaya.
Memaafkan?
Memaafkan setelah lelaki itu membuat suamiku menanggung cacat seumur hidup!
Seperti sadar kalau aku masih tak terima, mereka pun pamit terburu-buru. Mulutku ingin sekali menyumpahi mereka, tapi tangan kiri Arzi sudah menggandeng tanganku. Saat aku menoleh padanya, matanya menatapku lembut sekali. Kini aku paham maksud dari 'berbicara' dengan mata. Arzi ingin aku mengikuti keinginannya untuk memaafkan.
Begitu kami hanya tinggal berdua, aku langsung berkata, "Mas, kok dimaafin sih? Inka gak mau maafin dia! Ini gak bisa dimaafin. Dia harus bertanggung jawab!"
"Sayang, untuk apa? Andra juga korban. Andai dia tau masalahnya... "
Arzi menatapku. "Itu karena Andra gak tau apa-apa, Yang. Dia hanya emosi. Pria manapun takkan terima kalo pacarnya justru nikah dengan orang lain. Saya juga berat memaafkan dia, Yang. Tapi bagaimanapun saya berusaha mengerti."
"Masalahnya ini soal penegakan hukum, Mas. Aku ingin keluarga mereka tahu bahwa sebesar apapun kekuasaan mereka, mereka gak bisa main serang dan nyakitin orang. Bukan sekadar belajar memaafkan atau mengerti."
"Inka, ada hal lain yang kamu lupakan," gumam Arzi. Perlahan ia duduk di tepi tempat tidur dan mulai memiringkan tubuhnya untuk berbaring.
Melihat wajahnya yang mulai pucat lagi, aku segera membantunya untuk kembali berbaring. Semarah-marahnya hatiku saat ini, suamiku adalah urusan yang paling penting.
"Sayang, saya tak ingin memperpanjang masalah ini juga untuk kamu. Banyak orang yang mengenal kamu, saya dan Andra. Saya gak mau masa lalumu jadi bahan gibah orang kalau masalah ini sampai ke pengadilan. Saya gak peduli soal saya, tapi kamu... saya gak mau kamu sedih, Sayang." Dengan nada lemah, Arzi menjelaskan padaku.
Aku terdiam. Arzi benar. Pasti masa lalu aku dan Andra akan menjadi konsumsi publik. Aku juga tak ingin itu terjadi.
"Lagipula... ini," Arzi mengambil map coklat dari nakas di sebelah tempat tidur. "Untuk Tantemu dan Bima," lanjutnya.
Kuambil map itu dan melihat isinya sambil duduk di tepi tempat tidur Arzi. Itu adalah sertifikat properti dan kepemilikan usaha hotel Om Markus.
Aku termangu membaca surat yang disertakan pada sertifikat itu. Surat resmi dari notaris yang menyebutkan nama adik sepupuku, Bima sebagai pemilik.
"Jangan menganggap ini sebagai cara mereka membayar perbuatan putra mereka pada saya, Inka. Tapi anggaplah ini cara terbaik untuk mengakhiri masalah keluargamu dan keluarga mereka. Sebelum kita pindah ke Jakarta," gumam Arzi pelan.
__ADS_1
Mataku mulai berkaca-kaca. Aku berusaha memahami situasinya. Sebentar lagi Bima akan lulus SMA, dan adik sepupuku itu termasuk siswa berprestasi.
Aku tahu sejak kecil Bima ingin sekali menjadi seorang diplomat. Namun, karena kehidupannya selama enam tahun terakhir, Bima tak pernah lagi bermimpi untuk kuliah. Sertifikat ini mungkin bisa mengubah masa depannya.
Tangan kiri Arzi menggenggam tanganku. "Sayang, sabar dan ikhlas itu gak bisa diminta begitu aja dari Allah. Dua hal itu harus kita paksakan dalam diri kita. Sama seperti mengajari seseorang berpuasa, sholat dan bersedekah. Sabar dan ikhlas juga harus kita lakukan, suka atau tidak suka."
"Tapi, Mas... Gara-gara ini, tangan Mas gak akan kayak dulu lagi," bisikku dengan mata basah.
Terbayang lagi kata-kata dokter yang memberiku dua pilihan saat operasi syaraf tangan Arzi, memilih jari mana yang takkan berfungsi selamanya, kelingking atau jempol. Hanya hal kecil itu saja, aku seperti memotong sebelah jantungku. Bagaimana Arzi yang akan menjalaninya nanti?
"Inka sayangku, lihat masalahnya dulu! Andra itu sama seperti Ratih. Mereka hanya orang-orang yang kesulitan untuk mengikhlaskan sesuatu yang tidak ditakdirkan untuk mereka. Kalo mereka gak melihat contohnya, mereka gak akan mengerti caranya. Kita memaafkan, gak cuma untuk membuat mereka paham soal itu. Tapi juga untuk diri kita berdua. Memenjarakan seseorang bukan berarti kita jadi senang kan?"
Aku hanya bisa menunduk. Entah mengapa aku merasa kalah, tapi sekaligus merasakan kebenaran dari kata-kata Arzi. Baru ini aku paham betapa sulitnya memaafkan. Apalagi memaafkan orang yang menyakiti seseorang yang paling dicintai.
"Kamu bisa bayangin apa yang dihadapi Andra di penjara nanti? Salahnya dia... hanya jatuh cinta sama kamu. Sesuatu yang harusnya kamu syukuri, Sayang.”
Aku menatap Arzi dengan perasaan tak enak. Tapi suamiku hanya tersenyum.
“Saya cemburu, Sayang. Tapi saya mengerti. Waktu masalah Ratih, jujur saya juga ngerasa bersalah. Makanya saya bersyukur kamu mau memaafkan Ratih. Itu juga yang sekarang ingin saya minta darimu. Saya sudah memaafkan Andra, kamu juga harus," ujar Arzi dengan mata mulai meredup. Suaranya makin pelan dan lama-lama berganti dengkuran halus. Ia tertidur.
Kuelus tangan suamiku yang masih berperban ketat. Ada gambar emo yang kemarin kugambar di situ. Gambar untuk memberinya semangat. Sekarang gambar itu seperti ditujukan padaku.
Memang Arzi yang terbaring, tapi yang sakit itu aku. Arzi sedang berusaha menyembuhkan fisiknya yang terluka, sementara aku sedang berjuang untuk menyembuhkan hatiku yang sakit karena dendam bertahun-tahun.
Di tempat lain, seorang pria juga terluka. Ia terluka karena semua yang terjadi. Ia tak tahu apa-apa dan berada dalam ketidakpastian selama beberapa bulan terakhir ini.
Sama sepertiku, sama seperti Arzi, Andra juga terluka.
Ini saatnya untuk mengakhiri semua hubungan membingungkan ini. Hidupku dan Arzi tidak akan pernah bahagia di atas penderitaan orang lain. Aku terlalu takut kelak bayi kami lahir di tengah semua masalah ini.
Tidak bisa, aku ingin menghentikannya. Aku harus membangun keluarga yang benar-benar bahagia, agar anakku lahir dan menjalani hidupnya juga dengan bahagia.
Aku tahu itu tidak mudah, tapi aku akan berusaha demi Arzi, demi bayi kami dan demi diriku sendiri.
Untuk memaafkan.
__ADS_1