
Di siang hari saat melewati jalan menuju lokasi proyek, tempat aku dan Andra bertengkar semalam, aku meminta supir untuk berhenti sebentar di lapangan itu. Aku turun dari mobil dan sekali lagi mencari cincin yang belum kutemukan semalam.
"Mbak Inka nyari apa?" tanya supir yang keheranan melihatku memeriksa lapangan rumput itu.
Aku menoleh. "Cincin saya, Pak!" jawabku setengah berteriak.
Supir perusahaan itu pun turun, ikut membantuku mencari.
Ketika kami berdua sedang berkeliling lapangan, dua mobil lain dari perusahaanku juga lewat. Mereka bertanya hal yang sama, dan seperti supirku, mereka juga ikut membantuku.
Karena banyak orang yang membantuku, cincin kecil mungil itupun akhirnya berhasil ditemukan.
"Ya ampun, Mbak! Cincin tunangan ya? Hati-hati loh!" seru salah satu staf. Aku hanya tertawa setelah mengucapkan terima kasih pada mereka semua. Syukurlah, aku bisa mengembalikan semuanya kini dalam keadaan utuh.
Meski setiap hari Arzi selalu tepat waktu mengantar, makan siang dan menjemputku, kami bekerja di kantor berbeda. Arzi tak bisa selalu menemaniku. Ia tak bisa selalu melindungiku.
Di hari terakhir sebelum cuti, aku memilih makan siang bersama-sama dengan teman-teman di kantor. Di kafetaria karyawan.
Hans datang pagi ini dari Balikpapan untuk pulang sebentar mengurus beberapa surat pelengkap administrasinya sebagai expatriate dan esok, ia akan kembali bersamaku ke Balikpapan dengan pesawat lagi.
Tapi Hans tak ikut makan siang bersamaku karena harus pulang ke baraknya dulu.
"Ini kan acara ijab kabul aja, In. Jadi yang datang ke acaramu itu cuma 5 orang. Tapi kami janji bakal datang rame-rame pas resepsimu nanti. Gak papa kan?" kata Pak Guruh usai kami makan siang. Saat menunggu kopi yang kami pesan.
Aku mengangguk. "Gak papa, yang penting amplopnya dobel juga yaaa... hahaha!"
"Tenang itu sih, udah kita dobel. Satu isinya duit! Satu lagi... ******! Ha ha ha! "
"Iiih Bapak jorok ih!" kataku sambil nyengir.
Orang-orang malah tertawa. "Nah ini, anak kecil mau nikah. Diajarin orangtua malah bilang jorok!"
"Apaan sih, Pak? Aku tahu kali ****** itu buat apa? Tapi aku pengennya langsung hamil dan punya anak. Gak nunda-nunda lagi."
"Emang anak kecil bisa punya anak? Ha ha ha!" goda Pak Guruh.
"Bisa dong!" jawabku tak mau kalah.
Tak mau kalah salah satu supervisor lapangan juga menyela obrolan kami. "Jangan punya anak dulu, Neng! Puas-puasin penganten baruan dulu. Neng kan masih muda, nikmatin aja dulu kayak orang pacaran gitu. Repot kalo langsung."
Aku meringis. "Waah, pengalaman. Gitu ya Pak?"
"Mana bisa Inka nahan ga punya anak, Pak. Suaminya kan udah tua. Beda dikit dari saya. Anak saya aja udah 4," sahut salah satu staf di ujung meja.
"Biarin! Tetap gantengan Mas Arzi daripada Bapak! Weeee," tukasku sambil menjulurkan lidah. Spontan semua orang tertawa.
Obrolanku yang santai sambil bercanda bersama para staf dan karyawan mengalir tiada henti sepanjang makan siang itu. Gelak tawa pecah sesekali di kafetaria itu sampai terdengar suara bel jam pertanda jam istirahat selesai.
Tapi saat aku berdiri, mendadak seluruh dunia kurasa berputar. Tubuhnya limbung.
"Eh, kenapa In?" tanya Pak Guruh sambil menahan pundakku.
Aku menggeleng-gelengkan kepala menghilangkan rasa pusing. "Gak tau, Pak. Pas berdiri tadi tiba-tiba pusing."
Kugapaikan tangan, agar bisa bertumpu pada pundak Pak Guruh yang duduk di sebelahku.
"Hati-hati, Inka. Kamu tuh calon pengantin. Kalo kamu orang Jawa, harusnya lagi dipingit. Gak boleh ke mana-mana."
"Saya bukan pengantin Jawa, Pak Guruh. Saya pengantin modern," sergahku kembali bercanda. Semua yang mendengar tertawa.
Kami berjalan beriringan keluar dari kafetaria. Sebagian ada yang masih tinggal untuk menunaikan sholat dhuhur.
Karena aku sholat di kamar khusus samping kantor, maka aku langsung kembali ke sana, bersama beberapa orang staf. Kami masih melanjutkan obrolan ringan itu sepanjang jalan menuju gedung kantor.
Hanya saja, kepalaku makin berputar. Malah ditambah perutku juga terasa panas dan mual sekali. Ingin muntah.
__ADS_1
Sesuatu yang salah sedang terjadi pada tubuhku.
Tapi apa? Aku mengingat-ingat apa saja yang kumakan sejak semalam. Atau ini apa ini salah satu efek samping dari menstruasiku? Tapi bukankah menstruasiku sudah selesai hari ini?
Semalam, aku makan malam seperti biasa, bersama Arzi. Tadi pagi sarapan nasi goreng buatan ibu kost, juga bersama Arzi yang datang menjemput. Tak ada yang aneh.
Setelah itu jam 9 lewat pagi tadi, sepiring kue lapis dan segelas teh hangat mengisi perutku. Barusan aku makan siang hanya dengan nasi dan sup jamur biasa. Aku tak menambahkan lauk karena hari ini lauknya ayam goreng. Lauk yang tidak kusukai.
Jadi apa yang salah?
Selagi sibuk memikirkan segala kemungkinan, tubuhku makin oleng, perutku makin sakit dan akhirnya aku muntah.
Melihat itu, para staf yang berjalan bersamaku mendekat. Aku mundur, terkejut sendiri karena baru kali ini aku tak bisa menahan muntah. Semua meluncur keluar tak terkendali. Tak berhenti.
"Mbak Inka, kenapa?" tanya salah satu staf padaku. Ia memegangi pundakku tanpa merasa jijik. Justru terlihat bingung tak tahu harus membantu apa.
"Pak, tolong... hueek! " kata-kata itu terputus karena aku muntah lagi.
Tapi yang keluar kali ini bukan apa yang kumakan tadi. Muntahku kali ini berupa... darah segar. Tidak banyak, tapi hanya ada darah.
"Mbak Inka!!"
Semua orang berseru kaget. Aku sempat terpana melihat telapak tangan yang kupakai untuk menutup mulutku tadi dipenuhi darah.
Seseorang menggendongku, tapi aku masih kaget. Tak percaya.
Sekali lagi rasa sakit menyengat terasa di perutku. Aku muntah sekali lagi. Masih sama. Darah lagi. Kali ini lebih banyak.
Kusandarkan kepalaku pada orang yang sedang menggendongku. Siapapun dia. Pakaiannya juga dipenuhi bercak darahku.
Aku masih sadar ketika orang-orang memasukkanku dalam mobil dan membawaku ke klinik.
Aku juga masih sadar saat digendong masuk menuju ruang gawat darurat. Juga masih bisa menatap Dirga yang sedang berada di dalam ruangan itu ketika ia melihat ke arahku dan menyongsong panik.
Kesadaranku baru benar-benar hilang, setelah ketiga kalinya muntah. Saat itu terjadi, aku sudah tak lagi tahu apa itu darah atau sisa makanan yang keluar.
***
Saat aku sadar, perutku nyeri dan panas. Aku mengerang tak tahan, mau menekan perutku ketika tangan seseorang memegangi tanganku yang sedang diinfus, menyalurkan kehangatan.
Kubuka mata, ada Arzi berdiri di sisiku dengan mata merah. Ia berusaha keras tersenyum padaku.
"Sa.. kit!" protesku sambil berusaha menarik tanganku lagi. Arzi tak membiarkannya.
Saking sakitnya, airmataku mengalir karenanya.
"Iya, itu efek karena mereka membersihkan perutmu. Sudah tidak apa-apa lagi. Sudah. Bertahan ya, Sayang! Istighfar. Istighfar," gumam Arzi.
Arzi mendekatkan dirinya ke tubuhku dan memeluk kepalaku yang terus bergerak-gerak karena rasa sakit di perutku. Itu caranya mencegahku menggerakkan selang infus terlalu kuat. Tapi aku terus kesakitan.
Aku bisa merasakan tangan Arzi yang hangat dan kuat. Meski sambil melantunkan bacaan Al Qur'an yang menenangkan perlahan-lahan, suaranya juga terdengar berbeda. Tidak terdengar jernih seperti biasa. Lebih serak. Lebih lirih.
Kupilih memejamkan mata lagi, sambil mengikuti arahannya. Beristighfar berulang kali hingga tertidur lagi. Aku sudah berulangkali mencoba, mematuhi Arzi selalu berhasil menghentikan apapun yang kurasa menyusahkan. Maka dengan tangan bergetar hebat, aku berusaha melawan keinginan untuk menekan perutku yang nyeri.
Beberapa jam berlalu, aku kembali terbangun. Rasa panas di perutku masih ada, tapi sakitnya tak lagi setajam sebelumnya. Jauh lebih baik. Tapi aku mulai menggigil. Ruangan ini terasa dingin.
Aku mulai mencari Arzi.
Arzi sedang sholat tak jauh dari tempat tidurku. Kuperhatikan dalam diam sampai ia selesai. Ketika ia mengangkat sajadah, Arzi sedikit kaget melihatku sedang menatapnya. Buru-buru ia mendekat.
"Gimana? Masih sakit banget? Masih mau muntah?" tanyanya kuatir.
Kopiah hitam yang ia kenakan tampak sedikit basah. Namun tak ada selembar rambutpun terlihat di keningnya yang bersih itu. Matanya juga sudah tak semerah tadi. Kerut-kerut khas yang muncul ketika ia bicara tampak mengendur. Ia lebih rileks. Tak lagi setegang tadi.
Baru kali ini juga aku memandangi wajahnya sedekat ini. Ini wajah yang sangat menenangkan, tapi juga membuat aku ingin menangis.
__ADS_1
"Inka hanya ingin menjadi istrimu, Mas. Tapi kenapa ujian kita banyak sekali? Seakan-akan gak ada selesainya," gumamku sedih. Dua bulir airmata keluar dari mataku lagi. “Apa Allah-mu sedang menghukumku, Mas?’
Arzi menghela napas panjang. “Allah kita, Inka. Allah kita berdua... Jangan begitu, Sayang! Kesulitan itu datang untuk membuat kita lebih menghargai kebahagiaan.”
Lalu saat ia melihat wajahku, sudut bibir Arzi terangkat. Ia berusaha tersenyum. Diambilnya tisu dari meja sebelah tempat tidur dan mengusap airmataku. "Sudahlah. Jangan dibawa sedih. Nanti malah makin sakit. Kita harusnya bersyukur, masih diberi keringanan. Insya Allah kita bisa ngelaluin semua ini ya, Sayang. Sudahlah."
Sebulan ini aku sudah bolak-balik klinik. Selama ini aku tak pernah peduli siapa yang kubuat repot dengan bolak-balik begini, tapi sekarang melihat Arzi yang mungkin tak pernah mengalami semua ini kerepotan mengurusku hingga melanggar semua aturannya, aku sungguh merasa bersalah.
“Kita ini sedang ujian untuk naik kelas, Sayang. Jangan kuatir! Istirahatlah!” bisik Arzi.
"Bisa jugakah kita menikah, Mas?" tanyaku ragu.
"Kita pasti menikah. Saya akan menikahimu, di sini atau di manapun. Sesuai janji saya denganmu, dengan Papa," kata Arzi meyakinkanku.
"Apa karena Inka melanggar adat ya, Mas?" dugaku.
"Adat?" Mata Arzi menatap tak mengerti.
Alisku terangkat sedikit. "Bukannya kata orang, calon pengantin harus dipingit."
Arzi tertawa. Sambil memperbaiki letak selimutku, ia bercanda, "Untuk orang yang baru saja lepas dari kematian, calon istriku ini ternyata cukup bawel ya. Hahaha... "
Aku juga tertawa. Tapi rasa sakit di perutku mengganti tawaku jadi ringisan. Wajah Arzi juga berubah serius saat melihatku seperti itu.
Dengan takzim, tangannya meraba perutku perlahan. Menekannya dengan lembut. Walaupun dibatasi selimut yang cukup tebal, entah mengapa aku bisa merasakan kehangatan yang mengalir dari telapak tangannya. Bibir Arzi bergerak membaca ayat-ayat Al Qur’an yang tak kupahami sekali lagi.
Cukup lama Arzi melakukannya, sementara aku hanya memandanginya. Aku selalu merasa jauh lebih tenang saat mendengarnya mengaji seperti itu. Walaupun aku tak pernah benar-benar mengerti apa artinya.
Pintu ruang rawat terbuka. Dirga masuk. Jas putih yang ia kenakan membuat ia terlihat berbeda. Ada papan jalan dan lembaran kertas di tangannya. Ia menghela napas melihat mataku yang mengawasinya saat masuk.
"Duh, Dek. Jantung Mas ini bisa copot kalo kamu begini terus. Apa lagi hari ini yang kamu makan? Bisa-bisanya keracunan begitu."
"Keracunan? Aku?" ulangku tak percaya.
Bagaimana bisa? Memangnya apa yang kumakan sampai keracunan? Bukankah semua makananku juga sama dengan yang lain? Ada orang lain yang makan menu yang sama denganku.
Dirga mengangguk. Sambil memperhatikan lembaran yang ada di tangannya, ia bertanya, "Kamu makan apa aja dari tadi pagi?"
Perlahan-lahan aku mengingat dan menjawabnya satu persatu dengan jelas. Tak ada yang salah sama sekali.
Aku bahkan tak mengkonsumsi vitamin dan sisa obat yang diberikan Dirga untuk perawatan penyakitku. Tidak ada yang aneh. Jadi aku pun mengatakan semuanya, termasuk keherananku.
"Aku makan sama kok sama Ibu kost tadi pagi. Juga makan snack dan makan siang dengan teman-teman yang lain. Mereka gimana?"
Dirga menggeleng. "Kamu pasti makan yang lain. Mereka semua baik-baik saja. Sudahlah... mungkin kamu lupa."
"Lupa?" Aku mencibir di antara rasa nyeri di perutku. "Tanya aja sama orang kantor dah!"
Mendengar penjelasanku, Dirga melemparkan tatapan penuh arti pada Arzi. Lalu setelah itu Dirga lebih mendekat padaku. "Sekarang istirahat saja ya, besok kamu akan di-evacuate ke Rumah Sakit di Balikpapan." Lalu ia menoleh pada Arzi. "Kalo bisa Pak Arzi juga istirahat. Besok kita bakal lebih sibuk," katanya pada Arzi.
Aku menoleh pada Arzi tak mengerti. Arzi hanya mengangguk.
Setelah Dirga keluar, seorang perawat masuk. Ia menyuntikkan sesuatu di infusku. Perawat itu tak keluar, ia berbicara pelan pada Arzi yang hanya mengangguk. Melihat keduanya, aku jadi mengantuk.
“Istirahatlah, saya keluar sebentar ya! Ada perawat yang akan jagain kamu di sini,” kata Arzi.
Aku hanya mengangguk. Mataku berat sekali.
Tapi sebelum aku benar-benar tertidur, pintu ruang rawat dibuka lebih lebar oleh perawat yang baru masuk tadi dan ditutup kembali. Aku sempat melihat Arzi berdiri didampingi Dirga dan seorang dokter lain yang tak kukenal bersama dua orang pria di depan pintu itu.
Salah satu di antara mereka berseragam polisi.
__ADS_1