
Setelah meminjam sandal milik Arzi, aku pulang bersama Dirga yang menyusulku hanya dengan berjalan kaki. Kuajak Dirga untuk masuk dulu ke rumah, mengobati tangannya. Meski tadi Arzi menawari, aku tak enak. Dirga juga. Terlalu banyak mata menyelidik di rumahnya.
"Maaf ya Mas, tadi aku gegabah nuduh Mas mukul Pak Arzi."
"Kamu masih manggil dia Bapak? Calonmu loh itu, In."
Aku mengangkat pundak. Menyeringai. "Masih segan. Dia kan cuma beda lima tahun dari Mama. Tua."
Tawa kecil pecah di wajah Dirga, membuat tangannya yang sedang kuolesi salep antiseptik bergoyang-goyang. Kutepuk keras dengan sengaja. Matanya mendelik kesakitan, tapi tawanya tetap tersisa.
"Tapi kamu suka dan cinta dia ya? Kenapa mau nikah coba kalo gak karena itu? Lagian... dia tampan loh. Kulitnya bersih dan terawat, hidungnya mancung dan orangnya juga tinggi."
Aku terkekeh. "Ooh, Mbak Dirga juga jatuh cinta sama Pak Arzi?"
"Yiaks!! Kamu ini... Mas nih normal tau!"
"Ya kan siapa tau. Habis detil banget ngomongin Pak Arzi. Tentu aja aku tau, Mas. Makanya aku mau nikah sama dia. Penampilan juga salah satu syaratnya."
Dirga tertawa. "Benar hanya karena itu? Jadi ngaku beneran udah jatuh cinta?"
Tanganku berhenti bergerak, sebelum menghela napas. Selesai dengan tangan Mas Dirga, aku baru bicara lagi. "Aku udah gak bisa bedain cinta, suka atau apalah itu, Mas. Pusing. Terlalu rumit. Pikiranku saat ini sangat sederhana."
Dirga menatap tangannya sebelum kembali memandang lurus padaku. Terlihat jelas ia sedang berusaha memahami pikiranku.
"Tadinya kukira cinta itu cukup untuk sebuah pernikahan. Tapi kemudian aku sadar... Menikah itu bukan sekedar menyatukan dua orang yang jatuh cinta, tapi juga menyatukan dua keluarga. Mas sendiri tau kan kalo Papa gak gampang dihadapi. Buktinya, hanya satu kali Pak Arzi ketemu Papa. Everything has settled.”
Dirga mengangguk-angguk.
“Gak cuma itu, aku tahu aku bukan gadis yang bisa dikendalikan dengan mudah. Gak tau gimana, kalo sama Pak Arzi, aku merasa nyaman ngikuti apapun yang dia mau. Dia gak pernah maksa aku, tapi aku tau dia sedang... nuntun aku."
"Itu saja?" tanya Dirga seperti tak percaya.
Aku mengangguk penuh keyakinan.
Dirga menunduk. "Mas aja perlu lebih dari bertahun-tahun untuk menghadapi Papamu, dan sampai detik ini masih belum bisa memahami dirimu apalagi sampai bikin kau mau manut sama Mas. Tapi Arzi... " Ada senyum masam di bibirnya saat ia mengangkat wajahnya.
Aku tak bisa mengatakan apapun soal itu. Masalahnya, sejak awal aku menganggap Dirga hanya sebagai kakak, tidak lebih tidak kurang dari itu.
Bahkan setelah bertahun-tahun berlalu, dan kami lebih dekat daripada hubungan persaudaraan manapun, perasaanku tak pernah berubah.
Tak pernah sekalipun aku memandang pria yang sebenarnya tak kalah tampan ini lebih dari perasaan seorang adik.
"Aku harap Mas gak berhenti jadi temanku dan kakakku setelah ini."
__ADS_1
Dirga tertawa. "Ya enggaklah, Inka. Kau kan tahu Mas ini anak tunggal. Mana tahan Mas lama-lama jauh dari kamu."
Aku menghela napas lega. Lalu sambil menyodorkan air mineral yang kubawa keluar bersama kotak obat tadi, kembali aku bertanya, "Mas Dirga sendiri tahu soal aku dan Pak Arzi dari siapa? Papa?"
Dirga mengangguk. "Sehari setelah Arzi ngelamar, Papa nelepon Mas. Jelasin semuanya! Ya udah mau bagaimana lagi? Mas udah kenal lama sama Arzi, dan sampai detik ini belum ngeliat kekurangannya. Mas cuma bisa nerima. Selain pendapatan Mas yang lebih gede dari dia, jelas Mas kalah segala-galanya." Ia terkekeh.
Aku juga tertawa kecil. Meski ada rasa tak enak, tapi aku yakin, Mas Dirga memahami situasinya.
"Tapi Mas gak nyangka pas dia ngajak ketemuan tadi siang. Benar-benar gak nyangka."
"Apalagi aku. Makanya tadi kupikir kalian berantem."
Dirga menggeleng. "Enggak kok. Sebenarnya udah dari hari apa gitu dia pengen ketemu. Cuma di klinik, Mas hanya berdua. Yang lain masih cuti. Baru hari ini kami bisa ketemu."
"Pak Arzi ngomong apa aja, Mas?" tanyaku ingin tahu.
"Dia minta maaf karena tidak meminta izin Mas dulu sebelum membawamu ke Balikpapan. Dia bilang kalo semua itu terjadi begitu cepat. Tidak direncanakan. Saat itu, ia hanya ingin segera menghalalkan hubungan kalian, karena... kamu membutuhkannya. Kalian berangkat, bertemu Papa dan akhirnya diizinkan untuk menikah. Tapi.. Inka... ini serius. Mas pikir kamu sekarang sedang dekat dengan anak dari SCi itu? Hmmm... kalo gak salah namanya Andra?"
Senyumku lenyap dan berpaling pada Dirga. "Pak Arzi cerita tentang dia?"
Dirga menggeleng, "Enggak sama sekali. Tapi Mas tau kamu bahkan ngerayain ultah waktu itu bareng anak itu kan? si Andra itu?"
Kali ini aku mengangguk.
"Papa gak cerita?" aku balik bertanya. Dirga tidak mengangguk atau menggeleng, tapi malah menatapku heran.
Bukannya aku tak ingin cerita, tapi kenangan itu juga rahasia keluarga.
"Ada masalah dengan keluargaku dan keluarga Andra, Mas. Yang jelas Papa dan Mama atau orangtuanya Andra gak akan pernah bersedia menjadi besan. Tidak akan pernah."
Ekspresi Dirga berubah. Tampak tak mengerti. Tapi mungkin ia melihat keenggananku bicara saat membahas Andra, jadi ia mengambil botol air mineral dan menyesapnya.
Sementara aku memasukkan salep ke dalam kotak obat kembali, membereskannya.
"Mas dan Pak Arzi juga udah bicara soal kesehatamu, In. Syukurlah kamu terus terang ke dia. Paling enggak, Mas tau harus bicara sama siapa nanti kalo kamu keras kepala lagi," ujarnya setengah becanda.
Aku mendelik kesal. "Ih, apa sih! Siapa yang keras kepala?"
Dirga hanya terbahak. Kami masih mengobrol ringan tentang Arzi, pekerjaan dan hal lainnya, sampai akhirnya ia pamit untuk pulang.
Malam itu, aku berbaring nyalang di tempat tidur. Bukan karena sedih. Tapi karena gembira.
Setelah sekian lama, dadaku belum pernah seringan ini saat berhadapan dengan Dirga. Tak ada dendam dan amarah lagi padanya. Kami bisa bicara dan bercanda seperti dulu lagi. Semua berkat Arzi.
__ADS_1
Tinggal satu hal lagi. Andra.
Aku teringat sesuatu. Bergegas aku bangun dan bergerak ke bawah tempat tidur. Mencari pouch dan map dokumen berwarna hitam yang kusembunyikan di situ. Tak sampai sedetik, aku menemukannya.
Kutarik kedua benda itu dan memandanginya. Lalu aku berdiri, mengecek laci meja dan menemukan dua kotak perhiasan.
Sebuah kotak kecil dan satu kotak besar. Hati-hati aku mengeluarkannya dan meletakkannya di sisi map dokumen tadi. Sekali lagi memandangi semua itu.
Belum sebulan Andra memberikannya padaku. Setelah itu, semua yang terjadi di antara kami seperti berakhir begitu saja. Aku selalu bisa menghindarinya hingga saat ini. Tapi semakin lama kubiarkan, masalah ini akan jadi momok antara aku dan Arzi.
Dari sejak awal aku menerima map dokumen, aku tak pernah membukanya sama sekali. Perhiasan yang diberikan Andrapun hanya kupakai sekali saat ke Bontang dan setelah aku tahu keluarganya, aku melepasnya dan menyimpannya. Aku nyaris melupakannya sampai hari ini.
Dengan rasa ingin tahu, aku membuka map dokumen itu. Mulai memeriksanya. Ini benar-benar dokumen pribadi Andra.
Di bagian depan aku menemukan ijazah, sertifikat, penghargaan, SK Perusahaan. Lalu setelah itu, aku melihat potongan-potongan berita tentang prestasi, kegiatan perusahaan yang dipublikasikan dan beberapa lembar copy penghasilannya di awal karir. Di bagian akhir, barulah aku menemukan properti yang ia miliki.
Sebidang tanah dan sebuah rumah di Sangatta, beberapa di Bontang dan ada kontrak pembelian rumah dengan nama perumahan yang cukup terkenal di Balikpapan.
Aku tersenyum pahit melihatnya. Ia cukup kaya untuk pria seusianya. Wajar saja. Setelah tahu siapa keluarganya.
Aku mulai membalik kembali untuk membaca daftar properti yang ada. Hubungan kami sudah berakhir, jadi sekadar mengingatkanku untuk nanti menghindari tempat-tempat itu jika bisa.
Tapi bagian lembar paling bawah, dengan nilai pajak paling tinggi adalah... properti hotel yang dulu diperjuangkan Papa untuk Tanteku, namun akhirnya dikuasai oleh keluarga Andra.
Kutatap kertas bersegel itu tak percaya. Pikiranku melayang pada anak laki-laki yang kini harus berjuang sekolah sambil bekerja, padahal seharusnya dialah yang memiliki properti ini.
Anak itu tumbuh jadi tegar karena kemiskinan setelah papanya tiada. Tapi aku yang menyaksikan perjuangannya tak bisa menerima itu.
Harusnya ini jadi miliknya dan aku memegang haknya. Aku merasa marah. Marah pada semua orang yang membuat seorang anak menjalani hidup keras di usia remaja. Aku juga melalui hal yang sama saat remaja, tapi Bima, anak kecil itu menjalaninya sejak usia 10 tahun. Begitu muda.
Saat sebagian anak di usianya masih bergelendot manja, dia sudah mulai mencuci motor dan mobil. Aku ingat, mata Papa sampai memerah saat melihat keponakannya itu bekerja keras dari kejauhan.
Papa dan Mama bukannya tak membantu Bima. Tapi biaya pengobatan ibunya yang sakit juga cukup banyak. Tetap saja, Bima melaluinya dengan susah payah. Kalau bukan karena Papa berhasil menemukan mereka kembali, aku tak tahu bagaimana nasib adik sepupuku itu.
Kami yang hanya keluarga jauh saja tak tega melihatnya, tapi keluarga Andra... keluarga yang seharusnya membagi adil nilai properti ini sama sekali tidak peduli. Tidak sedikitpun.
Keluarga seperti itu yang dimiliki Andra harus kuterima? Tentu saja tidak akan pernah.
Tanpa sadar, kertas di tanganku sudah terlipat karena genggamanku mengencang. Buru-buru aku mengembalikannya.
Sebenci-bencinya diriku pada keluarga Andra, aku bukan pencuri. Walaupun bisa saja aku mengambil kertas yang dihargai sebagai bukti kepemilikan ini dengan mudah, aku takkan pernah melakukan perbuatan serendah itu.
Dengan hati mantap, aku mengambil tas kain sedang dan memasukkan semuanya ke dalam tas itu. Besok pagi, akan kukembalikan semuanya pada Andra, bersama seluruh perasaanku yang kini sudah tak lagi tersisa untuknya.
__ADS_1