Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 52 - Menjelang Pulang


__ADS_3

Seperti yang direncanakan, ada beberapa acara yang diadakan keluarga Arzi selama kami di rumah orangtuanya. Aku menjalani semuanya seperti robot.


Mengikuti pengajian, menyambut dan menerima ucapan selamat dari para tamu, lalu mendatangi keluarga jauhnya satu persatu.


Lalu kami juga berkunjung ke dua pesantren. Yang satu tempat Arzi menuntut ilmu di masa remajanya, yang lain adalah tempat orangtuanya biasa mengajar sebagai Ustad dan Ustadzah. Di dua tempat ini, aku mendapat banyak sekali cerita tentang Arzi.


"Aa Arzi teh dulunya mau dijodohin sama anaknya Pak Kiyai, tapi Aa malah nolak. Itu tuh teh... yang pake jilbab hitam itu teh. Sekarang putranya ada empat," ujar salah satu Bibinya Arzi berbisik padaku saat berkunjung ke pesantren pertama.


Rasa ingin tahu membuatku melirik perempuan itu. Perempuan itu sangat dewasa. Mungkin karena berbeda usia tak jauh dari Arzi.


Mungkin itu sebabnya keluarga Arzi sempat kaget saat melihatku. Jelas karena selama ini perempuan yang dijodohkan dengannya adalah gadis-gadis yang berusia tak jauh darinya.


Aku hanya mengangguk-angguk. Tapi dalam hati aku mulai membandingkan.


Tak hanya karena aku lebih muda. Kulitku juga jauh lebih terang darinya. Meski tubuhku tak segemuk dirinya, tapi tubuhku masih membentuk bingkai yang cukup indah.


Bahkan untuk wajah, aku bisa jamin, aku lebih baik jauh darinya. Hmm... tak percuma terlahir dari berbagai suku campuran. Kombinasi sempurna menghasilkan gadis Indonesia yang indah bernama Inka, bisikku bangga dalam hati. Puas hati berhasil memenangkan ‘pertarungan’ kasat mata itu dengan versiku sendiri.


Lalu di pesantren kedua, makin banyak perempuan yang terang-terangan menatapku dengan kagum.


Dari bisik-bisik mereka dalam bahasa Sunda halus, Via membantuku mengartikan sambil tersenyum. "Ternyata pilihan Aa mah yang modern gitu yak. Teu nyangka. Cantik. Masih muda."


Untunglah, dulu saat masih kecil, di pedalaman Kalimantan, Nenekku sangat suka mendengarkan lantunan musik khas Pasundan. Karena itu telingaku dengan cepat beradaptasi. Hanya dalam beberapa hari, aku sudah memahami beberapa kosa kata sederhana bahasa Sunda.


Nenekku, yang keturunan asli Dayak Tionghoa itu sering berseloroh, "Entar tiap hari kamu dengerinnya, Neng."


Sekarang aku mulai mengerti kenapa Nenek memanggilku dengan sebutan 'Neng' sejak aku masih SD. Ia mungkin satu keajaiban langka di antara keturunan Dayak lain, yang bisa membaca sesuatu yang terjadi di masa depan.


Sayangnya, dari dulu aku tak pernah peduli hal-hal seperti itu. Begitupun saat ini.


Hanya ada satu kejadian yang tak bisa kulupakan seumur hidupku, saat berkeliling mengunjungi sanak keluarga Arzi.


Saat itu aku baru saja mencuci tangan usai makan bersama dan memilih duduk di luar sendirian memandangi sekitar desa yang terasa sejuk itu.


Saat itu matahari hampir tenggelam, jadi suasana sedikit temaram dan sepi. Sejak memasuki desa ini, aku memang merasakan sedikit hawa magis namun menenangkan. Mungkin karena lingkungan pesantren yang begitu kental.


Aku sedang asyik memandangi hamparan sawah yang hijau dengan latar pegunungan kapur yang unik di bawah bayang langit jingga, ketika seorang gadis berkerudung hijau tua mendekatiku. Ia memperhatikanku sambil tersenyum.


"Halo," sapaku pelan sambil tersenyum.


"Assalamualaikum. Halo. Teteh istrinya Aa Arzi?" tanyanya dengan mata bening yang indah, dengan tahi lalat persis di tengah dahinya.


Spontan aku mengangguk. Logat khas Sunda gadis itu terdengar sangat jelas. Dalam hati aku bertanya, apakah ia keluarga atau salah satu gadis desa yang pernah menyukai suamiku?

__ADS_1


“Waalaikum salam,” jawabku malu-malu.


Gadis itu meraih kedua tanganku, membaliknya untuk melihat telapak tanganku lalu ia berkata setengah bergumam, "Teteh harus berobat. Teteh harus sehat."


"Eh?" Aku terperangah mendengar kata-katanya.


Ia mengangkat wajahnya tanpa melepaskan tanganku. "Teteh sakit. Ini... " Ia menunjukkan telapak tanganku. "... Ini seperti ini, artinya Teteh sakit. Teteh mah harus berobat yak," lanjutnya menunjukkan corak merah bulat kecil-kecil yang tersebar merata di telapak tanganku.


Aku terdiam. Bingung harus merespon apa. Melihat reaksiku, gadis itu melepaskan tanganku dan langsung memelukku.


"Teh, Mimi sayang sama Aa. Mimi juga sayang sama Teteh. Teteh jangan kuatir, Allah pasti sayang sama Teteh kalo Teteh sayang sama Allah. Teteh pasti bisa sembuh."


Selesai bicara, gadis itu pergi begitu saja. Ia sempat mengambil ranting patah yang ia lihat dan berlari pergi.


Sementara aku masih berusaha mencerna maksud dari kalimat yang dikatakan gadis itu. Sampai seseorang menepuk bahuku, aku mendongak.


"Kenapa di sini? Udah Magrib. Sholat yuk!" ajak Arzi sambil menjulurkan tangannya.


Tanpa berkata apa-apa aku meraihnya. Membiarkan suamiku menggiringku masuk ke rumah. Begitu aku berbalik lagi untuk melihat Mimi, ia tak lagi terlihat.


Meski tak melupakan kejadian pertemuan yang aneh itu, aku memilih untuk tak membicarakannya dengan Arzi. Tapi sampai kami pulang ke rumah orangtuanya lagi, aku tak lagi bertemu gadis berkerudung hijau itu lagi.


Setelah seminggu di kampungnya, Arzi mengajakku ke Jakarta lagi.


Aku tak tahu kapan ia datang, karena sedari pagi Ibu dan Via mengajakku ke pasar. Ibu membelikanku banyak sekali oleh-oleh penganan khas kampung Arzi.


“Nanti kalau misalnya Inka gak boleh makan sama Mas Dirga, entar dikasih buat teman-teman aja ya, In. Ibu gak bisa beliin apa-apa, cuma bisa beliin ini.”


“Ya Alloh, Bu... Gak perlu. Teman-teman Inka gak banyak kok, Bu.”


Ibu mertuaku menggeleng-geleng. “Ibu udah gak bisa ngasih kamu apa-apa, Neng. Ibu akan sedih kalo kamu juga nolak ini.”


Akhirnya aku hanya bisa diam dan menerima apapun yang dibelikan Ibu.


Semua hanya penganan biasa. Kerupuk yang disebut opak dalam berbagai bentuk, peuyeum, manisan, aneka dodol buah termasuk dodol buah Ciremai yang konon kata Via aslinya berasa asam. Tapi yang paling kusuka adalah aneka macam rengginang beraneka warna.


Untuk yang satu itu, tanpa malu-malu aku meminta pada ibu. Aku ingat dulu Papa pernah mendapat oleh-oleh dan ia sangat menyukainya. Mendengar ceritaku soal Papa, ibu mertuaku makin bersemangat. Beberapa jenis rengginang ia borong semua. Via tertawa melihat aku dan ibu kompak memindahkan bungkusan rengginang ke kantong belanja.


Saat kami pulang, Dirga duduk di gazebo ditemani Arzi. Ia langsung berdiri saat melihatku.


“Mas Dirgaaa!” sapaku senang, sambil meletakkan semua belanjaanku.


Ada yang berbeda dari Dirga. Pakaiannya sedikit berbeda, rambutnya... ia memotong dan mengganti gaya rambutnya. Sangat pendek seperti potongan seorang tentara yang baru mulai pendidikan. Sebuah kacamata dengan frame yang baru kulihat juga kini bertengger. Wajahnya jauh lebih bersih, tapi aku merasa pria di hadapanku kini bukan lagi Dirga yang sama. Tiba-tiba aku merasa sangat asing dan hanya berdiri diam.

__ADS_1


“Assalamualaikum, Dek!” sapa Dirga. Ia melihat ke belakangku. “Assalamualaikum, Bu, Dek Via!”


“Wa alaikum salaaam,” jawab Via dan ibu mertuaku bersamaan. Mereka berdiri di sampingku.


“Apa kabar Mas Dokter? Gimana jalan-jalannya?” tanya ibu mertuaku ramah.


Dirga mengangguk. “Ini lagi cerita ke Mas Arzi, Bu. Saya bawa beberapa buah tangan untuk Ibu dan keluarga Mas Arzi. Mohon diterima ya, Bu.”


Aku melirik ke meja yang dipenuhi tas-tas dan kardus besar juga kecil. Bahkan sampai di lantai gazebo. Dirga tak hanya membeli beberapa, ia membeli sangat banyak.


“Alhamdullillah, makasih banyak, Mas. Tapi ini... ini banyak sekali... kenapa harus repot-repot?” Ibu juga tampak terkejut melihat semua oleh-oleh Dirga.


Arzi juga memandangi semua oleh-oleh tak berdaya. “Udah saya kasih tahu juga tadi, Mbi. Ini kebanyakan.”


Dirga tertawa. Ia melirikku. “Inka ngirim email ke saya, katanya ada pesantren yang anak-anaknya butuh perlengkapan sekolah tapi gak mampu beli. Jadi karena waktu itu saya juga lagi ada di Bandung, saya eksplore ada lokasi yang menyediakan perlengkapan sekolah murah tapi berkualitas. Sekalianlah, Bu, Mas... “


Karena internet sangat buruk di kampung Arzi, aku hanya bisa mengirim email saat kami berkunjung ke pesantren di Tasik yang menyediakan fasilitas komputer. Selain memberitahu orangtuaku di Balikpapan, aku juga mengirim beberapa pada sepupu-sepupuku yang tinggal di Tarakan dan di Sulawesi. Memamerkan suami dan keluarga baruku.


Aku juga mengirimkan email pada Dirga, isinya sama seperti email lain tapi memang paling panjang. Aku memberitahu tentang keluarga baruku, orang-orang yang baru kukenal, kondisi desa hingga pesantren juga foto-foto yang sudah kupindahkan ke CD.


Dirga membalasnya dengan mengirim email berupa foto-fotonya sepanjang perjalanan liburannya.


“Ooh, kalau begitu, baiklah. Terima kasih banyak ya Mas. Ini pasti sangat berguna untuk mereka. Sekarang istirahat dulu deh di kamar tamu ya. Nanti kita makan siang bersama.”


Aku terus memperhatikan gerak gerik Dirga. Merasakan ia memang benar-benar berubah. Tapi Dirga sudah dibawa ibu mertuaku masuk ke rumah, diikuti oleh Via.


“Kenapa dari tadi diam aja?” tanya Arzi sambil merangkul pundakku.


Aku berpaling pada Arzi. “Don’t know why, tapi Inka ngerasa Mas Dirga beda.”


Arzi tersenyum. “Dia butuh itu, Inka. Sebaiknya biarkan kalau kamu mau dia bahagia. Ayo! Tadi kamu beli apa aja?” tanya Arzi mengalihkan perhatianku.


Menghilangkan seluruh keraguan dalam hatiku, aku tersenyum padanya dan mulai berceloteh tentang pengalamanku di pasar tadi.


Hanya saja, ketika berkali-kali bertemu pandang atau melihat Dirga, aku masih menyimpan tanda tanya besar.


 


 


*****


 

__ADS_1


 


__ADS_2