Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 78 - Dari Hati ke Hati


__ADS_3

Aku menoleh ke luar restoran, memandang jauh seakan mengingat kembali semua yang terjadi di antara aku dan Andra. Tepat saat itu, seorang pelayan datang membawa dua gelas teh hangat. Rupanya Dirga memesankan untukku dan Andra.


"Setelah aku menikah, aku hanya paham satu hal, Kak. Dalam agama kita, cinta bukan tentang perasaan nafsu. Bukan hanya tentang rasa ingin memiliki, ingin bersama apapun yang terjadi. Bukan itu," ujarku pelan sambil menyeruput teh.


Aku bisa merasakan tatapan Andra menyapu wajahku.


"Cinta yang sebenarnya itu lahir karena kebutuhan. Dua orang yang saling membutuhkan satu sama lain. Aku membutuhkan kasih sayang dan perhatian, Mas Arzi membutuhkan seseorang untuk berbagi. Kami saling jatuh cinta karena sama-sama merasakan kebutuhan kami terpenuhi dan itulah kebaikan dari pernikahan yang sebenarnya. Cinta yang gak bisa kudefinisikan dengan jelas. Tapi bisa kubedakan dengan yang dulu kurasakan sama Kak Andra."


"Membutuhkan?" ulang Andra dan ia menunduk dalam-dalam sebelum suaranya lirih terdengar. "Apa aku tidak cukup memberikan apa yang kamu butuhkan, In? Bahkan untuk diperjuangkan?"


Aku tersenyum, menggeleng pelan. "Ini bukan hanya tentang kebutuhan satu orang. Kalau pernikahan kita hanya akan mendatangkan keburukan, entah itu untukku, untuk keluarga kita atau dirimu, cinta sebesar apapun pasti akan musnah. Lagipula, aku lebih suka menjalani, mendapatkan dan melakukan semuanya bersama suamiku. Tidak untuk dimanjakan atau tinggal terima saja."


"Apa aku bisa menemukan cinta seperti itu, In?" tanya Andra tak percaya diri.


"Kata Mas Arzi, ia perlu lebih dari tiga puluh tahun untuk menemukanku. Jadi percaya dirilah, Kak. Kau pasti akan menemukan seseorang yang benar-benar bisa menjawab pertanyaanmu itu."


Usai mengatakannya, aku tersenyum dengan tulus pada Andra, untuk membangkitkan semangatnya.


"Inka... Ini senyum pertamamu hari ini padaku," kata Andra dengan bibir gemetar sebelum ia tersenyum pahit.


Melihat wajahnya yang tampak tak berdaya, aku mulai menyadari betapa besar luka yang kutinggalkan.


"Maafkan aku, Kak. Aku meninggalkanmu tanpa bicara. Secara gak langsung, aku membuatmu melakukan kejahatan itu," ucapku dengan tulus.


"Aku yang minta maaf, karena aku, kamu dan Mas Arzi jadi susah."


Aku mengangguk sambil tersenyum. Perasaanku kini jauh lebih baik. Beban di hatiku terasa lebih ringan. Arzi benar soal memaafkan. Awalnya saja sulit, tapi nanti akan terasa menyenangkan. Baru begini saja, aku sudah merasa jauh lebih baik.


"Bima... Bima apa kabar?" tanya Andra pelan.


Aku menatap Andra. "Kak... Ingat sama dia?"


Andra mengangguk. "Aku ini anak laki-laki satu-satunya di keluarga, In. Jarang sekali ada anak laki-laki. Waktu tau ada adik bayi teman Bapak lahir, aku juga dulu senang sekali. Dulu aku sering gendong dan main dengannya. Hanya waktu ada masalah... itu terjadi, aku sedang kuliah di Surabaya, jadi... "


Aku mulai mengerti sekarang, kenapa Andra tampak bingung saat aku menjelaskan semuanya.


Kembali aku tersenyum mengingat adik sepupuku itu. "Bima sedang persiapan ujian akhir, Kak. Insya Alloh setelah lulus nanti dia akan ikut aku dan Mas Arzi di Jakarta. Dia akan kuliah di sana."


Andra menghela napas lega. "Kamu masih ingat emailku kan, In? Kalau nanti ia kesulitan biaya atau butuh bantuan untuk apapun, tolong hubungi aku! Biarkan aku menebus kesalahan keluargaku ya, In."


Kutatap lagi pria yang dulu selalu tampak percaya diri itu. Tapi yang kulihat hanya wajah penuh rasa bersalah. Aku yakin, Andra mungkin sudah mendengar cerita mengenai keadaan Bima dan Tante Martha setelah mereka kehilangan hotel itu. Aku hanya bisa mengangguk, walaupun aku yakin, Bima tak memerlukan bantuan apapun lagi saat ini. Sejak kepemilikan hotel dikembalikan pada adikku dan kini dikelola oleh salah satu orang kepercayaan Papa, keadaan mereka jauh lebih baik.


"Orangtuaku, keluarga semua tidak ada yang bilang ke aku, In. Jadi kupikir semuanya baik-baik saja dan keluarga almarhum Om Markus pindah karena itu keinginan mereka. Aku gak terpikir kalo keluargaku bisa menyakiti Bima dan Tante Martha sampai begitu. Mereka... mereka... orangtua dan keluargaku itu bukan orang-orang berpendidikan seperti keluargamu, Inka. Mereka terbiasa hidup di lingkungan yang menjunjung tinggi adat dan tradisi. Mereka hanya memikirkan kepentinganku sebagai anak laki-laki satu-satunya. Kasih sayang mereka padaku yang membutakan hati mereka seperti itu," tutur Andra pelan.


Lalu perlahan kepala Andra kembali tertunduk. Aku bisa mendengar nada malu dalam penuturannya.


Aku kembali terdiam. Sedikit rasa bersalah muncul lagi di hatiku karena tak menjelaskan semuanya pada Andra. Tapi semua sudah terjadi. Tak mungkin lagi kami mengulang masa lalu.


"Sudahlah, Kak. Semua sudah terjadi. Aku harap Kakak juga bisa melanjutkan hidup seperti dulu lagi. Hargai kebebasan yang udah diikhlasin sama Mas Arzi. Aku janji keluargaku juga gak akan perpanjang masalah ini lagi. Kakak kerja lagi seperti dulu aja," kataku berusaha terdengar santai.

__ADS_1


Tapi Andra malah menggeleng. "Entahlah, In. Selama ini saya kerja kan untuk... " Kalimat Andra terputus, ia tersenyum masam sebelum melanjutkan, "Saya sudah resign."


"Kenapa harus... ?" Aku berhenti. Hidup Andra sudah bukan urusanku lagi. Aku tak berhak memberikan pendapat lagi.


Andra menyadari perubahan suaraku. "Aku ingin istirahat dulu, Inka. Kasusku memang tidak berlanjut. Tapi jamaah suamimu itu banyak sekali. Kalian mungkin melepaskanku, tapi mereka selalu ada dan pasti mengingat kesalahan itu. Belum lagi... " Andra menoleh padaku, tersenyum tulus. "Aku sudah tak ingin tinggal di kota yang mengingatkan semuanya padamu, Inka. Aku harus belajar melupakanmu."


"Kuharap Kakak segera bisa melakukannya. Aku juga gak akan ikhlas kalo hidup kakak hancur gara-gara aku. Awas kalo gitu!" kataku setengah mengancam. Tapi ada senyum di mataku dan Andra juga bisa melihat itu.


Andra mengangguk. "Aku akan berusaha keras, Inka. Tenang saja!"


Aku tersenyum pada pria yang pernah mengisi mimpi dan harapanku dulu. Berusaha membuatnya memahami betapa inginnya diriku melihatnya juga sebahagia aku.


"Inka, apa tidak ada penyesalan?" tanya Andra setelah ia meneguk air tehnya.


Kumiringkan kepala dengan heran. "Penyesalan? Untuk apa?"


"Kamu punya banyak rencana kan?" ucap Andra mengingatkanku.


Sedetik ingatanku kembali ke masa lalu, mencerna maksud Andra. Lalu aku tersenyum lebar dan mengangguk.


"Masih. Semuanya masih ada, Kak."


Ganti Andra yang tampak heran.


"Mas Arzi sudah tahu semuanya. Aku udah cerita ke dia. Aku akan mewujudkannya. Tapi tentu dengan cara yang beda," jawabku penuh keyakinan.


"Kau akan kuliah?" tanya Andra.


Andra menatapku heran.


Dengan mata berbinar, aku menatapnya. "Apapun yang terjadi, aku tetap diriku, Kak. Pernikahan bukanlah alasan untuk menghentikan semua mimpiku."


"Tapi kamu sudah melepas semuanya, In. Kamu resign, pindah tempat tinggal dan meninggalkan semuanya di sini... "


"Karena pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang kuinginkan, Kak," potongku cepat.


Andra tertegun. "Lalu apa?" tanyanya pelan.


Aku tersenyum lagi. "Kau akan tahu. Suatu hari nanti. Aku perlu waktu untuk mewujudkannya. Kak Andra bantu doakan aku ya!"


Tawa kecil terlihat di wajah Andra yang mengangguk setuju. Perlahan, aku bisa merasakan dadaku yang terasa penuh mulai kembali bisa bernapas dengan ringan. Satu persatu beban masalah lepas dan melayang pergi.


Lalu aku teringat sesuatu. "Ah ya, Kak. Perhiasanmu waktu itu... aku sudah kumpulkan kembali. Sebentar! Aku minta Mas Dirga ambilin di rumah ya. Tadinya mau aku titip dia."


Aku baru akan berdiri, ketika mendengar suara Andra.


"Tidak perlu, In!"


Aku menoleh padanya. "Tapi itu mahal loh, Kak. Kau bisa berikan pada orang yang lebih membutuhkannya."

__ADS_1


Bibir Andra sedikit terangkat. Ia mulai tersenyum. "Ada inisial 'A love I' di situ, Inka. Bisakah kau menganggapnya A di situ sebagai Arzi?"


Aku termangu. Aku tak bisa melakukannya. Arzi tak bisa dibandingkan dengan yang lain walaupun inisial mereka sama.


"Aku... hanya ingin memberikan sesuatu padamu, In. Setidaknya mengenang sesuatu di antara kita. Kalau kau tidak suka... berikanlah pada siapapun yang kamu suka. Atau jual saja. Kamu bisa gunakan uang itu untuk Bima." Andra menunduk sambil menghela napas.


Aku tahu, Andra mungkin sedih karena aku selalu menolak semua yang dia berikan. Padahal kami mungkin tak akan pernah bertemu lagi. Aku tak ingin mengecewakan lagi, jadi kali ini aku mengangguk sambil tersenyum.


"Baiklah! Aku akan menyimpan semuanya. Nanti, aku akan memberikannya pada putra-putriku, dan aku akan bilang kalau... " Aku duduk di sebelahnya. Menatap dengan tawa di sorot mataku. "... Aku akan pamer dan bilang kalau ada cowok ganteng yang mencintai ibu mereka sampai rela mati untuknya," lanjutku dengan nada jumawa.


Senyuman lebar kembali muncul di wajah Andra. Ia tak tampak tersinggung. Hanya mengangguk-angguk. Lebih sumringah.


"Aku harus pulang, Kak. Terima kasih untuk semuanya." Aku benar-benar berdiri kali ini, tapi kemudian aku teringat sesuatu. "Kak, please... clean yourself! Kakak kumuh banget."


Andra mengangguk sambil tertawa malu. Ia mengusap janggut dan kumisnya tanpa sadar.


Tapi ketika aku akan berbalik, Andra seperti teringat sesuatu. Tiba-tiba ia bertanya, "Inka, dulu kamu pernah sekolah di SD Melati Harapan?"


"Heh... Oooh sekolah yang ada danau kecilnya ya?"


Tentu saja, itu salah satu SD terbaik yang pernah kumasuki. Saat itu harusnya aku duduk di kelas tiga, tapi tak sengaja aku malah masuk ke kelas lima. Guru tak pernah menyadari kalau aku salah kelas karena dengan mudah aku bisa mengikuti pelajaran. Baru sehari kemudian, guru itu tahu kalau aku salah kelas. Tapi karena aku menangis tak mau pindah kelas lagi dan Papa ikut bicara, mereka membiarkannya.


Aku hanya sebentar sekolah di tempat itu, sebelum pindah ke sekolah lain dan kembali duduk di kelas tiga. Karena tugas Papa dan masalah keluarga, aku pindah sekolah lebih dari sepuluh kali dan di SD itu aku hanya bersekolah dalam hitungan bulan.


Andra mengangguk. "Danau itu masih ada. Ada ayunannya juga sekarang."


"Oh ya?" Aku masih tak mengerti. "Dari mana Kakak tau?"


Tapi Andra sudah berdiri. Ia menyodorkan tangannya. "Sampai jumpa lagi, Inka. Jaga dirimu baik-baik ya! Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu dan Arzi."


Aku mendongak, sebelum kembali tersenyum. Kusambut tangannya dan menyalaminya akrab. Berterima kasih. Tak lama Dirga mendekati kami.


"Makasih sudah ngasih kesempatan berharga ini untuk saya, Mas Dirga.Tolong sampaikan terima kasih juga untuk Mas Arzi," ucap Andra penuh hormat.


Dirga hanya mengangguk, sebelum merangkul dan mengajakku pulang.


Saat mobil keluar dari tempat parkir restoran, aku mengingat pertanyaan terakhir Andra tentang sekolah dengan danau kecil itu.


Apakah dia...


Saat itu aku bisa melihat Andra masih berdiri di depan restoran, menatap ke arah mobil kami seakan-akan merasakan tatapannya yang lekat padaku. Jawaban atas pertanyaan itu seketika muncul.


Aku berbisik dalam hatiku...


Selamat tinggal, Kak Andra... ah tidak, Kak Dika yang baik!


Selamat tinggal, Cinta pertamaku! 


 

__ADS_1


 


__ADS_2