
Sejak pertengkaran pertama kami, aku dan Arzi memilih untuk lebih terbuka dalam semuanya tapi menjaga segala hal yang terjadi di antara kami hanya untuk berdua. Mungkin terlihat sangat sepele, tapi itu tidak mudah dijalankan.
Kadang ada teman yang ingin tahu, terkadang malah orangtua dan keluarga yang menyelidiki. Mereka seakan tak percaya hanya dengan jawaban 'baik-baik saja'.
"Iya, Capt. We are okay! Nothing wrong!" kataku ketika suatu malam Papa menelpon memeriksa keadaan.
"Yakin? Arzi beneran baik sama kamu?"
"Iya, Papaku sayang!"
Tetap saja, itu tak memuaskan Papa. Tak sampai seminggu, malah adik laki-lakiku yang dikirim ke Sangatta. Alasannya untuk berlibur, tapi sepanjang hari yang ia lakukan hanyalah memperhatikan aku dan Arzi.
Lagipula berlibur di Sangatta tak ada yang bisa dilihat. Di mana-mana padang gersang dan hutan. Mau ke pantai jauh, ke Aquatic juga dibatasi untuk karyawan.
Namun dari hasil pengamatannya, justru akhirnya adikku yang protes padaku. "Kak, kok sama suami begitu sih?"
"Apa?" tanyaku saat kami baru selesai makan malam.
Arzi masih di dapur, mencuci piring. Sementara aku dan dia duduk di ruang keluarga, menonton televisi sambil makan kacang goreng.
"Ituuu! Kok malah Mas yang disuruh nyuci piring?" tanyanya menunjuk ke dapur dengan wajah tak enak.
Aku tertawa kecil. "Lah kan tadi Kakak yang masak. Gantianlah! Kalo ndak, kamu sana gantiin!"
"Sejak kapan laki-laki di keluarga kita nyuci piring?" protes adikku.
Masih dengan tawa di wajahku. "Di keluarga baru Kakak, laki-laki dan perempuan itu sama. So... besok kalo kamu belom pulang, giliranmu nyuci piring. Ngerti, Pemalas?" kataku dengan nada tegas sambil berdiri meninggalkannya.
Esok paginya, adikku sudah kabur kembali ke Balikpapan.
Satu adat yang paling tidak kusukai dari keluargaku sendiri adalah diskriminasi gender. Sejak kecil, setiap laki-laki dalam keluargaku selalu mendapat keistimewaan.
Adikku contohnya, mana pernah ia mencuci piring kecuali seluruh stok piring habis dan tak ada perempuan di rumah. Itu hanya satu dari sekian banyak diskriminasi yang langsung kualami dalam keluarga.
Adik perempuanku juga mengalaminya. Bedanya, aku berani memberontak sejak dulu. Sedangkan adik perempuanku memilih mengikuti aturan itu.
Contoh lainnya, Papa tak pernah mengizinkanku ikut aneka kegiatan pada malam hari, tapi adik laki-lakiku justru sebaliknya. Mau setiap hari pulang subuh sekalipun, ia tak pernah dilarang.
Sementara aku baru terlambat pulang sekolah setengah jam saja, Papa sudah menyusulku lengkap dengan pakaian 'kerajaan'nya. Itu pula salah satu penyebab mengapa Mama tak membiarkanku kuliah jauh-jauh walaupun berhasil mendapat beasiswa penuh.
Waktu kuceritakan hal ini, Arzi tertawa geli. "Mungkin itu karena Papa terlalu sayang sama kamu, Sayang!"
"Tapi adikku yang cewek juga digituin tau, Mas!"
Arzi hanya tersenyum dan saat itulah kami sepakat kalau dalam rumah tangga yang kami bangun ini, tak ada perbedaan antara tugas suami atau istri. Namanya saling membantu, kami juga harus saling mengerti. Itu hakikat pasangan.
Sejak mendengar protes dari adikku sendiri, aku mulai paham kalau tak semua orang memahami caraku dan Arzi menjalani rumah tangga.
Pikiranku yang sudah dipengaruhi oleh budaya barat karena pergaulan di tempat kerja dan pikiran Arzi yang juga didominasi oleh berbagai pengetahuan yang ia serap dari teman-teman sekaligus jamaahnya, menghasilkan kesepakatan yang ternyata jauh berbeda dengan budaya pada umumnya dalam keluarga kami.
Karena kami sama-sama bekerja, jam kerja dan pulang kadang berbeda. Hari ini mungkin aku yang lebih dulu pulang, esok mungkin saja aku lembur. Tapi setelah beberapa bulan bersama dan sesekali diwarnai kesalahpahaman, aku dan Arzi mulai menyesuaikan diri, termasuk sepakat untuk bergantian mengurus rumah.
__ADS_1
Siapapun yang tiba lebih dulu di rumah akan mulai menyiapkan makan malam. Kalau aku yang pulang duluan, aku memasak sendiri.
Tapi setiap giliran Arzi, dia akan membeli makanan dari luar karena Arzi tak terlalu pandai memasak. Nanti siapapun yang datang paling akhir, akan bertugas mencuci dan membereskan dapur. Biasanya sebelum pulang kerja, Arzi akan menelponku dulu, bertanya kapan aku pulang.
Hanya saja, pada prakteknya lebih sering Arzi yang melakukan semuanya. Belakangan agar bisa segera resign, aku bekerja sedikit lebih keras.
Walaupun bisa menaikkan berat badan, dan terapi hormon yang kujalani mulai menampakkan hasil, aku masih sering jatuh sakit.
Tak hanya itu, asmaku mulai kambuh lagi. Arzi yang baru pertama kali melihatku tak bisa bernapas, panik luar biasa dan Dirga harus datang di tengah malam untuk menolongku. Setelah diselidiki lebih lanjut, Dirga menduga pneumonia akibat tenggelam yang kualami ikut menjadi pemicu asma yang kembali muncul. Arzi tak bisa menyembunyikan rasa bersalah di wajahnya saat mendengar itu.
Tapi aku bersikap biasa. Tak peduli soal itu dan dengan patuh, aku tak bekerja lebih dari seminggu.
Tetap saja, sebesar apapun tekad dan usahaku, aku juga masih sering demam dan terserang flu. Beberapa kali perutku juga sakit. Bahkan saat haid, aku masih sering merasa nyeri.
Arzi dan Dirga mulai sering membahas solusinya diam-diam. Mungkin mereka tak ingin aku bertambah kuatir.
Sementara aku hanya bisa menahan sedih dalam hatiku sendiri. Mulai merasa menjadi beban untuk mereka.
Apalagi setelah kami menikah, ada banyak hal berubah pada Arzi.
"... Maaf tapi istri saya kurang sehat. Tolong digantikan ustad lain saja ya..."
Kakiku berhenti melangkah dan menoleh ke ruang tamu, tempat Arzi tengah menerima telepon.
Arzi menghela napas. "Iya, maafkan saya, Mas! Insya Alloh, minggu depan saya akan isi majlis lagi kalau istri saya sudah sehat."
Lagi-lagi karena aku, Arzi menolak permintaan untuk ceramah. Tidak hanya itu, Arzi juga sering absen mengajar di pengajian lagi. Alasannya selalu karena aku.
Arzi mengangkat kepala dan tersenyum padaku. Tanpa peduli pada kata-kataku, ia berpamitan pada si penelpon dan menutupnya.
Ia melambaikan tangan dan aku mendekat. Ditariknya tanganku hingga aku jatuh terduduk di pangkuannya. Dengan lembut, telapak tangannya menempel pada dahiku.
"Ini masih demam begini, mana tega saya ninggalin istri. Sudah minum obatnya?"
Aku mengangguk, menghela napas sedih. "Inka bikin Mas repot aja ya. Padahal daripada mikirin kepentingan satu orang, kan lebih baik mikirin kepentingan orang banyak."
"Gak boleh ngomong gitu. Menjaga istri itu kewajiban utama suami. Kamu lagi sakit. Sementara kerjaan itu bisa digantikan orang lain dan gak wajib," ujar Arzi sedikit tegas.
Aku mengalungkan tangan di leher Arzi, menatap matanya. "Mas, kayaknya Inka ngerasa pernikahan kita ini sama sekali gak imbang."
Mata Arzi membulat. "Maksudnya?"
Aku mengangkat bahu. "Inka selalu diurus, dirawat dan dimanjain sama Mas Arzi. Mas harus ngerelain semua kegiatan Mas untuk Inka. Mas harus nahan malu bantuin Inka ngurus rumah. Belum lagi... "
"Mulai.... Mulai... " Arzi menggeleng-gelengkan kepalanya. Menatapku dengan sorot tidak suka.
"Belum lagi di rumah ini, lebih banyak Mas yang kerja. Mas yang nyuci baju, piring, beberes rumah... "
"Please stop talking like that, Inka! Saya beneran gak suka dengarnya. Kita selalu bertengkar tiap membahas itu. So just stop it!" lanjut Arzi sambil merangkulku lebih erat.
"But, it's the truth, Mas! Inka cuma jadi beban Mas aja."
__ADS_1
"Inka, please, stop!"
Airmata mulai menggenang di wajahku. "Rafiq aja bilang kalo Inka harusnya gak boleh nyuruh-nyuruh suami. Harusnya... "
Aku tak bisa meneruskan kata-kataku karena sesuatu yang basah dan lembut sudah menempel erat di bibirku. Arzi menghentikan kata-kataku dengan ******* bibirku.
Untuk beberapa saat aku tenggelam dalam kemesraan yang melenakan. Membuat kalimat yang tadinya ingin kuucapkan, melayang terbang, terlupakan.
Arzi melepaskan dengan enggan. Saat aku membuka mata, aku bisa melihat senyum tipis dan matanya yang menatapku penuh kasih sayang.
"Saya sayang kamu, Inka. Bersamamu, susah dan senang, semua saat itu sangat berharga. Kamu adalah anugerah Allah yang gak bakal saya sia-siakan. Kamu amanah saya, perhiasan saya, bagian dari hidup saya."
Aku tahu itu cara Arzi merayuku. Tapi setiap kali terasa penuh makna, dan tanpa sadar airmataku kini mengalir.
Jari Arzi menghapus air di pipiku. "Jangan menganggap dirimu sebagai beban, Inka! Semua manusia berharga dan menghargai diri sendiri adalah kewajiban kita. Salah satu dosa terbesar adalah menyakiti diri sendiri dan mengatakan sesuatu yang membuat hatimu sendiri sakit seperti itu termasuk di antaranya. Jangan lakukan, Inka! Jangan ya, Sayang!" katanya sambil terus menatap mataku.
"Tapi Inka gak mau Mas susah. Inka gak enak. Bener-bener gak enak. Kata Mama, Inka gak boleh ngerepotin orang. Tapi sejak kita nikah, Inka selalu menyusahkan."
"Kalau kamu gak berenti ngomong gitu, saya akan bilang ke semua orang, siapapun itu. Bahkan jika saya dianggap tidak menghormati mertua kalau istri saya sama sekali tidak pernah merepotkan apalagi menyusahkan saya."
Kugigit bibirku, menahan keinginan untuk bicara.
"Istriku sangat cerdas. Jadi pasti tahu membedakan saya melakukan karena sayang, atau karena terpaksa. Bisa kan?" tanya Arzi.
Aku hanya bisa mengangguk. Bahkan hanya orang bodoh yang tak bisa melihat kasih sayang Arzi padaku. Tapi bukan itu yang kumaksud.
Aku hanya merasa sebuah hubungan seharusnya saling memberi, bukan seperti hubungan kami. Lebih banyak aku yang menerima.
"Walaupun istriku ini menganggap dirinya gak pernah memberikan apapun, tapi sejujurnya, Inka... Setiap saya bangun dan melihatmu di sisi saya lagi tidur, saya gak pernah berhenti bersyukur. Alhamdulillah karena Allah mempertemukan saya denganmu. Penantian saya bertahun-tahun untuk mendapat jodoh terbaik terbayar karena kehadiranmu. Kebahagiaan itu yang kamu berikan ke saya, Inka. Setiap hari, setiap saat, setiap detik. Itu lebih dari cukup untuk bilang kalau hubungan kita sangat menyenangkan buat saya," kata Arzi seakan-akan bisa membaca pikiranku.
Siapa yang tahan mendengar kalimat indah penuh makna seperti itu. Ini bukan rayuan. Hanya ungkapan rasa syukur pada Allah SWT. Namun, setiap kalimat benar-benar menggambarkan dengan sempurna cinta Arzi padaku.
Airmataku jatuh lagi. Terharu.
"Saluran air di matamu benar-benar lancar ya, In? Udah jangan nangis terus... nanti matamu bengkak. Besok Dirga datang meriksa kamu, dikira adiknya habis disiksa suami lagi."
Aku tak bisa menahan tawa. Dengan lembut, kutepuk dada Arzi. "Lagian pinter banget ngerayunya. Inka kan gak pernah dengar rayuan model gitu. Pake bawa-bawa Allah segala."
Arzi mencium dahiku. "Supaya gak ditemani setan, Sayang. Tiap saat seperti ini, kalau lagi sayang-sayangan begini, kita harus banyak-banyak nyebut nama Allah, berzikir dan bertasbih supaya hati kita tetap terjaga dari hawa nafsu setan. Ngerti?"
"Ngerti, Pak Ustad!" jawabku jenaka.
Tak ada suara lagi di antara kami. Hanya dua tangan Arzi yang bergerak, satu membelai punggungku, yang lain mengelus tanganku. Perlahan-lahan aku mendengar senandung sholawat nabi dari mulutnya.
Ia sedang meninabobokan diriku.
Sembari memejamkan mataku yang terasa mengantuk, aku mengikuti Arzi hingga lama-lama tubuhku terasa lunglai, tertidur dalam pelukannya.
__ADS_1