Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 44 - Hari Pernikahan


__ADS_3

Sementara aku mulai berusaha untuk bisa bangun dan setidaknya untuk duduk. Untungnya sehari setelah dirawat di rumah sakit dengan penanganan yang lebih baik, perutku sudah bisa diajak kompromi.


Selama tidak tertawa terlalu keras, atau bergerak terlalu kuat, aku mulai bisa menjalani aktifitas sendiri. Aku boleh pulang ke rumah tepat sehari sebelum hari pernikahan.


Sore itu juga, Arzi menelponku dari rumah keluarga Nurul, setelah aku kembali pulang ke rumah.


Dalam kamarku yang sudah disulap menjadi kamar pengantin, aku duduk bersandar di tempat tidur sambil menelponnya.


"Assalamualaikum, wahai perempuan berlesung pipit yang cantik. Apa kabarmu hari ini, sayang?" tanya Arzi penuh kasih.


Mungkin kalau orang lain, aku akan menganggapnya rayuan gombal. Tapi kalau Arzi yang mengatakannya, aku malah suka. Begitu mendengarnya, senyumku merekah lebar.


"Waalaikum salam, wahai lelaki... apa ya Mas bagusnya? Inka belom pandai ngerayu nih."


"Terserah, apa aja. Itu bukan rayuan. Itu panggilan. Nama yang baik. Selama itu baik, karena sebaik-baiknya nama adalah panggilan yang merupakan doa."


"Kalo gitu wahai lelaki yang mencintai Inka... Gimana?"


"Boleh, boleh. Itu juga bagus," jawab Arzi penuh semangat.


"Baiklah. Kabar Inka lebih sehat, Mas. Mas gimana?" tanyaku sambil tersenyum mengingat wajah tenangnya.


"Alhamdulillah. Capek, tapi sehat. Undangan juga sudah disebarin semua. Doakan ya teman-teman kita semua bisa datang!"


"Aamiin. Mas besok jangan gugup ya! Harus mantap! Kita udah banyak diuji, jadi besok harus lancar. Ngerti kan?'


"Siap, Nona Inka! Sekali napas besok kita sah," kata Arzi yakin.


Aku terkekeh. Tapi seketika berhenti ketika perutku terasa ngilu karenanya. "Aamiin. Pokoknya harus yakin kalo besok insya Allah lancar. Gak boleh ada yang sedih. Harus gembira. Ya?" ucapku lebih pelan.


"Tentu saja, Inka sayang. Pernikahan itu tempat kita berbahagia. Apapun kondisinya," janji Arzi yang sekali lagi kuamini.


Kami masih mengobrol banyak lebih dari satu jam. Satu persatu anggota keluarga yang melihatku sibuk tertawa dan bicara di telpon, lewat dan mulai menggoda.


Apalagi saat ini hampir seluruh keluarga besar sedang berkumpul di rumah, termasuk adik-adik dan kakak-kakak sepupuku.

__ADS_1


Mereka menggodaku, sengaja berteriak atau berkata keras dengan nada becanda agar Arzi ikut mendengar. Suasana bahagia begitu terasa dalam rumahku saat ini. Juga di wajah Mama, Papa dan semua saudaraku.


Acara pernikahanku akan dimulai malam hari, setelah sholat Isya'.


Tadinya akan diselenggarakan pagi hari, tapi karena di pagi hari aku masih harus menjalani perawatan, maka waktunya pun diubah.


Malam itu, ketika pembawa acara memulai acara dengan doa. Papa masuk ke kamarku.


"My Little Princess, sudah waktunya. Siap?" tanya Papa dengan lembut. Aku mengangguk.


Dengan menahan haru, aku menyodorkan tangan. Kukira Papa akan membantuku menuntun menuju tempat duduk di pelaminan. Tapi tidak, Papa meletakkan tanganku di lehernya dan malah menggendongku dengan gaya putri.


"Ingat saat kamu dulu sakit keras lalu ketakutan karena disuntik, Prins?" tanya Papa berbisik sambil membawaku keluar. Aku mengangguk.


Tentu saja. Saat itu, dokter akan menyuntikku dan aku ketakutan. Akhirnya Papa menggendongku seperti ini saat dokter menyuntik dan ia tetap menggendongku sampai aku tertidur.


"Itu saat Papa merasakan seluruh dunia akan terasa lebih baik saat anak perempuan Papa tenang dan tertidur. Mau selelah gimanapun, Papa ikhlas lahir batin menggendongmu asal putri Papa tidur dengan nyenyak. Dan itu masih berlaku sampai sekarang," lanjut Papa sambil menuruni tangga.


Di bawah, suara orang-orang berdengung melihat pemandangan mesra aku dan Papa.


"Nanti, kalau Arzi merasa kamu adalah beban dan ia tak sanggup menjagamu lagi, Papa akan selalu ada untukmu. Papa akan memastikan anak Papa selalu bahagia. Seorang kapten takkan pernah meninggalkan putrinya."


Aku mengangguk dan dua bulir airmata mengalir jatuh di pipiku. Tepat saat itu, kami sudah tiba. Sudah ada Arzi berdiri menungguku.


Saat Arzi akan membantuku, Papa menggeleng. Sampai aku benar-benar duduk, hanya Papa yang mengurusku.


Melihat itu, mata Mama yang sedari tadi memperhatikan juga mulai berkaca-kaca. Mungkin kini ia baru mengerti, hubunganku dengan Papa takkan pernah bisa dipisahkan.


Walaupun seiring pertumbuhanku, jarak kami semakin jauh, tetap saja ada banyak hal-hal indah tersisa yang takkan pernah bisa kami lupakan dan akan selalu menjadi perekat di antara kami.


Mungkin Mama juga mulai menyadari itu jauh sebelum hari pernikahanku. Berbagai kesulitan yang kualami sebelum acara hari ini sedikit mengubah perlakuan Mama padaku yang sempat dingin.


Ketika ijab kabul mulai dilaksanakan. Aku hampir menangis lagi saat mendengar suara Papa yang menyerahkanku dengan suara bergetar, tapi kemudian suara lantang Arzi yang sedikit mengejutkan membuatku tertawa kecil.


Bahkan tanpa pengeras suara saja, Arzi bisa membangunkan harimau tidur. Arzi melafalkannya dalam bahasa Arab yang fasih. Pengucapannya bahkan lebih baik daripada kepala KUA yang menjadi penghulu kami.

__ADS_1


Sesuai janjinya, sekali napas dan satu kali janji... Kami dinyatakan sah menjadi sepasang suami istri oleh para saksi.


Ucapan-ucapan syukur dan memuja Allah bergema di antero rumah Papa. Papa memelukku dan kali ini aku benar-benar melihat ia menangis.


Papaku yang tangguh, pria kuat seperti serigala besar itu menangis untuk pertama kalinya di depan umum.


Begitu juga Mama, perempuan yang mengasuhku selama ini. Bahkan sebelum acara sungkeman, mata kami sudah basah saat saling memeluk.


Sebenarnya ada perubahan susunan acara. Arzi meminta keluargaku untuk tak mengadakan prosesi adat meskipun ia asli orang Sunda. Kondisiku yang ia jadikan alasan.


Aku hanya bisa duduk dan itu juga tak bisa lama. Kalaupun berdiri aku masih harus dibantu, tentu merepotkan untuk menjalani prosesi pernikahan adat Sunda.


Tapi ketika kami di dalam kamar berganti baju, ia mengutarakan alasan sesungguhnya.


"Dari awal saya memang lebih suka mengutamakan agama untuk hal-hal paling penting seperti ini. Adat hanyalah tambahan. Mungkin istriku sakit ini sebagai cara Allah mengabulkan keinginan saya."


Aku hanya mengangguk, menatap Arzi tak mengerti. Lalu dengan tersenyum, Arzi memelukku. "Gadis berlesung pipitku sayang, you are mine now."


Aku mendongak, menatap wajah Arzi, dan berkata dengan nada yang sama, "The man who loves me, you are mine now."


Tawa kami pecah lagi. Sebelum Arzi mencium dahiku untuk pertama kalinya.


Inilah saat aku memulai perjalanan baru, bersama pria yang kupilih dengan restu kedua orangtuaku.


Arzi bukan pria seusiaku, tapi pria matang dengan hati begitu luas bagai samudera. Ia mengenalkanku pada dunia berbeda di antara hiruk pikuk duniaku. Aku yakin bersamanya, semua akan baik-baik saja.


Aku hanya perlu belajar mencintainya, menerimanya dan menjadi pendamping yang sempurna untuknya.


Masa lalu adalah masa lalu. Saatnya mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu itu, termasuk semua cinta dan cerita yang telah berlalu.


Aku dan Arzi akan maju bersama, menyongsong cinta yang baru.


****


Author Notes:

__ADS_1


Belum selesai yaaa


__ADS_2