
Esok harinya, Arzi terbang kembali ke Sangatta. Ia sempat menelponku subuh-subuh sekali lagi. Mengingatkanku untuk mengabarinya jika akan pulang sekali lagi dan seabrek pesan tentang kesehatan, makan dan entah apalagi. Aku tak terlalu menyimaknya, karena mataku masih setengah tertutup.
Sementara Papa mulai sibuk mengatur rencana pernikahan. Tentu saja yang ditanyainya pertama adalah aku. Mengenai keluarga Arzi. Aku baru tahu kalau aku tak tahu banyak tentang Arzi. Akhirnya, setelah diinterogasi Papa, aku menyerah. Kuberikan nomor telepon kantor Arzi yang kutahu. Aku bahkan tak tahu nomor telepon kamar atau messnya. Papa mengomel kesal.
"Astaga, Prins. Kamu ini benar-benar nekat ya. Gak tau apa-apa, tapi berani banget nikah."
"Hehe, tenang aja Capt! Inka gak bakal pernah salah ngambil keputusan."
"Jangan sok yakin gitu!"
Tapi aku hanya tersenyum-senyum. Aku yakin, Arzi sudah tahu keluargaku. Aku juga sudah melihat semua yang ia lakukan selama ini. Tak pernah sedikitpun ia mengambil kesempatan dalam kesempitanku. Itu saja sudah cukup.
Hanya saja, karena ada beberapa telepon dari kantor, aku memutuskan untuk pulang sore harinya. Terlalu banyak pekerjaan dan aku tak mau semua hal yang kukerjakan berantakan.
"Kamu yakin mau pulang sore ini?" tanya Mama kuatir. Papa berdiri di belakang Mama, juga tampak resah saat melihatku mulai memasukkan pakaian ke dalam ransel.
Kuanggukkan kepala sambil bersiap lagi. Tak ada waktu berpikir panjang. Aku tak sempat mengejar jadwal pesawat, tapi masih bisa ikut bis travel langsung ke Sangatta. Perjalanannya sekitar 12 jam dari Balikpapan, jadi besok pagi aku sudah bisa bekerja.
Masalah di kantor menjadi bola salju yang makin besar. Sejak peristiwa di bulan Mei kemarin, terjadi perubahan pemerintahan yang mempengaruhi sektor ekonomi, termasuk berimbas pada perekonomian secara global. Semua orang kalang kabut berusaha menyelamatkan diri dari krisis moneter ini.
Walaupun tak terlalu jelas, kedua orangtuaku memahami situasi ini dari pembicaraanku dengan Ratih, Pak Guruh dan Hans beberapa kali melalui telepon. Itu sebabnya mereka tak berani mencegah. Mereka tahu situasi yang kuhadapi tidaklah main-main.
Mama dan Papa mengantarku. Mereka terlihat tak seperti biasanya. Mama yang biasanya cuek, kali ini justru sebaliknya. Setelah aku masuk ke dalam bis travel itu, ia tetap berdiri menunggu. Bahkan setelah bis mulai jalan, Mama dan Papa masih berdiri di terminal bayangan menatap kepergianku.
Sungguh aku tak tahu kalau kekuatiran orangtuaku itu beralasan. Aku lupa kalau jalan antara Balikpapan ke Sangatta itu tidak mudah. Perjalanan itu harus melalui dua kota terlebih dulu. Balikpapan Samarinda sekitar dua jam perjalanan, 6-8 jam antara Samarinda dan Bontang sebelum terakhir kurang lebih dua jam lagi menuju Sangatta. Ini perjalanan normal.
Jalan antara Balikpapan Samarinda mulus beraspal, tapi jalan antara Samarinda ke Bontang rusak di beberapa bagian, bahkan jalan Bontang menuju Sangatta benar-benar rusak parah. Apalagi tak seperti kemarin, semalam ternyata turun hujan sangat deras. Jalan menuju Sangatta yang tak beraspal, berubah seperti bubur lumpur. Sulit dilalui kendaraan, sampai sedikit mengering.
Tepat tengah malam, bis yang kutumpangi terjebak di jalan antara Bontang dan Sangatta. Tepat di depan jalan yang kini berubah menjadi lautan bubur. Sejauh mata memandang hanya warna kuning kemerahan coklat bagai air sungai bercampur lumpur yang terlihat.
Bersama puluhan kendaraan berbagai jenis yang juga tak bisa lewat. Kami terpaksa menunggu sampai matahari pagi muncul agar tanah basah lumpur itu sedikit mengeras dan bisa dilalui oleh kendaraan.
Ketika pagi menjelang, hujan sudah tak lagi turun, sekali lagi para supir mencoba memakai kendaraan mereka. Agar lebih cepat, mereka bergantian saling bahu membahu membantu agar semua kendaraan bisa lewat.
Sedang para penumpang termasuk aku, terpaksa turun untuk meringankan beban kendaraan, melewati lumpur yang menggenang dengan memakai sepatu yang makin berat dengan tanah lempung. Untungnya, penderitaan kami berakhir. Bis yang kutumpangi akhirnya bisa melewati jalan paling sulit itu. Saat bis sampai di Sangatta, jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 10 pagi lebih.
__ADS_1
Aku terlalu lelah dan terlalu mengantuk untuk pergi bekerja. Maka setelah tiba di rumah kost, aku masuk kamar, mandi sebentar dan tidur. Rumah dalam keadaan sepi saat aku datang. Hal biasa bagiku.
Mungkin karena kelelahan, aku tak lagi menyadari waktu. Sejak hari Sabtu hingga Selasa, aku kurang tidur. Tidur beberapa jam dan terbangun lagi. Begitu banyak yang terjadi, dan pikiranku campur aduk tak karuan.
Kini setelah kembali ke kamarku lagi, aku benar-benar membayar semua kekurangan itu. Aku tertidur hingga bangun di sore hari. Itupun karena perutku keroncongan, jadi dua bungkus mie instan langsung tandas dalam beberapa menit.
Malam harinya, agar besok aku benar-benar fit, aku memilih berbaring di kamar sambil membaca beberapa catatan pekerjaan yang sempat kubawa pulang untuk kembali mengingat tugas-tugasku. Juga untuk merencanakan hal-hal yang harus kukerjakan saat nanti bekerja. Seperti biasa, agar tetap fokus aku menyetel musik di walkman. Mendengarkannya dengan earphone.
Cukup lama aku bekerja, saat telingaku bisa mendengar suara ribut di luar. Sayup-sayup. Terdengar jauh. Tanganku mencabut salah satu earphone. Ada suara orang mengobrol di luar.
Suara itu seperti suara Arzi, maka aku pun berdiri dan keluar dari kamar.
Benar saja, aku melihat Arzi berdiri di depan pintu rumah kost. Masih berseragam kerja. Terlihat kusut dan tampak sedikit pucat. Ia sedang bicara dengan ibu kost-ku dan dua penghuni rumah yang lain. Mereka semua menoleh padaku. Kaget.
"Loh, kamu nyampenya kapan, In? Kirain gak ada orang tadi," kata Ibu kost kaget. Arzi hanya diam menatapku. Tidak ada senyum atau seringai lucu di wajahnya seperti biasa.
"Aku pulang tadi pagi, Bu. Pas gak ada siapa-siapa. Karena capek, aku ketiduran sampe sore. Ini lagi ngelanjutin cek agenda buat kerja besok," kataku menjelaskan sambil mendekati Arzi. Kusunggingkan senyum untuknya.
Tapi Arzi tak membalas. Bahkan ketika semua orang berlalu meninggalkan kami berdua. Sorot matanya dingin sekali.
Aku baru ingat. Teleponku selalu dicabut tiap kali aku butuh istirahat. "Aku lupa, Pak. Kucabut kabelnya."
"Cepat telepon Papa dan Mama sekarang! Mereka panik," kata Arzi. Aku mengangguk cepat dan berlari ke kamar.
Arzi benar. Baru satu kali dering, teleponku sudah terjawab. Kelegaan terdengar saat Papa menjawab telepon itu.
"Maafin Inka ya, Pa. Inka capek banget. Semalaman nginep di jalan dan gak bisa tidur, jadi begitu sampe langsung tidur. Maafin ya Pa!" Kalau sedang begini, aku tak berani memanggil Kapten.
Papa tak marah. Ia malah terdengar lega. Tapi sebelum mengakhiri teleponnya. "Untung kamu ada si Arzi, kalo gak sekarang mungkin sudah Papa susul ke Sangatta dan seret kamu pulang."
Aku bisa tertawa saat mendengarnya sekarang, tapi tidak jika Arzi tak ada. Papa bukanlah tipe manusia pengancam, ia selalu melakukan apa yang ia katakan. Tak pernah main-main. Emosi Papa yang tinggi sudah tak diragukan lagi.
Aku keluar lagi setelah memberi kabar pada orangtuaku. Arzi masih di teras. Duduk bersandar di pagar teras. Raut wajahnya masih terlihat marah.
"Sudah makan?"
__ADS_1
Aku memilih menggeleng. Perutku memang mulai kelaparan.
"Ambil jaketmu! Kita makan di luar."
"Sekarang?"
"Nunggu besok?" Masih tak ada senyum.
Aku menyengir dan buru-buru masuk lagi, mengambil jaket seperti perintah Arzi. Ia sudah tak lagi ada di teras, tapi sedang memutar mobil. Tak lupa aku berpamitan pada Ibu kost.
Sebelum turun dari teras, Ibu kost berbisik, "Itu Masmu panik banget tadi. Dia tiga kali ke sini. Nyari kamu dari tadi siang. Katanya udah datengi ke travel segala nyariin, udah ke kantormu juga dan bahkan sampe nanyain ke orang-orang yang sama kamu tadi bareng naik bis travel."
"Hah? Beneran Bu?"
Sekilas informasi itu membuatku hanya berani memandangi Arzi yang diam seribu bahasa saat menyetir, ketika kami berada di dalam mobilnya. Ia tak mengatakan apapun. Benar-benar diam. Baru kali ini aku lihat dia marah, jadi aku tak tahu cara menghadapinya.
Aku tak menunggu lama sampai kemarahannya pecah di dalam mobil.
"Inka, kamu itu sudah tanggung jawab saya sekarang. Jadi tolong, ingat itu baik-baik!" Suaranya begitu tegas. Aku merasa dia seperti Papa saat marah begini.
"Iya, Pak." Kepalaku menunduk. Aku memang salah.
"Walaupun secapek apapun, kamu harus telepon saya, kasih tau saya. Kalau gak bicara sama saya, titip pesan saja sama orang kantor."
"Iya, Pak." Kepalaku makin menunduk. Aku tak setuju, tapi mau bagaimana lagi?
"Mulai besok, saya yang akan anter jemput kamu ke kantor atau ke manapun yang kamu mau. Mengerti?"
"Iya, Pak." Kepalaku makin berat, makin menunduk. Terserahlah, asal marahnya jangan lama-lama
"Mulai besok, panggil saya Kakang ganteng yak!"
"Iiy... iiih, apaan sih?! Norak ih," Aku mendongak, merasa dikerjain dan menatap pria di sampingku yang sudah tertawa-tawa sendiri dengan kesal. Melihat wajah bahagia itu, kesalku menguap begitu saja. Aku juga jadi ikut tertawa.
Kemarahan Arzi juga sudah lenyap, dan Arzi yang baik, riang dan penuh tawa sudah kembali. Ia kembali bertanya, tentang perjalananku, tentang kesan keluargaku... tentang semua yang ingin ia tahu dariku.
__ADS_1
Aku tak ingin membandingkannya, tapi bersama Andra, aku tak mungkin secepat ini berbaikan dan bisa tertawa bersama lagi. Kurasa, aku mulai menyukai keputusanku.