Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 46 - Hidup yang Baru


__ADS_3

Esok paginya, setelah satu minggu berlalu sejak kami menikah, aku dan Arzi berangkat ke Jakarta. Menemui dan berkenalan dengan keluarga besarnya. Begitu kami tiba di bandara, seseorang sudah menyambut kami.


"Mas Dirga?" Aku menatap tak percaya saat melihat Dirga melambai-lambai dengan senyum lebar di wajahnya.


Arzi mengangguk. "Dia udah duluan dari kemarin."


Masih ada pertanyaan bermunculan di kepalaku, tapi Arzi sudah menarik tanganku mendekati Dirga. Mereka saling bertegur sapa dengan akrab, sebelum Dirga menoleh padaku.


"Baru seminggu udah keliatan beda ya adikku ini. Syukurlah! Kirain malah lemes," goda Dirga sambil mengedipkan mata.


Mendadak aku teringat peristiwa semalam. Rona merah membayang di pipiku. Arzi juga tak bisa menyembunyikan senyum gelinya. Hanya Dirga yang terlihat bingung melihat reaksi kami berdua.


"Ayo, Mas! Entar ada yang jadi demam digodain melulu," kata Arzi sambil menggamit lenganku.


Aku menghujamkan cubitan di perutnya. Tak terlalu sakit, tapi cukup membuatnya mengaduh pelan.


"Jadi udah fix sebulan nih, Mas?" tanya Dirga saat menyetir keluar dari area bandara.


Arzi mengangguk. "Iya, alhamdulillah udah diizinkan juga oleh kantornya Inka. Semuanya udah fix. Gak ada masalah."


"Apanya yang sebulan?" tanyaku tak mengerti.


Arzi menoleh padaku. "Liburan kita. Cuti saya dan kamu bukan dua minggu. Tapi sebulan. Saya ambil cuti lima tahunan."


Aku hanya menjawab 'oooh'. Melihat itu, kedua pria itu sama-sama kaget melihat responku. Begitu datar, nyaris tanpa ekspresi.


"Kamu biasanya kuatir ninggalin kantormu lama-lama, In. Kok malah santai dengar begitu?" tanya Dirga heran.


Arzi juga sama. Ia menatapku heran.


Aku mengangkat bahu, mengalihkan perhatian ke luar jendela mobil tanpa menjawab pertanyaannya. "Itu gedung apaan, Mas?"


Arzi dan Dirga menjawab hampir bersamaan secara otomatis, membuatku tertawa kecil.


Kurasa mereka memang berjodoh menjadi dua sahabat. Baru sebentar mereka akrab, tapi justru terlihat lebih kompak dibandingkan aku dan Arzi.


Tak apa... itu bagus. Aku senang melihat dua pria ini kompak seperti ini.


Sebenarnya, aku tak lagi berniat meneruskan pekerjaanku lagi. Aku ingin hidup lebih sehat, mengurangi aktifitas yang menggerus kesehatanku dan fokus untuk sembuh.


Bukan untuk siapapun. Hanya untuk Arzi. Pria yang sudah memberikan segalanya untukku.


Satu hal yang menggangguku adalah Ratih. Sejak tahu diriku mengalami keracunan, aku mengingat sesuatu yang terjadi hari itu. Tapi aku tak menceritakan itu pada Arzi atau Dirga. Aku benar-benar tak ingin kecurigaanku terbukti. Lebih baik aku diam.

__ADS_1


Hanya saja karena itulah, aku takut untuk bekerja lagi. Setelah semua yang terjadi, hubungan aku dan Ratih pasti akan semakin memburuk.


Aku lebih suka meninggalkan semuanya saat ini. Paling tidak aku masih bisa mengingat masa-masa menyenangkan bersahabat dengan Ratih.


Hal lain lagi, aku takkan menemukan Hans saat pulang nanti. Sebelum acara pernikahanku minggu lalu, Hans sudah menelponku dan meminta maaf karena akhirnya ia tak bisa menghadiri pernikahanku karena keberangkatannya dimajukan. Lagi-lagi krisis politik dan ekonomi negara ini yang menjadi alasannya.


Jadi aku sama sekali tak punya alasan untuk kembali bekerja. Tapi aku berniat memberitahu Arzi dan Dirga nanti. Tidak sekarang.


Aku masih ingin mempertimbangkannya. Mungkin pindah ke cabang lain atau juga mencari pekerjaan lain yang jauh lebih santai.


Karena melamun, aku baru sadar kalau kami ternyata turun di sebuah rumah sakit yang didominasi warna hijau saat mobil sudah berhenti di lobby.


Aku dan Arzi turun, sementara Dirga memarkirkan mobil.


"Kita mau ngapain di sini?" tanyaku kuatir. Jangan bilang mereka ingin memeriksaku lagi.


Arzi merangkulku. "Di sini semua peralatannya lebih lengkap. Kita bisa membawa hasilnya ke mana pun kalau ada yang ditemukan."


"Maksudnya? Inka mau diperiksa lagi, Mas? Inka udah sehat loh," kataku berusaha meyakinkan.


"Istriku sayang, kamu gak lupa soal kistamu kan? Atau kenapa belakangan ini lambungmu sering terasa megah dan tiba-tiba muntah?"


"Itu... "


Aku hanya bisa diam. Mataku tak sengaja melihat Dirga yang lewat dari pintu masuk lain dan sudah berdiri di dekat konter pendaftaran.


Sudah seperti ini. Sudah berada di tempat ini. Tak mungkin aku menghindar lagi. Entah mengapa aku merasa, ada sesuatu yang mereka tutupi, bahkan dari orangtuaku sendiri.


Sungguh aku tak menyangka kalau rangkaian pemeriksaan yang kali ini kujalani, jauh lebih detail dibandingkan sebelumnya.


Bahkan aku harus menginap satu malam, berpuasa selama beberapa jam dan berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain diantar menggunakan kursi roda.


"Sus, kok dari tadi saya diperiksa terus. Dokternya kapan datang?" tanyaku ketika seorang suster masuk memberiku obat.


Suster itu tersenyum. "Sudah datang, Bu. Tadi langsung ketemu kakak dan suami Ibu."


Aku termangu. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang mereka rahasiakan dariku belakangan ini? Sampai hasil pemeriksaan saja mereka tak ingin memberitahuku.


Esok paginya, aku benar-benar merasakan siksaan paling tidak menyenangkan dalam hidupku. Katanya hanya pemeriksaan biasa, tapi aku tak tahu kalau itu bukan pemeriksaan biasa seperti saat mengambil darah atau memeriksa jantung. Pemeriksaan endoskopi sungguh tak nyaman untuk dijalani.


Usai pemeriksaan dan kembali tersadar, airmataku mengalir tanpa suara. Seluruh tubuhku benar-benar terasa tidak nyaman. Tapi karena Arzi terus berada di sebelahku, aku tertidur lelap sampai menjelang sore.


Namun, saat aku mulai terbangun, sayup-sayup aku mendengar suara orang mengobrol di dalam kamar. Aku diam mendengarkannya.

__ADS_1


" ... anemia, gastric, malnutrisi... Ini juga... Racun itu benar-benar berefek luar biasa. Semua ini bisa membunuh, Mas. Kita harus merawat yang ini dulu sebelum melanjutkan ke lain. Terlalu beresiko kalo kita maksain operasinya." Itu suara Dirga.


Lalu kudengar Arzi menyahut. "Soal itu saya ikut Mas Dirga aja gimana. Mas kan dokter, tahu mana yang terbaik untuk Inka. Tapi apa tidak beresiko membiarkan terlalu lama? Saya kuatir Inka gak setuju sama kita. Dia selalu ingin cepat hamil."


Aku bisa mendengar helaan napas Dirga yang kebingungan. Arzi benar, aku ingin segera menjalani operasi itu, mengembalikan kondisi rahimku dan melahirkan putra-putri kami secepatnya.


"Dengan kondisi seperti ini, kehamilan hanya akan menambah resiko kematian, Mas. Tidak bisa. Saya gak setuju. Saya lebih suka ribut dengan Inka daripada membiarkan dia ngambil resiko. Enggak. Saya gak setuju. Dia masih sangat muda."


"Saya juga, Mas. Saya gak akan biarkan itu. Tapi... sekarang kita harus nyari solusi untuk jelasin ke Inka."


Terdengar suara kertas dibalik. Mungkin juga sedang dibaca. "Saya bahkan gak bisa mikir yang lain sekarang, Mas Arzi. Kita hanya perlu membuat Inka lebih sehat. Gula darahnya, jantung, hati, ginjal... Astaghfirullah. Ini kalo ketahuan sama Bapak, gimana saya bisa jelasin?"


Dua pria itu sama-sama terdiam. Apapun yang mereka lihat dan ketahui pasti sesuatu yang buruk. Sesuatu yang terjadi pada tubuhku.


Airmataku keluar tanpa kusadari. Aku tahu, aku menjalani kehidupan yang terlalu buruk saat masih remaja bahkan kebiasaan hingga aku bekerja.


Sungguh, tak ada sedikitpun keinginan menyalahkan siapapun, termasuk Papa bahkan Mama, orang yang selalu kuanggap sebagai orangtuaku sendiri. Mereka hanya tak bisa selalu tinggal bersamaku, untuk mengurus dan menjagaku.


Aku sudah terbiasa hidup mandiri dan berpindah-pindah dari satu keluarga ke keluarga lain. Rasa sakit dan tak nyaman kuanggap sebagai bagian dari resiko itu. Hanya tak terpikir, aku tak menyangka kehidupan kacau balau akan mendatangkan banyak penyakit seperti ini.


Sekarang, saat aku benar-benar ingin hidup dan menjalani kehidupan yang baik untuk seseorang yang kucintai, menetapkan langkahku selamanya dengannya. Kenapa terjadi seperti ini?


Isakan membuat tempat tidurku bergoyang dan Arzi melangkah cepat menghampiriku.


Wajahnya berubah murung melihatku menangis diam-diam. Dirga juga ikut berdiri. Menatapku kuatir dari jauh.


"Ssst, sudah. Jangan nangis! Maaf saya ganggu tidurmu ya, Yang."


Aku menggeleng-geleng. Menatapnya dengan hati sedih dan penuh penyesalan. "Aku ngerepotin aja ya, Mas?" tanyaku dengan bibir bergetar.


Senyum Arzi muncul perlahan. Ia mengelus pipiku lembut. "Enggak akan pernah, istri berlesung pipiku yang cantik, asal mau ngikuti semua yang saya minta. Kita akan ngadepin ini berdua, kita akan berjuang sampai akhir. Seorang muslim gak kenal putus asa."


Aku hanya diam, mengangguk dan mengangkat kedua tanganku. Seakan mengerti Arzi menunduk dan aku mengalungkan tanganku padanya, memeluk suamiku.


Tak kupedulikan Dirga yang berdiri memperhatikan kami di belakang Arzi. Melihatku memeluk Arzi, ia pun keluar diam-diam.


Sekarang kami memulai hidup yang baru, hidup yang lebih sehat dan lebih baik. Akan kuturuti apapun yang ia minta karena aku tahu Arzi akan selalu memikirkan kepentinganku.


Demi cintanya, demi kehidupan kami, aku harus sehat.


 


 

__ADS_1


__ADS_2