Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 24 - Malam yang Menyenangkan


__ADS_3

Aku ketiduran di kamar sepanjang sore. Kelelahan setelah menyetir sepanjang hari. Aku baru terbangun ketika mendengar suara adzan Magrib berkumandang. Astaghfirullah! Berapa waktu sholat terlewat saat aku tidur?


Perutku keroncongan saat bangun. Meski masih mengantuk, aku bergegas mandi dan berganti pakaian. Sholat dan berdandan. Aku tertawa sendiri saat melihat pakaianku yang serba minim bahan dan jins satu-satunya yang kubawa juga jenis jins sobek, kecuali setelan yang tadi pagi kubeli. Bagaimana kalau nanti aku bertemu rombongan berjilbab panjang itu lagi?


Tapi sudahlah, Inka adalah Inka. *Nobody else.*Whatever they said, just leave it!


Akhirnya kupilih tetap memakai celana jins itu lagi, dengan kaos oblong bergambar Mickey Mouse gede di depan dada. Kali ini kupastikan memakai jaketku. Sedikit lebih baik. Tak banyak yang terlihat selain bagian kepalaku.


Tadinya aku berniat langsung ke Pasar Malam, tapi perutku benar-benar lapar. Kebetulan dari jendela kamar, aku mencium aroma Nasi Goreng. Ah ya, sudah lama aku tak makan makanan favoritku itu.


Dengan riang, aku berjalan keluar, menuruni tangga sambil memainkan kunci kamar hotel di jariku. Saat berjalan menuju Front Desk, Arzi sudah berdiri di situ menantiku.


"Assalamualaikum! Nah, turun juga. Udah makan?" tanyanya hangat sambil mendekatiku.


Aku tertawa. "Waalaikum salam! Nungguin, Pak? Baeknya... Bapak gak makan? Gak pergi sama teman-temannya?" tanyaku sambil memberikan kunci pada petugas Front Desk.


"Mereka makan di Bontang Kuala. Nyusul yuk!" ajak Arzi.


Makan bersama sekumpulan orang asing yang berbeda segalanya dariku? Tidak, tidak. Aku tak merasa nyaman bersama mereka. Tujuanku ke sini hanya untuk berlibur, bukan untuk mencari teman.


"Tadi siang aku udah makan di sana, Pak! Aku mau makan di Berbas sekalian jalan-jalan. Mau ikut?" tawarku.


"Ini saya yang nyetir apa kamu?" Arzi langsung bertanya. Tak menjawab, aku memberikan kunci mobilku pada Arzi. Tentu saja dia.


Dalam mobil menuju arah Pasar Malam seperti yang kuminta, Arzi bertanya, "In, itu kerjaan di Mesjid kok gak dikirim-kirim tagihannya?"


"Invoice?" tanyaku memastikan. Arzi mengangguk.


Belakangan beberapa tugasku telah kudelegasikan pada Mbak Ratih, termasuk invoicing. Aku lebih fokus menangani masalah keuangan perusahaan. Pekerjaan ringan yang tak terlalu memerlukan konsentrasi kualihkan pada rekan-rekan yang lain, salah satunya Mbak Ratih. Aku agak surprise mendengar informasi dari Arzi soal ini, mengingat aku sendiri yang membuat daftar pekerjaan yang harus diselesaikan Mbak Ratih.


"Masak sih, Pak? Perasaan udah aku kasih note ke Mbak Ratih deh," kataku lagi.


Arzi menghela nafas. Tangannya sibuk mengatur persneling. "Ya, ask your internal. Saya mau selesein kerjaan aja. Kalo emang free, kami akan sangat senang sekali. Udah dua kali saya nelepon ke kantormu, tapi tiap mau bicara sama kamu, kata Ratih, kamu sibuk. Saya minta Ratih nyampein pesen, tetap aja gak ada kabar."


"Loh Bapak sendiri ketemu aku berapa kali? Kok gak langsung nanya?"


"Itu kan di luar jam kantor, Inka."


"Sekarang? Ini jam kantor?"


"Dua minggu lagi saya kembali ke Jakarta, In. Saya pengen nyelesein itu sebelum cuti."


Aku mengangguk-angguk mengerti. Oh ya, aku melupakan satu hal. Arzi staf hired(1) Jakarta, jadi setiap tiga bulan sekali ia kembali ke Jakarta selama satu minggu.


Soal Mbak Ratih, aku bukannya tak tahu. Beberapa hari ini intensitas ketegangan diantara kami terasa, dan berkali-kali pula aku mendapat complaint dari sesama rekan, klien dan bahkan Hans. Aku belum sempat membicarakannya, tapi sepertinya ini sudah tak bisa dibiarkan.


"Kalo gitu nanti aku urus deh, Pak. Senin ya," aturku segera.

__ADS_1


Arzi menggeleng. "Jangan Senin. Saya baru balik Selasa."


"Ok deh. Sekalian kita makan siang bareng gimana? Aku yang traktir Bapak."


"Waaah, boleh boleh," jawab Arzi penuh semangat. "Jadi malam ini saya dong yang traktir?"


Menirukan gayanya tadi, aku juga berkata penuh semangat, "Waaah, boleh boleh."


Tawa kami berdua pecah berderai. Lagi-lagi saat-saat menyenangkan tanpa beban. It's always fun to be his friend.


Mobil kami melambat di depan Pasar Malam yang ramai, tapi aku meminta Arzi terus menuju sebuah restoran.


"Bapak suka seafood atau makanan serba daging?" tanyaku sambil memberi kode agar mobil berbelok.


Arzi memutar kemudi sambil menjawab, "Seafood, tapi saya lagi pengen makan ikan bakar."


"Oke!" kataku riang.


Kuminta Arzi berhenti di depan sebuah restoran yang ramai. Setelah parkir, kami masuk dan aku melihat kening Arzi sedikit berkerut.


"Penuh, In," bisiknya saat melihat kursi-kursi yang semua telah diduduki pengunjung. Aku tak menjawab, malah sibuk mencari seseorang.


"Eh ya Alloh, Inkaaa... Apa kabar?" Seorang wanita setengah baya keluar dari dalam, langsung memelukku dengan hangat sambil menepuk-nepuk punggungku. Ia melepaskan pelukannya, memandangi wajahku dengan mata berkaca-kaca sebelum kembali memelukku begitu erat.


Ia adalah pemilik restoran ini. Masih keluarga jauh Papa. Dulu pernah menjadi salah satu koki yang memasak di restoran milik Mama. Ketika kami semua pindah, Acil (2) Wenny membuka restorannya sendiri. Lebih kecil, lebih sederhana. Tapi saat keluarga kami pindah kembali, restorannya selalu terbuka untuk kami. Karena restoran Acil lebih dekat dengan SMA-ku, dulu dalam seminggu aku mengunjunginya 3-4 kali. Restoran Acil berkembang sangat pesat dalam sepuluh tahun terakhir. Kini restorannya termasuk salah satu tempat makan terkenal di Bontang.


Tangan Acil Wenny terus menggandengku dan membawaku naik ke lantai dua. Aku mengajak Arzi ikut naik.


Di lantai dua ini sebenarnya bagian restoran juga. Tapi biasa digunakan untuk tamu-tamu khusus. Tak ada kursi, hanya meja-meja besar. Lesehan di karpet bambu, dengan bantal-bantal duduk buatan khusus. Ada pendingin ruangan di lantai dua. Ruangan ini biasa digunakan sebagai meeting room buat para pejabat atau pengusaha.


"Aku bawa teman, Cil. Dari Sangatta," kataku saat Acil menunjukkan ke sudut favoritku setiap kali makan di restorannya. Acil memandangi Arzi. Ia tersenyum manis.


"Ini ya... Halo, saya Acilnya Inka," Acil Wenny menyodorkan tangannya. Aku ingin mencegah tapi terlambat.


Tanpa sama sekali terlihat canggung, Arzi membungkuk hormat sambil menyodorkan tangannya juga. Tidak menyentuh, tapi sangat dekat. "Saya Arzi, Cil. Assalamualaikum!" ucapnya dengan nada santun. Mata Acil Wenny yang melirik padaku langsung terlihat berbeda. Ada senyum dikulum tersungging di bibirnya.


"Waalaikumsalam... Ya udah kalian berdua duduk ya. Di situ ada menu. Pesan aja yang temanmu mau."


Aku dan Arzi duduk berhadapan di salah satu sudut dekat akuarium. Arzi mengambil menu dan mulai memilih. Ia menatapku heran karena aku malah memandangi akuarium berisi ikan Arwana itu.


"Kok gak mesen?" tanya Arzi bingung.


"Acil mah udah hafal menuku, Pak." Aku tak mengalihkan tatapanku dari akuarium. Arzi juga pasti menghindari tatapanku.


Setelah memilih dan memesan pada salah satu pelayan Acil Wenny, sekitar lima belas menit menu kami pun datang. Arzi memperhatikan setiap masakan yang dibawakan oleh pelayan. Ia kaget saat melihat aku tak memesan Nasi Goreng favoritku, justru memesan Gami Bawis. Sementara Arzi memesan Baronang Bakar.


"Kok bukan Nasi Goreng? Di sini gak jual?" tanyanya ingin tahu.

__ADS_1


Aku tersenyum. "Aku makan ikan ini di sini, kalo Nasgor entar pas pulang. Buat makan tengah malam aja. Menu ini susah nyarinya di tempat lain, Pak. Cobain deh!"


"Hah? Hahaha.... kurus-kurus makannya banyak," canda Arzi sambil mencoba masakan khas Bontang itu. Matanya membulat. "Enaaak! Enak banget!"


Sungguh senang melihat seleranya ternyata sama denganku. Ikan Bawis hanya ada di Bontang. Tentu menu ini takkan ditemukan semudah ini.


Arzi menunjuk ke ikan Baronang yang ia pesan, "Kita bagi dua aja gimana? Saya separuh ambil itu, kamu ambil separuh pesenan saya."


Kukibaskan tangan di depan wajahku. "Tenang, Pak. Bapak gak nawarin juga pasti aku comot. Soal makan ikan, kucing juga kalah sama aku," balasku santai.


Lagi-lagi, kami tertawa bersama-sama.


Kami makan sambil bertukar cerita tentang segala hal yang unik tentang Bontang. Aku menceritakan tempat-tempat wisata yang ada di sekitar Bontang. Ternyata beberapa diantaranya sudah dikunjungi oleh Arzi bersama teman-temannya sejak ia mulai bekerja di Kalimantan Timur, dua tahun lalu.


Arzi juga cerita kalau ia mengunjungi beberapa kota di daerah perbatasan Indonesia Malaysia. Dengan cepat kusebutkan nama kota kelahiranku, dan ia terperangah. Satu kota yang membuatnya terkesan ternyata tempatku dilahirkan. Kami pun tergelak karenanya.


Setelah makan, saat berniat membayar, Acil Wenny menolaknya. Ia selalu seperti itu. Seringkali ia bilang kalau bukan karena keluarga kami yang mengajarinya punya usaha dan memasak, ia takkan bisa mengantar keempat putranya sekolah hingga menjadi sarjana.


Tapi setiap saat pula aku selalu meninggalkan uang seharga makanan itu dengan cara menyelipkannya di kantong bajunya, meninggalkannya di atas meja, atau bahkan sengaja mendatangi kasir dan memasukkannya setengah memaksa. Papa yang mengajariku begitu. Kami harus tetap membayar. Karena malam ini Arzi yang membayar, aku membiarkannya. Biarlah. Next time aku kembali, aku akan membayarnya dua kali lipat.


Saat kami turun dan melewati kasir, Arzi berhenti. Ia membayar saat Acil Wenny sibuk mengatur bungkusan Nasi Goreng untukku. Kebetulan si kasir tak mengenal Arzi, jadi ia menerimanya. Aku yang memperhatikannya dari jauh, tersenyum geli sendiri melihat tingkahnya. Ia benar-benar satu pemikiran dengan Papa.


Acil mengantar kami hingga ke tempat parkir mobil. Saat Arzi berpamitan, Acil mendekat.


"Jagainlah anak ulun(3), Mas ya! Dia ini mulut ja tersenyum dan tertawa, tapi aslinya cengeng."


Arzi melirikku sambil tersenyum. Mengangguk-angguk.


"Iih Acil. Malu ah!"


Kami tak langsung pulang. Pasar Malam Berbas yang ramai mengundang kami untuk berjalan-jalan membeli aneka barang. Sesuai keinginanku, aku membeli beberapa pakaian. Aku bahkan meminta pendapat Arzi saat memilih. Ia juga membeli beberapa barang. Dua sandal pria, satu celana jins, kopiah khas Makassar, baju koko dan... tiga buah kerudung. Untuk kerudung, ia bertanya warna yang bagus padaku. Karena aku suka merah dan merah muda, kupilih kedua warna itu. Arzi menambahkan warna putih.


Saat ia membayar, aku sibuk menduga-duga. Mungkin untuk adik-adiknya. Atau mungkin untuk kekasihnya. Eh tapi bukankah Arzi tak mengenal istilah pacaran? Hmm... baiklah, siapapun yang dekat dengannya.


Malam makin larut, dan aku sudah lelah. Kami setuju untuk pulang. Sampai di hotel, Arzi tak mengantarku sampai ke dalam karena ada seorang pria menunggunya di depan hotelku. Setelah saling berjanji untuk bertemu lagi besok pagi untuk sarapan bersama, kami pun berpisah.


Ini malam menyenangkan. Liburan yang benar-benar mengasyikkan. Sederhana, tapi sesuai yang kuinginkan. Teman bicara yang asyik, makanan yang kurindukan, suasana santai tanpa beban dan tak ada pekerjaan yang perlu kupikirkan.


*****


Footnotes:


(1) Hired, status karyawan/staf tertentu dengan perjanjian kerja istimewa, berdasarkan asal atau tempat perekrutan. Penentuan liburan, cuti, fasilitas, tunjangan proyek dan lain-lain ditambahkan. Contoh: staf yang diterima bekerja di Jakarta, tapi harus bekerja di daerah lain.


(2) Acil, Bibi atau Tante, adik perempuan (sepupu/kerabat jauh) orangtua, umum digunakan di Kalimantan Timur atau Kalimantan Selatan untuk memanggil perempuan lebih tua juga.


(3) Ulun, saya/aku, bahasa Banjar.

__ADS_1


__ADS_2