
Ketika akhirnya aku bisa bicara dengan Dirga, itu pada pagi hari berikutnya. Lebih tepatnya setelah sholat Subuh.
Saat itu, Arzi tengah ke kebun orangtuanya. Ayah Arzi ingin mengambil keputusan, dan ia butuh pendapat Arzi. Bersama dua adik laki-lakinya dan ayahnya, Arzi ke kebun usai sholat.
Kami akan pulang siang nanti. Jadi tak banyak waktu tersisa. Semua hal yang harus diurus Arzi, sudah ia lakukan sepanjang dua hari terakhir.
Ibu dan adik-adik ipar perempuanku sibuk menyiapkan oleh-oleh yang kemarin kami beli di dapur. Mereka juga sibuk memasak sarapan pagi.
Hanya aku dan Dirga yang menganggur. Saat itu Dirga memilih duduk membaca sebuah buku yang dipinjamnya dari koleksi buku Arzi yang memenuhi sebagian ruang keluarga, di teras rumah sambil minum teh.
Aku baru selesai menjemur handuk, saat melihatnya. Segera aku mendekatinya.
“Di sini asyik ya, Mas?”
Dirga tersenyum dan mengangguk. “Kamu harus sering ke sini, Inka. Di sini udaranya segar, jauh dari tekanan kota, bagus untukmu.”
“Mas gimana? Mas gak pengen gitu punya istri dari kampung sini? Cantik, manis dan rata-rata pinter masak.”
Aku sengaja membahas ini. Niatku untuk menjodohkan Arzi dengan Via sudah bulat.
Dirga mengangkat kepalanya dari buku. “Inka, saya baru beberapa jam di kampung sini. Mana sempat ketemu cewek.”
Aku tertawa kecil. “Lah itu si Via gimana? Cantik loh dia! Pinter, rajin, jilbaban juga. Kemarin kami ke pengajian, dia loh yang diminta ngaji. Suaranya... bagus sekali,” promoku sedikit membanggakan adik iparku itu.
Dirga tertegun. Ia menatapku lekat, sebelum menghela napas panjang dan menutup buku di pangkuannya.
“Is that what you wish from me, Inka?” tanyanya dengan tatapan seperti melihat orang asing.
[Apa itu yang kau harapkan dariku, Inka?]
Kali ini aku yang terdiam. “Maksud Mas?”
“Inka, saya gak tahu apa kamu mengerti atau tidak perasaan saya selama ini. Tapi, saya bukan kamu, In. Saya gak bisa mengganti perasaan saya semudah dirimu. Saya juga tidak bisa menemukan seseorang seperti Arzi yang bisa membuat saya mengubah perasaan saya secepat mungkin.”
Aku termangu. Tak menyangka Dirga mengucapkan topik yang selama ini berusaha kami hindari.
“Ini sangat sulit, Inka. Sangat sulit. Saya berkeliling mencari orang yang bisa menggantimu, tapi itu belum berhasil. Saya sudah berusaha. Saya perlu waktu, Inka. Untuk menerima semua kenyataan ini. Saya hanya kalah beberapa langkah, Inka. Tapi itu membuat saya kehilangan seluruh harapan yang saya kumpulkan bertahun-tahun.”
“Mas... “
Dirga menunduk, menghela napas lagi. Terlihat sangat berat, seperti ada beban di hatinya. “Saya sudah bilang ke Mas Arzi. Minta izin padanya. Saya hanya ingin berada di dekatmu dulu, sampai benar-benar bisa menganggapmu sebagai adik saya. Tolong biarkan saya, Inka! Jangan minta saya lebih dari itu. Saya sedang berusaha sangat keras untuk bertahan, Dek.”
Mataku berkaca-kaca. Aku belum pernah melihat sisi rapuh Dirga ini. Aku tak tahu, jauh di dalam hatinya, Dirga punya beban seberat itu. Apa yang ia rasakan tiap kali melihatku dan Arzi bermesraan?
Ketika dibandingkan dengan perempuan yang pernah dijodohkan oleh Arzi, aku sudah merasakan sakitnya cemburu. Entah bagaimana sakit yang dirasakan Dirga selama beberapa bulan terakhir ini?
__ADS_1
“Jangan menangis, Dek! Melihatmu bahagia membuat Mas ikhlas lahir batin. Itu sudah cukup kok,” gumam Dirga pelan, seakan bisa membaca pikiranku. Ia tak tega saat melihat ekspresiku.
Kutundukkan kepala dan airmataku benar-benar jatuh ke tanganku. “Maaf... “ bisikku.
“Mas tahu, kamu menyukai Via. Tapi saya gak mau membuat orang lain terlibat dengan saya saat ini, Inka. Apalagi itu adik iparmu sendiri. Bagaimana kalau dia tahu siapa perempuan yang saya cintai selama bertahun-tahun? Kamu bisa jamin hubunganmu dengan dia akan tetap seperti sekarang?”
Kata-kata Dirga hanya bisikan pelan. Mungkin ia tak ingin ada orang lain yang mendengar. Tapi di hatiku, itu kalimat yang membuka pikiranku. Mengeluarkan dugaan yang berusaha kutekan dalam-dalam, menjadi spotlight dalam pikiranku.
Via putri kesayangan ibu mertuaku. Ketidakbahagiaannya akan menjadi kesedihan ibu mertuaku, perempuan yang kuharapkan doa restunya. Bagaimana mungkin aku membuatnya sedih?
“Saya sudah bicara banyak dengan Arzi, Inka. Kamu tak perlu kuatir. Selama kalian membutuhkan saya, saya akan selalu membantu. Selama kamu sakit, saya akan mendampingi. Itu bukan janji saya dengan Papa atau Arzi saja, tapi itu janji pada diri saya sendiri, Inka. Saya gak akan melakukan lebih dari itu.”
Tapi aku merasa, suatu hari Dirga akan mengucapkan selamat tinggal padaku. Itu sebabnya aku ingin mengikatnya dengan hubungan yang resmi, walaupun dengan seseorang yang kupilih.
Hanya saja, aku tak bisa mengatakan itu.
Aku bisa mendengar suara orang-orang mendekat. Sepertinya itu Arzi dan adik-adiknya.
“Hapus airmatamu, Inka!” ucap Dirga cepat.
Tangan Dirga menggeser cangkir teh miliknya di atas meja. “Minumlah! Tenangkan dirimu! Jangan sampai keluarga Arzi melihatmu seperti ini.”
Dengan patuh aku melakukan perintah Dirga. Aku sudah terbiasa minum segelas dengan Dirga. Bagiku, ia bagian dari diriku yang lain. Biasa saja.
Tepat saat Amran membuka pagar, aku sudah bisa menoleh dengan senyuman tersungging di wajah. Berdiri menyambut semua orang.
Aku tak tahu kalau Arzi juga menyusulku. Ketika aku duduk di tepi tempat tidur, masih kaget dan sedikit termenung memikirkan kata-kata Dirga, Arzi membuka pintu.
“Ada apa? Mas Dirga bilang apa?” tanyanya begitu masuk.
Aku berusaha tersenyum.
“Ada apa?” ulang Arzi, lebih lembut. Ia berjongkok di depanku sambil menggenggam kedua tanganku.
“Apa Inka sangat menyakiti Mas Dirga, Mas?” tanyaku dengan bibir bergetar.
Airmata yang kutahan-tahan akhirnya tak lagi terbendung. Arzi tak mengatakan apapun, ia hanya sedikit berdiri dan memelukku. Mengelus punggungku, membiarkanku menumpahkan semua kesedihan sampai puas.
Setelah aku agak tenang, Arzi membaringkanku dan dia duduk di sampingku. Ia menatap wajahku, sesekali menghapus airmata yang masih sesekali mengalir.
“Apa Mas tahu?” tanyaku.
Arzi tersenyum dan mengangguk pelan.
“Apa Mas gak cemburu? Apa aku juga menyakiti Mas?” tanyaku.
__ADS_1
Arzi tersenyum. “Suami yang tidak merasakan cemburu pada istrinya itu disamakan seperti kerbau dalam hadits Nabi, Sayang. Ya, saya cemburu. Bukan hanya pada Dirga, tapi semua pria di dekatmu.”
Aku buru-buru menjelaskan. “Tapi Inka bener-bener hanya menganggap Mas Dirga sebagai kakak, Mas. Mas jangan salah duga!”
“Jangan kuatir, Inka! Saya tahu banget itu. Bahkan kalau mencari yang bersalah. Saya yang salah, mengambil seseorang yang paling dicintai Dirga. Mengambil sesuatu yang sudah dijaganya selama bertahun-tahun.”
Aku menatap mata Arzi dalam-dalam.
“Inka, Dirga butuh waktu untuk menerima saya dan kamu sebagai saudara. Saya justru merasa terlalu egois kalau saya nunjukin hak saya tanpa memahami posisinya. Apalagi kamu masih sangat tergantung padanya dan saya masih sangat butuh bantuannya. Itu sebabnya saya berusaha menjaga perasaannya juga.”
“Tapi Inka baru tau hari ini, Mas.”
“Karena kamu ngejodohin Dirga dengan Via, kan?”
Mataku terbelalak. “Kok Mas tau?”
“Waktu hari itu kamu bilang itu bagus, saya udah menduganya. Saya mau ngingetin, tapi lupa.”
“Iya, Mas Dirga tadi sedikit marah sama Inka, Mas.”
Arzi tersenyum. “Jadi itu sebabnya kamu nangis?”
Aku mengangguk.
“Inka, mari kita biarkan Dirga sendiri dulu. Hadapi dia seperti biasa saja! Anggap sebagai teman dan saudara kita selamanya! Tapi saya minta, kamu juga menjaga jarak, batasan pantas dengannya dan tolong sebisamu, hindarilah bicara berduaan saja. Itu saja,” ucap Arzi.
“Memang menyakitkan buat kamu, apalagi Dirga. Saya juga sama. Tapi lebih baik kita memulai dan mencoba, agar gak ada lagi orang yang sakit hati,” lanjutnya pelan.
Pikiranku melayang pada sosok Andra. Pria yang kutinggalkan begitu saja tanpa penjelasan. Entah bagaimana keadaannya sekarang.
“Mari memulai hidup yang baru dengan restu semua orang, Sayang. Pelan-pelan saja, tapi ingat untuk tidak menyakiti siapapun. Jika memang tak bisa dihindari seperti sekarang, jangan segan meminta maaf!”
Aku tak menjawab, hanya mengangkat kedua tanganku, memeluk leher Arzi. “I love you so much, Husband!”
“Me too, Inka. I love you too, Wife!”
*****
Author Notes:
Minggu depan, jika tidak update, mohon pengertian ya. Saya harus ke dua daerah, kuatir sibuk dan gak bisa update. Satunya lagi ke daerah perbatasan yang juga masuk dalam golongan 3T. Gak tau jaringan inet di sana gimana.
Bantu doa agar kerjaan cepat beres ya. Makasih banyak tuk selalu mendukung saya!
__ADS_1
{Iin Ajid}