
Hari Senin itu kukira semua akan berjalan seperti biasa. Masalah memang selalu ada. Aku paham benar soal itu. Apalagi saat krisis moneter begini. Tapi aku tak pernah menyangka krisis itu akhirnya mengusikku.
Hans akan kembali ke negaranya dan entah kapan akan kembali.
Padahal pernikahanku akan berlangsung pada bulan Juli. Aku juga tak berencana untuk berhenti bekerja. Hanya cuti untuk berobat selama dua minggu seperti rencana semula, dan setelah itu kembali bekerja seperti biasa. Aku merasa bahwa krisis moneter ini akan berlalu seiring waktu.
Memang perusahaan sudah mengalami banyak masalah. Beberapa staf dan karyawan sudah dirumahkan. Penghematan pengeluaran juga dilakukan di semua departemen bahkan sampai ke pembatasan pemakaian kertas dan snack di kantor juga. Berbagai event yang biasanya dilangsungkan setiap ada proyek selesai, sudah ditiadakan. Semua expatriate perusahaan juga melakukan penghematan pengeluaran pribadi. Juga ada beberapa proyek mangkrak yang entah kapan ada kepastian untuk dilanjutkan.
Tapi kukira itu takkan berefek padaku. Sampai Hans memberitahuku.
"There is a travel warning from my government, Inka. The best that all Oz expats can do right now is back to our home. Too risky staying here." kata Hans, sambil menghembuskan napas.
[Ada peringatan perjalanan dari pemerintah saya, Inka. Yang terbaik buat para orang asing dari Australia lakukan sekarang adalah pulang ke rumah. Terlalu beresiko tetap di sini]
Saat ini kondisi politik memang kacau balau dengan kerusuhan di mana-mana. Setiap hari selalu ada berita demonstrasi dan kerusuhan di televisi. Satu sama lain saling menyerang tak hanya dengan perang pendapat, tapi juga penyerangan dari satu kubu dengan kubu lainnya. Teriakan reformasi bergaung hingga ke daerah.
Bibirku melengkung sedikit. "But, don't worry Pak. You have me, and my Dad is a policeman. He will make sure you are safe."
[Jangan kuatir, Pak. Anda punya saya, dan Papa saya seorang polisi. Ia akan memastikan Anda aman]
Mendengar itu, Hans tersenyum tipis. "Inka, I have a family. They are waiting for me, without good sleep and even my wife always asked me to return as soon as possible*"
[Inka, saya punya keluarga. Mereka menanti saya, tanpa tidur nyenyak dan bahkan istri saya selalu meminta saya pulang secepatnya]
Akhirnya aku menangis. Berpisah dengan atasan mungkin tak terlalu menyedihkan. Tapi Hans adalah sahabatku dengan figur ayah, kakak, teman, dan guru. Paket lengkap yang mungkin takkan pernah kutemukan di manapun lagi. Untuk pertama kalinya, Hans berdiri mendekatiku, membelai-belai rambutku.
"You are a nice girl, so clever and diligent. First time I thought this girl is too young and she, soon, will give up after 1-2 weeks. But in 2 weeks, you let me know that you are an incredible worker. With or without me, you can be a good secretary for any bosses."
[Kamu ini gadis yang manis, pintar dan rajin. Awalnya saya pikir gadis ini terlalu muda, dan dia, segera, akan menyerah setelah 1-2 minggu. Tapi dalam 2 minggu, kamu membuat saya tahu kalo kamu ini seorang pekerja luar biasa. Dengan atau tanpa saya, kamu bisa jadi sekretaris untuk boss mana saja]
Bukan itu yang kubutuhkan. Sungguh. Tak banyak orang yang menghargaiku sepanjang hidup. Hans adalah orang pertama yang kukenal di kota kecil ini. Ia juga yang mengajariku banyak hal, termasuk menghargai diriku sendiri.
Sekarang dia pergi saat aku akan memulai hidup yang baru. Kebahagiaan dan kesedihan dalam satu waktu.
Seperti membaca pikiranku. Hans berkata, "I'll come to your wedding, Inka. Your fiance has invited me. He, the one, that made me so easy to take this decision."
[Saya akan datang ke acara pernikahanmu, Inka. Tunanganmu sudah mengundang saya. Ia juga yang membuat saya yakin mengambil keputusan ini]
"My Arzi?" tanyaku tak percaya. Tangisku berhenti. Apa? Apa yang dikatakan Arzi hingga Hans memilih meninggalkanku?
__ADS_1
Hans bersandar di meja kerjaku. Santai. "Actually, I have found a new boss for you. You know him. Mr. Peter Wolfe. He is a nice guy and my friend too, so I can guarantee you will like working with him. But... I'm not sure you will like the environment of that company. Then... your fiance called me and we met."
[Sebenarnya, saya sudah menemukan bos baru buat kamu. Kamu kenal dia. Pak Peter Wolfe. Dia pria yang baik dan teman saya juga, jadi saya jamin kamu akan suka bekerja dengannya. Tapi... Saya tidak yakin kamu akan suka lingkungan perusahaan itu. Lalu... tunanganmu menelpon saya dan kami bertemu]
"Here?" tanyaku
Hans menggeleng. "No, he met me while dinner... two days ago. He told me everything. About your sickness, your family, his goal, everything... Even I surprised so much. My little lady kept many things in her heart by herself. Yes I'm a bit disappointed but at the same time I am happy, you have chosen him as a husband. He didn't tell me how much he loves you but every word he told me about you... I can feel that's... love. Real love."
[Tidak, ia menemui saya saat makan malam... dua hari lalu. Dia ceritakan semuanya. Tentang penyakitmu, keluargamu, tujuannya, semuanya... Bahkan saya aja kaget. Gadis kecil saya menyimpan banyak hal sendirian di hatinya.
Ya saya sedikit kecewa tapi di saat yang sama saya senang, kamu memilihnya sebagai suami. Ia tidak mengatakan pada saya seberapa besar dia cinta sama kamu tapi setiap kata-katanya tentangmu... saya bisa rasain itu... cinta. Cinta yang sesungguhnya]
Aku terperangah. Cinta? Arzi mencintaiku? Tapi tak ada satu kalipun ia pernah mengatakannya padaku. Tidak pernah. Hans juga memastikan itu kalau Arzi tak pernah mengatakannya. Tapi bagaimana Hans bisa merasakannya? Dari mana?
"I believe he will be a good husband for you, Little Lady. That's why, I just told him about this job and you can talk to him, whatever your decision. Stay or go. But wait until I really go ya."
[Saya yakin dia akan menjadi suami yang baik untuk, Nona kecil. Itu sebabnya, saya pun ceritain ke dia tentang pekerjaan ini dan kamu bisa ngobrol dengan dia, apapun keputusan. Tetap disini atau pindah [kerja]. Tapi tunggu setelah saya benar-benar pergi nanti ya.]
Meski tetap tak mengerti, aku merasa Arzi memang berbeda. Mungkin karena usianya sudah lewat 30 tahun. Wajar saja lebih matang dalam berpikir dan mengambil keputusan.
Aku bahkan tak tahu kalau ia menemui Hans. Tapi memang berkali-kali aku cerita, betapa pentingnya Hans bagiku. Siapa sangka, ia juga meminta restu padanya.
[Ok, gadis kecil! Ayo bekerja sampai hari itu! Bilang ke Arzi, kita harus makan malam bersama sebelum hari pernikahan. Bisa kan?]
Aku mengangguk setuju. Airmataku masih mengalir saat mulai bekerja. Bahkan di hari-hari selanjutnya. Membayangkan perpisahan dengan seseorang sebaik Hans sungguh menyedihkan.
Sorenya, karena Arzi harus rapat dan lembur, aku pulang membawa mobil sendiri. Seperti biasa, aku menawarkan tumpangan pada Ratih. Ia menerimanya.
Tapi suasana di dalam mobil kini jauh berbeda. Aku lebih banyak diam. Ratih yang dari dulu sudah pendiam juga tak berani memulai obrolan. Mungkin karena terlalu lama, akhirnya ia buka suara juga.
"Kok diam aja, In?" tanya Ratih.
Aku menoleh sedikit, tersenyum tipis. "Lagi gak mood, Mbak. Dapet kabar gak enak. Udah tahu kan soal Hans?"
Ratih mengangguk. "Iya, In. Saya juga sempat nangis. Nanti ada yang gantiin dia gak?"
Kuangkat bahuku. "Gak tau, Mbak.I don't care. Tetap aja gak sama kayak dulu. Saya gak tahu juga mau tetap kerja atau enggak."
"Loh kenapa? Jadi beneran kamu sama Andra mau nikah?" tanya Ratih sambil menatapku.
__ADS_1
Kepalaku miring sedikit menatap Ratih sekilas. "Hah? Maksud Mbak?"
"Iya, In. Saya dengar kata Pak Guruh, kamu mau nikah. Pasti dengan Andra kan?" lanjutnya yakin.
Aku tersenyum pahit. Menggeleng. "Bukan dengan dia, Mbak. Gak mungkin sama dia." Tanganku memutar kemudi sedikit.
"Bukannya kamu pacaran sama Andra?" selidik Ratih.
Aku diam sebentar, menimbang-nimbang untuk menceritakan atau tidak. Hubungan kami sudah tak sama seperti dulu.
Akhirnya aku menjawab, "Tadinya. Tapi hubungan kami itu udah gak mungkinlah. Saya harus buang keluarga besar saya kalo mau nikah sama dia. Enggaklah. Saya masih pilih keluarga."
"Terus kamu nikah sama siapa? Orang sini juga? Atau dokter yang waktu itu datang?"
Aku diam dan hanya memasang senyum. Lama baru aku menjawab, "Temanku, Mbak. Sudah dua kali melamarku sebelum dan sesudah aku jadian sama Andra. Kebetulan Papa setuju, jadi aku terima."
"Kamu menikah karena Papamu? Bukan karena cinta?" Ini lebih terdengar seperti sebuah pernyataan.
"Mbak sendiri gimana? Sama Mas Joko, itu Mbak karena cinta?" balikku bertanya. Kadang ada pertanyaan yang harus dijawab dengan pertanyaan, agar orang itu paham bahwa pertanyaannya sangat sulit dijawab.
Tak ada jawaban. Sekali lagi keheningan mengisi suasana di mobil. Tepat saat itu mobil sudah berbelok di gang tempat Ratih tinggal. Tempat tinggal Ratih tak jauh dari rumah Arzi. Jadi tak sadar kepalaku menengok ke arah rumah Arzi.
"Kamu masih sering kontak Mas Arzi, In?" tanya Ratih tiba-tiba.
Aku mengangguk. Berusaha jujur. Pada akhirnya someday somehow, Ratih akan tahu.
"Soal kerjaan? Kerjaan mesjid kan sudah selesai." Tangan Ratih saling berkait. Aku hanya tersenyum.
"Ya, masak hanya soal kerjaan, Mbak? Kayak gak tahu aku ini gimana. Seneng ketemu orang sana sini. Seneng ngobrol. Bawel," ujarku menertawai diri sendiri.
Tapi Ratih tidak tertawa, hanya tersenyum. Senyuman yang sangat tipis.
Hening lagi. Tapi kali ini tak lama karena akhirnya mobil tiba di depan rumah Tantenya Ratih. Setelah berpamitan sebentar, kamipun berpisah.
Aku memundurkan mobil, keluar dari gang sempit itu. Saat lewat di depan rumah Arzi, aku sengaja memelankan mobil, karena tepat di depan rumahnya ada mobil berhenti. Jadi aku menunggu giliran.
Seseorang turun dari dalam mobil yang berhenti di tepi jalan itu. Dia... Arzi. Ia tak melihatku dan terus berjalan hingga ke teras rumah, sebelum duduk untuk membuka sepatu. Kupicingkan mata sekali lagi. Itu memang dia.
Loh, bukannya tadi dia bilang mau lembur dan rapat? Kenapa dia pulang?
__ADS_1