Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 34 - Pengumuman


__ADS_3

Tas yang kuhujamkan ke Dirga, bukan menghantam wajahnya, tapi malah jatuh ke tangannya. Kakiku ingin menendangnya, tapi lagi-lagi ditangkis dengan mudah oleh Dirga.


Aku lupa kalau ia mantan pelatih Taekwondo dan pengajar kelas keselamatan diri. Jelas aku bukan lawan baginya. Meski aku juga mantan Taekwondoin, Dirga selalu berada jauh di atas levelku.


"Tu...tunggu, In! INKA! Tunggu! Bukan saya yang pukul Pak Arzi!" elak Dirga.


Tangan Dirga yang satu memegangi tasku, yang lain menahan tanganku. Matanya menatap waspada pada kakiku yang hampir melayang ke wajahnya.


Aku melotot padanya sembari menunjuk tangannya dengan mulut. "Kalo bukan Mas siapa lagi? Ini bekas ninju apa? Mau ngelak lagi?"


Aku juga diajari Papa mengenali bukti langsung melalui tangan pelaku. Mulai dari pelaku pembunuhan yang masih meninggalkan bekas darah di bagian dalam kuku hingga bekas meninju yang terlihat dari buku-buku jari atau telapak tangan yang tertekan kuku.


"Sungguh, In. Bukan saya... Saya lagi ngobrol dengan Pak Arzi. Ada orang lain. Kami sama-sama gak kenal!" Aku masih tak percaya dan kembali mencoba menarik tanganku. "Kalo kamu gak percaya, ayo kita temui Pak Arzi!" lanjut Dirga berusaha meyakinkan.


Napasku terengah-engah menahan amarah. Menatap tajam pada Dirga. Aku masih tak percaya padanya.


Bergegas Dirga menjelaskan. "Kami janjian. Pak Arzi yang undang saya makan siang di Sangatta Baru. Kami bicara di sana. Lalu... lalu ada laki-laki datang dan langsung ninju Pak Arzi. Tangan saya... tangan ini karena saya yang bales ninju orang itu. Dia masih mau mukulin Pak Arzi kalo gak saya bales. Beneran, Inka! Sungguh! Saya gak bohong!"


Kutarik tanganku perlahan, mulai mempercayai kata-kata Dirga. Bagaimanapun kami bersahabat sudah cukup lama, jadi aku bisa melihat kesungguhan di wajahnya saat berusaha meyakinkanku.


"Orang itu mengaku pacarmu, In. Saya ingat sepertinya kami pernah ketemu. Tapi saya sendiri gak yakin. Pak Arzi diam saja, tidak bicara apa-apa. Juga gak balas. Dia malah... malah bilang kalo saya gak perlu membalas."


"Terus?" Aku menatapnya lekat.


"Setelah saya tinju, orang itu masih mau mukul tapi keburu dicegah teman-temannya. Mereka yang bawa dia pergi, jadi kami gak sempat nanya siapa. Mereka sempat minta maaf untuk temannya. Pak Arzi... " Dirga terduduk sebelum mengangkat wajahnya.


"Hati orang itu terbuat dari apa sih, In? Dia sama sekali gak marah, malah nanya saya baik-baik aja atau tidak. Hanya... meringis aja," tanyanya tanpa menginginkan jawaban. Ia menggosok buku-buku jarinya yang membengkak.


Aku memandangi Dirga. Berusaha memahami ceritanya satu persatu. Menyusun puzzle kejadian yang membingungkan ini.


Tiba-tiba semua menjadi jelas, tanpa pikir panjang, aku mengambil tas di tangan Dirga dan berlari menuruni tangga tanpa sepatu.


Dirga memanggilku, tapi aku tak peduli. Aku bergerak masuk ke mobil dan mulai menyalakan mesin.


Dengan terburu-buru, aku menyetir mobil kembali menuju rumah Arzi. Dirga mengejarku, tapi sia-sia. Entah ia berhasil atau tidak, aku tak peduli. Aku perlu bicara dengan Arzi sekarang.


Tak sampai 5 menit, mobilku sampai di depan rumah Arzi. Aku keluar dari mobil, menekan tombol kunci otomatis sambil berlari secepat mungkin menuju pintu rumah Arzi. Menggedornya keras.


"Ya... Inka?" mata Arzi terbelalak melihatku sudah berdiri lagi di depan pintu yang diketuk tak sabar.


Aku menatapnya, tiba-tiba dihujani perasaan bersalah. Mataku berkaca-kaca. Tanpa peduli lagi berbagai aturan yang dipegang Arzi, aku melingkarkan tanganku ke pinggangnya dan memeluknya sekuat tenaga.


"Maafin Inka, Pak! Maafin Inka! Gara-gara Inka, Bapak dipukulin. Maaf ya Pak. Inka janji beresin semuanya. Inka janji!" kataku dengan airmata berderai.

__ADS_1


Aku hanya menyebut diriku dengan nama pada orang-orang yang sangat kusayangi. Sekarang, Arzi salah satunya. Sayang... sebuah perasaan yang cukup untuk menggambarkan perasaanku saat ini padanya.


Aku tak peduli sebagai apa arti Arzi di hatiku, yang jelas hubungan kami kini jauh berbeda.


Tanpa menyebutkan siapa, aku sudah bisa menduga. Orang yang melukai Arzi adalah Andra.


Salahku jika hubungan ini membingungkan kami bertiga. Salahku tidak menjelaskan segalanya pada Andra. Aku tak ingin melukai Andra, tapi aku tak menyangka ia berani melukai orang yang kusayangi.


Cinta itu tidak akan menyakiti, Inka.


Itu kata-kata Nenek. Dan aku tak pernah melupakannya. Tanpa sadar aku menyakiti Arzi dan Andra. Juga Dirga yang bahkan tak memahami situasi ini.


Aku terus memeluk Arzi. Sampai tak menyadari, tatapan teman-teman serumah Arzi, juga Dirga yang berhasil menyusulku. Tanpa ada penjelasan, semua orang kini mengerti. Aku dan Arzi adalah pasangan yang sebenarnya.


***


"Kakimu... Duh Inka, jangan suka begini, Ka! Jantungan saya liat kamu lari-lari gak pake sepatu begini," kata Arzi sambil membersihkan kakiku di toilet.


Aku sempat melarangnya, tapi Arzi tak peduli. Ia berjongkok di depanku, menyirami kakiku dengan air dari gayung dan menggosok bekas-bekas tanah yang mengotori kakiku tanpa rasa jijik sama sekali.


Apa perasaanku saja merasa diperlakukan seperti anak kecil begini olehnya?


"Pak, Pak... Geli!" Aku mengangkat kakiku bergantian, menghindari sentuhannya ketika akan menggosok bagian bawah.


Arzi mendongak, seringai jahil terlihat di wajahnya. Tangannya bergerak ingin menarik kakiku. "Biarin! Sini sekalian saya gelitikin!"


"Pak Arziii! Ada tamu di luar nih!"


Teriakan dari ruang tamu membuat kami berhenti bercanda. Bergegas Arzi menyambar handuk kecil di kursi makan dan memberikannya padaku, sebelum mencuci tangannya dan keluar menemui teman-temannya yang sudah menunggu. Bukan menunggu kami. Tapi menunggu penjelasannya.


"Haduh, Pak Arzi! Gak nyangka, sekalinya non cantik itu pacarnya Bapak toh."


"Baru ini liat ada cewek sampe rela lari ngejarin Pak Arzi. Bukan main!"


"Pak, beneran gak nyangka ya?"


Arzi duduk dengan tenang. Ia mengangguk pada Dirga yang ternyata juga sudah duduk bersama teman-temannya.


Dirga mulai bersuara. "Maaf Pak, tadi saya baru mau jelasin, Inka udah lari gitu aja."


Arzi tersenyum. "Saya yang minta maaf karena tadi gak ngomong sejujurnya ke Inka. Jadi dia salah paham. Maaf merepotkan Mas Dirga."


"Tunggu! Sebenarnya ada apa Pak Arzi?" tanya teman Arzi ingin tahu.

__ADS_1


"Ka... Sini Inka!" panggil Arzi padaku yang berdiri malu di dekat pintu masuk menuju ruang tamu dengan handuk di tangan. Aku mendekatinya. "Duduk sini!" lanjut Arzi sambil menepuk sofa di sebelahnya. Kami duduk berdampingan, tapi tidak saling bersentuhan.


Semua orang memperhatikan kami. Begitu lekat sampai aku tak berani menatap ke arah mereka.


"Saya dan Inka tidak pernah pacaran. Tapi ia calon istri saya. Inka sudah bersedia menikah dengan saya. Secepatnya. Saya sudah melamarnya secara resmi, dan orangtua Inka juga sudah menerima. Seharusnya ia menikah dengan saya minggu lalu, tapi karena urusan administrasi kami baru akan menikah minggu depan. Sudah? Cukup?" kata Arzi mengumumkan dengan suara tegas, jernih dan jelas. Kepalaku makin menunduk.


"Tanpa pacaran?" tanya teman Arzi yang lain tak percaya.


"Bapak dan Mbak Inka udah kenal berapa lama?" Yang lain ikut bertanya.


Aku memilih menunduk, meski tahu kalau Arzi menoleh padaku. "Sekitar dua bulan lalu kita ketemu ya, In? Atau tiga bulan?" jawabnya tak yakin.


Aku mengangkat bahu. Aku sendiri lupa. Mungkin saja. Tapi apalah arti waktu sekarang.


"Gak heran deh. Pak Arzi kan Ustad. Mana ada ustad pacaran? Gak heran," seru salah satu dari mereka.


"Sekarang, bisa saya bicara dengan Inka dan... kakaknya?" tanya Arzi pada teman-temannya. Mereka semua mengangguk, bahkan meminta maaf pada Dirga dengan meletakkan kedua tangannya mengatup di depan dada sebelum masuk ke dalam.


Dirga tersenyum pada kami berdua. "Saya beneran kayak nonton film tadi, Inka. Kamu nih bikin Pak Arzi malu aja. Emosimu itu kendalikan dikit napa."


Pipiku merona. Menahan malu. Tapi suara di sebelahku malah membela.


"Gak papa, Mas. Sudah biasa saya ngadepinnya. Cuma tadi ngeri liat kakinya sampe lecet-lecet gitu."


Dirga melirikku. Tersenyum jenaka. "Dia kalo udah emosi suka lupa diri, Pak. Udah sering dikasih tahu, tapi kepalanya emang terbuat dari batu."


Tangan Arzi mengibas di depan wajahnya. "Enggaklah, Mas Dokter. Belum ketemu pawangnya aja!"


"Terus... Terus... Terusin aja ngomongin aku! Entar ya Mas Dirga, entar nanti dapet sama aku ya... " Aku mengangkat tanganku, memberi isyarat cubitan padanya. Aku kini mengikuti cara Arzi memanggil Dirga.


"Tuh Pak, mulai kumat galaknya. Hahaha... " Dirga tertawa seakan tanpa beban.


Arzi juga tergelak, mereka berdua menertawai aku yang memasang muka cemberut.


Melihat mereka tertawa tanpa beban seperti itu, seluruh amarah dan dendam pada Dirga yang selama ini tersimpan di hatiku perlahan luruh.


Aku bukannya tak tahu kalau ia menyukaiku sejak dulu, salah satu alasan ia mencegahku kuliah di Yogyakarta dan mengkhianati kepercayaanku dengan memberitahu kedua orangtuaku saat akan berangkat diam-diam untuk kuliah di sana, membuatku gagal berangkat dan malah bekerja di kota ini.


Kesabaran Arzi mengetuk hati Dirga dan keikhlasan Dirga menerima kebersamaan kami meluruhkan dendamku padanya. Sebuah efek domino positif yang baru kupahami sekarang.


Aku melirik Arzi yang masih berbicara santai dengan Dirga, berterima kasih padanya dalam hati.


Aku berjanji pada diriku sendiri. Akan kuikuti caranya memahami orang-orang di sekitar kami, karena cara itu menularkan kebahagiaan yang kembali pada kami juga.

__ADS_1


Satu hal lagi... tinggal satu hal lagi...


Andra.


__ADS_2