Celia

Celia
Binar Bahagia


__ADS_3

Mumpung hari Senin jangan lupa vote ya 😚


Selamat membaca ♥️


Gerak langkah yang Celia rasakan terasa begitu ringan. Ia mengulum senyum padahal tak ada seorangpun yang menyapanya, ia rasakan panas di pipi karena ciuman yang Collin berikan masih berefek luar biasa.


Ini adalah ciuman pertama Celia dari kekasihnya dan Celia merasa bahagia karena Collin lah yang memberikan ciuman itu. Matanya memang masih terlihat sembab tapi senyuman di bibirnya yang tak kunjung surut memperlihatkan binar bahagia.


Celia menunggu pintu lift terbuka sembari bersenandung kecil, ia mengigit bibir bawahnya karena merasakan bibir Collin masih menempel pada miliknya. "ah.. begini rasanya ciuman pertama," gumamnya pelan seraya tersenyum malu-malu.


Tapi tiba-tiba ia menutup mulutnya dengan kedua tangan dan menampakkan ekspresi wajah yang terkejut. Dalam kepalanya Celia berpikir pasti ciumannya sangat buruk karena ini yang pertama kalinya. Apa Collin merasa kecewa padanya ? karena ia membalas ciuman kekasihnya itu dengan kaku. "Aarrrggggghhhh...., bagaimana kalau Collin tak mau menciumku agi?" tanya Celia dalam hatinya.


Apa yang Celia lakukan menjadi pusat perhatian seorang laki-laki yang tadi pagi bertemu dengannya. Ia melihat perubahan ekspresi wajah Celia yang tadinya cerah ceria karena bahagia tapi kini terlihat cemas dan seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Apa anda baik-baik saja Nona Celia ? apa barang yang tertinggal sudah Nona ambil ?" tanya Rian si assiten baru Fabian dan dia lah yang tadi melihat Celia berciuman dengan Collin.


"Eh ?" Celia tolehkan kepala pada arah suara, ia tak sadar jika Rian berdiri di sebelahnya sedari tadi dan sama-sama menunggu pintu lift terbuka.


"Ya Tuhan...," gumam Celia. Ia baru tersadar jika barang-barangnya yang tertinggal di dalam mobil belum juga diambil karena saat ini pikirannya hanya dipenuhi oleh Collin seorang.


"bagaimana mungkin barangku bisa tertinggal lagi? " Celia membalikkan tubuhnya dan berlari kecil menuju pintu keluar untuk kembali ke tempat mobilnya terparkir.


"namaku Celia, kamu tak usah memanggilku dengan sebutan nona," ucap Celia pada Rian sembari berlari kecil


"Nona, eh maksudku Celia, apa perlu bantuan?" tanya Rian dengan sedikit meninggikan volume suara agar Celia dapat mendengarnya.


Celia hentikan langkah lebarnya untuk sesaat dan ia pun menolehkan kepala ke arah suara "tidak usah aku bisa melakukannya sendiri, "


Rian berhenti di tempatnya berdiri padahal Ia pun sudah membalikkan tubuhnya untuk menyusul Celia dan berniat membantu gadis itu tapi sepertinya apa yang Rian harapkan tidak terkabul karena Celia menolak pertolongannya. "baiklah Celia, sampai ketemu di atas," ucapnya sembari tersenyum dengan rasa kecewa.


Memang dirinya baru 2 kali bertemu dengan Celia tapi ia sudah terpesona oleh kecantikan gadis itu dan ia pun tahu jika Celia sangatlah dilindungi oleh Fabian sang ayah hingga sulit sekali bagi lelaki untuk mendekatinya. Tapi Rian adalah asisten Fabian saat ini. Ia akan dengan mudah mendekati Celia dan mencuri hati ayahnya. Ia akan lakukan apapun untuk bisa dekat Celia dan mendapatkannya.


Celia tak lagi menanggapi apa yang Rian katakan ia melanjutkan langkahnya untuk kembali ke tempat mobilnya terparkir. namun belum juga sampai, ponsel dalam tasnya berdering juga bergetar. segera saja Celia merogoh tas dan mencari keberadaan ponselnya di dalam sana. Tertera nama Dareel di layarnya.

__ADS_1


"kamu di mana? "tanya Darrel begitu panggilan itu terhubung.


Celia menggigit bibir bawahnya, berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan sepupunya itu. Dirinya sadar sudah terlalu lama meninggalkan kantor dan tengah mencari alasan yang tepat agar Darrel tidak merasa curiga.


"mmmhhh.. aku masih berada di tempat parkir. Aku sedang mencari Pak Wito untuk mengambil barang-barangku yang tertinggal di dalam mobil. hingga sekarang Pak Wito masih belum bisa ku hubungi," jawab Celia.


Darrel tak langsung menjawab, hening untuk beberapa saat hingga akhirnya ia membuka suara. "barang-barangmu yang tertinggal sudah ada di ruanganmu dan Pak Wito pun ada di sini dari tadi," sahut Darrel pada akhirnya.


"ah sial," maki Celia. Ia sungguh tak pandai dalam berbohong juga bermain kata.


"aku dan Pak Wito sepertinya berselisih jalan, tunggu aku akan naik sekarang," jawab Celia dan Darrel pun mengakhiri panggilan itu.


"Baru saja aku merasa bahagia karena bertemu Collin tapi Sekarang aku sudah ketiban sial lagi," keluhnya dan dengan langkah gontai Celia kembali ke dalam gedung kantor.


suasana hati yang buruk tak lama Celia rasakan, karena beberapa saat kemudian sang kekasih mengirimkannya sebuah pesan. "padahal belum lama kita bertemu tapi aku sudah sangat merindukanmu," tulis Collin di aplikasi pesan berwarna hijau. setelah berhubungan 2 tahun lamanya baru sekali ini Celia bertukar nomor telepon dengan kekasihnya itu dan ini dilakukannya di coffee shop sesaat sebelum ia kembali ke kantor.


Celia mengulum senyumnya ketika membaca pesan itu ia membacanya berulang kali hingga resah hati yang dirasakannya menguap sudah. tentang Colin selalu bisa membuatnya bahagia.


"Miss you more...," balas Celia pada kekasihnya itu.


***


Celia langkahkan kakinya keluar dari lift dengan bersenandung lagu Cinta favoritnya. "Bahagia aku bila bersamamu. Tenang hatiku dalam pelukanmu. Tetap denganku hingga kau menua. Hingga memutih rambutmu, Senang hatiku hidup bersamamu. Belahan jiwa jagalah diriku. Karena denganmu damai lah hatiku. Menualah bersamaku," gumamnya sembari membayangkan ciuman pertamanya dengan Collin tadi. Lagi-lagi binar bahagia tak bisa ia sembunyikan dari wajah cantiknya hingga kini pipinya merona merah.


Celia memasuki ruangannya yang ternyata di dalamnya sudah ada duo bodyguard. Siapa lagi jika bukan Davin dan Dareel. Bila biasanya Celia akan menekuk muka melihat kehadiran mereka tapi tidak kali ini. "Kakak Davin kesayangan aku," sapa Celia seraya menjinjitkan kakinya dan mengecup sebelah pipi sepupunya itu.


"Daaaan Abang Darrel yang bawel tapi aku sayang," Celia pun melakukan hal yang sama pada Dareel dan membuat kakak beradik itu menatapi Celia dengan terheran.


"Kamu kenapa, Princess ?? salah makan atau bagaimana ?" tanya Dareel terheran.


"Gak ada apa-apa, aku hanya sedang merasa bersemangat untuk bekerja saja. Jadi apa yang harus aku lakukan hari ini ?" tanya Celia sambil mendudukkan dirinya di atas kursi kerjanya dan tak lupa senyum manisnya yang masih saja terkembang. sedangkan kedua kakak sepupunya itu berdiri sembari terus memperhatikan.


"Kamu dari mana sebenarnya ? pulang-pulang seperti ini ?" tanya Dareel penasaran tapi Davin langsung menghentikan interogasi dengan memberikan kode pada adiknya itu untuk berhenti bertanya dan Davin pun menurutinya.

__ADS_1


"Celia, tolong pelajari beberapa perusahaan yang mengajukan tender pada kita. Jelaskan kelebihan dan kekurangannya," titah Davin.


"ok, akan aku kerjakan," jawab Celia tanpa berkeluh kesah karena biasanya ia akan merajuk bila mendapat banyak tugas di awal Minggu tapi tidak kali ini.


"Dan nanti siang kita akan makan bersama, ada sepupu jauh kita yang datang dari Jerman dalam rangka liburan namanya Collin. Entah kamu masih ingat atau tidak," lanjut Davin dan sumpah demi apapun jantung Celia rasanya hampir saja copot ketika Davin menyebutkan nama kekasihnya itu.


"Kamu mau ikut kan ?" tanya Davin lagi.


"Ikut !! aku akan ikut !!" jawab Celia dengan wajah yang ceria.


"Oke, aku balik ke ruangan aku dulu," pamit Davin dan diekori oleh sang adik Dareel.


"Nanti aku jemput ke sini, kamu jangan kemana-mana," ucap Dareel sebelum dia menghilang di balik pintu.


"Ada yang berbeda dengan Celia, entah apa itu tapi aku sangat menyukainya," ucap Davin pada adiknya


"Hah ? maksud kakak apa ?"


"Celia terlihat begitu bahagia berbeda dengan dua hari kemarin,"


"Dia berubah menjadi seperti itu setelah menghilang tadi. Apa aku harus cari tahu apa yang sudah dilakukannya ?" tanya Dareel. "Daddy Bian bisa ngamuk kalau dia tahu Celia terlepas dari pengawasan kita," lanjutnya lagi.


"Biarkan Celia merasa bahagia, Daddy Bian tak usah tahu tentang hari ini," jawab Davin dan Dareel pun menurutinya.


***


Waktu makan siang pun tiba, Coliin sudah menunggu kedatangan mereka di sebuah restoran ternama. Sebelumnya Celia sudah memberitahukan kekasihnya itu untuk berpura-pura tak saling mengenal.


Keduanya bersalaman seolah baru saja bertemu, beruntung bagi Celia dan Coliin karena tanpa sengaja mereka duduk bersebelahan. Coliin berbicara dengan kedua sepupunya sedangkan Celia menundukkan kepala fokus pada menu yang akan dipilihnya.


Seorang pun tak ada yang tahu jika di bawah meja tangan Coliin menggenggam erat jemari Celia hingga binar bahagia kembali menghiasi wajah cantik Celia saat ini.


To be continued ♥️

__ADS_1


Thanks for reading ♥️


__ADS_2