
happy reading ♥️
“Tak bisakah kalau kita berdamai?”
Jamie langsung berbicara pada intinya. Dia merasa kalau semua ini harus segera ia luruskan. Pria itu juga merasa kalau dirinya salah satu penyebab putranya melewati jalan terjal untuk memperjuangkan cintanya. Bahkan sampai harus berkorban nyawa.
Dia tak ingin kehilangan Collin yang merupakan satu-satunya keturunannya. Kalau setelah ini tak bisa mendapatkan Celia untuk putranya, dia akan membawa Collin pergi. Bahkan, Oma Hana juga akan dia bawa serta agar tak lagi bertemu dengan Fabian dan keluarganya meski mereka sebenarnya adalah kerabat.
Atau mungkin silaturrahim setahun sekali saat lebaran, akan menjadi pilihan terbaik. Itu kalau penolakan dari Fabian ia dapatkan bahkan setelah dia menurunkan egonya, mengemis restu untuk anak semata wayangnya.
“Apa maksudmu? Bukankah kita sudah berdamai?”
Fabian menautkan alisnya. Dia merasa semuanya sudah usai dan bahkan pria itu merasa enggan kembali berurusan dengan pria yang saat ini ada di hadapannya.
“Ya, tapi hatimu masih tidak. Semua salahku, jangan libatkan anak kita.”
“Oh, jadi sebenarnya kamu sudah tahu dan merencanakan semua ini?” Fabian berdecak kesal. Dia merasa dugaannya selama ini benar adanya bahwa pria di hadapannya berniat merebut anak dan istrinya.
“Tidak. Aku pun tak menyangka kalau putraku malah menyukai putrimu, Celia. Dan bahkan rela mengorbankan nyawanya untuk Celia. Tidak bisakah sekarang aku meminta imbalan atas nyawa yang telah dipertaruhkan oleh Collin untuk putrimu?”
Jamie masih berusaha berkata dengan tenang. Pria itu bahkan tersenyum. Namun, kesedihan masih tampak jelas di wajahnya.
“Apa kamu berniat merebut kembali Renata?” selidik Fabian.
Jamie terkekeh. Pria itu tak menyangka kalau sifat kekanakan Fabian masih sangat besar. Dan sepertinya aura permusuhan masih terpancar dari sorot mata pria itu.
“Kita sudah bukan berada di usia di mana cinta adalah segalanya. Memang benar aku masih memiliki sedikit perasaan lama kepada Renata. Tapi, aku tak ingin membuat itu sebagai penghalang hubungan anak kita. Kau tahu? Anakku bahkan rela mengurus kepindahannya,” ujar Jamie menyodorkan pesan dari Collin dan sebuah kabar dari rekannya di rumah sakit tempat ia bekerja bahwa Collin mengajukan pindah karena ingin bertugas di Indonesia.
Fabian meraih ponsel Jamie di mana menampilkan pesan Collin dari sebuah media sosial dan juga bukti-bukti lain bahwa Collin mengajukan pindah tugas beda negara. Waktu permohonan pindah itu pun masih baru.
“Bagaimana mungkin aku bisa percaya hanya dengan bukti-bukti ini?”
“Kamu bisa mencari informasinya jika kamu masih tak percaya. Collin sudah mendaftarkan diri di IDI.”
Jamie masih berbicara dengan sangat tenang. Mungkin karena dia adalah seorang dokter, sehingga dia masih begitu mudah mengatur intonasi bicara dan emosinya.
“Kamu tahu, bagi kami dokter luar, mengurus kepindahan dan juga surat tugas sebagai dokter Indonesia tak semudah itu. Tak bisa instan karena terkendala birokrasi, banyak peraturan, perizinan yang tak mudah.” jelas Jamie.
Fabian menganggukkan kepalanya mendengar penuturan Jamie. Memang tak mudah untuk menjadi dokter di sini. Bahkan dokter yang memiliki sertifikat terbaik pun tetap akan menjalani seleksi dan serangkaian tes untuk menjadi dokter dan mendapat izin praktik atau dinas di lembaga kesehatan seperti puskesmas atau Poliklinik dan Rumah sakit.
“Aku jadi penasaran, kamu tak mengalami thantophobia bukan?” tanya Jamie penuh selidik.
Fabian mengangkat sebelah alisnya. Salah satu jenis fobia yang disebutkan oleh Jamie sangat jarang ia dengar. Yang sering ia dengar dan ia tahu adalah fobia terhadap serangga, fobia kegelapan, fobia ketinggian dan fobia yang umum dan sering kali dialami oleh orang sekitar saja.
Apa benar ada jenis fobia seperti yang dikatakan Jamie
Ada.
__ADS_1
“Itu adalah sejenis ketakutan akan kehilangan orang yang dicintai.”
Renata yang sejak tadi menyimak pembicaraan dua orang pria itu menatap suaminya. Dia merasa kemungkinan itu benar karena Fabian begitu posesif dan over protektif terhadap istri dan anak-anaknya.
“Aku bisa memastikan kalau kamu tak akan kehilangan Renata maupun Celia. Karena aku akan tetap bertugas di Jerman dan, Collin akan menjaga Mama.” Jamie tersenyum, tampak begitu tulus.
“Aku tak menuntut kamu menjawab permintaanku. Tapi aku serius melamar putrimu untuk anakku,” imbuh Jamie.
“Aku akan menjaga Collin. Titip Mama.”
Jamie hendak bangkit meninggalkan ruang rawat mamanya yang mana akan dijaga oleh Renata dan Fabian di ruangan itu.
“Apa menurutmu, Collin pria yang baik untuk Celia?” tanya Fabian kepada Renata.
Pria itu bertanya kepada istrinya, memastikan apakah istrinya setuju dengan menyetujui permintaan Jamie.
“Apa kamu masih meragukannya? Apa kamu tak ingin mendapatkan menantu yang baik padahal kamu sudah tahu bagaimana dia melindungi putri kita?”
“Ya. Aku tak menyangka Rian seperti itu. Aku pikir Rian adalah pria baik.”
“Aku masih tak habis pikir, bagaimana bisa kamu mengizinkan Rian menikah dengan putri kita.”
Renata hendak bangkit dari duduknya. Namun, gerakannya terhenti karena Fabian memegang lengan istrinya dengan erat.
“Aku tak ingin kalian pergi dan jauh dariku. Itu saja sebenarnya. Dan mungkin karena takut kehilangan yang terlalu besar membuatku terlalu berlebihan.”
Fabian mengembuskan napas berat. Sepertinya dia memang harus mengunjungi dokter untuk berkonsultasi.
“Aku menemanimu, tenang saja,” ujar Renata seraya tersenyum.
“Tapi sebelum ini, sepertinya kamu harus melihat keadaan Collin. Aku akan di sini menunggu Tante Hana."
Fabian mengangguk. Pria itu kemudian bangkit dan hendak menyusul Jamie.
***
“Apa kamu begitu lelah sampai kamu tak ingin bangun?”
Jamie menghentikan langkahnya di luar ruangan putranya. Pria itu berdiri di balik pintu kamar rawat Collin yang masih belum sadar.
Fabian yang baru saja keluar dari kamar rawat Oma Hana, berjalan mendekat tanpa bersuara. Ikut mencuri dengar pembicaraan Celia yang diikuti oleh tangis.
“Apa itu sakit? Segera bangunlah Collin. Apa kamu tahu? Aku takut kalau kamu seperti ini. Aku takut Daddyku membawaku pergi. Dan mungkin ... Mungkin akan menikahkan aku dengan Rian lagi, atau dengan yang lain"
“Aku takut, Collin. Bangunlah,” pinta Celia.
Jamie menoleh ke arah Fabian yang sudah ada di sisinya. Sebuah luka tak kasat mata membuat hati ya perih mendengar seorang gadis menangisi putranya.
__ADS_1
“Kamu dengar sendiri? Bahkan putrimu takut untuk kembali padamu.”
Fabian tak berkomentar. Pria itu kemudian mengikuti Jamie yang beberapa saat kemudian membuka pintu kamar Collin.
Celia yang menangis, menghentikan suara tangisnya. Menahannya sekuat tenaga agar tak tampak lemah di depan Daddy-nya. Gadis itu bergegas menghapus jejak air matanya.
“Celia, bisa Om bicara sebentar? Di luar,” ujar pria itu seraya tersenyum.
Pria itu kemudian keluar dari ruangan Collin. Sengaja meninggalkan Fabian di dalam sana.
Celia menatap Daddy-nya yang masih diam di tempatnya. Meski dekat dengan pintu, nyatanya pria itu tak ingin keluar. Karena tak ingin membuat Jamie menunggu lama, dengan berat hati Celia keluar dari ruangan itu dengan meninggalkan tatapan tajam kepada pria yang berstatus sebagai ayah kandungnya.
“Apa yang ingin Om bicarakan?” tanya Celia usai keluar dari kamar rawat Collin.
“Kalau tak ada sesuatu yang penting, aku harus kembali ke dalam. Aku takut Daddy melakukan sesuatu padanya.”
“Dia tak akan mungkin seperti itu, percayalah. Ayo, ikut aku.”
“Kamu pasti belum makan, bukan?”
“Kamu harus menjaga kesehatanmu. Collin akan sedih kalau melihat kamu tak terurus.”
“Tapi-“
“Biarkan Daddy-mu bicara dengannya. Mereka butuh waktu untuk bicara.
***
“Apa kamu sudah bangun? Bangunlah kalau kamu mendengar ku,” ujar Fabian masih dengan bicaranya yang dingin.
“Maaf.... Maaf karena membuatmu sampai seperti ini. Karena ketakutanku, membuat banyak orang terluka.”
“Apa kamu masih ingin tidur? Bangunlah, bukankah kamu harus melamar putriku? Kau tahu? Aku sangat kesal karena papamu baru saja melamar Celia-“
Collin kemudian membuka kedua matanya, menoleh ke arah Fabian hingga membuat pria itu sedikit terkejut.
“Lalu, apa Om Fabian mengiyakan lamaran Papa?” tanya pria itu dengan suara lemah.
“Tentu saja. Bukankah Papamu adalah pria single?” ledek Fabian.
“Kamu pasti akan bahagia melihat putriku menikah. Oleh karena itu, segeralah pulih. Dan juga ... Maafkan aku,” ucap Fabian lalu meninggalkan kamar rawat Collin.
Menyebalkan.
to be continued ♥️
thanks for reading 🥰
__ADS_1
jangan lupa like komen vote dan hadiah ya